SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
HARTA YANG TIDAK TERNILAI


__ADS_3

Liem Ao Ai yang melihat ekspresi dari wajah Ryu yang masih terlihat santai, dia pun sedikit menyelidik secara diam-diam memeriksa tingkat Kultivasinya.


Namun apa yang Liem Ao Ai dapatkan hanya sebuah kekecewaan, dimana dia merasakan bahwa Ryu masih mencapai Pendekar Bumi tahap awal.


Sedangkan kedua wanita yang ada di samping Ryu, tidak terlalu menanggapi hal tersebut karena mereka lebih fokus untuk menuangkan arak kepada Ryu, Tan Tihuna, Jenderal Mao, Liem Ao Ai dan untuk mereka sendiri.


Bukan tanpa alasan kedua wanita itu juga ikut minum arak untuk menghilangkan rasa malu mereka, karena baru pertama kali melayani orang penting bahkan baru pertama kali bersentuhan dengan seorang pria.


" Tuan... Silahkan diminum araknya." Salah satu gadis di sampingnya mempersilahkan Ryu untuk meneguk arak, karena hanya dia yang masih belum meneguk arak yang kedua kalinya.


Sedangkan yang lain sudah berkali-kali meneguk arak yang sudah disediakan oleh kedua wanita tersebut.


" Mmm." Ryu mengangguk sambil meneguk arak tersebut mencoba untuk membiasakan diri hingga tegukan kedua tersebut membuat kepalanya terasa pusing dengan wajah memerah padam.


" Bagaimana Tuan Pendekar? Apa rencanamu selanjutnya?" Tan Tihuna kembali bertanya kepada Ryu sambil meneguk arak di tangannya.


' Sial... Kenapa kepalaku pusing hanya karena meneguk dua kali arak itu. Sedangkan mereka sudah meneguk arak itu lebih dari sepuluh kali. ' Ryu menggeleng-gelengkan kepala merasa pandangannya mulai pudar, bahkan pendengarannya juga semakin menurun.


" Sepertinya Tuan Pendekar sudah mabuk, kita tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini." Tan Tihuna menggelengkan kepala berniat untuk meninggalkan kamar tersebut.


" Kalian tenang saja! Kita akan tetap menyerang Kerajaan Pasir Putih dua hari lagi." Ryu mencoba melawan pengaruh arak tersebut seraya meneguknya kembali.


" Baik kalau begitu. Kami Pamit undur diri." Tan Tihuna meninggalkan tempat tersebut bersama Jenderal Mao.


" Apa kalian sudah tidak ingin minum bersamaku?" Ryu menatap Tan Tihuna dan Jenderal Mao dengan samar-samar sambil meneguk kembali arak di tangannya.


" Lain kali kita akan minum bersama Tuan Pendekar." Jenderal Mao menggelengkan kepala tidak menyangka seorang Kultivator hebat bisa kalah dengan arak.


" Manager Ai, apa kamu ingin minum bersamaku?" Ryu menatap ke arah Liem Ao Ai.


" Ah... Itu..." Liem Ao Ai sontak kaget karena dia sendiri mulai pusing.


Sedangkan kedua gadis yang di samping Ryu, kini sudah benar-benar mabuk karena sudah banyak meminum arak.


Ucapan mereka pun mulai ngelantur kemana-mana sambil merangkul tubuh Ryu yang sudah tidak bisa mengendalikan efek dari arak tersebut.


" Sayang.... Kamu sudah banyak minum. Lebih baik kita nikmati malam yang indah ini." salah satu dari wanita tersebut mulai meraba tubuh Ryu sambil melepaskan pakaiannya.


" Sepertinya kalian sudah tidak sabar lagi. Tunggu sebentar Sayang... aku ingin menghabiskan arak ini." Ryu menuangkan arak tersebut untuknya sendiri seakan tidak mau kalah dengan Liem Ao Ai


Di sisi lain Liem Ao Ai berniat untuk meninggalkan tempat tersebut, namun ada hal lain yang membuat dia begitu enggan keluar dari kamar tersebut sehingga Liem Ao Ai juga mengambil dua guci arak lain lalu memberikan salah satunya kepada Ryu.

__ADS_1


" Tuan Pendekar... Aku Manager Ai merasa sangat terhormat bisa minum bersama Tuan Pendekar." Liem Ao Ai langsung meneguk arak yang ada di guci tersebut.


" Sebagai seorang Pria sejati, Aku tidak mau kalah dengan Manager Ai." Juga meneguk arak yang ada di tangannya.


Sesekali Ryu menoleh ke arah kedua wanita tersebut dengan penuh gairah yang memuncak.


Karena sudah dikendalikan oleh arak tersebut Ryu langsung menyambar tubuh kedua wanita tersebut.


Begitupun sebaliknya kedua wanita itu mulai melepaskan pakaian mereka masing-masing hingga memperlihatkan Gunung kembar mereka.


Begitu juga dengan Ryu, kini langsung mengangkat tubuh kedua wanita itu sekaligus ke atas Ranjang tanpa memperdulikan Liem Ao Ai yang masih berada di kamar tersebut.


Satu hal yang tidak Ryu ketahui dimana secara perlahan dia kembali ke wujud aslinya.


Sambil memainkan milik kedua wanita tersebut yang sudah tanpa busana.


" Sayang... Sepertinya kamu sangat tampan sekali." ucap salah satu wanita menatap ke arah Ryu yang sudah kembali ke wujud aslinya.


" Benarkah? Mungkin mata kalian saja yang salah." Ryu yang sudah tidak sadar memainkan gunung kembar milik kedua wanita itu dengan tangan dan lidahnya.


" Benar Sayang... Cepat lakukan itu! Aku sudah tidak tahan lagi." kedua wanita itu menggeliat kenikmatan.


