
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
' Kalian Fikir aku B0doh berani berkeliaran jika masih pada Pendekar Alam Tahap Awal.' Ryu senyum jahat sambil menebas leher Anggota Sekte Iblis Neraka.
" Gawat... Sepertinya aku salah memilih target." Pria Botak melihat Juniornya yang sudah mencapai Pendekar Alam Tahap Akhir dengan mudah dikalahkan.
" Tuan.. Kalian memang licik! Apakah aku bisa meminta Armor Pelangi itu?" Li Chun sendiri tidak mampu memeriksa Tingkat Kultivasi Ryu dan Ting Ye yang dia kira juga awalnya hanya Pendekar Alam Tahap Awal sambil menikmati Pertarungannya.
" Boleh saja... Tapi aku ingin melihat pengabianmu terlebih dulu." Ryu langsung menggunakan Teknik Pedang Penghisap membuat semua Anggota Sekte Iblis Neraka yang mati langsung berpindah ke Dunia Quzhu.
" Tidak menyesal menjadi Bawahan Tuan, bahkan masih memiliki Teknik lain dibalik lengan Baju. Baiklah, Aku akan memilih Si Gemuk itu! Tapi terlalu berlebihan karena Si Gemuk itu hanya Pendekar Bumi Tahap Menengah." Li Chun merasa Jiwa Perangnya kembali bangkit karena melihat Ryu seperti melihat dirinya sendiri yang banyak melewati Ribuan Pertarungan semasa hidup dia dijuluki Kaisar Perang.
" Ini Gawat... lebih baik aku lari." Gumam Pria Gemuk tersebut langsung melarikan diri.
" Hei Gendut... Jangan dulu pergi! Aku belum selesai bermain " Li Chun berubah wujud menjadi sosok Naga mengejar Pria Gemuk tersebut membuatnya semakin ketakutan.
Melihat Sosok Naga yang Besar tersebut, Nyali anggota Sekte Iblis Neraka langsung ciut seakan pasrah akan hidup mereka.
Ryu dan Ting Ye yang melihat Perubahan dari Anggota Sekte Iblis Neraka langsung menyerang mereka dengan ganas hingga tidak ada satupun yang tersisa.
Li Chun yang awalnya ingin bermain, kini kehilangan selera langsung menelan Pria tersebut yang membuatnya bersendawa menciptakan tekanan udara di sekitar mulutnya.
Ryu dan Ting Ye yang menyaksikan hal tersebut kini hanya menggelengkan kepala sambil memperhatikan Pedang yang berserakan.
" Gege... Apa yang kita lakukan Pada Pedang-pedang ini? Jika ada yang mengambilnya, maka mereka akan membuat masalah." Ucap Ting Ye.
" Aku harus mengumpulkan Pedang ini dan menaruhnya di Dunia Quzhu agar tidak ada yang mengambilnya." Ryu merasakan Hawa membunuh yang sangat kuat dari Pedang tersebut lalu mengibaskan tangannya membawa semua Pedang tersebut ke Dunia Quzhu.
" Tuan... " Li Chung memberi hormat dalam Wujud Manusia.
" Li Chun... Kamu boleh kembali. Sesuai janjiku. " Ryu melemparkan Armor Pelangi kepada Li Chun.
" Terimakasih Tuan. Aku pamit dulu." Li Chun menangkap Armor tersebut lalu masuk ke dalam tubuh Ryu.
" Ye'er... Kita lanjutkan perjalanan.!" Ryu melangkahkan kakinya.
" Gege... Aura Pedang itu sangat mengerikan." ucap Ting Ye seraya berjalan.
" Aku tau itu. Tapi aku rasa itu akan berguna suatu hari nanti. Aku harus mempelajarinya terlebih dulu." Ryu yakin pasti Pedang tersebut memiliki cara khusus agar bisa membuat si pemakai menjadi lebih Kuat.
" Gege... Tapi kamu harus berhati-hati. " Ting Ye mengingatkan.
" Tentu saja... Bahkan aku sendiri akan meningkatkan Pedang milikku Ini, tapi masih banyak membutuhkan Inti Roh dan Sumberdaya." Ucap Ryu.
" Bagaimana caranya Gege bisa membuat Mayat Anggota Sekte Iblis Neraka langsung masuk ke Dunia Quzhu? " Ting Ye merasa heran karena setiap tebasan pedang Ryu terus menarik Mayat tersebut.
" Ye'er... Kamu tenang saja. nanti aku akan meningkatkan Pedang milikmu. " Ryu mengusap rambut Ting Ye.
" Benarkah?" Ting Ye terlihat senang.
" Buat apa aku berbohong?" Ryu menggelengkan kepala.
__ADS_1
" Aku percaya." Ting Ye tersenyum.
