
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
Satu Minggu saat Ryu keluar dari Danau Air Embun Surgawi kini saatnya Ting Ye melahirkan.
Dengan kelahiran Putra Keduanya, Ryu semakin senang.
Berkat bantuan 20 Pelayan, Ting Ye melahirkan anak tanpa ada kendala apapun.
" Selamat Tuan... Putra anda lahir dalam keadaan sehat." ucap salah satu Pelayan.
" Terimakasih Pelayan." Ryu tersenyum seraya menggendong bayinya.
" Gege... Anak kita sangat tampan seperti Ayahnya." Ting Ye tersenyum menatap ke arah Ryu.
" Putraku... Mulai sekarang aku akan memberimu nama Liu Yexuan. Karena matamu mirip sama Ibumu." Ryu mengembalikan Yexuan ke pangkuan Ting Ye agar diberikan asupan ASI.
" Sekarang keluargaku bertambah satu lagi. dengan begitu Seluruh Istana Kekaisaran Awan akan terisi. Aku harap Istana Kekaisaran Shin Juga terisi." Ryu melirik ke arah Nan Sian, Zhao Luyi dan Zhao Liying.
" Lebih cepat lebih baik." Jawab Nan Sian.
" Bukan hanya di Istana Kekaisaran Awan dan Shin saja. Istana Emas tidak lama lagi akan terisi." ucap Sheng Zhishu.
" Tentu saja." yang lain menimpal.
" Karena Anakku lahir di tempat ini, Maka aku juga menamakan tempat baru ini Bukit Yexuan, Air Terjun Yexuan dan Istana baru kita aku namakan Istana Yexuan." ucap Ryu.
" Kedengarannya sangat bagus. Bagaimana menurut yang lain?" tanya Sheng Zhishu.
" Aku setuju." ucap mereka serempak.
Mereka pun berbincang kecil untuk mengisi waktu luang hingga beberapa saat mereka kembali menuju ke tempat masing-masing.
...----------------...
Tujuh Bulan telah berlalu sejak mereka berada di Bukit Yexuan, Kini Tou Shuijing telah keluar dari Air Embun Surgawi yang kini Auranya semakin kuat.
Dengan keluarnya Tou Shuijing, Ryu pun melanjutkan perjalanan dimana seluruh Istrinya menyalurkan Energi pada suami mereka agar bisa melewati Pelindung yang mereka ciptakan.
Setelah berada di luar Tembok Besi Awan, Ryu mengeluarkan Tou Shuijing, Chaizu dan Jiejia untuk menemani Perjalanannya.
" Salam Tuan." ucap mereka serempak.
" Lebih baik kita lanjutkan perjalanan. Biarkan wilayah ini dipenuhi Hewan Roh, dengan begitu tidak ada yang berani mendekati wilayah ini." Ryu merasakan ada beberapa Hewan Roh di sekitar mereka.
" Baik Tuan." ucap mereka serempak.
Mereka pun kembali melangkahkan kakinya keluar dari Hutan sambil memeriksa wilayah sekitar agar tidak ada yang terlewatkan.
" Shuijing... Karena Jiwamu menyatu denganku, maka kamu bisa tinggal di Alam Jiwa milikku." ucap Ryu.
" Tidak masalah Tuan. Justru aku lebih senang berjalan bersama Tuan." Ucap Tou Shuijing.
__ADS_1
" Chaizu... Meskipun kami dan Jiejia bukan Hewan Kontrakku, kalian bisa Istirahat di Cincin Pemulihan milikku bersama Pasukan Semesta." ucap Ryu.
" Jika Tuan membuat Kontrak Jiwa lagi aku siap Tuan." ucap Chaizu.
" Tuan... Aku juga siap menjadi Hewan Kontrakmu." Ucap Jiejia.
" Kalian adalah sepasang kekasih, aku tidak ingin membuat kalian terkekang. Kalian bisa menjalani kehidupan baru dan memiliki Keturunan." ucap Ryu.
" Untuk sekarang kami belum memikirkan hal itu. Tapi suatu saat, kami juga Ingin tinggal bersama Keluarga Tuan di sekitar Bukit Yexuan untuk melindungi Keluarga Tuan." ucap Chaizu.
" Baiklah jika itu yang kalian inginkan. Lagi pula Hutan disana masih luas. " ucap Ryu.
" Aku sudah mendengar di wilayah Kota Linka ada beberapa Kera Emas yang muncul. Aku tidak ingin ketinggalan bagian. Tapi kita tidak perlu buru-buru, kita harus berjalan kaki saja." ucap Ryu seraya melangkahkan kakinya.
Mereka pun terus berjalan hingga mencapai sebuah Permukiman Warga lalu mencari sebuah kedai untuk mengganjal perut.
