SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
KERAJAAN JIU


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏


...****************...


Dengan segera Ryu langsung mengeluarkan Pedangnya menuju ke arah lawan.


" Craaash... Craaash." Ryu menebas bagian tubuh sosok tersebut hingga meninggal luka sayatan.


Meskipun mengalami luka sayatan, Sosok tersebut tersenyum lebar seketika luka tersebut kembali menutup.


" Apa kamu fikir bisa membunuhku dengan mudah?" Sosok tersebut tersenyum sambil menatap ke arah Ryu.


' Sepertinya dia memiliki Teknik penyembuhan tingkat tinggi.' Ryu memicingkan mata.


" Aku ingin melihat seberapa hebatnya Teknik penyembuhan yang kamu miliki?" Ryu tersenyum kembali memusatkan fikiran.


Melihat apa yang dilakukan oleh Ryu, sosok tersebut hanya berdiam karena berfikir Ryu tidak mampu melukainya.


" Malapetaka." Ryu melepaskan Bola Petir Hitam sebesar kepalan.


" Gawat." sosok tersebut merasakan firasat buruk melihat Bola Petir yang menuju ke arahnya berniat untuk menghindar.


" Bboooom." Bola Petir bertumpu pada tubuh sosok tersebut hingga menjadi kabut darah dengan wilayah sekitar membentuk kawah besar.


" Terlalu Percaya diri." Ryu melesat ke tempat kabut darah seakan ingin mencari sesuatu.


Setelah memeriksa di sekitar, Ryu menatap ke sebuah Cincin Ruang yang terlempar 20 meter dari kabut darah sebelumnya.


" Dapat" Ryu mengambil Cincin Ruang tersebut sambil melihat ke arah Hong Kian yang juga menyelesaikan Pertarungannya karena Kucing sebelumnya langsung mati karena Tuannya juga mati.


" Kian'er... Apa kamu baik-baik saja?" Ryu berjalan mendekati Hong Kian yang terlihat mengalami beberapa luka sayatan akibat cakaran Kucing tersebut.


" Terimakasih Gege..." Hong Kian sangat senang atas bantuan Ryu.


" Mmmm... " Ryu mengangguk lalu mengambil Inti Roh Hewan Ilahi tersebut lalu menarik mayatnya ke Dunia Quzhu.


" Sembuhkan dirimu dulu! " Ryu memberikan Pil Pemulihan lalu menoleh ke arah Chaizu.


Kembali kepada Chaizu dimana sedang bertarung melawan sosok lain yang kini terus melemparkan Bola Petir ke arah lawan.


Karena serangan yang dilancarkan oleh Chaizu sangat cepat, sosok tersebut terus menghindar tidak mampu melakukan serangan balik.


Hingga dalam beberapa saat Puluhan Bola Petir terus menghujam tubuhnya hingga membuat sosok tersebut mulai melemah karena sudah kehabisan tenaga.


Tidak ingin menyiakan kesempatan, Chaizu langsung melompat menyilangkan tangan menciptakan sebuah Cakaran.


" Craaash... Craaash... " Cakaran Harimau mengoyak tubuh sosok tersebut hingga tidak mampu melakukan penyembuhan lagi hingga membuatnya mati.


Saat sosok tersebut mati, Beruang yang awalnya yang menguasai Pertarungan kini langsung tersungkur dan mati tanpa sebab karena Tuanya sudah mati.

__ADS_1


Dari balik reruntuhan, terlihat Long Mubai kembali bangkit dengan wujud asalnya yang mengalami luka berat.


" Kekuatan mereka sangat mengerikan." Long Mubai yang tingkat Kultivasinya sudah mencapai Pendekar Langit Tahap Akhir seakan tidak ada artinya dibandingkan Ryu dan Chaizu.


" Paktriak... Sembuhkan dirimu dulu, biar kami yang masuk." Ryu memberikan Pil Pemulihan kepada Long Mubai.


" Terimakasih Yang Mulia." Long Mubai mengambil Pil tersebut lalu mencari tempat duduk.


Tidak beberapa lama, kini muncul Zi Mayi, Zi Mifeng dan Jiejia membawa beberapa sosok yang diantaranya adalah Raja Qu Dai.


" Salam Tuan." ucap ketiga bawahannya.


" Mmmm." Ryu mengangguk sambil menatap ke arah mereka.


" Bajingan... " Qu Dai menatap ke arah Ryu penuh amarah.


" Siapa lagi yang menentangku?" Ryu dengan wajah datar.


" Sampai kapanpun Kami lebih memilih mati dari pada menyerah kepada Kekaisaran Awan." ucap Ketujuh sosok yang tidak lain adalah Istri dari Raja Qu Dai.


' Bagus' Ryu membatin dengan senyuman lebar tidak ingin bertindak cepat sambil menunggu jawaban mereka.


" Ampun Yang Mulia Kaisar, Kami Hanya Selir dari Raja Qu Dai." ucap Lima Sosok Wanita.


