SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
PAVILIUN KELINCI MERAH


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏


...****************...


Ditempat pinggiran Hutan, Keempat Wanita tersebut kini terlihat tersadar merasakan hawa panas di seluruh tubuh mereka membuat nafsu semakin meningkat.


" Ibu, kenapa tubuhku sangat panas? " Tanya salah satu Putri Pertama dari Walikota Bei yang bernama Gu Tingzi yang berusia 18 Tahun.


" Zi'er... Kita terkena Racun Kelinci Merah." Jawab salah satu dari Istri Walikota Bei bernama Su Ziya, meskipun sudah berusia 42 Tahun namun masih terlihat Cantik dan Muda.


" Ibu... Apa yang harus kita lakukan?" Anak kedua dari Walikota Bei bernama Gu Jixian yang berusia 17 Tahun merasakan Hawa panas dalam tubuhnya dengan Gairah yang memuncak mengendalikan pikirannya.


" Aku tidak percaya bisa seperti ini." Gumam Su Jieyu, Istri Walikota Bei kedua yang sudah berusia 40 Tahun juga tidak mampu menahan hasratnya.


Keempat Wanita tersebut berusaha menolak Hasrat mereka, namun gerakan tubuh mereka seakan menginginkan beberapa sosok yang memakai Topeng Kelinci berwarna merah agar cepat menjamah tubuh mereka.


" Teman... Sepertinya Racun itu sudah bereaksi. " ucap salah satu sosok kepada yang lain saat melihat Keempat Wanita tersebut memperlihatkan bentuk tubuh mereka yang begitu indah menggiurkan.


" Benar Teman... Aku menginginkan Istri Pertama Walikota itu saja meskipun sudah Tua, tapi tidak kalah Cantik dari Putrinya. " Satu sosok menelan ludah melihat Su Ziya yang sudah memperlihatkan belahan dadanya yang begitu indah putih dan mulus.


" Aku Juga menginginkan Istri keduanya. Dadanya masih padat berisi bokongnya juga terlihat indah " Sosok lain menatap ke arah Su Jieyu yang sudah membuka bagian dada dan membuka kedua pahanya sambil memainkan bagian Goa Sucinya dengan satu tangan.


" Silahkan kalian ambil kedua Istrinya itu. Aku mendapat bagian dari Putrinya yang masih belum dijamah siapapun." Satu sosok menatap ke arah Gu Tingzi yang mengapit bagian terlarangnya meskipun salah satu tangannya seakan memainkan bagian tersebut.


" Sepertinya aku juga mendapatkan yang masih Perawan. sudah tidak sabar lagi." Satu sosok menatap ke arah Gu Jixian yang juga sudah memainkan bagian terlarangnya meski masih tertutup kain.


Dalam hati Keempat Wanita tersebut tidak ingin melakukan hal yang memalukan tersebut apalagi memiliki hubungan antara ibu dan anak mau ditaruh di mana muka mereka.


Namun di sisi lain, mereka juga tidak mampu menahan hasrat dari Racun tersebut hingga membuat mereka tidak berdaya.


" Cepatlah Teman... Aku sudah tidak sabar lagi untuk menunggu Giliran. jika kalian terlalu lama, biar kami yang duluan." beberapa sosok yang lain juga tidak sabar.

__ADS_1


" Mmmmm." Keempat Sosok menghampiri incaran mereka masing-masing hingga langsung merobek Pakaian targetnya.


' Oh Dewa Agung... Aku tidak ingin seperti ini. apalagi Kedua Putri kami harus mengalami nasib yang sama. ' Su Ziya yang sudah membuka bagian Pahanya seakan menginginkan Sosok Bertopeng tersebut melakukan aksinya dengan cepat agar tubuhnya tidak tersiksa akibat Racun tersebut.


Begitu juga dengan yang lain kini memiliki fikiran masing-masing tidak ingin efek Racun tersebut menyiksa tubuh mereka meskipun akan dijamah oleh sosok yang tidak mereka ketahui.


" Kraaack... Kraaack... Kraaack... Kraaack.." Tiba-tiba Keempat Sosok tersebut langsung mati dengan leher dalam keadaan patah dan terlempar ke arah Kelompok mereka.


" Apa? " beberapa sosok yang lain Sontak kaget saat menyaksikan keempat rekan mereka mati dengan Kepala terbaik.


" Aku tidak percaya kalian bisa serendah ini." Ryu yang terlihat amarahnya sudah memuncak langsung melepaskan Aura Naga lalu memukul Dada Kelompok tersebut hingga mati dengan kondisi Tulang Rusuk yang Patah.