Mereka berdua pun terus berjalan hingga mencapai Permukiman Warga yang semua terlihat kosong seperti telah terjadi Pertempuran.
" Gege... Kenapa Warga disini tidak ada seorangpun?" Ting Ye terlihat bingung.
" Haahh.. Mungkin saja ulah dari Sekte Iblis Neraka itu." Ryu terlihat kesal.
" Mereka benar-benar Keji sampai membunuh semua Warga biasa."
" Lebih baik kita percepat perjalanan. Aku yakin akan banyak lagi yang akan menjadi Korban." Ryu bergegas melanjutkan perjalanan.
" Mmmmmm " Ting Ye berlari kecil mendekati Ryu.
Setelah berjalan beberapa saat, Ryu dan Ting Ye telah berada di pinggir Hutan yang terlihat ada kabut tipis berwarna ungu.
" Ye'er... Hati-hati! Sepertinya kabut ini bukan kabut biasa." Ryu mengingatkan langsung meningkatkan kewaspadaan.
" Mmmmm." Ting Ye mengambil Pedang miliknya.
' Tuan harus berhati-hati... Sepertinya Kabut ini dari Sekte Kabut Ilusi. Aku bahkan tidak mampu bertahan jika terkena Ilusi ini karena kemampuanku telah hilang saat menyerap Racun Kelinci Merah.' Li Chun memberi peringatan agar Ryu lebih berhati-hati.
" Ilusi...? Ye'er... Sebaiknya kamu Pergi Ke Dunia Quzhu. " Ryu mengingatkan Ting Ye.
" Mmmmmm" Ting Ye mengangguk tanpa harus bertanya, langsung menuju ke Dunia Quzhu karena dia sendiri merasakan Kabut tersebut mulai mengendalikan pikirannya.
" Sial... Kenapa setiap perjalananku selalu saja ada masalah." Ryu menggerutu dalam hati
Dari kejauhan, terlihat Dua sosok Wanita sedang memperhatikan Ryu yang sedang berjalan melewati Kabut ciptaan mereka.
" Saudari... Sepertinya Pemuda itu tidak berpengaruh dengan Ilusi yang kita ciptakan." ucap salah satu Sosok tersebut.
" Aku juga tidak tau... Ini aneh, mengapa Pemuda itu sama sekali masih terlihat tenang." ucap yang lain.
" Saudari Apa kita tidak langsung menyerang saja? Aku rasa kita bisa menghadapinya. Apalagi Pemuda itu masih berada di Pendekar Alam Tahap Awal."
" Apa kamu tidak lihat, Kemana arah Wanita yang disampingnya tadi?"
" Ini memang Aneh. Baiklah kita serang dulu Pemuda itu. Dengan begitu paling tidak kita bisa bawa Pemuda itu Sebagai Korban persembahan untuk leluhur." Ucap Sosok lain
" Mmmmmm " Mereka langsung berlari menghadang Ryu.
" Jadi kalian yang membuat kabut ini? Apa mau kalian?" Ryu menatap mereka dengan dingin.
" Saudari... Apa kamu yakin menjadikan Pemuda ini menjadi Tumbal? Dia sangat Tampan sekali." bisik salah satu Wanita tersebut.
" Saudari... Ingat tujuan kita." Sosok yang lain mengingatkan.
" Mmmmmmm " Mereka langsung menyerang Ryu dengan pedang di tangannya.
" Traaang....Traaang.... Traaang...." Pertemuan Serangan Pedang dari kedua belah pihak menciptakan percikan api kecil.
Setelah Gerakan dari Kedua sosok Wanita tersebut menciptakan kabut hingga menyebar ke berbagai arah.
" Saudari... Sepertinya Ilusi yang kita ciptakan tidak mempan dengan Pemuda ini." ucap salah satu sambil melancarkan serangannya.
" Kalian Fikir Ilusi yang kalian gunakan itu bisa mengenai ku? Sayang sekali Wajah Cantik kalian harus mengalami kerusakan." Ryu senyum dengan jahatnya.
" Crraaash.... Crraaash... " Ryu menggores kedua Pipi dari kedua wanita tersebut.
" Aaaahhhh..." Kedua Wanita tersebut merasakan sakit di pipi mereka seperti terbakar.
" Bajingan..." Kedua Wanita tersebut menyerang kembali ke arah Ryu dengan penuh amarah.
' Ledakan Kabut Ilusi '
' Ledakan Gelembung Air '
Kedua Wanita tersebut menyerang ke arah Ryu dengan menggabungkan kedua Teknik yang mereka miliki.
" Bboooom." Serangan mereka mengenai tanah kosong hingga menciptakan Kawah kecil.
__ADS_1
" Apa " Kedua wanita tersebut sontak kaget karena Ryu sudah berpindah tempat dengan cepat.
" Bboooom.... Bboooom..." Ryu muncul di belakang mereka memberi Pukulan keras membuat mereka terpental.
