
"Nak... Aku tidak menyangka bayi mungilku telah menjadi gadis cantik seperti ini." Bing Zise senyum hangat.
" Ayah, Ibu... Aku punya kejutan untuk kalian." Qin Shuomei menoleh ke arah pintu masuk Goa.
Sheng Zhishu dan yang lainnya pun langsung keluar dari persembunyian mereka dan muncul bersamaan berjalan menuju ke arah orang tua Qin Shuomei.
" Ayah, Ibu... Pemuda ini adalah Suamiku." Qin Shuomei menunjuk ke arah Ryu.
" Salam Ayah Mertua... Salam Ibu Mertua. Namaku Liu Ryu memberi hormat sekaligus meminta Restu" Ryu menundukkan kepala.
" Mmmm... Ternyata Anakku sudah menikah." Patriak Mao memegang dagunya.
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Sheng Zhishu."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Xin Chie."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Huli Yue."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Tianhe."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Yunjiang."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Yinshi."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Yuwang."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Xie Hua."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Ting Ye."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Wang Mingjun."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Shu Meilu."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Li Jilan"
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Ling Queqi."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Jiang Caiping."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Nan Sian."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Zhou Luyi."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Zhou Liying."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Lan Liwei."
__ADS_1
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Hong Kian."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Bing Ruyue."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Zhang Qixuan."
" Salam untuk Ayah dan Ibu, namaku Jinying."
Satu-persatu Istri Ryu yang lain berlutut dan memberi hormat kepada kedua orang tua Qin Shuomei yang membuat Ryu mendapatkan firasat buruk.
Mendengar ucapan dari 22 wanita cantik tersebut, Patriak Mao, Bing Zise, dan Wu Hao mengerutkan keningnya.
" Nak.. aku tidak mengerti semua Ini. " Patriak Mao menatap Putrinya.
" Ayah... Ibu... Liu Ryu adalah Suamiku. Dan 22 wanita cantik ini adalah Istri-Istri dari menantu Ayah." Ucap Qin Shuomei tanpa merasa terbebani.
" Apa?" Paktriak Mao terlihat kaget sekaligus marah.
Namun karena dia takut saat merasakan Aura Intimidasi dari Tou Shuijing dari Jiu Tou She, dan tujuh Hewan Kontrak di belakang mereka, Patriak Mao mengurungkan niatnya.
" Zi'er... Kami sebagai orang tua selalu mengharapkan sebuah kebahagiaan untuk Putrinya." Ucap Bing Zise menatap Putrinya meskipun tidak terima karena menantunya tersebut memiliki banyak Istri yang lain.
" Ayah dan Ibu tenang saja... Bersama mereka semua aku sangat senang, bahkan lebih berbahagia dibandingkan dengan para wanita di luar sana." Qin Shuomei terlihat gembira tanpa memperdulikan tatapan mereka.
Patriak Mao dan Bing Zise melihat anaknya yang tidak memiliki beban yang disembunyikan kini bernapas lega.
Mereka sangat yakin bahwa Pemuda yang menjadi Suami anaknya adalah sosok yang bertanggung jawab.
" Mei'er." Ketiga sosok tersebut bergumam, karena masih belum mengetahui nama Gadis tersebut yang tentu karena telah dirawat oleh orang lain, pasti akan memiliki nama yang baru.
Qin Shuomei yang tau dengan rasa penasaran kedua orang tuanya kini menceritakan tentang bagaimana dia diangkat menjadi keluarga Klan Qin hingga sampai sekarang.
Tapi Qin Shuomei menyembunyikan bahwa Ryu adalah seorang Kaisar dan mereka adalah Permaisuri dan Ratu, karena perjalanan mereka masih jauh.
" Jadi begitu... Haaahh... Aku tak peduli dengan nama barumu tapi kamu tetap Shui Jin Nazi Putri kami." Tegas Patriak Mao.
" Ryu'er... Siapa mereka?" Tanya Bing Zise menatap ke arah sembilan sosok lainnya.
"Kami adalah bawahan Tuan Muda Ryu dan 23 Tuan Putri." Tou Shuijing mewakili yang lainnya.
