
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
" Uhuuk" Keenam Leluhur memuntahkan Darah segar terkena imbas dari serangan Ryu.
Keenam Leluhur tersebut ingin membalas, namun mereka tidak berani bertindak karena sudah mengucapkan Sumpah Langit.
" Maaf... Aku terlalu bersemangat." Ryu senyum licik menatap Keenam Leluhur yang terlihat pakaiannya compang-camping.
' Bajingan... Pemuda ini memang sengaja melakukan serangan saat kami lengah.' Li Sobay menggerutu dalam hati.
" Aku lupa, waktu kalian hanya hari ini. Jika Matahari sudah terbit besok pagi, Aku tidak yakin kalian bisa selamat dari Sumpah Langit itu." Ryu senyum kemenangan.
" Deeeg." Keenam Leluhur yang ingin mengutuk Ryu kini langsung terhenti lalu meninggalkan Wilayah Kekaisaran Awan secepat mungkin.
' Anak Muda... Kamu sangat licik bisa saja kamu memanfaatkan situasi.' Jiang Dengtong menggelengkan kepala Jika Keenam Leluhur tersebut tidak lari dengan kekuatan penuh, sehari semalam maka tubuh mereka akan hancur menjadi debu karena Kekaisaran Awan memiliki Wilayah yang cukup luas.
" Gege... Kau membuatku khawatir." Ting Ye langsung berlari kecil ke arah Ryu.
" Ye'er... kamu tidak perlu cemas." Ryu mengusap Rambut Ting Ye lalu berjalan mendekati Mayat Kaisar Zou
" Lumayan." Ryu mengambil Cincin Ruang dan Mahkota milik Kaisar Zou lalu menarik mayatnya ke Dunia Quzhu.
" Tuan..." Li Chun terlihat senang berjalan mendekati Ryu.
" Tuan Ryu... Kami memang dari Klan Li, tapi dari dulu kami tidak searah dengan Kaisar." Li Shang buru-buru menerangkan takut Ryu akan membunuh mereka.
" Aku mengampuni kalian karena Li Chun ada di pihak Ku." Ryu mencoba memaafkan Beberapa Klan Li.
" Terimakasih Tuan." Jawab mereka serempak.
" Tuan Muda... Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kami memiliki pekerjaan yang lain." Jiang Dengtong bersuara.
" Terimakasih atas bantuan Senior. Aku sangat berhutang budi." Ryu menyadari jika tidak ada Kedua sosok tersebut mungkin dia sudah mati.
" Tidak masalah... Bahkan kami tidak melakukan apapun. Kalau begitu kami pamit dulu." Jiang Dengtong dan rekannya meninggalkan wilayah Istana.
" Li Chun... Aku merasakan masih ada beberapa orang yang ada di dalam Istana. Geledah seluruh Ruangan jangan sampai ada yang tersisa." Ryu memberi Perintah.
" Baik Tuan." Li Chun menundukkan kepala lalu berjalan ke Istana.
" Leluhur, Kami Ikut! " Li Shang membawa Anggota Klan Li ikut menggeledah.
__ADS_1
" Haaaiiisss... Sudah aku bilang berkali-kali, jangan Panggil Aku Leluhur. Bukankah sekarang aku lebih Muda dari kalian? atau kupatahkan leher kalian." Li Chun merasa kesal.
" Ba..Baik. " Li Shang kebingungan namun tidak tau harus memanggil Li Chun dengan apa.
" Putriku." Wang Cun, Shu Miyo dan Qin Jian tersadar akan keberadaan Putri mereka
" Ayo kita masuk ke dalam." Li Chun membawa mereka ke dalam Istana.
" Ye'er... Ayo kita masuk.!" Ryu membawa Ting Ye masuk ke dalam Istana.
" Tuan... Tolong maafkan Putriku. Dia Hanya Calon Menantu saja." Wang Cun mengikuti Ryu dari arah belakang.
" Tuan... Jangan bunuh Putriku. Biarkan aku yang menebus kesalahanku sendiri. Putriku tidak tau apapun." Shu Miyo mengikuti Ryu.
" Tuan... Jangan Bunuh Putriku. Biarkan aku yang menjalani Hukuman." Qin Jian juga mengikuti Ryu dari belakang.
" Keputusan ada di tanganku." Ryu terus berjalan hingga mencapai sebuah Kursi Kebesaran Kaisar.
" Gege... Kamu terlihat lucu di Kursi itu." Bisik Ting Ye meskipun dari Wajah dan Kharisma, Ryu memang cocok. Tapi masalah Pakaian Alkemis yang dia Pakai terlihat lebih lucu.
