SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
KERAJAAN XI


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏


...****************...


" Kau..." Sosok tersebut sangat marah langsung keluar dari Alam Jiwa.


" Aku Harap kamu pergi jauh." Ryu juga sangat marah mengingat Wanita tersebut berniat membunuh Istrinya lalu keluar dari Alam Jiwa.


Saat sudah membuka mata, Ryu langsung memeriksa keadaan sekitar dimana sosok tersebut sudah menghilang.


" Haaahh... Wanita liar." Ryu menghela nafas kembali berbaring.


Saat malam tiba di Dunia Quzhu, terlihat Istrinya langsung masuk ke kamar.


Ryu yang Awalnya hanya berniat untuk memprovokasi sosok itu saja, kini harus menerima tantangan dari istrinya tersebut.


...----------------...


Di Kekaisaran Shin setelah Perperangan berakhir :


Di sebuah Bangunan lain yang cukup jauh dari Istana Kaisar Gang, terlihat ada Empat sosok yang sedang berkumpul.


" Salam Perdana Menteri." Ucap Ketiga Sosok yang ada di tempat itu.


" Mmmm... Apa kalian ada kabar mengenai Penyerangan itu? " tanya Perdana Menteri.


" Perdana Menteri, mata-mata yang aku kirimkan sudah datang. Dia mengatakan bahwa Pasukan Kekaisaran Shin dan Empat Kerajaan telah berhasil dihancurkan." Ucap Menteri Pertama.


" Apa? Bagaimana bisa? Bukankah Pasukan yang dikirim itu hampir setengah dari Pasukan Kekaisaran." Tanya Perdana Menteri.


" Itulah Informasi yang kami terima dari mata-mata. Dia mengatakan bahwa Permaisuri Sian, Ratu Luyi Ratu Liying, dan Jenderal Jintao beserta Pasukannya juga berada di pihak Kekaisaran Awan." Ucap Menteri Pertama.


" Ternyata kita memiliki tujuan yang sama dengan Jenderal Jintao. Jika aku tau, mungkin dari dulu kita akan merapatkan barisan. Ucap Menteri Keempat.


" Aku faham dengan hal ini. Karena jika salah Orang, maka rencana Pemberontakan akan gagal. Itulah yang difikirkan Jenderal Jintao dan yang lain." Ucap Perdana Menteri.


" Benar... Aku sudah muak dengan Kekaisaran Shin sekarang. Kaisar Gang menaikkan Pajak sangat tidak masuk akal, Itu sama saja membunuh Rakyatnya sendiri." ucap Menteri Kelima.


" Sayangnya Permaisuri Sian tidak ada disini, jadi kita tidak tau apa yang harus kita lakukan." Ucap Menteri Keempat.


" Tapi aku fikir Permaisuri Sian memiliki rencana lain, atau mungkin dia akan menjalin kerjasama dengan Kekaisaran Awan." ucap Perdana Menteri.


" Itu artinya Permaisuri Sian akan menyerahkan Kekaisaran ini dibawah Kekuasaan Kekaisaran Awan." ucap Menteri Keempat.


" Haaahh... Itu sama saja akan memperburuk keadaan." Ucap Perdana Menteri.


" Tapi menurut mata-mata, Kaisar yang baru di Kekaisaran Awan sangat bijaksana dan dermawan. Bahkan ada kabar berkat Kepemimpinannya Kekaisaran Awan sudah membaik." Ucap Menteri Pertama.


" Kalau begitu tidak menjadi masalah. Menteri Keempat, kumpulkan Keempat Jenderal dan yang mendukung kita ke tempat yang aman. Aku yakin Kekaisaran Awan akan datang kesini." Ucap Perdana Menteri.


" Baik Perdana Menteri." Menteri Keempat meninggalkan ruangan.


" Bagaimana menurut kalian tentang Kelima Istri dan 20 Selir Kaisar Gang? Mereka juga sebagai Korban, karena dipaksa demi menyelamatkan keluarga mereka? " Tanya Menteri Pertama.

__ADS_1


" Semoga saja Kekaisaran Awan tidak asal bunuh. Karena tidak semua Orang yang ada di Kekaisaran Shin yang memiliki Prinsip yang sama." Perdana menteri menghela nafas panjang.


" Semoga saja." jawab mereka.


" Sekarang kita bubarkan rapat ini. Jangan sampai ada yang mengetahui hancurnya Pasukan yang dikirim." Perdana Menteri mengingatkan.


" Baik." ucap mereka seraya meninggalkan ruangan tersebut.


...----------------...


Hampir Dua Bulan di Dunia Quzhu yang artinya setengah hari di Dunia Abadi Ryu yang berada di Ruang Sumberdaya terlah menyelesaikan pembuatan Pil, kini langsung duduk bersila untuk memulihkan tenaga.


" Wuush." Bayangan hitam masuk ke tubuh Ryu.


Menyadari hal tersebut, Ryu langsung masuk ke Alam Jiwa untuk memeriksa apa yang akan dilakukan oleh sosok tersebut.


