
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
Melihat apa yang ada di depan mereka, Ryu senyum kecil sambil menoleh ke arah Chaizu.
" Chaizu, sepertinya tidak sesuai harapan kita." Ryu berjalan mendekati Pasukan Kerajaan tersebut.
Dalam hati Jenderal Jintao, Nan Sian, Zhao Luyi Zhao Liying, Long Mubai, Bao Mingson, Ling Sancuo, Ling Liddan, Gao Liang, Bing Ruyue, Lan Liwei, Tiankong bahkan Hong Kian sendiri bertanya-tanya mengapa Ryu dan Pasukannya lebih menyukai Pertarungan.
Namun mengingat kembali apa yang mereka katakan itu memang benar, karena kekuatan mereka tidak masuk akal.
" Gege... " Hong Kian yang kini mulai jinak, seakan tidak ingin jauh dari Ryu.
" Salam Tuan Pendekar, Apa kalian utusan dari Kekaisaran Awan? " Jenderal Jigong menyelidik, meskipun dia tau kalau mereka berasal dari Kekaisaran Awan.
" Mmmm." Ryu mengeluarkan Lencana Kaisar.
" Ampun Yang Mulia Kaisar." mereka langsung berlutut di hadapan Ryu.
" Yang Mulia Kaisar, kami tidak ambil alih dari penyerangan sebelumnya. Tapi ini ulah mereka?" Jenderal Jigong langsung menunjuk ke arah Beberapa Orang yang diikat.
" Sepertinya kalian sudah tau hasil dari Penyerangan sebelumnya." Ryu berfikir bahwa mereka juga sudah mengirimkan mata-mata.
" Benar Yang Mulia Kaisar. Orang tua ini adalah Pamanku sendiri yang bekerjasama dengan Kekaisaran Shin. Bahkan dia juga meracuni Ayahku demi menjadi Raja." Jenderal Jigong berkata jujur.
" Oh... Jadi kamu Pangeran Mahkota?" Ryu mengerutkan keningnya.
" Ah... Itu..." Jenderal Jigong berkeringat dingin diikuti Prajurit yang lain.
" Itu lebih bagus. Tapi kalian tau kalau Kerajaan Kalian berada di wilayahku? " Ryu sedikit mengancam.
" Yang Mulia Kaisar, Kami bersedia tunduk dibawah Kekaisaran Awan." Penasehat Agung membuka suara.
" Yang Mulia Kaisar, Kami siap untuk memberi Upeti kepada Kekaisaran Awan sebesar 10% Setahun sekali." Ucap Jenderal Jigong.
" Aku hanya ingin meminta 2% dari Pendapatan Kerajaan. Jigong... Kamu adalah Pangeran Mahkota, itu artinya kamu harus bijaksana mengatur Wilayahmu. Jika tidak, aku akan mengusir kalian dari Wilayah Kekaisaran Awan." ucap Ryu.
" Baik Yang Mulia Kaisar, Aku bersedia." ucap Jiu Jigong.
" Baiklah... Untuk masalah ini aku anggap selesai, Tapi untuk tawanan ini biar jadi urusan kami." Ryu menatap Beberapa tawanan yang diantaranya Raja Jiu Yan.
Dari beberapa tawanan tersebut terdapat 5 Istri dan 6 Selir Raja Jiu Yan, 5 Putra dan 3 Putri Raja Jiu Yan, 10 Menantu Jiu Yan, dan 5 Selir Putranya.
' Pendekar Ryu... Aku membutuhkan 29 Wanita itu untuk menyempurnakan tubuhku.' Jinying mengirim pesan jiwa kepada Ryu.
' Sebanyak itu?' Ryu sontak kaget.
' Itu masih belum cukup. Aku membutuhkan Wanita yang memiliki Yin Murni sebanyak mungkin. Tapi tidak masalah meskipun hanya ada 3. Jika tidak memiliki Yin Murni, maka aku perlu membutuhkan lebih dari seratus tergantung seberapa banyak Yin dari mereka.' Jinying memberi pesan jiwa.
__ADS_1
' Baiklah, aku melakukan ini karena mereka juga akan aku bunuh.' Ryu membalas pesan jiwa.
' Kamu jangan bunuh mereka! Jika mereka mati, itu tidak berfungsi lagi.' ucap Jinying.
Mendengar permintaan dari Jinying, Ryu tidak mempermasalahkan hal itu lagi pula dia sendiri berniat membunuhnya.
Tanpa menunggu lama. Ryu memasukkan mereka semua ke dalam Cincin Ruang Surgawi miliknya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
" Kalau begitu kami pamit dulu" Ryu bergegas meninggalkan mereka langsung menuju Kapal Udara.