Satu-persatu mereka memperkenalkan diri dimana terdiri dari Selir dari Selir dari Ketujuh Putra dari Raja Qu Dai dan 27 Pelayan Istana.


Sedangkan Untuk Para Istri dari Ketujuh Putra dari Raja Qu Dai memilih untuk bertarung melawan Zi Mayi, Zi Mifeng, dan Jiejia sebelumnya.


Ryu dengan segera membunuh Raja Qu Dai dan ketujuh Istrinya, karena masih ingin melawan meski dalam kondisi tangan terikat.


' Haaahh... Dengan begitu Aku terbebas dari Hukuman Langit.' Ryu senyum kemenangan.


" Salam Yang Mulia Kaisar, Beberapa Sosok muncul bersama Keempat Jenderal dari Kerajaan Qu.


" Mmmm." Ryu mengangguk menyapa ramah.


" Yang Mulia Kaisar, Sekarang Sekarang Kursi Kerajaan tidak ada yang menempati. Itu artinya Kami membutuhkan Seorang Raja memimpin Kerajaan ini secara Arif dan bijaksana." Ucap Penasehat Agung.


" Begini Yang Mulia Kaisar. Sebelumnya kami memang menentang Kebijakan Raja Qu Dai, namun kami tidak memiliki keberanian untuk memberontak karena Kerajaan Qu dibawah Perlindungan Kekaisaran Shin."


" Dan Pasukan yang dikirim sebelumnya adalah diambil Paksa oleh pihak Kerajaan untuk menjadi Prajurit dari seluruh Wilayah Kerajaan Qu yang sudah mencapai Pendekar Alam keatas."


" Karena itulah Aku mengirim mata-mata untuk menyelidiki Penyerangan sebelumnya. Saat mata-mata mengirim pesan bahwa Pasukan yang dikirim telah hancur, maka kami hanya bisa berharap Kedatangan Yang Mulia Kaisar untuk menceritakan apa yang telah terjadi disini agar tidak terjadi kesalahpahaman." Penasehat Agung menutup pembicaraan.


Setelah mendengar ucapan tersebut, Ryu berfikir bahwa Rencana penyerangan terhadap Kekaisaran Awan hanya Ambisi dari Raja Qu Dai yang mengakibatkan Warga biasa terkena imbas.


" Baiklah... Kalau begitu kalian atur sendiri siapa yang Layak menjadi Raja Kalian selanjutnya. Dan itu aku percayakan kepadamu. Tapi Ingat mulai sekarang kalian berada dibawah Kekuasaan Kekaisaran Awan, itu artinya kalian harus memberikan Upeti kepada Kekaisaran Awan." Ucap Ryu.


" Baik Yang Mulia Kaisar, kami siap. Bagaimana kalau Upeti itu sebesar 10% dari Pendapatan Kerajaan?" Penasehat Agung merasa itu adalah nilai yang pantas.


" Aku hanya meminta Upeti sebesar 2% saja. Selebihnya kalian Atur untuk membantu warga yang kesusahan." Ryu merasa dengan nilai segitu sudah cukup bahkan tanpa Upeti, Kekaisaran Awan tidak akan kekurangan apapun.


" Ta...Tapi Yang Mulia..." Penasehat Agung terlihat heran karena jumlah yang diminta begitu sedikit.


" Kerajaan ini adalah Wilayahku jadi aku samakan dengan Kota yang lain. Karena aku tidak ingin Wilayahku terjadi kemiskinan." ucap Ryu.


" Baik Yang Mulia Kaisar." Penasehat Agung terlihat senang.


" Terimakasih Yang Mulia Kaisar." Keempat Jenderal juga senang.


" Mmmm... Berikan Juga kompensasi yang layak kepada seluruh Selir itu. Kalau begitu kami pamit dulu. Ingat, Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. " Ryu sedikit mengancam.


" Baik Yang Mulia Kaisar." ucap mereka serempak.


Ryu bersama yang lain langsung meninggalkan tempat itu menuju ke tempat kapal udara berada.


" Haaahh... Syukurlah Kaisar Ryu memberi Ampunan kepada kita. Bahkan dia hanya meminta upeti sedikit. " Penasehat Agung bernafas lega.

__ADS_1


" Benar sekali Penasehat Agung. Dengan begitu Wilayah Kerajaan kita akan menjadi makmur." ucap sosok Jenderal.


" Mmmm... Kalau begitu kita akan mengangkat Raja yang baru sesuai hasil suara terbanyak." ucap Penasehat Agung.


" Kalau begitu biar Penasehat Agung saja yang menjadi Raja." Keempat Jenderal memberi usul.


" Aku tidak bisa, usiaku sudah tua. Kita akan mencari yang lebih muda, tugasku hanya membimbing agar tidak terjadi kesalahan lagi." Ucap Penasehat Agung


Kini Ryu dan yang lain telah berkumpul di dekat kapal, dimana Chaizu, Long Mubai dan yang lain sedang menunggu.


