
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
Atas usulan Xie Hua dan Ting Ye, Ryu dan Sheng Zhishu menyetujui agar mereka bisa tinggal di Dunia Quzhu selama Tiga Bulan dimana hanya menghabiskan waktu selama lebih dari satu hari di Dunia Abadi.
Pada keesokan hari Ryu, Sheng Zhishu, Xie Hua dan Ting Ye kembali ke Goa dimana tempat mereka semula.
" Gege... Kamu bawa saja Dunia Quzhu. Mungkin Ka Cie dan yang lain akan membutuhkan." ucap Xie Hua.
" Tapi bagaimana dengan Kalian? " Tanya Ryu.
" Kami sudah bekerjasama dengan Assosiasi Matahari Timur untuk masalah Sumberdaya, Jadi tidak perlu Khawatir lagi." ucap Xie Hua.
" Hua'er benar... Lagi pula yang mereka butuhkan hanya Berkultivasi saja. Untuk Fondasi aku rasa sudah cukup." Sheng Zhishu menimpal.
" Sayang... Yang mereka katakan ada benarnya. Mungkin Adik Chie dan yang lain membutuhkan Harta langit untuk memperkuat Fondasi meraka, terlebih untuk mencapai Jiwa Naga Langit karena kami baru saja bangun dari tidur panjang meski kami sudah mencapai Pendekar Langit Tahap Awal. Ucap Sheng Zhishu.
" Lagi pula apa kamu tega membiarkan mereka tidur di atas Batu seperti tempatku ini sebelumnya." Sheng Zhishu sambil menoleh ke Tempat tidurnya yang sekarang sudah diganti dengan Ranjang yang Layak diambil dari Istana Emas.
" Baiklah... Aku harap kalian semua cepat mencapai Pendekar Surgawi, karena aku sangat membutuhkan bantuan kalian." Ryu mengambil kembali Batu Bintang dari tubuh Xie Hua.
" Sebagai Pemilik Tubuh Abadi Kalian juga membutuhkan Dunia Bawah Sadar " Sheng Zhishu menyentuh bagian kening Xie Hua dan Ting Ye hingga kening meraka bersinar.
" Ka Zhishu, apa itu tadi?" Xie Hua dan Ting Ye merasakan ada hal lain pada fikiran meraka.
" Kalian sudah ada Dunia Bawah Sadar yang hampir mirip dengan Dunia Quzhu yang memiliki kecepatan Waktu yang sama. Hanya saja tidak bisa membawa Orang lain." Sheng Zhishu menerangkan.
" Terimakasih Ka Zhishu." Xie Hua dan Ting Ye sangat senang.
" Mmmmmm... Aku hanya membantu saja, karena itu semua adalah bawaan dari Pemilik Tubuh Abadi. Hanya saja kalian belum tau karena belum mencapai Pendekar Langit. Aku juga baru tau karena memakai tubuh baru ini saja." ucap Sheng Zhishu.
" Haaahh... Apa aku bisa memakainya?" tanya Ryu.
" Sayang... Kamu belum bisa, tapi saat kamu memiliki Tubuh Agung maka itu akan terbuka dengan sendirinya." Ucap Sheng Zhishu.
" Tidak masalah... Lagi pula aku masih memiliki Dunia Quzhu." Ryu memasang wajah masam.
" Hua'er... Berikan Kitab ini kepada yang lain yang memiliki Tubuh Abadi di Istana agar mereka bisa menciptakan Dunia Bawah Sadar meraka masing-masing." Sheng Zhishu memberikan sebuah Kitab kepada Xie Hua.
" Baik." Xie Hua mengambil Kitab tersebut lalu menyimpannya di Cincin Ruang.
" Sekarang aku akan membawa kalian kembali." Ryu memegang tangan Xie Hua seketika menghilang.
Tidak beberapa lama dia kembali lalu membawa Ting Ye kembali ke Kediamannya hingga dia kembali lagi.
__ADS_1
" Sayang... Aku akan mengantarmu..." Sheng Zhishu memegang tangan Ryu lalu membawanya terbang melewati Lahar Api hingga sampai ke tempat semula mereka bertemu.
' Haaahh... Sepertinya hanya aku yang masih lemah' Ryu merasa malu yang kini dia membutuhkan bantuan Sheng Zhishu.
" Salam Yang Mulia Ratu." Harimau Api menyambut kedatangan mereka.
" Mmmm.... Kita sama-sama melewati tidur panjang, Jadi Pulihkan kondisimu juga." Sheng Zhishu memberikan beberapa Harta langit.
" Terimakasih Yang Mulia Ratu." Harimau Api sangat senang.
