
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
Di dalam ruang kerja Patriak, mereka terus membahas tentang tingkat Kultivasi Ryu.
" Apa kalian tidak merasakan tingkat Kultivasi Tetua Agung?" tanya beberapa Tetua.
" Sepertinya Tetua Agung sudah mencapai puncak Kultivator. Tapi aku merasakan ada Aura lain pada Tetua Agung." ucap yang lain.
" Aku tau itu... Itu wajar saja karena Ryu'er pernah belajar di Dunia Abadi, jadi dia memiliki gabungan itu." ucap Lin Feng.
" Benar juga... " ucap mereka.
" Sekarang kalian lakukan apa yang diminta Ryu'er. " Lin Feng mengingatkan.
" Baik Patriak." ucap mereka serempak lalu meninggalkan ruangan.
...----------------...
Di Alam Jiwa :
Terlihat Jinying memasang wajah murung karena merasakan tubuhnya sangat lemah meskipun tidak tau apa yang telah terjadi.
Karena penasaran Jinying langsung keluar dari Alam Jiwa untuk mempertanyakan apa yang terjadi kepada Ryu.
Ryu yang sedang membuat Cincin Pemulihan kini terhenti karena kedatangan Jinying.
" Pendekar Ryu... Apa yang terjadi padaku?" tanya Jinying.
" Kamu mengalami perubahan tingkat Kultivasi, masih beruntung kamu berada pada Level 20. Itu artinya kamu masih bisa memperkuat diri lagi." ucap Ryu.
" Bagaimana cara mengetahuinya?" Jinying semakin penasaran.
Tanpa menjawab, Ryu melepaskan spiritualnya membentuk sebuah cahaya lalu masuk ke kening Jinying.
Jinying yang mengetahui hal itu langsung menyerap cahaya tersebut hingga tersadar sambil menatap ngeri ke arah Ryu.
Tanpa berkata apapun Jinying langsung kembali ke Alam Jiwa karena takut Ryu akan lebih mudah membunuhnya hanya sekali kibasan.
' Sial... Kenapa aku bisa dibawa kesini.' Jinying menggerutu dalam hati.
Setelah Jinying pergi, Ryu kembali melanjutkan pekerjaannya hingga waktu telah berlalu terlihat matahari sudah condong ke barat.
Selesai melakukan pekerjaan, Ryu masuk ke Rumah untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Saat Ryu membaringkan tubuhnya kini terdengar suara seruling yang begitu menyedihkan bahkan Ryu sendiri tidak tahan mendengar suara seruling tersebut.
__ADS_1
" Qixuan... Ada apa denganmu?" Ryu bergumam seraya bangkit dari tempat tidurnya menuju arah suara.
Setelah beberapa saat Ryu telah berada di tempat kediaman Qixuan dimana terlihat sosok Wanita yang begitu kurus namun masih terlihat Cantik memakai gaun hijau sedang duduk sambil memainkan seruling.
" Hari sudah malam, kenapa Tetua Qixuan masih belum tidur." terdengar suara dari arah samping Qixuan.
Mendengar suara tersebut yang begitu dia rindukan Qixuan berhenti meniup seruling lalu menoleh ke arah sumber suara.
" Tetua Agung... Kapan kamu datang?" Qixuan merasa sangat senang dengan kehadiran Ryu, namun berusaha untuk seperti orang normal.
Dalam hati Qixuan sangat merindukan sosok Ryu sekalipun dia pernah mencoba untuk melupakannya namun saat Ryu pergi ke Dunia Abadi dia tidak mampu menahan perasaannya.
Berkali-kali dia mencoba untuk menepis perasaannya dengan berbagai aktivitas, namun tetap saja dia menganggap Ryu sebagai cinta pertamanya.
Sebelum bertemu dengan Ryu, Qixuan memang orang yang tertutup, cuek dan dingin.
Namun saat Ryu berada di Sekte Pedang Kuno, saat itulah perasaannya mulai tumbuh hingga dia menelan Kekecewaan bahwa orang yang dia cintai sudah memiliki Istri.
Setelah Qixuan tau bahwa Ryu sudah memiliki Dua Istri, dia mencoba untuk mengurung niatnya namun tidak lama sampai dia memutuskan untuk pergi ke Sekte Lembah Persik dengan alasan mencari pengalaman baru kepada Kakeknya Zhang Fei.