Melihat apa yang dilakukan Ryu tidak ada satupun yang berani berbicara, meski tidak tau bagaimana nasib dari tawanan tersebut yang penting bagi mereka Kerajaan Jiu sudah aman.
Rombongan Ryu juga merasa heran karena kali ini Ryu tidak membunuh mereka secara langsung.
Setelah berada di dalam Kapal, Ryu beserta Pasukannya kembali melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan selanjutnya yaitu Kerajaan Angin.
Saat hari sudah malam, Ryu meminta kepada Chaizu untuk menghentikan laju kapal saat sudah berada di wilayah Kerajaan Angin.
" Chaizu, kita cari tempat yang aman untuk beristirahat." Ryu meminta Chaizu mencari tempat untuk istirahat.
" Baik Tuan." Chaizu memperlambat laju kapal hingga berhenti di sebuah Hutan yang letaknya sekitar 500 Meter dari Istana Kerajaan Angin.
Satu-persatu mereka Keluar dari kapal lalu mendirikan Kemah tempat beristirahat.
" Wuush." Ryu menciptakan Pelindung Yin-Yang Kura-kura agar keberadaan mereka tidak diketahui.
" Gege... Aku mendirikan Kemah sendiri saja." ucap Hong Kian sambil membuat tenda.
" Mmmm... Aku mencari makanan dulu. Kalian tunggu disini saja." Ryu bergegas menyusuri Hutan untuk berburu.
Sedangkan yang lain juga mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun.
Meskipun sudah malam, Ryu sudah terbiasa dengan penciumannya hingga tidak menunggu lama dia telah berhasil mendapatkan sepuluh ekor kelinci biasa dan lima ekor Ayam Hutan.
" Ini tidak cukup." Ryu langsung menuju ke Dunia Quzhu karena akan lebih mudah untuk mencari buruan.
" Sudah lama aku tidak berburu." Ryu menatap ke arah Kumpulan ayam Hutan.
Setelah beberapa saat, Ryu sudah berhasil mendapatkan ratusan Ayam Hutan.
" Sepertinya ini akan mengagetkan mereka." Ryu tidak punya pilihan, sudah pasti seluruh Rombongan sudah kelaparan karena seharian penuh melakukan perjalanan.
" Pendekar Ryu... Mana mereka? " Jinying keluar dari tubuh Ryu.
" Wuush." Ryu mengeluarkan semua tawanan.
" Aku butuh Wanita saja, Bukan Pria. " Jinying mengerutkan kening saat ada 6 sosok Pria ditengah 29 Wanita.
" Aku tau." Ryu langsung memotong leher Raja Jiu Yan dan 5 Putranya.
Melihat apa yang dilakukan Ryu. Semua Wanita yang tersisa membulatkan mata seakan tidak percaya bahwa Pemuda di depan mereka seperti Pembunuh berdarah dingin.
Terdengar suara tangisan dari tawanan tersebut yang sangat memilukan seakan meminta pengampunan atas tindakan Suami mereka.
" Sudah terlambat... Apa kalian tau, Karena ulah Suami kalian semua Istriku banyak mengalami Luka." Ryu menatap tajam ke arah mereka.
" Jika menghancurkan kalian semua, itu tidak bisa menyembuhkan penderitaan Istriku." Ryu sangat marah teringat Ketujuh Istrinya harus keluar dari Latihan tertutup mereka yang mengakibatkan Proses penyempurnaan tubuh mereka tertunda dan harus mengulang dari awal.
" Pendekar Ryu, aku mulai saja." Jinying membentuk bayangan hitam.
" Wuush... wuush... wuush." Bayangan hitam seakan menelan sosok Wanita tersebut.
Satu-persatu Jinying dengan wujud bayangan hitam seakan menyedot tawanan Wanita tersebut yang langsung mengecil saat tersentuh.
Terlihat Gumpalan Bola Hitam dari bayangan sebelumnya hingga berubah wujud menjadi sosok Naga Hitam dibalut Api.
" Ggooooaaarr." Naga tersebut mengaum keras Seketika berubah kembali menjadi wujud Wanita Cantik yang kini tanpa sehelai benangpun.
__ADS_1
Melihat kejadian di depan matanya, Ryu membulatkan mata dengan perubahan Jinying yang memperlihatkan kulit putih dan mulus dengan Gunung Kembar yang kedua ujungnya masih berwarna merah muda.
Tidak sampai disitu saja Ryu melihat dengan jelas bagian tengah kedua paha Jinying juga memperlihatkan sebuah Goa kecil yang diatasnya terlihat mulus.
" Gluug." Ryu menelan ludah dengan bentuk tubuh Jinying.