" Perjalanan kalian sungguh jauh. Mari Kita Ke Sekte ku." Patriak Mao Merasa tidak ada yang dicurigai lagi.
Sedangkan Wu Hao langsung pamit kembali ke Desa untuk memantau keadaan di Desa Rumput Putih.
Patriak Mao membawa mereka menuju sebuah Bukit dimana dibawah kaki Bukit tersebut berdiri sebuah Sekte Kecil.
" Ini adalah Sekte Kecilku. Sekte Tirai Air yang aku bangun kembali bersama Para Tetua dan Murid yang selamat selama sepuluh tahun yang lalu." Patriak Mao membawa mereka masuk.
__ADS_1
" Salam Patriak." Para penjaga memberi hormat.
" Mmmm." Patriak Mao hanya mengangguk kecil.
Sesampai di dalam, mereka disambut beberapa Murid dan Para Tetua.
Para Murid Pria sangat kagum saat melihat kecantikan dari 27 wanita di depannya, sedangkan Murid wanita juga begitu tertarik kepada Ryu dan lima Hewan Kontrak.
Mereka tidak mengetahui bahwa dari beberapa sosok tersebut adalah Hewan Kontrak.
" Salam Patriak" Para Murid memberi hormat.
" Patriak." ucap salah satu tetua.
" Tetua Siwu... Kumpulkan para Tetua, Guru sekte dan Murid untuk merayakan kedatangan anak dan menantuku." Ucap Paktriak Mao
" Ba... Baik Patriak" Tetua Siwu yang sempat kaget langsung meninggalkan tempat tersebut.
Patriak Mao membawa mereka ke tempat kediamannya sambil menunjukan beberapa hal yang berada di Sekte tersebut.
Sesampai di Kediamannya, Paktriak Mao mempersilahkan mereka untuk masuk.
" Selamat datang di Rumah Kediaman Kami." Patriak Mao mempersilahkan mereka untuk duduk.
" Ayah... Apa aku memiliki Saudara kandung?" Tanya Qin Shuomei.
" Kamu memiliki seorang Kakak, nanti kita akan menemuinya ketika dia sudah kembali dari misi." Ucap Patriak Mao
" Ayah mertua... Mohon terimalah hadiah kecil dariku." Ryu mengeluarkan sepuluh Peti Besar yang masing-masing berisi jutaan Batu Roh.
" Ryu'er... Ini..." Patriak Mao membulatkan matanya melihat tumpukan Batu Roh tersebut.
Ryu juga memberikan sepuluh Peti Besar yang masing-masing berisi jutaan Harta langit dari kelima jenis Harta langit.
" Ryu'er... Ini...Ini sangat banyak. " Patriak merasa sangat kagum pada menantunya, bagaimana bisa mendapatkan Harta langit sebanyak itu.
" Ayah... Kami masih memiliki banyak Harta langit. Jika Ayah membutuhkannya, Ayah tinggal bilang saja kepadaku atau yang lain." Ucap Qin Shuomei.
" Nak... Terimakasih banyak." Patriak Mao meneteskan air mata bahagia, dia sangat paham bahwa Harta langit bisa menjadi incaran banyak orang yang tentu dia berpikir bahwa Ryu masih banyak menyimpan Harta langit meskipun sangat mustahil.
" Ayah... Mohon terima hadiah dariku." Xin Chie mengeluarkan lima Peti Besar yang masing-masing berisi jutaan dari berbagai jenis Pil.
"A...Apa aku sedang bermimpi? " Patriak Mao sambil menepuk pipinya.
Bagaimana mereka sangat mudah memberikan Sumberdaya yang paling sulit dicari.
" Ayah tidak Bermimpi. Semoga bisa membantu membangun kembali Sekte ini agar lebih kuat." Qin Shuomei tersenyum melihat tingkah ayahnya.
__ADS_1
" Su_Suamiku." Bing Zise terlihat Gemetar baru saja keluar dari dapur melihat tumpukan Sumberdaya yang sangat langka di depan mereka.
" Ibu.. Tenangkan dirimu!" Qin Shuomei memegang tangan Ibunya yang terlihat gemetar.