Saat Qixuan berada di sekte Lembah Persik, dia kembali menelan Kekecewaan saat Ryu pulang dari perjalanannya telah memiliki tujuh Istri dan diapun kembali mengurung niatnya.
Dengan kepergian Ryu, Qixuan semakin hari semakin merindukan sosok yang dia cintai.
Ryu yang melihat keadaan Qixuan tidak seperti yang dia kenal dulu kini merasa prihatin dengan kondisi tubuh kurus Qixuan.
" Aku baru datang tadi siang." Ryu menghampiri Qixuan lalu duduk di sampingnya.
" Apa kamu menemukan ketujuh Istrimu?" Qixuan menatap ke arah Ryu.
" Mmm... tapi mereka tidak bisa kesini." ucap Ryu.
" Apa kamu akan kembali lagi ke Dunia Abadi?" tanya Qixuan.
" Setelah urusanku selesai, Aku akan membawa keluargaku kesana. Termasuk orang yang berasal dari Desa Lembah Hitam." ucap Ryu.
" Tetua Agung... Aku tau kamu tidak akan pernah kembali lagi kesini setelah ini. Selamat, karena kamu telah menemukan Istrimu." Qixuan berusaha untuk tersenyum meski hatinya berkata lain.
" Sudah larut malam... Sebaiknya kamu istirahat. Tidak baik untuk kesehatanmu jika terkena angin malam." ucap Ryu.
" Sebentar lagi... Aku ingin memainkan seruling ini sebagai teman setiaku." Qixuan tersenyum berniat untuk memainkan seruling kembali.
" Orang di Sekte ini butuh Istirahat. Jika kamu memainkan seruling ini, maka waktu istirahat yang lain akan terganggu." Ryu berusaha menghentikan apa yang dilakukan Qixuan dengan cara halus.
" Baiklah... Kalau begitu aku pamit dulu untuk istirahat." Qixuan beranjak dari tempat duduknya tidak ingin terlalu lama disamping Ryu berlari kecil menuju pintu Rumahnya, karena tidak kuasa menahan air matanya.
Saat berada di dalam rumah, Qixuan menangis sejadinya meneteskan air matanya yang sudah tidak terbendung lagi sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak terdengar oleh Ryu.
Melihat Qixuan sudah berada dalam rumah, Ryu kembali ke kediamannya untuk beristirahat.
Satu Minggu telah berlalu, selama itu juga Ryu membuat Cincin Pemulihan, Jarum beracun, Armor, dan tidak lupa Ryu juga menambahkan kekuatan fisik dan lingkaran Qi miliknya.
Kini Ryu sudah mencapai 16% tubuh Dewa Agung dan Qi 260 Ribu lingkaran.
Setelah mendapat kabar bahwa Anggota Sekte yang sudah mencapai Level 80 keatas, Ryu kembali ke lapangan Sekte, dimana mereka sudah menunggu.
Atas keterangan dari Tetua Tianba, letak keberadaan Pasukan Siluman berada di lima titik di bagian terdalam Hutan yang tidak pernah mereka jelajahi.
" Dengarkan aku semuanya... Hari ini kita akan menghancurkan pasukan Siluman yang ada di Benua Lotus ini. Setelah itu kita akan memburu mereka sampai ke Benua Bintang." Ucap Ryu.
" Baik Tetua Agung." ucap beberapa dari mereka yang tentu mereka yang sudah mengenal baik Ryu.
Sedangkan yang lain memilih untuk diam, karena bagi mereka itu adalah hal mustahil.
Melihat ekspresi dari wajah mereka, Ryu memahami hal itu karena memang tugas yang mereka jalankan banyak resiko.
__ADS_1
Namun bagi Ryu yang sudah jauh-jauh hari telah menyiapkan perlengkapan untuk mereka, tentu saja hal itu dapat mengurangi resiko.
" Tetua Jianheng, Jianying, Tianba... bagikan ini kepada seluruh yang ikut." Ryu memberikan tumpukan Cincin pemulihan dan Armor.
" Baik Tetua Agung." ucap mereka lalu membagikan kepada Anggota Sekte yang berangkat.
" Cincin itu aku namakan Cincin pemulihan yang setara dengan Cincin ruang surgawi. Kelebihan dari cincin itu juga bisa memulihkan diri kalian saat terluka." Ryu bicara dengan lantang.
Mendengar ucapan tersebut Anggota Sekte terlihat senang karena bisa mendapatkan Harta yang begitu berharga bahkan untuk mendapatkan Cincin surgawi saja sangat sulit.