" Pendekar Ryu.. Ada apa? " Jinying terlihat heran.
" Pakaianmu." Ryu mencoba mengendalikan diri lalu menoleh ke belakang.
Mendengar ucapan tersebut Jinying memeriksa seluruh tubuhnya sontak membuatnya kaget.
" Ada Pakaian lain Tidak?" Jinying merasa sudah terlanjur, mau tidak mau bersikap acuh.
" Ambillah." Ryu melemparkan Sepasang pakaian kepada Jinying.
" Kamu sudah melihatnya, Tapi jangan harap kamu bisa memilikinya." Jinying dengan nada mengancam sambil memakai Pakaiannya kembali.
" Ciihhhh... Siapa juga yang mau?" Tanya Ryu.
" Aku pegang ucapanmu." Jinying yang berdiri di depan Ryu sambil menatapnya dengan tajam.
" Kamu kembali ke Tubuhku. Aku tidak bisa lama disini." ucap Ryu.
" Pakaian ini sangat Jelek. Aku mau yang berwarna hitam seperti sebelumnya." Jinying menutup mata lalu menuju ke Ruang Sumberdaya.
" Dasar Wanita Liar." Ryu menggerutu sambil mengikuti arah Jinying.
" Aura Pedang Neraka ini sepertinya membuat baju baru untukku." Jinying menatap ke arah Tumpukan Pedang Neraka yang Ryu kumpulkan dari Anggota Sekte Iblis Neraka.
" Pedang ini tidak boleh disentuh." Ryu memperingatkan.
" Kata Siapa? " Jinying menyentuh Pedang Neraka satu-persatu hingga membentuk gumpalan warna Hitam lalu memusatkan fikiran hingga tercipta sebuah Pakaian serba Hitam.
" Apa? Bagaimana mungkin." Ryu bergumam.
" Hanya dengan Pakaian ini yang mampu bertahan. Jika pakaian biasa, saat aku menggunakan kekuatanku semua langsung hancur." Jinying mengambil Pakaian yang baru dia ciptakan lalu masuk ke tubuh Ryu.
' Jadi begitu? Apa Pakaian milik Ketujuh Istriku juga seperti itu?' Ryu teringat apa yang dikatakan oleh Sheng Zhishu mengenai Pakaian yang mereka pakai.
" Haaahh.. Sudahlah." Ryu tidak ingin ambil pusing langsung keluar dari Dunia Quzhu menuju Hutan sebelumnya.
Saat berada di Hutan yang kini sudah gelap, Ryu kembali ke tempat kemah mereka yang kini terlihat Hong Kian sangat Khawatir.
" Gege... Kenapa kamu sangat lama?" Hong Kian berlari kecil ke arah Ryu.
Sebenarnya Ryu tidak terlalu lama pergi berburu, namun karena sudah gelap tentu saja mereka berfikir bahwa Ryu tersesat atau bertemu Hewan Roh.
" Maaf... " Ryu melemparkan Tumpukan hasil buruannya.
" Kaisar Ryu... Ternyata kamu juga sangat pandai Berburu." Nan Sian menggelengkan kepala melihat tumpukan buruan tersebut.
Untuk mempercepat waktu, Semua Pasukan sama-sama membersihkan Buruan tersebut dimana Jiejia dan Zi Mifeng mengeluarkan beberapa bak air.
Setelah semuanya bersih Ryu, Chaizu, Zi Mayi, Heilong, Li Chun Bertugas untuk memanggang.
" Gege... Apa kamu pandai memasak juga?" Hong Kian menatap ke arah sebuah Kuali besar yang terdapat berbagai macam jenis bumbu dan rempah-rempah.
" Ini hanya darurat... Tidak ada waktu membuat lebih baik lagi." Ryu mencelupkan Daging Ayam Hutan di Kuali dimana terdapat rempah-rempah yang mencair.
" Bukan begitu... Tapi dari bahan yang digunakan seperti seorang yang sudah mahir." Hong Kian penasaran akan hasilnya.
" Dari kecil aku sudah diajarkan memasak. Hanya saja aku jarang melakukannya sekarang. Karena semua sudah disiapkan." Ryu teringat dimana dulu Huli Yue dan Xin Chie yang selalu menyajikan hidangan untuknya yang dilanjutkan Xie Hua dan sekarang ada Pelayan Istana.
Setelah beberapa saat kini Aroma dari Panggangan menyebar membuat yang lain mulai mendekati arah Api unggun seperti orang yang sudah kelaparan.
Dengan penuh kesabaran, akhirnya semua sudah masak hingga Chaizu dan yang lain membagikan kepada mereka masing-masing satu bagian.
__ADS_1