Ryu yang melihat Sosok tersebut merasa heran karena reaksinya tidak seperti semula.


" Kenapa kamu kembali? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk Pergi? " Ryu menatap penuh selidik.


' Kenapa aku tidak bisa terlalu jauh dari Pemuda ini? Apa karena Kontrak Jiwa itu? Padahal aku sudah menghapusnya? 'Sosok tersebut membatin karena semakin dia menjauh, tenaganya semakin berkurang.


' Aku harus bersikap baik padanya sambil memikirkan cara untuk membunuhnya dan juga Kelima Istrinya itu. Aku harus membutuhkan pertolongannya untuk mencari wanita lain sebagai Pelengkap tubuh baru ini, dengan begitu fisikku akan kembali menjadi kuat seperti dulu.' sosok tersebut membatin.


" Kenapa kamu diam?" Ryu membuyarkan lamunan sosok tersebut.


" Ah... Setelah difikir-fikir aku siap menjadi Rekanmu dan menuruti Perintahmu." sosok tersebut mulai melunak.


" Tidak masalah... Lagi pula aku pernah menganggap menganggap bawahanku sebagai Budak, melainkan aku menganggap mereka sebagai rekanku. Kalau begitu aku memberi nama baru untukmu...." Ucapan Ryu langsung terpotong.


" Tunggu! Kamu tidak bisa memberiku nama seenaknya karena Aku adalah Ratu Neraka, Namaku Ratu Nuwang." mata Sosok tersebut melotot ke arah Ryu.


' Kenapa aku tidak bisa mengontrolnya seperti yang lain? sepertinya Dia memiliki kesadaran sendiri meskipun tidak bisa membunuhku dan Istriku. Baiklah... aku memiliki sebuah ide.' Ryu berfikir sejenak dengan senyuman liciknya.


" Mau atau tidak, aku akan memberimu nama Jinying. Jika kamu tidak mau, maka aku tidak akan menutup Alam Jiwaku." Ryu dengan nada mengancam.


' Sial... Berani sekali dia memberiku nama yang baru. Awas saja nanti.' sosok tersebut membatin.


" Tunggu... Tunggu... Baik Aku akan menerima pemberian nama itu." ucap sosok tersebut. yang diberi nama Jinying bukan Ratu Nuwang lagi.


" Baiklah Jinying... Sekarang kamu boleh tinggal disini." Ryu senyum puas penuh kemenangan.


" Baiklah Pendekar Ryu." Jinying juga memberikan sebutan kepada Ryu.


" Mmmm." Ryu sedikit mengerutkan kening dengan panggilan tersebut lalu keluar dari Alam Jiwa.


Ryu menyadari harus menerima kehadiran sosok Jinying karena dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, meskipun sudah membunuhnya secara paksa dengan Kontrak Jiwa namun tidak berhasil.


Begitu juga dengan Jinying, dia juga tidak bisa membunuh Ryu dan Istrinya karena terhalang oleh kekuatan lain jangankan untuk membunuhnya, menyentuhnya saja tidak bisa.


Saat berada di Istana Emas, Ryu membawa Istrinya keluar dari Dunia Quzhu langsung ke Kamar Utama Istana Kekaisaran.


" Gege... " Xie Hua menyambut kedatangan mereka.


" Aku pergi dulu, mungkin yang lain sudah menunggu." Ryu keluar dari kamar menuju luar Istana.


Sesampai di halaman depan Istana terlihat Permaisuri Sian, Ratu Luyi, Ratu Liying Jenderal Jintao beserta Pasukannya, Pasukan Semesta, Jenderal Heilong, Jenderal Li Chun, Tujuh Pemimpin Sekte, Zuge dan Tiankong sudah menunggu.


" Selamat Pagi Tuan."


" Selamat Pagi Yang Mulia Kaisar." Sambut mereka serempak.


" Mmmm... Kita langsung berangkat sekarang ke Kerajaan Xi. " Ryu mengeluarkan Kapal Udara.


" Baik..." ucap mereka serempak langsung masuk ke dalam Kapal Udara.


Saat semua sudah berada di Kapal, mereka langsung menuju ke arah Kerajaan Xi karena akan dimulai dari yang terdekat.


Di dalam Kapal, Pasukan Semesta, Jenderal Jintao, Jenderal Heilong, Jenderal Li Chun, Zuge dan Tiankong memiliki Ruangan khusus. Sedangkan Ryu, Nan Sian, Zhao Luyi, Zhao Liying, 4 Paktriak dan 3 Maktriak berada di Ruang utama.


" Kaisar Ryu, boleh kita bicara sebentar? " Nan Sian menatap ke arah Ryu.

__ADS_1


" Silahkan." ucap Ryu.


" Aku sarankan agar kamu jangan sampai membunuh semuanya, Karena tidak semua orang yang ada di Kerajaan maupun Kekaisaran memiliki prinsip yang sama." Nan Sian mengingatkan Ryu agar tidak bertindak gegabah.


