
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
Ryu dan Ting Ye pun langsung beranjak dari tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan hingga selama lima hari mereka telah sampai di Kota Hasperia.
Di dalam Kota Hasperia, Ryu dan Ting Ye tidak mendapatkan kendala karena Ryu memakai Lencana yang diberikan oleh BI Zhang agar keberadaan Ting Ye tidak diketahui.
' Ciihhhh... Aku benci Kota ini.' Li Chun bersuara seperti sedang kesal melalui pesan jiwa.
' Li Chun.. Ada apa denganmu?' Ryu membalas Pesan jiwa.
' Aku berasal dari Klan Li ini. Tapi mereka telah membunuh semua Keluargaku saat mendengar kabar bahwa aku meninggal.'
' Apa kamu ingin membalaskan dendam kepada mereka?' tanya Ryu.
' Tentu saja. Tapi aku tau siapa yang masih setia dengan keluargaku. Meskipun kejadian itu sudah terjadi Ribuan Tahun yang lalu.' ucap Li Chun.
' Kalau begitu, aku perintahkan kamu untuk menyelamatkan mereka sebelum aku menghancurkan semua yang berhubungan dengan Kaisar Zou.' ucap Ryu.
' Dengan senang hati Tuan.' Li Chun keluar dari tubuh Ryu dalam bentuk Cahaya langsung terbang ke udara.
' Sepertinya akan lebih mudah' Ryu tersenyum lebar.
" Gege... ada apa denganmu? " Ting Ye merasa heran melihat tingkah Ryu.
" Ah... Itu... Li Chun juga memiliki dendam Pribadi dengan Klannya sendiri." ucap Ryu.
" Ohhh.... Gege... kita cari makan dulu! " Ting Ye memegang tangan Ryu.
" Mmmm... Sekaligus kita cari Penginapan." ucap Ryu.
" Aku tau dimana tempat yang Indah." Ting Ye tersenyum seraya menarik tangan Ryu dan membawanya ke suatu tempat.
Setelah berjalan beberapa saat, kini mereka telah berada di depan Sebuah penginapan yang bertuliskan ' Penginapan Bulan Biru ' yang terlihat begitu megah dan indah.
" Gege... Ayo masuk! " Ting Ye membawa mereka menuju sebuah meja kasir.
" Selamat datang Nona, Tuan... Apa yang bisa saya bantu?" Tanya salah satu sosok yang berpakaian beda dari Pelayan lain.
" Manajer... Kami memesan Kamar Terbaik disini makanan terbaik disini." Ting Ye memberikan 1000 Batu Roh di atas meja.
__ADS_1
" Baik Nona... " Wanita tersebut menoleh ke arah Pelayan. " Pelayan, antarkan kedua Tamu kita ini ke Kamar Eksklusif." Perintah sang Manajer.
" Baik Manajer Ping." Pelayan tersebut berlari kecil. " Tuan, Nona, mari saya antar." Pelayanan tersebut menundukkan kepala lalu menuntun mereka menuju sebuah kamar yang berada di tingkat teratas, yaitu lantai Lima.
Di tingkat lima terlihat hanya memiliki Tiga kamar namun terlihat sangat Luas memiliki teras dari dua sisi agar Tamu bisa menikmati Pemandangan luar dan bisa melihat Pengunjung lain yang berada di Restoran di lantai Dasar.
Pelayan pun mempersilahkan mereka masuk ke kamar tersebut yang memiliki sebuah Pelindung transparan agar bisa melindungi Tamu mereka.
" Silahkan masuk Tuan, Nona, " Pelayan tersebut membuka pintu kamar.
" Terimakasih Pelayan." Ting Ye memasuki kamar tersebut yang diikuti oleh Ryu.
" Ye'er... Penginapan macam apa ini? " Ryu mengerutkan keningnya seraya berjalan di kamar.
" Aku juga tidak tau. Aku tidak pernah sampai lantai teratas ini. Biasa hanya Lantai 2 itupun hanya sekali." Ting Ye juga memperhatikan Ruangan yang terlihat sangat mewah membawakan nuansa Romantis.
" Tidak masalah... Aku rasa suasana seperti ini sangat cocok untuk kita berdua." Ryu mendekati Ting Ye yang sedang duduk di sebuah kursi panjang.
" Mmmmmm." Ting Ye menyambut kedatangan Ryu yang duduk disampingnya.
