SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
CH 84. DUKA RYU


__ADS_3

'Ini Gawat, Aku sampai tidak sempat meminta Bantuan Pasukan Naga Gunung ' Ryu Sambil menghindari Bunga Teratai Suci Yin-Yang juga melawan Keempat Sosok didepannya.


" Bboooom" Terjangan yang sangat kuat dari Kalajengking Pertama membuat Ryu terpental menabrak Pelindung Yin-Yang.


" Wuuuush." Bunga Teratai Suci Yin-Yang langsung masuk ke dalam tubuh Ryu.


Seketika Ryu merasakan tubuhnya bergejolak kadang Panas dan Seketika Dingin membuatnya kehilangan konsentrasi.


" Sayang." Yuwang langsung menciptakan Teknik Cermin Neraka sambil melompat ke arah Ryu.


Seketika Pasukan Lawan kehilangan Kultivasi membuat mereka bisa dijatuhkan dengan Mudah namun tidak berpengaruh pada Kalajengking Pertama.


" Ini yang saya tunggu-tunggu" Kalajengking Pertama membuat pola gerakan dan merapalkan sebuah Mantra.


'TEKNIK YIN-YANG '


Seketika Teknik tersebut memantulkan cahaya yang membuat Pasukan Lawan Kembali ke Kultivasi semula, Sedangkan Pihak Ryu kini malah kehilangan Kultivasi.


" Cepat Bunuh Semua" Perintah Kalajengking Pertama.


Yuwang yang awalnya ingin mendatangi Ryu kini langsung diterjang oleh Ning Hua membuanya terpental menabrak Pelindung Yin-Yang.


" Uhuk" Yuwang memuntahkan Segumpal darah hingga tidak bisa bergerak karena kehilangan Kultivasi.


Tidak ingin menyiakan kesempatan, Ning Hua langsung melompat ke arah Yuwang dengan sebilah Pedang langsung menusuk ke ulu hati hingga tidak bernyawa.


Begitupun dengan nasib Keenam Istri Ryu yang lainnya begitu mudah dikalahkan oleh Tujuh Dewi Angsa juga melakukan hal yang sama dengan menusukkan Pedang tepat ke jantung mereka.


Chaizu, Jinying, Shizi, Zi Mayi dan Zi Mifeng beserta Pasukannya juga diserang dengan ganas hingga mereka juga mati dengan kondisi menggenaskan.


Ryu yang tersadar dari efek dari Bunga Teratai Suci Yin-Yang melihat dengan jelas ketujuh Istrinya serta Pasukan Bawahan yang telah mati kini langsung bangkit dengan Penuh Amarah yang memuncak Seakan minta pertolongan dari Pasukan Naga Gunung.


Namun setelah menunggu lama, pasukan Naga juga masih belum muncul membuatnya khawatir.


" Hahahaha.Sepertinya Tubuhmu juga memiliki Teknik Spesial." Kalajengking Pertama merasakan Kultivasi Ryu masih utuh.


Kalajengking Pertama, tunggu apa lagi? Kita Bunuh Pemuda itu sekarang!" ucap Yao Li.


" Jangan terlalu buru-buru, Aku ingin melihatnya merasakan sakitnya kehilangan Orang yang dia Cintai. Lagi pula dia hanya tinggal sendiri, Jadi lebih mudah bagi kita untuk membunuhnya." Kalajengking Pertama sangat Puas dengan Strategi yang dia Perhitungkan selama lebih dari Satu Tahun.


Di Sisi lain Ryu Ryu yang seakan kehilangan semangat sambil memeluk Yuwang dengan tatapan Kosong dengan Tetesan Air Mata yang tidak bisa terbendung lagi sambil menatap ke Arah Istrinya yang lain.


' Istriku... Aku Bersumpah akan menjadikan tempat ini menjadi Kuburan Mereka' Ryu menelan Pil yang sangat banyak sambil menutup mata menyerap Pil Pemulihan yang tidak terhitung jumlahnya.


Setelah merasa sudah cukup, Ryu perlahan membaringkan tubuh Yuwang kemudian bangkit langsung melepaskan Aura Dewa mengaktifkan Armor Pelangi dengan Wujud Kera Petir menatap Tajam ke arah Lawan dengan Niat membunuh yang sangat kuat.


Tatapan mata Ryu yang sudah berwarna Hitam, Kalajengking Pertama dan Kelompoknya merasakan dampak intimidasi yang sangat kuat membuat mereka sedikit ketakutan.


'JALAN BAYANGAN '


Tiupan Angin dari Bayangan Berwarna Ungu dari Wujud Kera Petir dengan gerakan tidak terbaca.


" Slaash... Slaaash... Slaash..." Ryu yang tidak bisa tersentuh menebas siapapun yang dilewatinya dengan kecepatan Puluhan kali lipat dari langkah kilat.