" Ye'er... Coba cari Pakaian yang cocok di Kamar Kaisar." Ryu memasang wajah memerah mendengar bisikan dari Ting Ye namun tetap tenang.
" Mmmmmm." Ting Ye mengangguk lalu berjalan menuju Kamar Kaisar.
Di sisi lain semua yang menatap Ryu di Kursi Kaisar malah terlihat seperti Kaisar yang sesungguhnya meski memiliki Penampilan seperti orang biasa.
Ting Ye sebenarnya tidak mempermasalahkan penampilan dari Ryu, tapi dia ingin Ryu mendapatkan Pakaian yang selayaknya untuk dia pakai sekarang.
Setelah menunggu beberapa saat, kini terlihat Puluhan Sosok Wanita mulai dari usia 45 Tahun hingga 17 Tahun.
Dari seluruh sosok Wanita tersebut terdapat 10 Istri dan 15 Kaisar Zou, 7 Istri 10 Selir Putra Mahkota, 6 Istri dan 10 Putra Kedua, 3 Istri dan 5 Selir Putra Ketiga, 3 Istri dan 3 Putra Keempat, 2 Istri dan 3 Selir Putra Kelima, 2 Istri 2 Selir Putra Keenam, 1 Istri 2 Selir Putra Ketujuh Serta 8 Anak dan beberapa Cucu Kaisar Zou yang masih kecil termasuk 3 Calon menantu Kaisar.
" Tuan... Apa yang kita lakukan pada mereka?" Tanya Li Chun.
" Tapi Tuan.." Li Chun terlihat ragu.
" Yang Mulia Kaisar, Tolong jangan bunuh Putriku. Dia hanya Calon menantu."
" Yang Mulia Kaisar, Tolong jangan bunuh Putriku. Dia hanya Calon menantu."
" Yang Mulia Kaisar, Tolong jangan bunuh Putriku. Dia hanya Calon menantu."
Wang Cun, Shu Miyo dan Qin Jian memelas meminta pengampunan dari Ryu.
Untuk Wang Mingjun, Shu Meilu dan Qin Shuomei yang berada di tempat tersebut hanya bisa diam dan berniat ingin membunuh Sosok Pemuda yang berada di Kursi Kaisar agar mereka bisa bebas dari Hukuman.
" Yang Mulia Kaisar... Jika Yang Mulia ingin mendapatkan pengakuan sebagai Kaisar Paling tidak harus memiliki hubungan dari Lima Klan. Itu artinya Yang Mulia harus memiliki Istri dari Lima Klan." Li Shang memberanikan diri untuk bicara.
" Jadi begitu ya?" Ryu mengerutkan keningnya seakan memikirkan sesuatu.
" Baiklah... Aku akan membebaskan Tiga Calon menantu Kaisar Zou, sedangkan yang lain akan tetap akan dibunuh." Ryu berjalan mendekati Para Wanita tersebut.
" Kraaack... Kraaack... Kraaack..." Ryu mencekik leher mereka Satu-persatu.
Melihat Kekejaman dari Ryu, Wang Mingjun, Shu Meilu dan Qin Shuomei langsung ketakutan membayangkan jika mereka pada posisi yang sama.
Begitupun dengan Wang Cun, Shu Miyo dan Qin Jian juga berkeringat dingin meskipun Putri mereka sudah mendapatkan Pengampunan.
Li Chun dan seluruh Anggota Klan Li yang tersisa juga menyayangkan sikap yang dilakukan Ryu sama sekali tanpa belas kasihan.
Didalam sejarah Perperangan perebutan kekuasaan hanya Ryu yang begitu kejam membunuh Para Wanita dan Anak-anak, karena dalam Tradisi Para Wanita akan dijadikan Istri atau pun Selir.
__ADS_1
" Wuush." Ryu mengibaskan tangannya membuat Puluhan Mayat tersebut menghilang tanpa jejak.
" Gege... Ini " Ting Ye tiba-tiba muncul lalu memberikan Pakaian Kebesaran Kaisar.
" Terimakasih Ye'er... Tapi belum saatnya aku memakai Pakaian ini. " Ryu senyum ramah sambil mengusap rambut Ting Ye.
Melihat keramahan Ryu terhadap Istrinya, mereka merasa heran karena berbanding terbalik dengan sifat dingin sebelumnya.