" Tuan." Chaizu menundukkan kepala.


" Yang Mulia Kaisar, Ini inti Roh dari Beruang itu tadi." Long Mubai memberikan Inti Roh Beruang kepada Ryu karena dia menganggap Ryu lebih pantas mendapatkannya dibandingkan dia sendiri yang tidak berdaya saat melawan Beruang.


" Terimakasih Paktriak." Ryu tidak segan untuk mengambil, karena dia sangat membutuhkan Inti Roh Hewan Ilahi.


Setelah beberapa saat, mereka kembali ke Kapal Udara untuk melanjutkan Perjalanan menuju Kerajaan selanjutnya yaitu Kerajaan Jiu.


...----------------...


Di Kerajaan Jiu :


Sekitar Satu Kilometer dari Istana Raja Jiu Goji terlihat beberapa sosok yang sedang berkumpul.


" Jenderal Jigong.... Aku mendapat informasi dari mata-mata bahwa Pasukan Gabungan telah hancur." ucap salah satu Jenderal.


" Itu lebih bagus, itu artinya kita tidak perlu lagi khawatir untuk memberontak." Ucap Jenderal Jigong.


" Lalu bagaimana dengan Para Pengurus Istana?" tanya salah satu Jenderal.


" Mereka lebih mendukung tindakan Raja Jiu Yan." ucap Jenderal Jigong.


" Untuk sekarang kita kumpulkan semua para Pendukung. Aku ingin merebut kembali Kerajaan Jiu, karena itu memang milikku. Aku tidak menyangka Pamanku sendiri yang meracuni Ayahku demi menjadi Raja." ucap Jenderal Jigong.


" Jiu Jigong... kita harus bertindak sebelum Pasukan Kekaisaran Awan datang kesini." Ucap sosok Pria Sepuh.


" Aku juga berfikir begitu. Kita harus menangkap Raja Jiu Yan dan memberikan secara langsung ke Pihak Kekaisaran Awan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Dimana dulu kita tidak pernah bersinggungan dengan Kekaisaran Awan. Tapi sekarang semua akan terkena imbas dari Ambisi Raja Jiu Yan." ucap Jenderal Jiu Jigong.


" Kalau begitu, apa yang kita tunggu lagi? Mereka hanya sisa sedikit, dengan begitu kita lebih mudah membunuh mereka. ucap sosok Jenderal.


" Benar... Karena Pendukungnya sudah mati di pertarungan melawan Kekaisaran Awan, maka tidak ada lagi yang ditakutkan." ucap Jenderal lain.


" Tunggu dulu. Raja Jiu Yan dibawah Perlindungan Kekaisaran Shin, itu artinya kita menanggung Resiko kemarahan Kaisar Gang." Sosok Pria Sepuh yaitu sebagai Penasehat Agung mengingatkan.


" Bukankah kalian sudah dengar sendiri bahwa Kekaisaran Awan dengan mudah mengalahkan Pasukan Gabungan. Itu artinya kita harus tunduk kepada Kekaisaran Awan yang memang seharusnya begitu." Ucap Jenderal Jigong.


" Kenapa tidak terfikirkan olehku... Kalau begitu kita jangan dulu bunuh mereka sampai Pasukan Kekaisaran Awan datang kesini." ucap Penasehat Agung.


" Baik." ucap mereka serempak langsung menuju Istana Kerajaan Jiu.


Seketika Ribuan Prajurit keluar dari persembunyian mengikuti Penasehat Agung dan Lima Jenderal, termasuk Jenderal Jigong itu sendiri.


...----------------...


Di dalam Kapal Udara, Ryu dan yang lain terlihat sedang berbincang kecil untuk mengisi kejenuhan mereka.


Tidak beberapa lama kemudian Chaizu memberitahukan kepada mereka bahwa Kapal Udara sudah sampai.


Ryu bersama Pasukannya langsung keluar dari kapal hingga mereka sudah berada di depan Gerbang Istana.


" Tuan... Semoga disini kita mengeluarkan keringat." Chaizu terlihat senang.


" Mmmm." Ryu mengangguk lalu berjalan mendekati Pintu Gerbang dan kembali menancapkan Bendera Kekaisaran Awan.


" Gawat... Ternyata Kekaisaran Awan sudah sampai. Cepat bunyikan lonceng darurat dan laporkan ini kepada Jenderal." ucap Pemimpin Penjaga.


" Baik." Kedua Penjaga langsung berlari dimana salah satu langsung menuju tempat lonceng berada lalu membunyikannya.

__ADS_1


Sedangkan Penjaga Gerbang lain langsung menuju Istana untuk melaporkan kepada Jenderal Jigong.


Seketika Semua langsung berkumpul di depan Gerbang Istana dengan membawa beberapa sosok yang sedang terikat.


__ADS_2