" Permisi Tuan, Nona." Terdengar suara dari balik pintu.
" Silahkan masuk" Ting Ye mempersilahkan.
Tiba-tiba muncul Manajer Caiping bersama keempat Pelayan Wanita lain memakai busana tipis memperlihatkan bagian tubuh mereka yang membuat Ryu dan Ting Ye mengerutkan keningnya.
" Mohon maaf sebelumnya, belum sempat memperkenalkan diri. Aku Jiang Caiping Manajer di Penginapan ini. Aku mewakili kedua Pelayan lain yang tidak bisa datang karena sedang diluar kota." Jiang Caiping memasang wajah memerah karena baru pertama kali memakai Pakaian tipis yang memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya.
Namun karena harus Profesional dalam pekerjaannya, Jiang Caiping harus melakukan hal tersebut.
" Manajer Caiping, apa maksudnya? " Ting Ye sedikit risih dengan penampilan mereka seakan ingin menggoda Suaminya.
" Tidak perlu Pijatan... Dengan begini saja sudah cukup." Ryu bicara datar.
" Tapi Tuan... Ini tentang komitmen yang tidak bisa kami bantah. " Jiang Caiping sangat senang mendengar ucapan tersebut, namun bukan berarti harus mengabaikan pekerjaan mereka.
' Pemuda ini sangat Tampan, pasti Wanita itu adalah Istrinya. Aku harus buang fikiran ini.' Jiang Caiping membatin.
" Baiklah... Aku kagum dengan sikap profesional kalian. Untuk itu aku persilahkan! lagi pula badanku terasa capek." Ting Ye sambil mengurut lehernya.
" Terimakasih Nona." Jiang Caiping dan keempat Pelayan Wanita lain terlihat senang.
" Mmmmmm." Ting Ye menjawab dengan anggukan.
" Manajer, biar kami bertiga yang memijat Nona ini. Aku khawatir dia bisa berniat buruk kepada Manajer." bisik salah satu Pelayan tidak ingin terjadi sesuatu pada Atasan mereka.
" Ah... Baiklah! " Jiang Caiping mengangguk juga merasa khawatir kalau Ting Ye akan memperlakukannya dengan buruk, namun disisi lain dia harus memijat Sosok Pemuda yang awalnya harus dia hindari.
" Silahkan Nona, Tuan berbaring disini! " kedua Pelayan mengeluarkan Ranjang kecil tempat pemijatan.
" Mmmmm." Ting Ye langsung berbaring di tempat tersebut.
" Tuan." Salah satu Pelayan memberi isyarat kepada Ryu.
"....." Ryu terdiam bangkit dari tempat duduknya lalu berbaring di tempat tersebut.
Pelayan pun meminta mereka untuk melepaskan Pakaian mereka. Ting Ye pun tidak segan melepaskan pakaiannya karena disitu hanya Suaminya dan yang lain semua Wanita.
Sedangkan untuk Ryu hanya melepaskan pakaian bagian atas saja karena memang itu aturannya untuk Tamu Pria.
__ADS_1
Dengan sedikit Ragu, Jiang Caiping memulai Pijatannya menyentuh bagian belakang tubuh Ryu dengan fikiran kacau, namun dia mencoba untuk berkonsentrasi.
' Jadi.... Pemuda ini memiliki Elemen Cahaya?' Jiang Caiping sontak kaget saat tangannya menyentuh bagian tubuh Ryu.
Satu pelayan yang ada di dekatnya juga merasa heran, namun tidak berani bersuara karena bisa membuat Wanita yang tengah berbaring disamping mereka akan curiga dan marah.
' Wanita ini... Jadi dia memiliki Harta langit dalam tubuhnya. Tapi masih terkunci.' Ryu membatin merasa Aura samar-samar dari tubuh Jiang Caiping.
' Maaf Tuan... Apa Tuan adalah Kultivator Cahaya?' Jiang Caiping diam-diam memberi pesan jiwa kepada Ryu.
' Bukan... Aku Kultivator Petir. Tapi Cahaya ini hanya sebuah kebetulan.' Jawab Ryu melalui pesan jiwa.
' Tuan... Menurut Kakekku Hanya Kultivator Cahaya saja yang mampu membuka Energi yang terkunci dalam tubuhku. Itu kenapa aku susah Menerobos dan hanya mampu mencapai Pendekar Alam Tahap Awal. Sedangkan Kultivator Cahaya sangat langka dan hampir tidak ada.' Jiang Caiping memberi pesan jiwa.
