
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
Di Dunia Quzhu :
Terlihat Hong Kian dan Lan Liwei jatuh tersungkur di lantai dasar Istana Emas sambil berteriak.
Merasakan kehadiran mereka, 13 Istri Ryu yang lain langsung menuju sumber suara tersebut yang meminta pertolongan.
" Wei'wei, Kian'kian... Sheng Zhishu dan yang lain menuju ke arah mereka.
" Apa yang terjadi pada kalian?" Xin Chie terlihat gelisah.
" Tolong selamatkan Suami kita." Hong Kian bersuara dengan lemah.
" Gege ada dimana?" Tanya Yuwang yang juga terlihat khawatir.
Namun Hong Kian dan Lan Liwei tidak mampu berkata lagi karena rahang mereka seakan tidak mampu bergerak.
Melihat hal itu Xin Chie mengeluarkan beberapa Pil lalu membuka mulut Hong Kian dan Lan Liwei agar bisa menelan Pil tersebut.
Begitupun dengan yang lain langsung menyalurkan Energi mereka kepada Hong Kian dan Lan Liwei untuk memulihkan tenaga mereka.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini kondisi mereka berangsur membaik hingga sudah mampu bergerak.
" Gege dalam bahaya. Kita harus selamatkan Suami kita." Lan Liwei langsung memegang Kalungnya membawa mereka ke Sekte Kabut Ilusi.
Sesampai di lapangan Sekte Kabut Ilusi, kini mereka hanya menemukan Puluhan sosok wanita yang masih dalam keadaan tidak berdaya.
Setelah cukup lama memeriksa keadaan sekitar, mereka tidak berhasil menemukan keberadaan Ryu dan semua anggota Pria Sekte Kabut Ilusi.
" Tetua." Lan Liwei mengambil salah satu Tetua untuk memulihkan kondisinya agar bisa menceritakan kemana mereka membawa pergi Ryu dan anggota Sekte Kabut Ilusi yang lain.
Setelah beberapa saat, kondisi Tetua tersebut mulai membaik hingga sudah mampu untuk bergerak.
" Tetua... Kemana mereka membawa Suami kami?" Lan Liwei, Sheng Zhishu dan yang lain bertanya dengan serempak.
__ADS_1
Hal itu tentu saja membuat Tetua tersebut membulatkan mata tidak menyangka bahwa Kaisar Ryu memiliki Istri yang sangat cantik dimana dihadapannya sekarang ada 15 wanita dan diapun berfikir bahwa tujuh Istri Ryu yang lain pasti memiliki kecantikan yang sama meskipun dia sendiri juga wanita.
" Ah... " Tetua tersebut tersadar sambil mengingat kejadian sebelumnya.
" Aku tidak tau kemana mereka, tapi mendengar mereka membawanya ke Altar persembahan." ucap Tetua tersebut.
" Altar persembahan?" Lan Liwei dan yang lain langsung kaget.
" Kita harus mencari Suami kita secepatnya." Yuwang langsung keluar dari Sekte yang diikuti Tianhe, Yunjiang, Yinshi dan Ting Ye.
" Gege... Aku harap kamu masih baik-baik saja." Xie Hua, Wang Mingjun, Shu Meilu, Qin Shuomei dan Li Jilan mencari ke arah lain.
" Kian'kian, Wei'wei, Kalian harus membantu mereka. Biar kami yang mencari keberadaan Suami kita." ucap Sheng Zhishu.
" Mmm." Hong Kian dan Lan Liwei mengangguk, mengingat keselamatan Anggota Sekte Kabut Ilusi harus cepat ditangani.
Dengan segera Sheng Zhishu, Xin Chie dan Huli Yue langsung keluar Sekte Kabut Ilusi menuju ke arah lain untuk mencari keberadaan Ryu.
...----------------...
Di Alam Jiwa Jinying yang juga terlihat cemas karena Ryu sudah dalam keadaan tangan terikat sambil memikirkan cara untuk membebaskan Ryu.
" Aku tau penyebabnya jiwaku menyatu dengan Gege... Jika aku memberikan Yin Murni sebanyak 120 pada Gege, maka aku akan terlepas dari Ikatan jiwa itu. Tidak salah aku mengikrarkan Sumpah Langit, dengan begitu aku akan bebas." Jinying dengan senyuman liciknya.
