SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
KEHANCURAN SEKTE BURUNG HANTU


__ADS_3

Di lapangan Sekte yang begitu luas, dimana Sekte Burung Hantu memiliki ribuan anggota termasuk para pengurus Sekte.


Pertempuran pun menyebar ke berbagai tempat dimana terdengar suara teriakan dan rintihan yang memilukan dari anggota Sekte Burung Hantu yang memiliki tingkat Kultivasi rendah hanya dalam sekali serangan saja mereka langsung menjadi kabut darah.


Hal itu tentu saja membuat para Tetua dan Guru menjadi geram, ditambah lagi Matriak, Tetua Agung dan Guru Agung mereka masih belum muncul membuat mereka memiliki firasat buruk.


Li Jilan yang merupakan reinkarnasi dari Dewi Bumi juga menyatukan elemen Air yang dia miliki seakan menyatu dengan tanah hingga tercipta gelombang lumpur dan menenggelamkan anggota Sekte Burung Hantu yang tidak sempat menghindar.


Begitupun dengan Ling Queqi yang sudah menggunakan Tameng Kura-kura Surgawi dengan sengaja membenturkan serangan elemen dari pihak lawan lalu melepaskan kembali serangan tersebut ke pihak lawan yang ada di depannya.


Jiang Caiping juga tidak mau kalah, dengan Pedang kembar di tangannya bergerak dengan lincah dimana setiap terbasannya mampu membunuh dengan satu serangan.


Nan Sian yang memiliki elemen Angin dengan kecepatan tinggi melesat cepat ke arah pihak lawan hingga setiap serangannya membuat pihak lawan terpental ke udara.


Zhao Luyi dan Zhao Liying yang memiliki Pedang Jiwa Phoenix Es juga tidak ingin kalah dari yang lain.


Dengan gabungan kekuatan mereka berdua, membuat pihak lawan menjadi patung Es hingga beberapa saat langsung hancur.


Lan Liwei yang memiliki teknik ilusi juga melancarkan serangan terkuatnya dimana dengan kabut putih yang dia ciptakan, membuat pihak lawan tidak bisa berbuat apa-apa karena pandangan mereka tertutup oleh kabut asap dimana Lan Liwei seperti sosok hantu yang menculik korbannya.


Hong Kian juga tidak mau kalah dengan yang lain seakan berlomba untuk mendapatkan korban yang lebih banyak lagi.


Dengan bola Petir yang dia miliki, Hong Kian melepaskan bola Petir mengarah ke pihak lawan yang ada di depannya.


Di pertarungan lain Bing Ruyue dengan jarum Giok yang dia miliki, dimana setiap tusukan jarum Giok tersebut langsung menembus jantung pihak lawan hanya dalam hitungan detik.


Zhang Qixuan yang sudah mampu mengendalikan Seruling Dewi Kematian miliknya, membuat pihak lawan yang mendengar tiupan seruling tersebut mengeluarkan darah segar dari telinga dan hidung mereka hingga meledak menjadi kabut darah .


Para Tetua dan Guru yang menyaksikan hal itu, kini semakin gusar karena mereka sendiri tengah disibukkan dengan melawan Ryu dan Istrinya yang memiliki Tubuh Abadi.


Di sisi lain Dao Luo yang baru saja sampai di tempat itu hanya bisa menggelengkan kepala karena menurutnya Ryu dan Istrinya masih mampu melawan mereka.


" Jenderal Luo... Apa yang harus kita lakukan?" Tanya salah satu Prajurit.

__ADS_1


" Meskipun Yang Mulia Kaisar dan Istrinya mampu mengalahkan mereka, tapi mereka juga akan kewalahan jika berhadapan dengan ribuan anggota Sekte Burung Hantu sekaligus. Aku rasa tidak ada salahnya jika kita membantu." Dao Luo menatap ke arah pertempuran sambil turun hingga menginjak tanah.


Mendapatkan Instruksi tersebut para Prajurit pun langsung menuju area pertarungan dimana Dao Luo juga melakukan hal yang sama.


Dengan serangan tiba-tiba dari arah belakang, membuat anggota Sekte Burung Hantu lari kocar-kacir masih belum mampu memahami situasi tersebut.


Di tempat lain Wu Tian yang menyadari adanya pertarungan tersebut, dia pun keluar dari kediamannya menuju ruang penyimpanan harta, di sebuah bangunan yang cukup besar.


Tanpa menunggu lama Wu Tian langsung menjarah harta tersebut hingga tidak ada yang tersisa.


Setelah berhasil mengumpulkan semua harta tersebut, Wu Tian langsung menuju ke arah pertarungan untuk membantu Ryu.


Namun kali ini Wu Tian sedikit ragu karena pemandangan yang di depannya bukan pertarungan yang biasa, melainkan sebuah pembantaian.


Wu Tian yang masih mencapai Pendekar Bumi tahap menengah, kini hanya bisa berdiri mematung.


