
" Saayaaang.." She Ling menggerakkan pinggulnya merasakan Tongkat Ryu yang mengeras sudah berada di Goa miliknya meskipun belum masuk.
" Sabar dulu." Ryu langsung mengarahkan Tongkatnya ke mulut She Ling.
" Uuuuummm". She Ling memegang Tongkat tersebut sambil memasukkan ujungnya ke dalam Mulut hingga terlihat penuh membuat Pipinya seakan mengembung.
Begitupun dengan Ryu juga berkuasa di Wilayah Goa milik She Ling hingga keluar Cairan masih bening yang menandakan memiliki Yin Murni.
" Aaaahhhh Ssshhhhh." She Ling merasakan sensasi hebat saat air suci miliknya keluar berkal-kali.
" Sudah waktunya." Ryu memalingkan badan lalu menancapkan Tongkatnya ke dalam Goa hingga merobek selaput tipis yang membuat sedikit bercak darah.
" Aawwww." She Ling merasakan Goanya yang dimasukkan Tongkat Ryu dengan paksa hingga menjerit kesakitan namun bercampur Enak.
Saat Posisi sudah sempurna, Ryu mempercepat gerakannya hingga membuat She Ling mend3sah keenakan dan mengeluarkan Air suci membasahi Tongkat Ryu dan dinding Goa miliknya
Kejadian serupa terus terulang hingga She Ling tidak kuasa lagi menahan sensasi yang luar biasa yang membuat Air Suci miliknya keluar berkal-kali hingga langsung Pingsan saat Ryu juga mengeluarkan Air suci miliknya memenuhi Goa suci milik She ling.
Ryu yang masih menganggap Sosok Wanita yang dibawahnya adalah Yuwang, dia dengan segera menyerap Energi Yin Murni dari She Ling dengan posisi Tongkatnya masih terbenam.
" Bboooom" Ryu langsung Menerobos Pendekar Alam Tahap Menengah.
Ryu berfikir sejenak, bagaimana dia bisa menerobos Dua kali mengingat Yuwang tidak memiliki Yin Murni lagi ditambah masih pendekar Suci Tahap Akhir
" Kenapa bisa begini? " Ryu terlihat bingung saat melihat Wanita tersebut bisa Pingsan.
" Ah... Tidak perlu dipikirkan, lebih baik aku tidur." Ryu memperbaiki posisi tidur She Ling mencium kening dan Pipinya dengan lembut lalu tidur.
Pada keesokan pagi sekali, She Ling yang sudah terbangun langsung kaget sambil memegang bagian bawahnya yang masih sakit.
" Yuwang, Kau sudah bangun?" Ryu mengusap Rambut She Ling yang masih duduk di sampingnya.
' Yuwang? Siapa dia?' She Ling memasang wajah memerah ingin Membunuh Pemuda yang disampingnya namun tidak punya alasan kuat.
" Sayang... aku mandi dulu. Setelah itu kita menemui Hua'er." Ryu beranjak dari tempat tidur sambil mencium Kening, Pipi dan juga Bibir She Ling yang masih mematung.
" Gawat... Jika ketahuan oleh Murid lain mau ditaruh dimana mukaku. Apalagi jika ketahuan Istrinya." She Ling sambil memegang bibirnya yang barusan dicium Ryu yang masih terbayang serangkaian kejadian semalam yang mampu merasakan indahnya Surga.
" Aku harus pergi secepatnya." She Ling takut ketahuan langsung beranjak dari tempat tidur meski enggan meninggalkan orang yang telah mengambil Kesuciannya.
Di dalam Kamar mandi, Ryu yang sedang membersihkan diri kini Efek Pil Gairah Pengantin langsung hilang karena terkena Air di sekujur tubuhnya.
Seketika itu juga Ryu merasa ada hal yang aneh, karena tidak mungkin Yuwang bisa keluar dari Dunia Quzhu.
Apalagi ketika merasakan Aura yang kuat dari tubuh Yuwang ( She Ling) yang sudah berada di Pendekar Langit Tahap Akhir.
" Sepertinya itu bukan Yuwang. Pasti Orang itu menyamar menjadi Istriku. Karena Orang itu memiliki Yin Murni dan sudah berada di Pendekar Langit." Ryu sambil berjalan dari kamar mandi.
" Tapi apa tujuannya?" Ryu memperlihatkan Kamarnya tidak ada seorangpun.
__ADS_1
...****************...
Di tempat lain:
" Ciihhhh... kenapa aku bisa terjerumus oleh ideku sendiri." She Ling terlihat kesal sambil menelan Pil untuk memulihkan rasa sakitnya.
