SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
SEJARAH


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏


...****************...


Saat berada di Ruang Kultivasi, terlihat 12 Istrinya yang memiliki Tubuh Abadi sedang duduk bersila.


Tidak lama kemudian Li Jilan juga muncul untuk melanjutkan latihannya.


" Gege..." Li Jilan menyapa Ryu.


" Mana Qi'er? " tanya Ryu.


" Qi'qi kembali ke Istana Kekaisaran Awan. Mungkin ada pekerjaan yang harus dia selesaikan." Ucap Li Jilan.


Mendengar ucapan dari Li Jilan, Ryu mengangguk mengerti lalu duduk bersila untuk berlatih yang diikuti Li Jilan.


Dengan bantuan Yuwang, Ruang Kultivasi menjadi lebih cepat 100 kali lipat dari waktu yang sebenarnya.


Meskipun Yuwang tidak mampu menciptakan Waktu di seluruh Dunia Quzhu, namun dengan adanya kecepatan waktu di Ruang Kultivasi cukup membantu perkembangan mereka.


Setelah menutup mata, Ryu langsung menuju Alam Jiwa yang kini terlihat Jinying dan tiga sosok hewan kecil bentuk baru dari Tou Shuijing, Chaizu dan Jiejia.


" Sudah lama aku tidak meningkatkan Auraku." Ryu bergumam seraya duduk di dataran yang di pinggir Lautan Qi.


Seketika Aura Pembunuh dari tubuh Ryu begitu pekat saat dia melepaskan Armor Pelangi miliknya.


' Sepekat ini? Berapa banyak makhluk yang dia bunuh?' Jinying berkeringat dingin merasakan Aura Pembunuh dari Ryu.


" Pendekar Ryu... Berapa banyak makhluk yang kamu bunuh? Bahkan Aura Naga Langit milikmu sudah mencapai tahap sempurna dari Aura Pembunuh yang kamu olah." Jinying sedikit penasaran dengan Teknik yang Ryu gunakan untuk mengolah Aura Aura Naga Langit yang terbilang sangat langka untuk kalangan Kultivator.


Bukan tanpa alasan Jinying mempertanyakan hal itu karena untuk mencapai Aura Naga Langit lebih sulit dari pada meningkatkan Kultivasi.


Di kehidupan Jinying sebelumnya saat bergelar Ratu Neraka sangat memahami tentang Aura.


Untuk kalangan Kultivator Aliran Putih, banyak yang memilih untuk menghilangkan Aura Pembunuh mereka agar tidak merusak fikiran mereka walaupun ada beberapa Kultivator Aliran Putih memilih untuk mengolah Aura Pembunuh menjadi Aura Serigala. Aura Harimau hingga bisa mencapai Aura Naga.


Teknik untuk mengolah Aura itu sendiri sangatlah langka dan hanya beberapa orang saja yang memiliki teknik tersebut tapi untuk mencapai Aura Naga Suci saja sudah pasti sudah banyak melakukan pertarungan dan bisa dibilang Pembantaian.


Untuk kasus Ryu memang berbeda karena sudah mencapai puncak dari Aura, yaitu Aura Naga Langit.


Sedangkan untuk Kultivator aliran Hitam lebih senang dengan Aura Pembunuh, karena semakin banyak melakukan pembunuhan maka semakin pekat Aura Pembunuh mereka yang tentu akan membantu mereka saat bertarung.

__ADS_1


Semua jenis Aura memiliki keuntungan tersendiri karena mampu menekan pergerakan lawan. menghilangkan konsentrasi lawan, membuat lawan pingsan seketika bahkan bisa menyebabkan kematian tergantung tingkat Kultivasi pihak lawan dan tergantung tingkatan dari Aura tersebut.


" Karena aku sudah mencapai Aura Naga Langit, Itu artinya aku bisa menggabungkan Aura Pendekar dan Aura Naga Langit menjadi Aura Dewa Agung." Ryu membuka kembali matanya.


" Gluug." Jinying menelan ludah membayangkan bagaimana jadinya jika Aura tersebut ditingkatkan lagi meskipun dia tidak mengetahui maksud dari ucapan Ryu.


' Jika seperti ini, lama-lama aku bukan tandingannya lagi. Dengan Auranya saja cukup merepotkan, apalagi jika ditambah dengan Kultivasinya yang pasti akan meningkat.' Jinying membatin.


Setelah menjawab pertanyaan dari Jinying, Ryu kembali melanjutkan latihannya untuk mengolah Aura Dewa Agung dari Aura Pembunuh yang dia kumpulkan.


Meskipun Proses itu sangat sulit, namun bagi Ryu tidak menjadi masalah karena dia sudah memahami tentang Aura.