" Silahkan masuk Tuan... Apa yang bisa saya bantu?" tanya sosok Wanita paruh baya melihat kedatangan Ryu bersama tiga sosok yang lain.
" Nyonya... Kami ingin memesan beberapa makanan terbaik disini." ucap Ryu.
" Silahkan duduk Tuan, tunggu sebentar, aku akan mengambilnya." Wanita Paruh Baya mempersilahkan mereka lalu menuju dapur.
Ryu dan yang lain juga langsung masuk menuju ke sebuah kursi yang masih kosong.
Tidak menunggu lama pesanan mereka telah datang, Ryu pun menikmati hidangan tersebut bersama Tou Shuijing, Chaizu dan Jiejia.
Setelah selesai makan, Ryu langsung membayar pesanan mereka lalu meninggalkan kedai, karena tidak ada satupun informasi yang menarik dari beberapa pengunjung.
Setelah berjalan selama Tiga Hari, kini mereka sudah berada di wilayah Kota Linka dimana langsung menyusuri berbagai tempat di Hutan.
" Ternyata disini banyak Manusia Rawa." Ryu merasakan dari dalam Hutan yang tidak jauh dari mereka lalu mengeluarkan seluruh 40 Pasukan bawahannya.
" Salam Tuan." sambut mereka.
" Kita butuh banyak mayat untuk memperbaiki Dunia Quzhu." Ryu berjalan masuk ke dalam Hutan.
" Baik Tuan." mereka mengangguk mengikuti Ryu.
Tanpa menunggu lama, Ryu langsung menyerang mereka dengan menggunakan Teknik Pedang Penghisap.
Begitupun dengan Tou Shuijing, Chaizu dan Jiejia juga ikut melancarkan serangan kepada Manusia Rawa.
" Ternyata Manusia Rawa ini semua berkumpul disini." Ryu menatap ke arah Lautan Manusia Rawa yang mulai berdatangan rata-rata mencapai Pendekar Bumi.
Merasa akan terjadi sesuatu yang buruk, Ryu langsung menciptakan Hujan Petir menyerang Kumpulan Manusia Rawa yang mendekatinya.
" Duuaaar... Duuaaar... Duuaaar... " Ryu terus menjatuhkan Hujan Petir membuat Manusia Rawa menjadi kabut darah.
" Tuan... Mereka terlalu banyak." Teriak Tou Shuijing merasa ragu menghadapi Lautan Manusia Rawa.
" Kita gunakan kekuatan penuh." Ucap Ryu di sela Pertarungannya.
Dari kejauhan terlihat Lima Sosok yang memakai topeng yang diantaranya memakai topeng Serigala, topeng Singa, topeng Harimau, topeng Beruang.
" Sial... Mengapa mereka bisa mengetahui persembunyian kita." ucap sosok yang memakai topeng Serigala.
" Jika seperti ini, rencana kita untuk menguasai Benua Timur akan mengalami kendala." ucap pemakai topeng Beruang.
" Kita tidak boleh membiarkannya. Ini sudah terlanjur. Aktifkan Pelindung ke seluruh Hutan ini agar mereka tidak bisa lari." Ucap pemakai topeng Harimau.
" Lebih baik kita Gabungkan kekuatan. Sepertinya salah satu dari mereka adalah Hewan Legenda." ucap pemakai topeng Singa.
" Kalau begitu kita harus gunakan Tombak Pembunuh Naga untuk membunuhnya." Ucap pemakai topeng Harimau.
" Mmm." Keempat yang lain mengangguk lalu menggabungkan kekuatan untuk menciptakan Pelindung.
" Wuuung." Sebuah Pelindung berwarna merah darah menutupi seluruh Hutan.
Ryu yang melihat hal itu mendapatkan firasat buruk karena seluruh langit seakan ditutupi darah.
" Ggooooaaarr." Tou Shuijing berubah wujud menjadi Naga berkepala Tujuh.
__ADS_1
" Ggooooaaarr." Chaizu juga berubah wujud menjadi Harimau.
" Wssk." Jiejia juga berubah wujud menjadi seekor laba-laba.
Di Pertarungannya Ryu terus menjatuhkan Hujan Petir seraya menebas Manusia Rawa yang tidak ada habisnya.
Meskipun dari segi kekuatan Pihak Ryu sangat mendominasi, namun karena pihak lawan sangat banyak membuat Pasukan Semesta merasa khawatir.
' Jumlah mereka sungguh diluar nalar.' Ryu membatin seraya menelan Pil untuk memulihkan Qi.
Namun sebelum hal itu terjadi, Manusia Rawa seakan tidak ingin membiarkan Ryu untuk memulihkan tenaga meskipun mereka banyak yang mati.