" Uhuuk." Kedua Wanita tersebut memuntahkan Darah segar lalu bangkit kembali.
" Bboooom... Bboooom..." Sebuah bayangan yang sangat cepat Ryu memukul kembali bagian Perut mereka.
" Uhuuk." mereka memuntahkan Darah untuk kedua kalinya.
" Tap... Tap... Tap..." Ryu berjalan secara perlahan mendekati mereka.
" Sayang sekali jika aku membunuh kalian. Cepat pergi sebelum Aku berubah pikiran." Ryu memancing mereka langsung membelakangi seraya melangkahkan kaki.
" Tussk " Sebuah senjata Rahasia menancap pada punggung Ryu.
Ryu yang menyadari hal tersebut langsung mengambil benda kecil tersebut dengan senyuman sinis.
" Racun Laba-laba mata merah?" Ryu memegang benda berbentuk jarum tersebut lalu menoleh ke arah mereka.
" Teknik Pedang Penghisap." Ryu dengan cepat memotong Leher kedua Wanita tersebut dengan tatapan dingin.
Seketika Tubuh mereka langsung menghilang hanya meninggalkan Dua bilah Pedang dan Dua Cincin Ruang tergeletak di tanah.
" Wuush." Ryu membawa benda tersebut ke Dunia Quzhu lalu memberikan pesan jiwa kepada Ting Ye seraya melangkahkan kakinya.
" Gege... Siapa mereka? " Ting Ye yang baru saja keluar dari Dunia Quzhu.
" Kedua Gadis itu berasal dari Sekte Kabut Ilusi." Ryu berkata dengan santai sambil berjalan.
" Jadi... Mereka dari Kabut Ilusi? " Ting Ye merasa ngeri seraya berjalan mendekati Ryu.
" Mmmmmm... Mereka Hanya Pendekar Alam Tahap Akhir. Tapi Ilusi dan Racun mereka sangat berbahaya. " Ryu menghela nafas panjang.
" Untung saja aku sudah kebal dengan Ilusi ataupun Racun yang bersifat melumpuhkan lawan. " Ryu membayangkan jika Racun dan Ilusi mereka terkena orang lain, meskipun Orang tersebut sudah mencapai Pendekar Langit Tahap Awal bisa terkena imbasnya.
Pantas saja Li Chun sendiri seakan enggan untuk bertarung dengan mereka.
" Sepertinya perjalanan kita sudah banyak mengalami kendala." Ryu mengingat serangkaian Peristiwa yang mereka alami.
" Gege... memang saat ini Benua Timur sangat banyak mengalami kekacauan. Itulah kenapa Aku membuat Pertahanan di Wilayah Kota Linka agar tidak mudah untuk diserang. " ucap Ting Ye.
" Apakah Walikota yang lain juga mengalami hal yang sama? " tanya Ryu.
" Walikota yang lain biasanya membawa pengawal yang banyak jika melakukan perjalanan. Hal itu tentu saja membuat mereka tidak mengalami kendala." ucap Ting Ye.
" Mmmmm... Tidak masalah... paling tidak kita bisa mengurangi kekuatan mereka." ucap Ryu.
Sambil berbincang kecil, mereka terus berjalan melewati Jalan Utama meskipun hanya berjalan kaki.
Namun bagi Ryu sendiri, itu adalah hal yang menyenangkan karena dia harus melatih Fisiknya.
Begitu juga dengan Ting Ye, karena dia seakan menikmati perjalanan tersebut karena ada Ryu disampingnya.
Waktu terus berlalu mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah Desa yang terlihat sepi.
" Haahh... Sepertinya tempat ini juga baru mengalami musibah. Ryu menghela nafas panjang.
" Gege... Sebaiknya kita bertanya kepada Beberapa Warga. " Ting Ye berjalan mendatangi salah satu Warga.
" Permisi Paman... jika boleh tau, mengapa Desa ini bisa seperti sekarang? Tanya Ting Ye.
" Nona... Dalam beberapa hari yang lalu Sekelompok Manusia Rawa menyerang Desa ini." Ucap Pria tersebut.
" Manusia Rawa? " Ryu mengerutkan kening karena ternyata masih ada Manusia Rawa yang tersisa meskipun dia sudah mengurungnya.
" Gege... Sepertinya Manusia Rawa memang masih memiliki Kelompok lain yang berbeda wilawah. " Ting Ye menyimpulkan.
" Mmmmm.... Sepertinya kita tunda dulu pencarian Manusia Rawa. lebih baik kita melanjutkan perjalanan ke kota Hasperia" Ucap Ryu.
" Mmmmmm." Ting Ye mengangguk.
__ADS_1
" Paman... terimakasih atas informasinya." Ting Ye menatap ke arah Warga tersebut.