Setelah beberapa jam Ryu telah berhasil menggabungkan Aura Naga Langit dan Aura Pendekar, Ryu kembali memperkuatnya dengan Aura Pembunuh yang dia miliki.


Seketika Tubuh Ryu mengeluarkan cahaya warna-warni yang menandakan bahwa dia telah berhasil memperkuat Aura Dewa Agung meski harus memakan waktu yang sangat lama untuk menghabiskan Aura Pembunuh dari tubuhnya.


Merasakan Aura yang sangat kuat, Jinying, Tou Shuijing, Chaizu dan Jiejia memilih untuk menjauhi Ryu agar tidak terkena dampak Aura tersebut yang bisa menyerang mental mereka.


Setelah berhasil menghilangkan Aura Pembunuh menjadi Aura Dewa Agung, Ryu kembali membuka mata.


" Aura ini sangat kuat, tapi kekuatan fisikku hampir tidak mampu menahan Aura Dewa Agung lebih lama. Aku harus mencari Inti Roh sebanyak mungkin untuk memperkuat fisikku." Ryu mengambil Inti Roh yang selama ini dia kumpulkan meskipun tidak banyak, paling tidak untuk menambah sedikit.


Satu hari satu malam Ryu berada di Ruang Kultivasi kini dia beranjak dari tempat tersebut menuju Ruang Penempa.


Mengingat Ryu masih memiliki Qi 250 Ribu Lingkaran yang itu artinya Ryu tidak bisa menggunakan Teknik terkuatnya yang rata-rata menghabiskan Qi lebih dari 10 Ribu Lingkaran itupun berkat Inti Permata dari Kerang langit berikan, maka Ryu berniat untuk membuat senjata rahasia.


Meskipun bisa menciptakan Hujan Petir dengan 1000 Lingkaran, namun jika berhadapan dengan lawan yang banyak seperti saat melawan Manusia Rawa, maka sudah pasti harus menggunakannya berkali-kali.


" Gege... Kamu makan dulu." Nan Sian muncul sambil membawa Makanan.


" Sekalipun kamu bisa mengolah Qi menjadi nutrisi, tapi tetap saja Nutrisi dalam makanan lebih berguna." Nan Sian menyodorkan makanan kepada Ryu.


Begitupun dengan Nan Sian dengan senang hati menyuapi Ryu hingga berkali-kali sampai Ryu merasa kenyang.


" Baiklah aku pergi dulu. Jangan lupa untuk istirahat." Nan Sian membersihkan tempat makanan lalu meninggalkan Ryu.


Setelah Nan Sian pergi, Ryu kembali melanjutkan pekerjaannya untuk membuat sebuah jarum besar seukuran kelingking dari Besi Awan.


Saat hari sudah sore Ryu telah berhasil membuat senjata rahasia sebanyak 90 buah Jarum lalu menyimpannya di Cincin Pemulihan.


Merasa sudah cukup, Ryu kembali ke Istana langsung menuju Kamar Utama yang terlihat Nan Sian dan Jiang Caiping sudah berada di tempat itu.


Hal yang tidak lupa Ryu lakukan adalah membersihkan diri dan Jiang Caiping bertugas untuk menyediakan pakaian untuk Ryu.


" Kalian selalu saja memanjakanku." Ryu senyum kecil seraya membaringkan tubuhnya di atas Ranjang.


" Itu memang tugas seorang Istri." Jiang Caiping ikut berbaring diikuti Nan Sian.


Pada keesokan pagi Ryu keluar dari Dunia Quzhu untuk melanjutkan perjalanan.


Dalam Perjalanan Ryu berkali-kali memasuki Hutan berburu Inti Roh untuk meningkatkan kekuatan fisiknya.


Disamping itu juga Ryu terus mencari keberadaan Kera Emas ataupun Hewan Ilahi yang lain hingga menemukan beberapa Kelompok yang berada di depannya.


" Siapa mereka? kenapa mereka seperti Prajurit Istana?" Ryu mengerutkan kening mencoba melewati Rombongan tersebut.


" Maaf Pendekar... Anda tidak boleh mendahului Rombongan." Salah satu Prajurit menghalangi langkah Ryu.


" Maaf Prajurit... Saya sedang buru-buru." ucap Ryu.

__ADS_1


Mendengar percakapan di belakang, sosok yang berpakaian Jendral menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah suara.


" Prajurit... Ada apa? " Tanya Jenderal.


" Jenderal... Pemuda ini ingin mendahului Rombongan kita." ucap prajurit.


" Tuan Pendekar... Aku harap kamu bersabar. Sebuah aturan tidak boleh mendahului Orang penting." ucap Jenderal.


" Tapi Jenderal, saya sedang buru-buru." ucap Ryu.


" Apa kamu tau siapa yang kami antar? Aku harap kamu menyingkir sebelum menyesal." Ucap Jenderal.


