SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
JINYING PALSU


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏


...****************...


Satu Bulan telah berlalu Zhang Qixuan terus mengawasi Jinying, karena nalurinya begitu kuat bahwa Jinying bisa melakukan hal yang buruk kepada 21 Istri Ryu yang sedang Berkultivasi.


Begitu juga dengan Tou Shuijing, Chaizu, Jiejia, Jiu Wei Hu, Qilin, Kongque dan Jiaqin juga senantiasa mengawasi majikan mereka hingga tidak ada celah sedikitpun untuk Jinying.


" Sebaiknya aku pergi dari sini. Suatu saat aku akan membunuh kalian semua. Setelah itu Gege akan menjadi milikku seutuhnya." Jinying terlihat geram meninggalkan tempat tersebut menuju ruang Sumberdaya dengan mengambil Harta Langit, berbagai macam jenis Pil, Batu Roh, dan bermacam Sumberdaya yang ada di tempat itu dalam jumlah yang banyak.


Merasa sudah cukup, Jinying keluar dari Dunia Quzhu menuju ke Istana Kekaisaran Awan.


Dengan gaun seorang Ratu, Jinying keluar dari Kamar Utama Istana Kekaisaran Awan menuju luar Istana.


" Salam Yang Mulia Ratu." Beberapa Pelayan menundukkan kepala saat berpapasan dengan Jinying.


" Mmm." Jinying mengangguk meskipun dalam hatinya ingin membunuh mereka semua.


Namun saat berfikir kembali Jinying mengurungkan niatnya karena dia berfikir suatu saat nanti dia akan menjadi Permaisuri yang sah yang tentu dia membutuhkan bantuan dari Pelayan dan semua pengurus Istana.


" Salam Yang Mulia Ratu." Kelima Menteri dan beberapa Jenderal menundukkan kepala.


" Aku ingin keluar sebentar... Kalian tidak perlu repot-repot mengawal. " Jinying terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh.


" Tapi Yang Mulia Ratu." Zi Mayi merasa heran.


Tanpa memperdulikan ucapan mereka Jinying terus berjalan hingga mencapai Pintu Gerbang Istana.


" Penjaga... Berikan saya jalan." Jinying menatap tajam ke arah Penjaga Gerbang.


" Ba... Baik Yang Mulia Ratu." Para Penjaga berkeringat dingin sambil memberikan jalan kepada Jinying.


' Haaahh... Akhirnya aku bebas dari Hukuman Langit ataupun Ikatan jiwa.' Jinying bernafas lega mempercepat langkahnya.


Dari kejauhan terlihat dua sosok yang mengawasi arah Pintu Gerbang Istana Kaisar kini terlihat senang karena orang yang mereka tunggu sudah keluar.


" Haaahh... Lebih dari sebulan kita disini, akhirnya salah satu Istri Kaisar Ryu keluar juga." Ucap sosok Pria sambil memperhatikan kemana arah Jinying berjalan.


" Sekarang tugasmu untuk membunuh Wanita itu." ucap sosok wanita yang disampaikannya.

__ADS_1


" Tapi aku merasakan bahwa wanita itu sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap awal. Sungguh sulit dipercaya keluarga Istana Kekaisaran Awan bisa mencapai Pendekar Surgawi." Sosok Pria menggelengkan kepala.


" Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya sosok Wanita yaitu Guru Agung dari Sekte Ular.


" Kita harus membunuh Wanita itu. Dengan begitu kamu bisa menyamar menjadi Istri Kaisar Ryu." ucap Tetua Agung Sekte Ular.


" Haaahh... Kenapa aku harus menyamar di posisi yang sulit hanya untuk membalaskan dendam Leluhur kita." Ucap Guru Agung.


" Aku juga tidak menginginkan hal itu terjadi padamu, karena aku sangat mencintaimu." Tetua Agung mengungkapkan perasaannya.


" Aku sudah bosan mendengar ucapanmu. Aku sudah bilang berkali-kali bahwa kita hanya sebagai rekan satu Sekte." Ucap Guru Agung.


" Apakah tidak ada sedikitpun di hatimu untukku? Pendirian mu masih seperti seratus tahun yang lalu. Apakah kamu masih mencintai Suamimu itu? Kamu tau sendiri bahwa Suamimu pergi bersama wanita lain." Tetua Agung menggelengkan kepala karena wanita pujaannya selama ini tidak merespon sama sekali.


" Lebih baik kita fokus pada wanita itu." Guru Agung terus memperhatikan apa yang dilakukan Jinying.