" Gluug." Ryu menelan ludah berfikir jika dia bertarung dengan Harimau Api saat kondisinya sudah pulih.
Itu menandakan bahwa Harimau Api hanya memiliki Seperempat persen saja saat dia bertarung dengan Ryu.
" Yang Mulia Ratu" Harimau Api menatap ke arah Ryu.
" Dia adalah Suamiku, jadi jangan ganggu dia ketika melewati wilayah ini. Dia juga adalah Kaisar di Kekaisaran Awan ini." Sheng Zhishu masih memegang tangan Ryu.
" Baik Yang Mulia Ratu." Harimau Api menunduk lalu menoleh ke arah Ryu. " Maafkan Aku sebelumnya Yang Mulia Kaisar, Aku hanya menjalankan tugasku sebagai Pelindung wilayah ini." Harimau Api menundukkan kepala.
" Itu wajar saja karena itu adalah tugasmu. Kalau begitu Aku meminta bantuanmu untuk menemui Paktriak Sekte Lembah Api agar datang ke Istana Kaisar. Aku menjalin kerjasama dengan mereka." Ucap Ryu.
" Baik Yang Mulia Kaisar." ucap Harimau Api.
" Sayang, Aku pergi dulu. Aku akan mencari keberadaan yang lain." Ryu beranjak dari tempat tersebut.
" Hati-hati Sayang... " Sheng Zhishu menatap kepergian Ryu.
" Mmmmm." Ryu melambaikan tangan di sela langkahnya.
Saat Ryu sudah tidak terlihat lagi, Sheng Zhishu terbang kembali menuju Goa tempat kediamannya.
Di dalam perjalanan Ryu berfikir kembali saat dia melewati Hutan Bambu yang juga memiliki rasa ketertarikan yang sama.
Dalam perjalanan Ryu tidak lupa untuk mencari keberadaan Air Embun Surgawi dimana yang dijelaskan oleh Dewa Alkemis sebelumnya untuk memurnikan Tubuh sebelum menyerap Inti Jiwa dari Istrinya yang memiliki Tubuh Abadi.
Dalam pencarian tersebut Ryu tidak mungkin menanyakan kepada siapapun karena Air Embun Surgawi adalah Harta langit yang diburu oleh para Kultivator, Alkemis, Pandai Besi dan lainnya karena memiliki banyak manfaat yang tentu saja dia harus mencari ke berbagai tempat.
Sesampai di sebuah Permukiman Warga Ryu berencana beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga karena selama seharian terus berjalan.
Sampai di Penginapan, Ryu langsung menuju meja Kasir dimana terdapat sosok Wanita sedang berdiri.
" Permisi Nona, saya mau menginap disini semalam." Ryu menyapa Wanita tersebut.
" Ada Tuan, untuk semalam harganya 10 Batu Roh." Ucap Wanita muda.
" Baik, aku akan memesan. Aku juga memesan makanan terbaik disini, tolong antarkan ke meja disana." Ryu memberikan 20 Batu Roh sambil menunjuk ke arah meja yang masih kosong.
" Tuan... Ini kelebihan" Wanita Muda memberikan sebuah Kunci dan mengembalikan 4 Batu Roh.
" Sisanya ambil saja." Ryu mengambil Kunci lalu melangkah menuju meja yang dia tunjuk sebelumnya.
Beberapa saat kemudian Satu Pelayan mengantarkan makanan yang sudah dipesan sebelumnya.
" Silahkan Tuan. Selamat menikmati." Pelayan dengan ramah mempersilahkan lalu ke meja lain.
Sambil menikmati hidangan, Ryu mendengar percakapan dari Pengunjung lain yang tidak jauh dari tempatnya.
" Tetua... Sekarang kita sudah aman dari Manusia Rawa dan Paviliun Kelinci Merah itu. Sekte Iblis Neraka juga tidak muncul lagi selama ini." ucap salah satu sosok Pria Sepuh berpakaian Sekte.
" Benar Tetua... Salah satu dari Mata-mata kami mengatakan Sekte Iblis Neraka masih sering bermunculan di Hutan Kematian." ucap yang lain.
" Kamu benar... Sekte Iblis Neraka memiliki banyak cabang. Salah satunya di Wilayah Kekaisaran Awan. Soalnya Sekte Iblis Neraka adalah sekte Nomor satu Aliran Hitam di Benua Timur ini. "
__ADS_1
" Haaahh... Aku tidak habis pikir, Kekuatan mereka melebihi Kekaisaran Taiyang. Bahkan kita tau sendiri Kekaisaran Taiyang adalah Kekaisaran Terkuat di Benua Timur."
" Jika begitu, Benua Timur bisa dalam bahaya."