" Armor yang kalian pakai aku namakan Armor Awan yang mampu menahan serangan senjata Kelas Dewa." ucap Ryu.
Tentu saja hal itu membuat mereka semakin senang bahkan mereka tidak sia-sia pergi dari Sekte Cabang untuk mengemban tugas.
" Baiklah... Kita berangkat sekarang." Ryu mengeluarkan Kapal udara.
" Apa?" Semua terkejut melihat kapal udara yang sangat mewah jika dinilai harganya melebihi harta Kekaisaran Lotus Putih.
" Sekarang naiklah ke kapal itu." Ryu membuyarkan lamunan mereka.
" Baik Tetua Agung." mereka mengangguk langsung masuk ke kapal.
Setelah semuanya masuk, Ryu meminta kepada Dong Shen untuk mengemudi kapal udara dan menjelaskan cara pengoperasiannya.
Tanpa basa-basi Dong Shen langsung mengiyakan hal itu, karena itu adalah kesempatan baik untuknya.
" Tetua Tianba, aku akan memberimu tugas sebagai pengumpul Mayat Siluman yang akan kita buru nanti dan masukan kedalam kotak dimensi ini." Ryu memberikan kotak kecil kepada Tianba.
" Baik Tetua Agung." Tianba mengambil kotak tersebut.
" Tetua Jianheng, Aku memberimu tugas sebagai pengumpul Inti Roh Siluman dan masukkan kedalam kotak dimensi ini." Ryu memberikan kotak kecil.
" Baik Tetua Agung." Jianheng mengambil kotak tersebut.
" Tetua Jianying, Aku memberimu tugas sebagai pengumpul Sumberdaya dan masukkan kedalam kotak dimensi ini." Ryu memberikan kotak kecil kepada Jianying.
" Tetua Nuan, Aku memberimu tugas sebagai pengumpul Harta yang lainnya dan masukkan kedalam kotak dimensi ini." Ryu memberikan kotak kecil kepada Nuan.
" Baik Tetua Agung." Nuan mengambil kotak tersebut.
" Sekarang kalian bentuk tim kalian masing-masing." ucap Ryu.
" Baik Tetua Agung." ucap keempat Tetua tersebut lalu memilih tim mereka dari anggota Sekte.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, mereka telah mendarat di pinggir Hutan yang pertama tempat Pasukan Siluman berada.
Tanpa menunggu lama mereka langsung masuk ke dalam Hutan yang sekitar 100 meter dari pinggir hutan, mereka langsung disambut oleh kelompok Siluman Kalajengking.
" Dengarkan semuanya. Bunuh mereka semua dan jangan sampai ada yang tersisa." Ryu bersuara lantang seraya mengangkat tangannya memberi isyarat.
" Serang!" Seru beberapa Tetua yang ikut bersama mereka.
" Wuush" Ryu langsung melepaskan Aura Dewa Agung membuat Siluman yang masih berusia dibawah 100 Ribu Tahun Tingkat Suci langsung kehilangan nyawa.
Para anggota Sekte yang melihat kejadian itu langkah mereka langsung terhenti melihat apa yang dilakukan oleh Ryu tanpa melakukan gerakan apapun bisa membunuh mereka dengan mudah.
Hal itu memang wajar, karena Ryu sudah mencapai puncak Kultivator yang ada di Dunia Fana. Dengan ditambah Aura Dewa Agung yang tentu Ryu sudah melanggar Hukum Alam yang ada di Dunia Fana.
Ryu memang bisa melakukannya sendiri, namun untuk mengumpulkan Mayat Siluman dan mengumpulkan Inti Roh Siluman sudah pasti membutuhkan waktu yang sangat lama.
Karena yang mampu menandingi Ryu sekarang hanya Siluman yang sudah berusia Jutaan Tahun Tingkat Suci ataupun Tingkat Abadi.
" Jika begini ini bukan namanya bertarung." Dong Shen bergumam.
" Sepertinya Tetua Agung hanya membutuhkan bantuan kita untuk mengumpulkan Mayat Siluman dan Inti Roh saja." Jianheng senyum masam.
__ADS_1
Tanpa perlawanan berarti kelompok Siluman Kalajengking hanya mengantar nyawa saja, bahkan beberapa dari mereka mencoba untuk lari.
Namun hal itu tentu saja Ryu tidak membiarkan dengan langkah Hantu Harimau Petir Ryu seperti bayangan mengejar mereka hingga tidak ada yang tersisa.