Hal itu tentu saja terjadi, karena di belakang Manusia Rawa ada Puluhan sosok yang mengendalikan mereka.
Ryu yang menyadari hal itu, mencoba untuk mengetahui keberadaan mereka namun tetap saja tidak diberi kesempatan.
' Dimana mereka bersembunyi.?" Ryu sambil melepaskan Spiritualnya.
Karena Manusia Rawa sangat banyak disamping menciptakan Hujan Petir, Ryu juga menciptakan Bola Petir Hitam lalu melemparkan ke lautan Manusia Rawa.
Di Pertarungan lain Tou Shuijing dengan tubuhnya yang besar terus melancarkan Semburan Petir dari 7 kepalanya.
" Wuush." Sebuah Tombak melesat dengan kecepatan tinggi tertancap pada bagian dada Tou Shuijing.
" Ggooooaaarr." Tou Shuijing Mengaum keras menghapus lautan Manusia Rawa di depannya berusaha mencabut tombak tersebut yang menancap di bagian dadanya.
Namun sekuat apapun dia berusaha, Tombak tersebut seakan menyatu dengan tubuhnya dan menyedot Energi Qi miliknya.
" Tuan... Maaf, Aku tidak bisa menemani Perjalanan Tuan lagi." Tou Shuijing merasa hidupnya tidak lama lagi.
Saat-saat menghembuskan nafas terakhirnya Tou Shuijing berusaha sekuat tenaga dengan Kekuatan Penuh terus menyemburkan Energi Petir menyerang Lautan Manusia Rawa dari Udara hingga beberapa saat tubuh Besarnya terjatuh menimpa lautan Manusia Rawa.
" Shuijing." Teriak Ryu melancarkan serangannya semakin ganas lalu menarik tubuh Tou Shuijing ke Alam Jiwa.
Di Pertarungan lain Chaizu juga terus melancarkan serangan Petir dan Mengaum keras hingga berkal-kali membuat Manusia Rawa yang didepannya terluka berat.
" Sleeepp." Sebuah Tombak tertancap di bahu Chaizu.
" Ggooooaaarr." Chaizu mengaum keras membuat lautan Manusia Rawa berterbangan.
" Brruuuk." Tubuh Chaizu terjatuh tidak mampu lagi bertahan karena Tombak tersebut terus menyedot Energi Qi miliknya.
" Gege... " Jiejia berlari mendekati tubuh Chaizu yang kini terbujur kaku.
" Jia'er... Maafkan aku. Aku....." ucapan Chaizu terputus.
Melihat Suaminya sudah mati, Jiejia sangat marah menciptakan jaring laba-laba ke berbagai tempat membuat Manusia Rawa yang menyentuhnya langsung terpotong karena jaring yang diciptakan setajam pisau.
Di Pertarungan lain, 40 Pasukan Semesta juga terlihat Kewalahan karena Manusia Rawa terus berdatangan membuat Energi mereka habis terkuras.
Karena Energi mereka sudah habis, satu-persatu Pasukan Semesta mulai tumbang dan mati.
Melihat bawahannya berjatuhan, Ryu berusaha untuk menghindar dari Manusia Rawa berniat untuk mengembalikan Qi miliknya.
' Sial... Jika seperti ini, aku juga bisa mati.' Ryu mencari celah untuk memulihkan tenaga.
" Tuan... Biarkan aku menghalau mereka sebagai penghormatan terakhirku." Jiejia berdiri di depan Ryu menciptakan jaring laba-laba.
Meskipun sedikit ragu, Ryu mundur secepatnya hingga menelan beberapa Pil menciptakan Energi Pelindung di seluruh tubuhnya lalu menyerap Pil tersebut.
Di sisi lain Jiejia yang terus mengeluarkan Qi miliknya agar Jaring tersebut tidak putus, kini sudah banyak mengeluarkan darah dari mulutnya.
Akibat Serangan yang tidak ada habisnya, Jiejia pun tidak mampu lagi bertahan hingga tubuhnya tersungkur tidak berdaya.
...----------------...
Di Alam Jiwa milik Ryu, terlihat Jinying terus memperhatikan jalannya Pertarungan merasa sedikit khawatir jika Ryu mati, maka dia sendiri ikut mati.
" Sial... Jika saja ikatan jiwa ini sudah lepas maka aku tidak perlu repot-repot membunuhnya." Jinying menggerutu karena Ryu mati pada waktu yang tidak tepat.
Di dalam Pertarungan, Ryu terus berkonsentrasi untuk mengumpulkan kembali tenaganya meskipun dia tau bahwa Jiejia tidak mampu lagi bertahan.
__ADS_1
Namun Ryu tidak punya pilihan lain, jika pemulihan Qi belum selesai maka dia sendiri ikut mati.