Meskipun mereka cukup banyak dan pukulan mereka sering mengenai Tubuh Ryu, namun itu seakan tidak berarti untuknya hingga membalas kembali Pukulan mereka.


Meskipun kecepatan mereka berimbang dengan Ryu, namun dalam segi pertahanan fisik mereka sangat jauh di bawah Ryu.


Ryu yang yang masih Geram, kini langsung mengambil Pedangnya lalu menyerang mereka dengan terbasan Acak.


Kelompok Paviliun Kelinci Merah itupun meringis kesakitan karena bekas sayatan di tubuh mereka yang seakan membakar organ dalam hingga mereka mati dengan kondisi tubuh yang menghitam.


" Ciihhhh... Aku benci dengan ini! " Ryu berniat melangkahkan kakinya karena tidak ingin melihat hal yang tidak enak dipandang.


" Tuan... Tolong Kami lepaskan Racun ini." Keempat Wanita tersebut memohon dengan nada lirih karena keinginan mereka tidak sempat terjadi karena kedatangan Ryu yang tiba-tiba yang kini hanya memelas kepada Ryu untuk memenuhi hasrat mereka.


" Maaf... Aku tidak bisa membantu kalian." Ryu berkata tanpa menoleh.


" Tuan, Kami terkena Racun Kelinci Merah. Racun ini akan merusak Meridian kami hingga kami cacat seumur hidup." Su Ziya bersuara lirih berusaha sekuat tenaga.


" Aku Akan mengantarkan kalian kepada Walikota Bei secepatnya." Ryu berniat ingin membawa mereka karena menurutnya Kedua Istri Walikota Bei masih bisa tertolong walaupun tidak tau bagaimana dengan nasib kedua Anaknya.


" Tunggu Tuan... Percuma jika kamu mengantar kami kepada Walikota.... " Su Ziya ingin melanjutkan penjelasannya namun mulutnya tidak bisa melanjutkan karena efek Racun terus mengendalikan dirinya.


" Walikota tidak bisa melakukannya. 15 Tahun yang lalu dia terkena gigitan ular salju." Su Jieyu melanjutkan sedangkan kedua Putri mereka sudah tidak mampu lagi bersuara.


Su Jieyu yang ingin melanjutkan pembicaraannya namun kali ini dia sudah mampu lagi karena Racun tersebut sudah mengendalikan tubuhnya meskipun hanya bisa membatin seakan meminta pertolongan.


' Tuan... Ular salju adalah Ular yang Racunnya mampu menghentikan seluruh Saraf korbannya. Jika bisa disembuhkan itu berarti Walikota tidak bisa Berhubungan badan dengan Isterinya karena Senjatanya tidak berfungsi lagi.' Li Chun menjelaskan kepada Ryu melalui pesan jiwa.


" Racun itu benar-benar merepotkan. Aku harus menyerapnya." Gumam Ryu tidak peduli lagi dengan kondisi Keempat Wanita yang didepannya yang hanya tersisa kain yang menutupi bagian terlarang mereka saja.


' Tunggu... Kamu jangan anggap remeh Racun Kelinci Merah. Meskipun kamu kebal terhadap Racun yang mematikan, Namun kamu tidak mampu menangkal Racun yang bersifat membangkitkan gairah. Satu lagi, Racun ini sangat kuat, aku khawatir efek Racun itu akan menurunkan kekuatan fisikmu dan merusak bagian saraf membuat beberapa Teknik yang kamu pakai tidak berfungsi. ' Li Chun menerangkan kepada Ryu.


' Sekuat itu? ' Ryu sontak kaget.


' Tuan... Racun itu sudah ada saat aku masih hidup dan tidak ada Penawarnya kecuali dengan berhubungan badan. Bahkan Dewa aku sendiri pernah terkena Racun Kelinci Merah karena menolong Adikku yang membuat aku kehilangan Keahlianku meski tidak kehilangan Kultivasi.' Li Chun membalas pesan jiwa.


' Aku tidak mau Kedua Putri Walikota Bei kehilangan masa depan mereka karena Racun itu. Paling tidak aku bisa membantu mereka.' Ryu bergegas menuju arah Kedua Putri Walikota Bei lalu menyerap Racun tersebut.


Seketika Ryu merasakan kepalanya seakan pusing dan berusaha mengendalikan pikirannya sampai Proses penyerapan selesai.

__ADS_1


Saat Efek Racun Kelinci Merah sudah hilang dari kedua Putri Walikota hingga mereka berdua langsung pingsan.