" Apa yang dikatakan Permaisuri Sian memang benar Kaisar Ryu. Hanya saja terkadang mereka tidak berani bertindak dan menentang Perintah Raja." Long Mubai menimpal.


" Kaisar Ryu, belajarlah dari apa yang kamu lakukan sebelumnya. Tidak mudah mencari Prajurit lagi jika kamu membunuh semua. Bukankah kamu lihat sendiri Prajurit Kekaisaran Awan jumlahnya sangat sedikit, beruntung kamu memiliki Pasukan aneh itu." Bing Ruyue ikut bersuara.


Mendengar ucapan tersebut, Ryu tersadar. Meskipun dia memiliki Pasukan Semesta tapi tidak mungkin akan selalu mengawasi seluruh Wilayah Kekaisaran Awan.


Bahkan Jika dibandingkan dengan Kekaisaran yang lain, adalah yang paling lemah dan banyak celah untuk para penyusup.


Beruntung Kekaisaran Shin dan Empat Kerajaan langsung menuju Istana Kekaisaran Awan. Jika Kekaisaran Shin melakukan penyerangan dari berbagai Kota di Wilayah Kekaisaran Awan, maka sudah pasti akan banyak memakan korban.


" Baiklah... Aku akan mempertimbangkan hal itu. Terimakasih sudah mengingatkan." Ryu membenarkan apa yang dikatakan mereka.


" Terimakasih Kaisar Ryu, dengan begitu akan mengurangi jumlah Korban." Nan Sian sangat senang.


Setelah memakan waktu Empat Jam, mereka telah sampai di Kerajaan Xi tepat di atas Pintu Gerbang Istana.


" Gawat ada serangan... Penjaga, laporkan kepada Raja Xi Siao." Perintah Pemimpin Penjaga.


" Penjaga.. Ada apa? " Tanya salah satu Jenderal.


" Jenderal, ada serangan... Mereka ada di Atas Pintu Gerbang. Aku harus melaporkan masalah ini kepada Raja." Penjaga Gerbang terlihat buru-buru.


Mendengar ucapan tersebut, Jenderal langsung meminta kepada salah satu Prajurit untuk membunyikan Lonceng Darurat.


Mendengar suara Lonceng Darurat, Para Jenderal, Prajurit dan pengurus Istana langsung berkumpul termasuk Raja Xi Siao.


Ryu memang Sengaja tidak langsung menyerang karena menginginkan semua berkumpul.


" Penjaga, ada apa?" tanya Raja Xi Siao.


" Yang Mulia, diluar ada Musuh." Penjaga terlihat gemetar.


" Lancang! Kumpulkan semua Pasukan! " Perintah Raja Xi Siao.


" Baik Yang Mulia." Penjaga tersebut langsung berlari keluar Istana yang kini semua sudah berkumpul.


" Ayah, ada apa?" Tanya Putra Mahkota dan Tiga Pangeran.


" Kita kedatangan musuh. Cepat siapkan diri kalian untuk berperang." Raja Xi Siao berlari menuju Luar Istana.


" Baik Ayah." ucap mereka juga keluar Istana.


Di Luar Istana :


' Sial... Aku lupa ada Lonceng.' Penjaga Gerbang tersadar akan kebodohannya karena saking takut.


" Sleeeeeppp." Sebuah bendera tertancap di tengah halaman Istana.


" Kekaisaran Awan." ucap mereka serempak.


" Ggooooaaarr." Jenderal Heilong dalam Wujud Naga Hitam membawa Ryu di atas panggungnya.


" Dengarkan Aku! Aku datang kesini untuk membalas Serangan gabungan Kalian bersama Kekaisaran Shin." Ryu bicara lantang dengan mengeluarkan Qi.


" Apa?" Bagaimana mungkin." Semua terkejut teringat Pasukan yang dikirim yang sangat besar itu bisa dikalahkan dengan mudah.


Semua beranggapan Jika Pasukan Kekaisaran Awan berada di tempat mereka sudah jelas menandakan bahwa Pasukan yang dikirim sudah mati.


" Aku memberikan kesempatan kepada kalian. Bagi yang Tunduk pada Kekaisaran Awan maka tinggalkan tempat ini sebelum aku hancurkan." Ryu dengan nada mengancam.


Mendengar ancaman tersebut semua berpandangan satu sama lain dengan pemikiran masing-masing.


' Penasehat Agung, mungkin ini saatnya.' Beberapa Jenderal mengirim pesan jiwa kepada Penasihat Agung.


' Kalian benar... Aku sudah muak Pada Raja Xi Siao karena lebih tunduk kepada Kekaisaran Shin. Padahal kita sudah hidup tenang di Wilayah Kekaisaran Awan.' Penasehat Agung memberi pesan jiwa kepada Ketiga Jenderal.


' Baik.' Ketiga Jenderal keluar dari barisan diikuti Para Prajurit.

__ADS_1


Tidak beberapa lama Penasehat Agung juga keluar dari barisan diikuti Pengurus Istana yang lain.


__ADS_2