Sesaat dia terbayang akan Wajah Ryu namun dia kembali menepis perasaannya karena tidak ingin Namanya tercemar apalagi harus sampai menikah.
" Sebagai Ketua Devisi 6 aku tidak mungkin menikah dengan Murid bawahanku sendiri. Aku harus menjauhi Pemuda itu, aku tidak mau terjerumus kedua kalinya." She Ling Membulatkan tekad menganggap Ryu adalah sosok Monster yang tidak bisa diganggu.
Ryu yang sudah berada di lapangan, kini telah disambut oleh murid Klan Xie yang merasa khawatir akan keberadaan Ryu dan Xie Hua yang masih berada di Jalur 6A.
" Tuan Ryu, mana Hua'er?" Xie Kai menyelidik karena tidak menemukan keberadaan Xie Hua.
" Aku memintanya untuk melakukan Kultivasi. Kalian tenang saja, dia di tempat yang aman." Ryu juga paham dengan kekhawatiran mereka.
" Tuan Ryu, sebaiknya kalian harus Pindah ke Jalur 6E saja. tempatmu tidak aman." Xie Kai masih khawatir.
" Saudara Kai, kamu tenang saja... Perawan Tua itu tidak akan berani mengusik ketenangan ku." Ryu sangat yakin.
" Baiklah, jika itu memang Keputusanmu." Xie Kai tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Seketika terlihat She Ling sedang berjalan mendekati lapangan latihan sesaat memandang ke arah Ryu lalu menoleh ke arah lain.
" Ketua Ling, ada apa dengan langkahmu?" Salah satu Guru memperhatikan Gerakan Ketua Devisi 6 tidak seperti biasanya, seperti sedang Ketakutan.
" Aahhh... Kakiku keseleo" She Ling memasang wajah memerah disalahkan artikan pertanyaan tersebut.
" Ja... Jangan mendekat." Secara refleks She Ling menjawab seperti orang ketakutan.
Melihat tingkah dari Ketua Devisi 6 beberapa Guru dan Murid merasa heran akan perubahan She Ling yang biasa terlihat Angkuh namun kita seperti Orang penakut
" Untuk Dua bulan kedepan kita akan menuju Hutan Darah, jadi persiapkan diri kalian masing-masing." She Ling langsung bersuara tanpa memperdulikan Ekspresi dari murid.
Mendengar ucapan tersebut semua Guru dan Murid merasa khawatir karena hal buruk yang selama ini mereka takutkan akan segera terjadi, namun mereka tidak pernah berpikir bahwa hal itu terlalu cepat.
Dari semua Murid Hanya Ryu saja yang masih terlihat santai tanpa merasa sedikit Ketakutan, hal itu tentu terlihat oleh para Guru bahkan She Ling yang sekilas menatapnya.
' Pemuda ini... mengapa dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun.' Zhi Kifang menatap ke arah Ryu lalu menoleh ke arah She Ling yang terlihat tidak berani menatapnya terlalu lama bahkan sering terlihat menunduk. ' Ada apa dengan Ketua Devisi 6? mengapa dia seperti ketakutan jika bertatap muka dengan Pemuda itu' Zhi Kifang menyelidik.
" Untuk semua Murid luar, kalian berlatihlah lebih keras lagi. Aku harap kalian tidak mengecewakan kami." Zhi Kifang bersuara keras untuk memberi semangat kepada Murid meski hatinya tidak tega.
" Maaf Guru, Apa Hutan Darah banyak menyimpan Hewan Roh atau Sumberdaya?" Ryu ingin menyelidik.
" Hutan Darah banyak menyimpan Hewan Roh yang sudah berada di Tingkat Bumi dan tingkat Langit. tapi tidak ada yang berani untuk masuk ke Wilayah dalam lagi. " Zhi Kifang menyipitkan matanya menatap ke arah Ryu.
" Terimakasih atas Informasinya Guru." Ryu menundukkan kepala lalu menoleh ke arah Xie Kai. " Saudara Kai, Sepertinya ini sangat cocok untuk Seluruh Anggota Macan Buas. Kabarkan semua kepada mereka untuk ikut." Ryu masih terlihat santai.
" Ba...Baik Tuan." Xie Kai hanya bisa menurut, meskipun tidak yakin kalau Anggota Macan Buas akan mau ikut.
__ADS_1
" Kalau begitu aku pamit dulu." Ryu meninggalkan lapangan latihan berniat untuk mencari berbagai keperluan untuk berburu.
She Ling dan para Guru yang menyaksikan hal itu tentu membuat mereka semakin penasaran dengan apa yang akan dilakukan Ryu.