Mendengar ucapan tersebut Liem Ao Ai yang masih berada di tempat semula kini menoleh ke arah mereka yang sedang sibuk dengan kelakuan mereka.


" Deeeg." Jantung Liem Ao Ai saat menatap ke arah sesuatu yang menggantung di kedua kaki Ryu.


Yang lebih mengagetkan Liem Ao Ai adalah perubahan wajah dari Ryu dimana terlihat tampan yang mampu menggoyahkan hati siapapun wanita yang menatapnya.


Secara perlahan Liem Ao Ai mendekati mereka hingga wajah Ryu terlihat dengan jelas meskipun dia tidak mengetahui bahwa wajah tersebut adalah Kaisar Ryu.


" Tuan Pendekar... Apa aku boleh ikut?" Liem Ao Ai tidak kuasa menahan hasratnya saat melihat Senjata milik Ryu begitu besar.


Tanpa menjawab apapun Ryu hanya mengangguk sambil menyerang kedua wanita tersebut dengan ganas.


Mendapat persetujuan tersebut, Liem Ao Ai langsung melepaskan pakaiannya hingga tanpa sehelai benangpun lalu tertuju pada sesuatu yang menggantung di kedua kaki Ryu.


Tanpa menunggu lama, Liem Ao Ai memainkan Senjata kebanggaan Ryu hingga beberapa dia sudah tidak tahan lagi langsung mengambil sikap mendahului kedua wanita tersebut untuk digagahi oleh Ryu.


Saat merasakan sesuatu yang memenuhi bagian dinding miliknya, Liem Ao Ai bersuara dengan keras langsung menciptakan pelindung kedap suara agar tidak didengar oleh orang lain di luar kamar.


Terlihat Liem Ao Ai sangat menikmati permainan dari Ryu yang bahkan tidak pernah dia dapatkan dari Suaminya sendiri.

__ADS_1


Bahkan Liem Ao Ai meminta hal itu hingga berkali-kali saat kedua wanita yang lain sudah mencapai puncaknya.


Kedua wanita itu juga tidak mau kalah. Meskipun mereka baru pertama kali melakukan hal itu, namun karena efek alkohol di dalam arak membuat mereka seakan memiliki tenaga tambahan hingga sampai mereka benar-benar tidak mampu lagi untuk bangkit.


Pada keesokan pagi Ryu tersadar dari efek arak yang dia minum sambil menatap ketiga wanita yang sedang tidur terlentang di sampingnya.


" Apa yang telah aku lakukan?" Ryu mengingatkan kembali serangkaian kejadian semalam.


" Deeeg." Ryu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu kembali ke wujud Penyamaran.


Setelah beberapa saat Ryu keluar dari kamar mandi melihat Liem Ao Ai sudah tidak ada di tempat itu dan hanya menyisakan kedua wanita sebelumnya.


" Selamat pagi Tuan." salah satu dari mereka yang sudah bangun menyapa Ryu dengan ramah.


Meskipun kedua wanita itu sudah melihat wajah Ryu yang aslinya, namun mereka berfikir bahwa hal itu hanya perasaan mereka karena dalam keadaan mabuk.


" Tuan... Apa aku boleh tinggal disini untuk beberapa saat. Sepertinya aku membutuhkan waktu untuk pulih kembali." ucap wanita tersebut merasakan bagian sensitif miliknya sangat sakit.


" Sebelumnya aku minta maaf karena telah memperlakukan kalian seperti ini. Tapi aku tidak habis pikir kenapa kalian melakukan hal ini?" Ryu melihat bercak darah di bagian sprei yang mereka pakai sebelumnya.


" Mohon maaf Tuan Pendekar... Hal ini sudah kami pertimbangkan sebelumnya. Kami harus melakukan ini untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami." Wanita tersebut berkata jujur.


" Haaahh... Lain kali jangan lakukan itu lagi. Lebih baik kalian mencari pekerjaan yang baik." Ryu yang merasa bersalah, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena semua sudah terjadi.


" Sekarang pulihkan diri kalian! Apa kata orang nanti, jika kalian masih ada disini." Ryu memberikan Pil pemulihan kepada mereka.


" Terimakasih Tuan Pendekar." Kedua wanita itu mengambil Pil tersebut lalu menyerapnya untuk memulihkan diri.


Setelah beberapa saat kedua wanita tersebut sudah bisa bangkit berdiri, lalu memasang kembali pakaian mereka.


" Apa kalian memiliki Cincin Ruang?" Ryu bertanya kepada mereka.


Mendengar pertanyaan dari Ryu, kedua wanita tersebut menggelengkan kepala yang menandakan bahwa mereka tidak memiliki Cincin Ruang.


" Baiklah... Sekarang ambil Cincin Ruang ini untuk kalian. Di dalam Cincin Ruang itu ada satu Juta Batu Roh, Pil Kultivasi dan Harta langit. Mohon terimalah sebagai ucapan permintaan maaf dariku." Ryu memberikan kepada mereka masing-masing satu Cincin Ruang.


" Te... Terimakasih Tuan Pendekar. Tapi ini terlalu banyak. kami juga sudah diberikan batu roh dari Tuan Walikota." Kedua wanita itu terlihat senang, namun merasa tidak enak hati karena apa yang diberikan oleh Ryu adalah harta yang tidak ternilai.


" Kalian ambil saja! Harga diri seorang wanita lebih berarti dari harta yang aku berikan." ucap Ryu.


" Ba... Baik Tuan Pendekar. Kalau begitu kami pamit dulu." Kedua wanita tersebut menundukkan kepala lalu meninggalkan kamar tersebut.

__ADS_1


__ADS_2