" Aku tidak mau kalian kehilangan masa depan." Ryu mendekatkan pakaian mereka langsung membuat Pelindung Tempurung Kura-kura lalu berjalan mendekati Kedua Istri Walikota.


" Aku minta maaf." Ryu membuat Pelindung Tempurung Kura-kura yang kedua lalu menarik tangan Su Ziya dan Su Jieyu.


" Bruuuuk." Su Ziya dan Su Jieyu menarik tangan Ryu hingga membuatnya terjatuh di pangkuan mereka berdua.


' Terimakasih Ryu'er ' Su Ziya dan Su Jieyu membatin karena Ryu masih peduli dengan masa depan kedua Putri mereka.


Meskipun tidak mampu berbicara, Su Ziya dan Su Jieyu dengan ganas seakan ingin menelan Ryu langsung merobek Pakaiannya


Tanpa menunggu lama Su Ziya dan Su Jieyu langsung menyambar tubuh Ryu dengan sekuat tenaga karena tidak ingin racun tersebut menghilangkan tingkat Kultivasi mereka.


Begitupun dengan Ryu, dia juga dalam keadaan terpaksa harus mengikuti keinginan Su Ziya dan Su Jieyu untuk menghilangkan racun kelinci merah.


Meskipun mereka baru mengenal Ryu saat pertama bertamu di kediaman Walikota, kini terlihat jelas dari raut wajah mereka memiliki kesenangan tersendiri karena Ryu mampu memenuhi hasrat mereka yang selama ini terpendam selama Lima Belas Tahun.


Bahkan saat Walikota masih Normal pun mereka tidak pernah mendapatkan hal seperti yang sekarang sedang mereka lakukan bersama Ryu.


Setelah Racun Kelinci Merah sudah hilang dari tubuh mereka, Ryu bergegas untuk bangkit meskipun terlihat bahwa Su Ziya dan Su Jieyu masih dalam kondisi tubuh mereka sudah tidak berdaya.


" Terimakasih Ryu'er... " Su Ziya senyum lembut karena efek Racun Kelinci Merah dia menemukan kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan.


Begitu juga dengan Su Jieyu, masih tergambar jelas bagaimana Ryu memberikan kebahagiaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata walaupun hanya semalam.


" Pulihkan diri kalian. Sepertinya Hari mulai Pagi. Walikota akan mencari kita." Ryu memberikan Pil Pemulihan kepada mereka.


" Mmmmmm." Kedua Wanita tersebut mengangguk lalu menelan Pil Pemberian Ryu untuk memulihkan diri.


Setelah beberapa saat, Su Ziya dan Su Jieyu membuka mata lalu mengambil Pakaian di Cincin Ruang masing-masing karena pakaian sebelumnya sudah tidak bisa dipakai lagi lalu bergegas menuju ke arah Kedua Putri mereka yang terlihat tertidur pulas.


" zi'er...an'er... Ayo bangun! Kita harus kembali ke Rumah." Su Ziya membangunkan mereka dengan lembut.


" Ibu..." Gu Tingzi dan Gu Jixian terbangun dari tidurnya.


" zi'er... an'er... Cepat pasang Pakaian kalian! Apa Kalian tidak malu dengan kondisi seperti itu?" Su Jieyu memberikan Pakaian kepada mereka.


" Aaahhh..." Gu Tingzi dan Gu Jixian tersadar memasang wajah memerah langsung memakai pakaian mereka teringat jelas semua serangkaian kejadian hingga sampai mereka pingsan.


" Sebaiknya kita cepat pergi dari sini sebelum Matahari terbit." Su Ziya menuntun mereka.


" Ryu'er... " Su Jieyu menoleh ke arah Ryu yang sedang duduk bersila di kejauhan membelakangi mereka.


" Kau...." Gu Tingzi dan Gu Jixian memasang wajah memerah mengingat Pemuda tersebut telah menyentuh bagian bawah pusar mereka.


" Kamu harus bertanggungjawab." Gu Tingzi menatap tajam ke arah Ryu.


" Ibu... Pemuda ini mengambil kesempatan merenggut Kesucian Kami." Gu Jixian menunjuk ke arah Ryu sambil menoleh ke arah Su Ziya dan Su Jieyu.

__ADS_1


" Nak... Kalian jangan salah faham... Ryu'er hanya membantu kita saja. Coba kalian periksa dulu bagian tubuh kalian." Su Ziya menggelengkan kepala berusaha menyembunyikan yang terjadi semalam.


__ADS_2