Pandangan Wu Tian pun menjadi buram saat menyaksikan hal itu dimana dia seperti seekor semut yang sedang berdiri di depan Gajah.


Di pertarungan lain Ryu yang mendapatkan lawan yang sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap menengah, kini masih saling bertukar serangan dimana terlihat masih seimbang.


Serangan demi serangan dari kedua belah pihak kini semakin bertambah ganas, hal itu tentu saja sangat merugikan anggota Sekte Burung Hantu dimana setiap imbas serangan mereka membuat anggota yang ada di dekat mereka langsung mati mengenaskan.


" Sialan... Ternyata Pemuda ini memang sengaja membenturkan serangannya agar para murid banyak yang mati." Salah satu Tetua menggerutu karena dia seakan diperdaya oleh Ryu.


Di sisi lain Ryu yang melihat kepanikan dari lawannya, kini tersenyum tipis menandakan sebuah kepuasan.


" Tuan Pendekar... Mengapa kalian menyerang Sekte kami? Apa salah satu dari anggota kami telah menyinggung kalian?" Tetua itu mencoba bertanya kepada Ryu, karena posisi mereka tidak menguntungkan.


" Jawabannya hanya satu. Kalian berasal dari Sekte Aliran Hitam. Jadi, sudah selayaknya Sekte Burung Hantu ini akan dihapuskan dari Benua Timur ini." Ryu menjawab pertanyaan Tetua tersebut sambil melancarkan serangannya.


" Apa kalian dari Sekte Aliran Putih? Bukankah Sekte Aliran Putih tidak pernah melakukan pembantaian seperti ini." Tetua tersebut mencoba bernegosiasi sambil melirik beberapa murid sudah banyak yang mati.


Tetua itu berharap agar Ryu menghentikan pertarungan, agar anggota Sekte Burung Hantu yang masih muda tidak berjatuhan.

__ADS_1


" Kami bukan dari sekte manapun. Tapi kami tapi kami akan menghentikan sikap arogan kalian kepada warga biasa." Sesekali Ryu menjatuhkan Hujan Petir membuat Murid Sekte yang tidak jauh dari mereka menjadi kabut darah.


Hal itu tentu saja membuat Tetua tersebut semakin geram dengan wajah memerah padam ingin membunuh Ryu secepat mungkin dengan kekuatan penuh.


Namun Ryu masih terlihat santai membalas serangan tersebut karena dia tau bahwa lawannya sudah kehilangan konsentrasi.


Apa yang dikatakan oleh Ryu memang tidak bisa dipungkiri, bahwa Sekte Burung Hantu adalah Sekte yang sering melakukan penindasan kepada beberapa Sekte kecil maupun para warga.


" Sudah cukup untuk bermain-main." Ryu menciptakan bola Petir mengarah kepada Tetua tersebut.


" Apa?" Tetua Sekte terkejut dengan ucapan dari Ryu mendapatkan firasat buruk sambil meningkatkan kewaspadaan.


" Bboooom." Bola Petir mengarah ke Tetua Sekte.


" Aaarrrggghhhh." Tetua Sekte berteriak keras tidak sempat menghindar hingga tubuhnya terpental ke udara.


" Duaarr." Sambaran Petir Hitam menyerang Tetua tersebut sebelum menyentuh tanah.


" Bbbzzzttt." Tubuh Tetua Sekte Burung Hantu dibaluti Elemen Petir dengan kondisi tidak bernyawa.


" Jadi begitu." Ryu tersenyum dengan kekuatan Petir yang dia miliki sekarang karena kekuatan Tubuh Dewa Agung sudah meningkat.


Tanpa menunggu lama Ryu langsung menuju ke arah Tetua tersebut lalu mengambil Cincin Ruang miliknya.


Ryu pun menatap ke arah Istrinya yang juga sudah menyelesaikan pertarungan mereka yang dimana hanya tersisa beberapa anggota Sekte Burung Hantu yang memiliki tingkat Kultivasi rendah yang terlihat mulai menjauhi wilayah pertarungan.


Melihat hal itu Ryu tidak ingin melanjutkan pertarungannya karena semua Istrinya begitu menikmati pertarungan mereka.


Ryu berpikir jika semakin sering Istrinya bertarung, maka pengalaman bertarung mereka akan semakin meningkat ditambah lagi dengan pengumpulan Aura Pembunuh yang mereka dapatkan tentu akan berguna saat melakukan pertarungan melawan orang yang lebih kuat.


Setelah menyelesaikan pertarungan, kini mereka menarik semua mayat tersebut ke Dunia Quzhu agar energi Alamnya semakin meningkat.


Hingga beberapa saat mereka telah berkumpul kembali untuk menemui Ryu, dimana Wu Tian, Dao Luo dan Prajurit juga berjalan mendekati Ryu.

__ADS_1


__ADS_2