" Jenderal... Siapa yang menghalangi jalan kita?" Dua sosok Wanita Cantik berpakaian Biru dan Putih keluar dari Kereta.


" Maaf Tuan Putri. Pemuda ini Ingin mendahului kita." Ucap Jenderal.


" Dasar Rakyat jelata. Apa kamu tau siapa kami." Ucap sosok Wanita berpakaian Putih.


" Kami Adalah Putri dari Kerajaan Pasir Putih Calon Istri Kaisar Ryu." Wanita berpakaian Biru dengan percaya diri.


Mendengar ucapan tersebut Ryu merasa geli mencoba mencari informasi mengapa mereka berani berkata seperti itu.


" Maaf Jendral... Kalau boleh tau, Apa kalian sudah pernah mendatangi Istana Kekaisaran Awan? " Ryu mencoba menyelidik.


" Itu sudah pasti, bahkan Kaisar Ryu sendiri yang melamar kami." Ucap Wanita berpakaian Putih sangat percaya diri.


" Tuan Pendekar... Lebih baik kamu pergi sekarang agar Keluargamu terkena imbas. Kaisar Ryu tidak akan memaafkan siapapun yang mengusik Keluarganya. Bukankah kalian sudah tau kalau Kaisar Ryu mampu menghancurkan Empat Kerajaan dan Kekaisaran Shin hanya dengan 200 lebih pasukan saja." Jenderal memperlihatkan Ryu sedikit mengancam.


Tidak ingin berdebat, Ryu lebih memilih untuk menghindar dan mengambil jalur melewati Hutan karena dia berfikir semakin banyak mendapatkan Inti Roh, maka kekuatan fisik akan meningkat meskipun hanya mendapatkan Inti Roh yang masih dibawah Tingkat Bumi Tahap Akhir.


Meskipun itu bisa dibilang Pemborosan, tapi tidak ada cara lain karena Hewan Roh Tingkat Langit memang susah dicari.


Di sela perjalanan, Ryu mengirim pesan jiwa kepada Bing Ruyue dan Ling Queqi untuk menyelidiki Utusan dari Kerajaan Pasir Putih yang membawa 2 Putri kerajaan bahkan jika mereka bertindak lebih jauh harus menggunakan kekerasan.


Setelah berjalan beberapa saat,Ryu mendapatkan pesan jiwa dari Bing Ruyue lalu mencari tempat untuk duduk bersila.


' Gege... Kerajaan Pasir Putih tidak seperti yang kamu kira. Kerajaan itu sudah berdiri sejak Ribuan Tahun yang lalu. Aku dengar Leluhur mereka sudah mencapai Pendekar Surgawi. Aku tidak tau mengapa Kerajaan Pasir Putih muncul. Aku pernah mendengar dari Pendahuluku Ratusan Tahun yang lalu mereka menutup diri.' Pesan jiwa dari Bing Ruyue.


' Apa yang kamu ketahui tentang Kerajaan Pasir Putih?' Pesan jiwa dari Ryu.


' Sudah menjadi rahasia umum Kerajaan Pasir Putih memiliki kemampuan melebihi Kekaisaran Awan. Meskipun Prajurit mereka rata-rata Pendekar Bumi, namun bisa menandingi Pendekar Langit.' Pesan jiwa dari Bing Ruyue.


' Apa mereka memiliki Teknik Khusus?' Ryu menyelidik.


' Aku tidak tau hal itu. Lebih baik kita bertemu di Dunia Quzhu saja. Karena ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepadamu.' Pesan jiwa dari Bing Ruyue.


Mendengar pesan dari Bing Ruyue, Ryu bergegas menuju Dunia Quzhu hingga Bing Ruyue juga muncul.


" Yue'er... Sepertinya kamu terlihat serius." Ryu menatap ke arah Bing Ruyue.


Tanpa menjawab apapun Bing Ruyue mengambil sebuah Kitab yang terlihat sudah usang.


" Yue'er... Apa itu?" Ryu pemasaran.


" Gege... Kamu tau kenapa Kekaisaran Awan dan Kekaisaran Shin meskipun luas, tapi tidak ada yang mau kesini?" Ucap Bing Ruyue.


" Aku baru tinggal di Dunia ini, bahkan seluruh Benua Timur saja aku belum mengetahuinya." Ryu menggelengkan kepala.


Bing Ruyue memahami hal itu karena Ryu bukan dari Dunia Abadi bahkan Bing Ruyue sendiri yang sudah berusia lebih dari seratus tahun hanya mengetahui sedikit tentang apa yang terjadi di wilayah Kekaisaran Awan dan Shin itupun karena Pendahulu Sekte Lembah Es mencatat beberapa sejarah selama mereka hidup.

__ADS_1


__ADS_2