Saat sudah jauh dari Pintu Gerbang, Jinying menuju ke arah Hutan sambil memeriksa keadaan sekitar lalu membuang pakaiannya ke semak-semak.


Terlihat Jinying sudah tanpa busana hingga beberapa detik terlihat pakaian berwarna hitam muncul dengan sendirinya hingga membentuk bayangan hitam masuk ke dalam Hutan.


Hal itu tentu saja membuat Tetua Agung membulatkan mata meskipun hanya samar-samar melihat lekuk tubuh Jinying yang begitu putih mulus meskipun hanya membelakangi mereka.


" Gluug." Tetua Agung menelan ludah merasakan sesuatu yang menonjol di antara kedua pahanya.


' Sungguh keindahan tubuh yang sempurna.' Naluri pejantan Tetua Agung langsung bangkit ingin menikmati keindahan tubuh Jinying tanpa terasa darah segar mengalir dari hidung dan terlihat air liur keluar dari mulutnya.


" Cciiihhhh... Baru saja melihat seperti itu, nalurimu langsung keluar." Guru Agung menggelengkan kepala atas tindakan Jinying yang sama sekali tidak menunjukkan seorang Ratu Istana.


" Ah... " Tetua Agung tersadar atas tindakannya merasa malu karena memperlihatkan tindakan tersebut kepada orang yang dia cintai.


" Aku harus ambil pakaian itu, aku harap wanita itu masih meninggalkan aroma tubuhnya. Dengan begitu penyamaranku akan sempurna." Guru Agung langsung menuju ke arah semak-semak dimana Jinying telah membuang pakaiannya.


' Sungguh keindahan yang sempurna.' Tetua Agung mengendus aroma dari pakaian yang ada di tangan Guru Agung membuatnya berkhayal tentang suatu yang indah saat menikmati tubuh Jinying.


Hal itu tentu saja dilihat oleh Guru Agung, atas tindakan tersebut Tetua Agung berkal-kali mengeluarkan lidahnya seakan tenggelam dalam pelukan pemilik gaun tersebut.


" Guru Agung... Sekarang kamu harus menyamar menjadi Ratu itu, sedangkan aku sendiri akan mengawasi wanita itu tadi." Tetua Agung langsung mengikuti arah Jinying masuk ke Hutan tanpa menunggu jawaban dari Guru Agung.


Tetua Agung tidak lagi menginginkan Guru Agung menjadi kekasihnya meskipun diantara mereka sama-sama cantik.


Tetua Agung berfikir seperti itu karena Cintanya bertepuk sebelah tangan dan berharap bisa mencari pengganti.


Di sisi lain Guru Agung masih berdiri mematung jika harus menyamar, maka secara otomatis dia akan menjadi Istri Kaisar Ryu.


Dalam situasi yang sulit, akhirnya Guru Agung membulatkan tekad untuk menjadi Ratu di Istana Kekaisaran Awan meskipun dia tau resiko yang harus dia ambil.


" Tidak ada pilihan lain, aku harus menyelidiki Istana Kekaisaran Awan." Guru Agung memperhatikan wilayah sekitar.


" Wuush." sebuah Pelindung transparan menutupi sekelilingnya.


Guru Agung mengeluarkan sebuah Mahkota sambil merapalkan sebuah mantra hingga mahkota tersebut mengeluarkan sebuah cahaya, dengan cepat Guru Agung memakai Mahkota tersebut hingga mengalami perubahan wujud menjadi sosok Jinying.


Saat Guru Agung sudah menjadi wujud Jinying, mahkota itupun menghilang seakan menyatu pada kulitnya.


Dengan buru-buru Guru Agung mengganti pakaiannya dengan gaun yang dikenakan Jinying sebelumnya dan tidak lupa Guru Agung memakai Mahkota kebesarannya sebagai seorang Ratu.


Dengan penuh kehati-hatian, Guru Agung kembali ke arah pintu gerbang Istana Kekaisaran Awan meskipun belum tau apa yang terjadi kedepan.

__ADS_1


" Salam Yang Mulia Ratu." Penjaga Gerbang memberi hormat.


" Mmm." Jinying palsu menganggukkan kepala sambil berjalan masuk ke dalam Istana.


' Apa yang harus aku lakukan? Meskipun aku memiliki perubahan wujud secara sempurna, tapi tempat ini begitu asing untukku.' Jinying palsu berjalan secara perlahan sambil memperhatikan wilayah sekitar.