' Maaf Tuan... Energi yang terkunci ini akan terbuka jika mendapatkan Energi 'Yang' dari Kultivator Cahaya. Itu artinya.... ' Jiang Caiping enggan melanjutkan pesan jiwa kepada lalu Ryu mencoba mengumpulkan keberanian kembali.
' Apa Tuan mau membantuku? Tapi... Tuan harus menjadi Suamiku.' Jiang Caiping sedikit Ragu.
' Maaf... Aku tidak bisa. Lagi pula aku sudah memiliki Istri. Aku harap kamu bisa menemukan Kultivator Cahaya yang lain.' Ryu menjawab dengan pesan jiwa. Ryu memang menginginkan Yin Murni yang sangat berlimpah pada diri Jiang Caiping, namun dia kembali berfikir Jiang Caiping bukan dari salah satu pemilik Tubuh Abadi.
' Maaf Tuan... Aku terlalu memaksa keadaan. Jika Energi ini selalu terkunci, maka seumur hidup aku hanya mampu mencapai Pendekar Alam Tahap Awal. Itu artinya aku akan kesusahan menjalani kehidupan nantinya.' Jiang Caiping menyesal harus mengatakan hal itu kepada Ryu, yang sama saja dengan merendahkan harga dirinya.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, Jiang Caiping dan keempat Pelayan Wanita lain sudah menyelesaikan tugas mereka lalu meninggalkan Ruangan yang disusul Dua Pelayan lain yang mengantarkan Makanan.
Ketika semua sudah meninggalkan Ruangan, Ryu dan Ting Ye langsung menyantap makanan yang telah disajikan sambil menikmati pemandangan Kota.
" Gege... Tiga hari lagi Pernikahan itu berlangsung." Ting Ye menyandarkan kepalanya di bahu Ryu.
" Ye'er... Kamu tenang saja. meskipun mereka sangat kuat, tapi mereka akan keawalahan menghadapi Manusia Rawa yang sangat banyak." Ryu sambil menatap keindahan kota.
" Kalau begitu, aku Akan berlatih lagi di Dunia Quzhu. Sepertinya Kekuatanku masih kalah dengan Hua'er." Ting Ye menyadari kelemahannya.
" Baiklah... Aku akan membeli beberapa Sumberdaya di Kota ini besok Pagi. Jadi kamu tinggal saja di Dunia Quzhu agar tidak ada yang mengetahui keberadaanmu sebelum hari itu tiba." Ucap Ryu.
" Mmmmmm." Ting Ye mengangguk lalu pergi ke Dunia Quzhu.
...****************...
Di Kediaman Klan Wang :
Terlihat Sosok Wanita Cantik sedang berbicara kepada dua Sosok Lain di depannya.
" Jun'er... Kenapa kamu masih keras kepala tidak ingin menikah dengan Putra Kedua? Bukankah tiga Hari lagi kalian akan menikah." Wang Cun terlihat Geram dengan Anaknya.
" Ayah... Dari awal sudah aku bilang, aku tidak mau menjadi Istri ketujuh Putra Kedua. Apalagi dengan sifat Arogan Keluarga Li yang selalu mementingkan kesenangan mereka sendiri." Ucap Wang Mingjun.
" Jun'er... Itu sudah keputusan dari Ketua Klan kita. Ayah dan ibumu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menurut." Wang Cun menggelengkan kepala.
" Haahh... Mereka sama saja, hanya mementingkan aturan yang tidak masuk Akal." Wang Mingjun menghela nafas panjang.
" Jun'er... Jika kamu menolak, itu sama saja membawa keluarga kita ke dalam bahaya. " ucap Wang Yihan.
" Harusnya Pernikahan ini adalah hal yang membahagiakan, Tapi aku merasa ada pertanda buruk." Wang Cun mengurut keningnya.
" Suami... Besok pagi kita harus berangkat ke Istana Kaisar Zou. Aku tidak mau kita mendapatkan masalah dan dibuang dari Klan Wang." Wang Yihan tidak bisa berbuat apa-apa, meskipun dia tidak ingin Putrinya menikah dengan Putra Kedua.
" Baiklah... aku akan Persiapkan keberangkatan kita besok pagi " Wang Cun beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
Wang Mingjun Pemilik Tubuh Abadi dari Klan Wang , Kultivator Angin.