" Aku tau Kalian menganggap aku sebagai Orang yang Kejam. Tapi harus kalian ketahui bagaimana rasanya saat berada di posisi Klan Liu yang dibantai Jutaan Tahun yang lalu yang terpaksa mengasingkan diri ke Dunia yang sangat jauh hingga menjadi Rakyat biasa." Ryu berjalan mendekati Ketiga Wanita yang tersisa.
" Aku mengerti Tuan. Bahkan aku sendiri memiliki Dendam kepada Klanku sendiri." Li Chun memahami apa yang dirasakan oleh Ryu.
" ...." Wang Mingjun, Shu Meilu dan Qin Shuomei terdiam tanpa kata terlihat sebuah kebimbangan.
" Aku tidak memaksa Kalian bertiga, Jika kalian menolak maka aku akan membebaskan kalian agar bisa Pulang ke Klan kalian." Ryu berbalik menuju Kursi Kaisar.
" Jun'er..." Wang Cun meminta anaknya untuk menjawab.
" Lu'er.. Aku harap kamu memiliki jawaban yang tepat." Shu Miyo berharap agar Putrinya menjadi Istri Ryu.
" Mei'er... Semua keputusan ada padamu, karena tidak ada lagi yang memaksa." Qin Jian memberikan keputusan tersebut kepada Putrinya.
" Sepertinya tidak ada jawaban. Ye'er... Kita Pulang ke Linka. " Ryu membawa Ting Ye Keluar dari Istana.
" Aku Bersedia." Wang Mingjun menghentikan langkah Ryu menurutnya itu pilihan yang tepat.
" Yang Mulia Kaisar, Aku bersedia menjadi Istrimu." Shu Meilu sangat yakin dengan keputusannya.
" Yang Mulai Kaisar, Aku juga bersedia." Qin Shuomei merasa Ryu adalah sosok yang peduli dibalik sifat dinginnya.
" Aku tidak ingin kalian melakukannya karena hanya terpaksa." Ryu menjawab tanpa menoleh.
" Itu keinginanku sendiri." Jawab mereka Serempak.
" Ye'er... Bagaimana menurutmu? " Ryu menoleh ke arah Ting Ye disampingnya.
" Gege... Kalau aku tidak masalah, mungkin Hua'er juga setuju." Ting Ye mengangguk Sambil menatap ke arah Ryu.
Mendengar ucapan dari Ting Ye, Semua beranggapan bahwa Ryu tidak hanya memiliki satu Istri walaupun mereka belum mengenal apa yang mereka bicarakan tentang adanya Wanita lain tersebut.
" Baiklah... Sekarang Kalian boleh Pulang. Nanti akan aku kabarkan kapan kalian bisa kembali lagi ke sini, Karena Istana ini harus dibenahi terlebih dulu." Ucap Ryu.
" Gege... Aku sudah keluar dari Klan, Itu artinya akan tetap tinggal disini." Shu Meilu memasang wajah memerah enggan kembali ke Klan mereka.
" Haaaiiisss... Anak Gadis, kalau sudah jatuh cinta tidak peduli lagi dengan Keluarganya." Shu Miyo menggelengkan kepala.
" Aku juga tinggal disini." tegas Wang Mingjun.
" Aku juga." Qin Shuomei bersuara.
" Ye'er... Bagaimana menurutmu?" Tanya Ryu.
" Gege... Mungkin mereka bisa merawatmu. Bagaimanapun juga aku memiliki tanggung jawab sebagai Walikota Linka. Nanti Hua'er yang akan kesini." Ucap Ting Ye.
" Ye'er... Kenapa kamu tidak tinggal disini saja? Nanti kita akan cari Walikota yang baru akan menggantikanmu." Ryu merasa heran.
" Gege... Ini masalah Tanggung Jawab. Kamu bisa mendatangiku Sewaktu-waktu " ucap Ting Ye.
" Haaahh... Baiklah, aku tidak bisa memaksamu." Ryu menghela nafas panjang.
" Yang Mulai Kaisar, Sekarang hanya ada Tiga Klan. Itu artinya masih mencari Dua Klan lagi." Li Shang mengutarakan pembicaraan.
__ADS_1
" Haaahh... Dua lagi ya? " Ryu menaikkan alisnya.
" Tuan... Tidak hanya sampai disitu saja, Tuan juga harus mengangkat Perdana Menteri, Menteri Utama, Jenderal dan Prajurit. Jika ada Lima Klan yang akan bergabung maka akan lebih mudah untuk merekrut beberapa Pengurus Istana. " ucap Li Chun.