Kalajengking pertama, Kedua, Ketiga, keempat, Pemimpin Pasukan Siluman, Pemimpin Pasukan Peri Kegelapan, Ning Hua, Yao Li dan Tujuh Dewi Angsa yang tidak mampu melihat siapa Sosok yang membunuh para bawahan mereka kini menyerang asal-asalan hingga mereka juga tidak luput dari sasaran dan Jatuh satu persatu dengan Tubuh terbelah maupun terpotong.


" Wuush" Ryu Berdiri di Tengah Lautan Mayat langsung berlari ke arah Istrinya


Ryu secara perlahan membaringkan tubuh Para Istrinya mencoba mencari cara lalu membuka Kitab Kebangkitan lalu menggunakan Teknik Kebangkitan namun tidak ada hasil.

__ADS_1


Dalam keputusasaan terlihat sebuah cahaya sebesar Kepalan masuk ke Tubuh Ryu tanpa dia sadari hingga keluar Tujuh Kelopak Bunga melayang di udara hingga menembus Pelindung Yin-Yang langsung terbang ke Langit dan menghilang.


" Tetua Agung" Sebuah Suara dari luar Pelindung Yin-Yang yang sangat jauh.


Dari kejauhan Ryu yang melihat Rombongan sambil memperhatikan Pelindung Yin-Yang masih aktif lalu memasukkan Ketujuh Istrinya ke dalam Kamar Istana di Dunia Kecil.


Ryu pun berjalan menuju Mayat Para Pemimpin Pasukan Siluman dan yang lain untuk memeriksa Cincin Ruang Milik Mereka satu-persatu.


Dari Cincin Ruang ke 15 Pemimpin tersebut Ryu mengambil sebuah Kitab lalu merapalkan sebuah Mantra hingga membuat Pelindung tersebut menghilang seketika.


Tanpa berkata apapun Rombongan para Tetua berlari ke arah Ryu langsung dihadapkan dengan Lautan Mayat yang membuat perut mereka mual.


Ryu kembali berjalan menatap Chaizu dan yang lain dengan Kondisi menggenaskan penuh kesedihan lalu mencoba kembali menggunakan Teknik Kebangkitan.


" Wuuuush" Seketika Chaizu, Zi Mayi dan Zi Mifeng beserta Pasukannya bangkit kembali meskipun Jinying dan Shizi tidak bisa tertolong.


" Auuummm." Chaizu menggosokkan tubuhnya kepada Shizi dan Jinying bergantian.


" Gggrrrrrr." Chaizu seakan tidak terima langsung mencabik-cabik Mayat dari lawan mereka sebelumnya.


" Chaizu, aku tau Perasaanmu. Aku bahkan Merasakan kesedihan yang lebih daripada kamu." Ryu melihat tingkah laku Chaizu.


" Mayi, Mifeng, Bawa semua mayat itu ke Dunia Kecil! Biar aku sendiri yang mengubur Jinying dan Shizi." Ucap Ryu.


" Baik Tuan." Zi Mayi dan Zi Mifeng Begitu enggan meninggalkan Jinying dan Shizi, namun karena perintah mereka semua mengumpulkan Semua Mayat tersebut meluapkan emosi mereka.


Para Tetua beserta Rombongan kini masih terdiam seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat ditambah lagi dengan bangkitnya Hewan Kontrak milik Ryu.


" Jinying, Shizi, Terimakasih telah menemani perjalananku selama ini. Aku Harap kalian akan menemukan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya." Ryu memberi penghormatan.


Chaizu Zi Mayi dan Zi Mifeng yang sudah melakukan pekerjaan mereka kini kembali ke Arah Kuburan Jinying dan Shizi seakan memberikan Penghormatan terakhir.


...****************...


Setelah kepulangan Ryu dan Rombongan dari misi kini mereka telah disambut dengan Kabar Duka dengan Kematian Ketujuh Istrinya yang membuat seisi Sekte Lembah Persik gempar.


Di atas Bukit tempat kediaman Ryu kini terlihat 7 Batu Nisan tempat peristirahatan terakhir Ketujuh Istrinya di bawah Pohon Rindang dimana tempat mereka sering bersantai.


" Sheng Zhishu, Xin Chie, Huli Yue, Tianhe, Yunjiang, Yinshi, Yuwang... Aku butuh petunjuk kalian, kemana aku akan mencari Kalian di Kehidupan selanjutnya." Ryu dengan kaki tertatih memendam kesedihan yang mendalam Berjalan ke dalam Rumahnya.


Kabar Duka itu pun menyebar hingga Sampai ke telinga Sekte Cabang Utama Lembah Persik yang ada di Kekaisaran Lotus Hitam, Kaisar Lotus Putih, Kaisar Lotus Hitam, Sekte Kuil Kebenaran hingga berbagai Sekte lainnya.