" Tapi aku dengar, mereka ingin membangkitkan Dewa Kegelapan. Itu artinya mereka akan menyerang Kerajaan Langit Dunia para Dewa."
" Haaahh... Masih ada saja Manusia yang mau menjadi budak dari Dewa Kegelapan demi sebuah Ambisi yang sudah pasti Dunia ini akan hancur."
" Aku berharap Dewa Agni dan Dewa Surgawi datang ke Dunia ini."
" Itu artinya Dewa Ashura akan muncul."
" Haaahh... Itu sudah diluar batas kemampuan kita. Lebih baik kita kembali ke Sekte saja dan melatih para Murid agar mereka bisa lebih baik dari kita."
" Mmmmmm." mereka langsung bergegas dari tempat tersebut lalu keluar Penginapan.
Ryu yang mendengar ucapan tersebut kembali teringat waktu ada sosok yang mengikutinya.
" Jangan-jangan Sosok itu adalah bagian dari Sekte Iblis Neraka." Ryu bergumam.
Selesai menikmati hidangan. Ryu langsung menuju ke kamar yang sesuai dengan nomor Kunci lalu masuk ke dalam.
Di dalam Kamar Ryu juga tidak lupa membuat Pelindung Tempurung Kura-kura sebagai antisipasi lalu menuju Dunia Quzhu untuk beristirahat berlatih maupun Berkultivasi.
Pada keesokan pagi Ryu keluar dari kamar bergegas melanjutkan Perjalanan menuju Hutan Bambu.
Saat melewati pinggiran Hutan, Ryu merasakan ada Aura yang sedang mendatanginya.
" Hahahaha.... Hanya Pendekar Alam Tahap Awal." Ucap salah satu sosok diikuti Puluhan sosok lain.
" Ketua, biar aku saja yang menghabisi nyawa Pemuda itu." sosok lain menawarkan diri.
" Silahkan! Aku rasa dengan jumlah kita seperti ini sudah terlalu berlebihan jika hanya melawan satu sosok orang biasa." Ketua mereka memberi isyarat kepada yang lain agar meninggalkan tempat tersebut dan hanya menyisakan satu sosok yang menawarkan diri sebelumnya.
" Kita tidak tau dalamnya Lautan, Aku harap kalian tidak mengecewakanku." Ryu menatap mereka dengan wajah datar sambil mengeluarkan Pedangnya.
Tanpa memperdulikan ucapan dari Ryu meraka terus berjalan memasuki Hutan kembali.
" Slaaash." Ryu tanpa berkedip memotong leher sosok yang mereka tinggalkan.
" Apa?" semua menoleh ke arah anggota mereka yang kini telah menghilang.
" Semut berlagak seperti Gajah." Ryu menatap mereka dengan tajam.
" Bajingan.... Bunuh Pemuda itu! " Ketua mereka langsung memberi perintah.
" Baik." mereka langsung menyerang Ryu masing-masing memegang sebilah pedang di tangannya.
Ryu yang melihat hal itu dengan sebuah senyuman langsung menghadang mereka dengan terbasan yang sangat kuat membuat siapa saja yang mendekatinya badannya akan terbagi dua.
Dalam kecepatan tinggi, gerakan Ryu tidak terbaca sama sekali, dimana hanya Ketua mereka saja yang mengetahui karena dia sudah mencapai Pendekar Bumi Tahap Akhir.
Sedangkan untuk bawahannya malah terlihat bingung karena mereka hanya melihat bayangan hitam yang bergerak dengan bebas kadang berada di bagian kiri, kadang berada di bagian kanan dan kadang di tengah.
" Siapa Pemuda ini? mengapa gerakannya sangat cepat?" Gumam Ketua mereka sambil menatap ke arah Ryu yang terlihat kadang memiringkan tubuh, Gerakan memutar dan melompat ke sisi kiri maupun kanan.
Hanya dalam beberapa menit Ryu telah menghabiskan mereka yang terlihat jasad mereka menghilang hanya meninggalkan Pedang.
" Sekarang Giliranmu." Ryu menoleh ke arah ketua Anggota Sekte Iblis Neraka.
" Matilah!" Sosok tersebut langsung menggunakan kekuatan penuh berniat menebas leher Ryu.
Namun sayangnya sebelum mendekati leher Ryu langsung memiringkan badannya kebelakang dengan mundur selangkah lalu bergerak memutar ke sisi kiri hingga menyerang balik dengan terbasan dari kiri ke kanan.
__ADS_1
Melihat serangan itu, Sosok tersebut langsung mundur selangkah seraya memiringkan badan hingga maju kembali membuat sebuah terbasan.