Meskipun sekarang dia tidak bisa membunuh Istri Ryu yang lain, namun dia berfikir untuk melepaskan diri dari Ryu. Dengan begitu Jinying bisa mencari cara lain agar bisa membunuh Istri Ryu dan menjadikan Ryu sebagai Suaminya secara utuh tanpa harus berbagi.
" Sekarang aku sudah memberikan kepada Gege sebanyak 25 Tubuh yang masih Suci. Itu artinya masih tersisa 95 lagi. Sekarang di tubuhku masih tersisa 44 Itu, jadi aku harus membutuhkan 51 tubuh suci." Jinying tidak ingin menyiakan kesempatan tersebut agar terlepas dari Ryu.
Jinying berfikir keras bagaimana caranya agar dia secepat mungkin memberikan tubuh suci tersebut karena dia hanya bisa menggantikan tubuh suci yang baru ketika Matahari terbit sampai Matahari terbenam itu artinya dia membutuhkan waktu selama 95 hari terus bersama Ryu.
Jika harus berhadapan langsung, maka dia sendiri tidak mampu untuk melawan meskipun hanya satu orang saja.
' Gege... Apa kamu masih bisa mendengarku?' Jinying mengirim pesan jiwa kepada Ryu.
' Ying'er... Kamu jangan keluar. Mereka semua sudah mencapai Pendekar Langit. Itu sangat berbahaya.' Ryu mengirim pesan jiwa sambil menatap beberapa sosok dengan penuh nafsu akibat Serbuk mata merah.
' Sepertinya mereka banyak memiliki Energi Yin Murni. Sesuai janjiku padamu, aku akan memberimu 120 Yin Murni. Sekarang aku butuh bantuanmu.' pesan jiwa dari Jinying.
' Bagaimana kamu bisa memikirkan seperti itu, Lihat posisiku sekarang! Aku tidak mampu menahan gejolak ini.' Ryu sedikit kesal karena Jinying masih sempat berpikir seperti itu.
' Gege tenang saja, aku ada cara. Tapi Gege harus berjanji akan menemaniku selama 95 hari untuk menghabiskan tubuh suci yang aku janjikan.' Jinying merasa itu kesempatan yang bagus untuk bernegosiasi.
Meskipun terlihat kesal Ryu menyanggupi permintaan Jinying karena yang dia fikirkan sekarang bagaimana cara untuk menyelamatkan diri dari kelompok pengikut Tetua Agung Sekte Kabut Ilusi yang ingin menjadikan dia sebagai tumbal persembahan.
' Baiklah aku setuju.' Ryu tidak bisa mengelak lagi.
Disisi lain semua pengikut Tetua Agung terlihat sibuk untuk menyediakan berbagai macam bahan persembahan yang lain.
" Pemuda ini sangat kuat, hanya dalam waktu singkat dia telah banyak membunuh bawahanku." Tetua Agung terlihat geram karena Ryu sudah membunuh hampir setengah dari jumlah bawahannya.
" Tetua Agung, semua telah siap." ucap salah satu sosok wanita.
" Baiklah, sekarang kita lakukan pemujaan terhadap Leluhur." Tetua Agung mengambil tempat yang tidak jauh dari Patung Rubah.
Begitupun dengan anggota yang lain, kini berbaris rapi di belakang Tetua Agung mereka.
__ADS_1
" Hormat kepada Leluhur." Tetua Agung merentangkan kedua tangannya ke atas sambil merapalkan sebuah mantra yang diikuti bawahannya.
" Hormat kepada Leluhur." Tetua Agung berlutut di depan Patung Rubah diikuti bawahannya.
Seketika mata Patung Rubah langsung terbuka memancarkan cahaya berwarna merah.
" Wuush " Jinying muncul tiba-tiba sambil menabur Racun kelinci merah ke seluruh ruang pemujaan tersebut dengan cepat kembali ke Alam Jiwa.
Kini pemujaan tersebut langsung terganggu karena semua sosok wanita yang ada di tempat itu tertuju pada Ryu yang ada di depan mereka dengan penuh nafsu.