Setelah berada di dalam Istana, Jinying palsu langsung disambut oleh Para Jenderal dan para menteri yang menyapa ramah kepadanya meskipun sedikit heran atas perubahan sikap dari Jinying palsu.


" Pelayan... Antar aku ke kamarku, kepalaku sedikit pusing.' Jinying palsu memegang kepala saat melihat kedua sosok Pelayan mendatanginya.


" Baik Yang Mulia Ratu." Kedua Pelayan menuntun jalan menuju kamar tempat kediaman Jinying.


Sambil berfikir keras, Guru Agung tidak ingin rencananya ketahuan karena dalam keadaan sekarang, dia dengan mudah untuk diketahui.


' Tidak ada cara lain. Aku harus memakai Pil itu.' Guru Agung berniat menelan racun perusak saraf dengan sedikit takaran agar masih bisa dikontrol.


" Silahkan Yang Mulia Ratu." kedua Pelayan mempersilahkan agar Jinying palsu masuk ke kamarnya.


" Terimakasih Pelayan... Pelayan, apakah di Istana ini ada seorang Ahli Alkemis?" Tanya Jinying palsu.


" Ada Yang Mulia Ratu... Kebetulan Alkemis itu baru saja bekerja di Istana ini dua bulan yang lalu. Apa aku akan memanggilnya?" Tanya salah satu Pelayan.


" Tolong bawakan Alkemis itu kesini! Kepalaku rasanya mau pecah. Aahhh..." Jinying palsu memegang kepala dengan kedua tangannya.


" Ba... Baik Yang Mulia Ratu." Kedua Pelayan dengan cepat melaporkan kejadian itu kepada salah satu Menteri.


" Haaahh..." Jinying palsu menghela nafas panjang sambil menutup pintu seraya berjalan menuju tempat tidur.


Tanpa menunggu lama, Jinying palsu mengeluarkan sebuah Pil lalu memecahkannya menjadi dua bagian agar tidak menimbulkan resiko.


Jinying palsu langsung menelan setengah Pil tersebut sedangkan sisanya dikembalikan ke cincin Ruang miliknya.


Setelah beberapa saat terdengar suara ketukan pintu saat Jinying palsu merasa pusing akibat efek Pil yang baru dia telan.


" Silahkan masuk." Jinying palsu berbaring di atas Ranjang langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Terlihat dua sosok Pelayan bersama satu sosok Pria Sepuh masuk ke kamar Jinying.


" Yang Mulia Ratu, apa yang terjadi padamu?" Pria sepuh memperhatikan wajah Jinying palsu yang berkeringat dingin.


" Aku tidak tau... Tapi tiba-tiba aku merasakan kepalaku pusing." Ucap Jinying palsu.


" Permisi Yang Mulia Ratu, biar aku yang memeriksa." Pria sepuh memeriksa denyut nadi di tangan Jinying palsu sambil memeriksa bagian kepalanya.


Setelah beberapa saat Pria sepuh mengerutkan kening sambil bernafas lega karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


" Sepertinya Yang Mulia Ratu terkena racun perusak saraf. Untung saja masih bisa tertolong, jika terlambat sedikit maka saraf Yang Mulia Ratu akan rusak Total." Pria sepuh menjelaskan apa yang dialami oleh Jinying palsu.


" Senior Alkemis, Apakah Yang Mulia Ratu masih mengingat sesuatu?" Salah satu Pelayan memberanikan diri untuk bertanya.


" Kemungkinan Yang Mulia Ratu akan mengalami gangguan ingatan, tapi tidak sepenuhnya. Berikan Pil ini selama satu minggu berturut-turut. Semoga saja bisa membantu Yang Mulia Ratu." Pria sepuh memberikan tujuh buah Pil dimasukkan ke dalam botol kecil.


" Terimakasih Senior Alkemis." Salah satu Pelayan mengambil botol tersebut karena melihat Jinying palsu sudah tidak sadar.


Mereka berfikir bahwa racun yang ada di dalam tubuh Jinying palsu sudah bereaksi untuk merusak sarafnya.


Hal itu memang benar, dimana Jinying palsu berusaha untuk melawan racun tersebut dengan mengeluarkan Qi miliknya secara diam-diam.

__ADS_1


Pelayan pun dengan segera memasukkan Pil tersebut ke dalam mulut Jinying palsu lalu menarik posisi Jinying palsu agar bisa duduk untuk menyerap khasiat Pil tersebut.


__ADS_2