Di dalam perjalanan, Ryu tengah berfikir bagaimana cara untuk mencapai Pendekar Bumi Tahap Awal dalam kurun waktu dua bulan.
" Haaahh... Semua gara-gara Kabut Asap Racun Kultivasi itu." Ryu berdecak kesal.
" Adik Ipar... mana Hua'er?" Xie Xian Tiba-tiba muncul di sampingnya.
" Ah... Kakak Ipar. Hua'er sedang menjalani Kultivasi, jadi dia tidak bisa ikut." Ryu menyembunyikan tentang keberadaan Xie Hua.
" O... begitu. Bagaimana kalau kamu mengantarku untuk jalan-jalan. Aku rasa Hua'er tidak marah padaku." Xie Xian merasa itu kesempatan baik untuknya agar bisa dekat dengan Ryu.
Meskipun awalnya dia ragu akan keperkasaan Ryu, namun kali ini dia menepis. Bahkan jika Xie Hua ingin berbagi Suami untuknya dia pasti akan melakukan.
" Baiklah... Lagi pula aku berencana untuk mencari berbagai keperluan sebelum pergi ke Hutan Darah." Ryu sambil melangkahkan kakinya.
" Hutan Darah? Adik Ipar... Itu sangat berbahaya." Xie Xian mengingatkan.
" Aku kira akan lebih bagus untuk berlatih. Apa Kakak Ipar mau ikut? Kebetulan aku juga akan mengajak Semua Anggota Macan Buas." Ryu sambil menatap ke arah Xie Xian.
" Ah.. Itu... " Xie Xian terlihat Ragu, namun kembali berpikir bahwa itu akan menjadi kesempatan untuk mendekati Ryu. " Baiklah aku akan ikut. Tapi kita harus ke Devisi 4 dulu." Xie Xian beralasan.
" Kakak Ipar, apa ada yang ketinggalan? " Ryu menyelidik.
" Mmmmm... Tapi kau jangan terus memanggilku Kakak Ipar lagi, kamu boleh memanggilku Xian atau Xian'er saja. lagi pula aku lebih muda darimu." Xie Xian berbisik kepada Ryu.
" Apa itu tidak akan menjadi masalah?" Ryu sudah tau kemana arah pembicaraan.
" Aku rasa tidak akan ada masalah, lagi pula Hua'er tidak mampu mengurus mu sendirian." Xie Xian memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
Mendengar ucapan tersebut Ryu menghentikan langkahnya kembali berfikir di sisi lain dia teringat ucapan dari Wu Kong, jika Sumberdaya tidak akan cukup membantunya dalam Berkultivasi.
Untuk itu dia juga berfikir menambah istri agar bisa mencapai Puncak sebagai seorang Kultivator, karena hanya itu saja yang dapat membantu.
' Jika dia sendiri yang menginginkan hal itu, aku rasa tidak buruk. Yang penting aku harus memiliki Sebuah Tanggung Jawab.' Ryu teringat Cerita tentang Dewa Surgawi yang berhasil mencapai Pendekar Semesta berkat bantuan 100 Istrinya dan selir yang hampir tidak terhitung jumlahnya.
Namun Ryu tetaplah Ryu. Dia tidak mungkin melakukan seperti Dewa Surgawi, yang penting baginya sekarang agar bisa mencapai Puncaknya. Dengan begitu tidak ada lagi Sosok Dewa atau apapun yang seakan mempermainkan takdirnya seperti sekarang yang membuat Ketujuh Istrinya terkena imbas dari Pengaruh Kekuatan Dewi Nuwa.
Dalam Hati Ryu sekarang jika Sudah kuat, maka dia sendiri yang akan menantang Para Dewa tidak lain Dewi Nuwa itu sendiri karena telah mempermainkan takdirnya. Bahkan jika suatu saat akan bertemu dengan Reinkarnasi para Dewa, Ryu juga akan memberikan perhitungan.
" Hei... Apa kamu mendengarku?" Xie Xian membuyarkan lamunan Ryu.
" Baiklah... Xian'er.." Ryu berucap meski masih kaku.
" Nah... begitu kan lebih baik. Gege..." Xie Xian sangat bahagia dalam hati berbunga-bunga.
" Sepertinya kita sudah berada di Devisi 4, Aku akan menunggu disini saja." Ryu berdiri di Pinggir lapangan latihan.
__ADS_1
" Gege... Kau masuk saja. lagi pula tidak ada yang berani mengganggumu" Xie Xian menarik lengan Ryu menuju kediamannya tanpa memperdulikan pandangan dari Murid lainnya termasuk Murid Klan Xiong yang pernah dihajar Ryu.