" Sial... Siapa yang menabur Racun kelinci merah ini? " Tetua Agung, Guru Agung dan beberapa sosok yang lain sangat geram namun gerakan tubuh mereka berkata lain.
" Mereka sudah tau resiko dari efek racun tersebut, membuat mereka seakan tidak berdaya mulai mendekati Ryu secara sukarela melepaskan ikatan di tangan Ryu.
" Wuush." Sebuah bayangan hitam satu-persatu menelan sosok wanita yang ada di tempat itu hingga mencapai 51 orang.
" Ying'er... Jadi ini rencanamu?" Ryu juga tidak bisa menolak sentuhan lembut dari beberapa sosok wanita yang di depannya.
" Maafkan aku Gege... Hanya ini cara satu-satunya untuk membebaskan diri dari mereka." Jinying seakan tidak rela jika Ryu harus disentuh oleh wanita lain apalagi sampai hubungan Intim.
Namun Jinying tidak menyiakan kesempatan tersebut untuk meningkatkan Kultivasinya dengan menyerap Energi kehidupan dari wanita yang tersisa.
Dengan segera Jinying kembali ke Alam Jiwa untuk mempersiapkan proses penyerapan tersebut.
Ryu sebenarnya sudah mengetahui rencana dari Jinying untuk mengambil keuntungan darinya, namun setelah dipikir lagi Ryu tidak ingin meningkatkan Kultivasi sebelum memurnikan tubuhnya agar tidak terhenti saat menerobos Pendekar Semesta.
Satu-persatu para wanita tersebut melepaskan pakaian mereka masing-masing hingga memperlihatkan Gunung kembar.
Dalam hati para wanita tersebut mengutuk keras dengan adanya Racun kelinci merah yang bersarang di tubuh mereka. Namun jika tidak disalurkan, maka meridian mereka akan rusak.
Ryu yang melihat pemandangan itu kini menelan ludah seakan tidak kuasa menahan hasratnya untuk menggagahi mereka semua.
" Anak Muda... Cepat lakukan itu, aku sudah tidak tahan lagi." Tetua Agung menyerobot yang lain agar dia lebih dulu.
Ryu yang terkena efek pembangkit gairah, dengan senang hati langsung menarik tangan Tetua Agung dan menggagahinya menerobos paksa bagian sensitif milik Tetua Agung dengan miliknya.
Saat melihat kejadian itu yang lain langsung membulatkan mata karena Tetua Agung mereka merintih keenakan.
Sambil menunggu giliran, para wanita tersebut memainkan milik mereka sendiri hingga mereka juga hanyut dalam permainan tangan mereka.
Namun tidak semua wanita yang melakukan hal itu, mereka lebih memilih agar Ryu memainkan jarinya pada bagian sensitif milik mereka yang diantaranya adalah Guru Agung.
Hal yang tidak mereka ketahui bahwa Energi mereka seakan tersedot ke arah Patung Rubah yang disamping mereka, namun hal itu tidak berlaku pada Ryu.
" Tetua Agung, berikan kami kesempatan." ucap salah satu Tetua yang sudah tidak kuat menahan hasratnya.
" Anak Muda... Cepat lakukan lagi! Racun kelinci merah masih banyak tersisa." Tetua Agung merasa masih belum puas.
Dengan sigap, Ryu langsung menuruti keinginan Tetua Agung dengan keperkasaannya.
" Tolong Tetua Agung... Kamu jangan hanya memikirkan dirimu sendiri. Kamu lihat kondisi kami sekarang. Jika terlalu lama, maka meridian kami akan rusak." ucap Guru Agung yang diikuti yang lain.
Mendengar ucapan tersebut Tetua Agung memperhatikan wajah dari bawahannya yang dalam kondisi memprihatinkan.
" Baiklah... Aku akan mengalah." Tetua Agung memberi kesempatan kepada yang lain untuk meringankan beban mereka.
__ADS_1
Ryu yang sudah menyelesaikan aksinya kepada Tetua Agung, kini langsung mengganti posisi dengan menyerang Guru Agung dengan gagah perkasa.