Mereka pun berdatangan sebagai ungkapan rasa Berdukacita baik karena merasa prihatin maupun dengan niat terselubung mengingat Sekte Lembah Persik adalah Sekte terbesar di Benua Lotus.


Sudah banyak yang berkunjung ke kediaman Ryu, namun tidak ada seorangpun yang mampu menembus Pelindung Tempurung Kura-kura yang mengelilingi Bukit tersebut.


Hal itu tentu saja membuat Paktriak dan Para Tetua sangat khawatir takut terjadi sesuatu pada Tetua Agung.


...****************...


Di Dunia yang Lain yang sangat jauh, terlihat ketujuh Kelopak Bunga terus mencari sebuah tempat dimana terdapat sebuah Daratan yang sangat Besar puluhan kali lipat dari ukuran Gabungan Benua Lotus dan Benua Bintang.


Setelah mencapai di atas Langit Benua tersebut, Ketujuh Kelopak berpencar ke berbagai tempat dimana salah satunya terus melayang hingga masuk ke Tubuh Sosok Wanita Cantik yang sudah terbaring selama Ratusan Tahun dengan kondisi masih Utuh.


Wanita itupun terbangun dari tidur panjangnya terlihat berpakaian serba putih dengan Alis dan bulu mata yang indah serta memiliki Kulit Putih mulus selembut sutra sambil menatap Kedua Sosok Asing di depannya.


" Ahh.." Wanita tersebut memegang kepalanya yang terasa sakit.


" Nak, Akhirnya kamu sudah sadar." Ucap sosok Pria yang terlihat masih Muda namun sudah berusia Ribuan Tahun.

__ADS_1


" Siapa kalian? dan dimana aku sekarang?" Tanya Wanita tersebut.


" Zhishu, apa kamu tidak mengenal Ayah dan Ibumu sendiri?" Tanya Wanita yang terlihat masih Muda namun juga sudah mencapai usia Ribuan Tahun.


" Suamiku, Adik Chie, Adik Yue, Tianhe, Yunjiang, Yinshi, Yuwang, Kalian dimana?" Sosok yang dipanggil Zhishu melihat sekelilingnya mencari seseorang yang sangat dia kenal.


" Suami?" Kedua sosok tersebut mengerutkan kening.


" Nak... Kamu masih Gadis dan belum pernah Menikah. Bagaimana mungkin kamu telah memiliki Suami." Pria tersebut sangat heran.


" Tidak... Aku sudah memiliki Suami. Aku harus mencarinya." Sheng Zhishu langsung bangkit dari tempat tidurnya berlari keluar Ruangan hingga melihat sebuah Hamparan luas. Seakan berdiri di atas Istana Megah yang sangat tinggi.


Melihat tingkah dari Putrinya Kedua Sosok tersebut saling berpandangan beranggapan ada hal yang tidak beres namun mencoba untuk menerima mengingat Putri mereka adalah anak satu-satunya.


Secara perlahan Wanita tersebut mendekati Sheng Zhishu mencoba mencari kebenaran siapa dibalik tubuh Putri Mereka.


" Nak... Aku tidak tau seperti apa kehidupanmu sebelumnya, tapi kamu adalah Putriku." ucap Wanita tersebut.


" Siapa kalian? dan dimana aku sekarang?" Sheng Zhishu mencerna kembali serangkaian kejadian sebelumnya hingga mencapai tempat yang sangat Asing baginya bahkan Energi Alam yang ada di tempat itu Sangat aneh dan Sangat padat.


" Aku Ibumu Sheng Yen dan dia Ayahmu Sheng Jie. Kamu ada di Dunia Abadi." ucap Sheng Yen.


" Dunia Abadi? " Sheng Zhishu Sontak kaget karena pertama kali mendengarnya.


" Benar Nak... Dunia ini Sudah tercipta Jutaan Tahun sebelum tercipta Dunia Setengah Abadi dan Dunia Fana." Ucap Sheng Yen.


" Aku ingin kembali ke Duniaku, Aku harus mencari Suamiku dan mencari Adik-adikku " Sheng Zhishu seakan mencari jalan untuk keluar.


" Zhishu'er Memang Kejadian seperti ini sering terjadi di Dunia Abadi. Tapi kamu harus menerimanya. Aku tidak tau dari mana asalmu sebelumnya, Tapi jika kamu memiliki Suami maka kamu urungkan niat itu. Karena Dunia ini sangatlah jauh dari Dunia yang lain." Ucap Sheng Jie.


" lalu bagaimana aku bisa kembali ke Duniaku?" Sheng Zhishu bersikeras.


" Selama ini tidak ada jalan keluar. Kecuali Suamimu sendiri yang datang ke sini, Tapi itu hal yang tidak mungkin. Ribuan Tahun pun tidak mungkin, Karena akan banyak yang sudah mati sebelum mencapai Dunia ini. itu pun kalau dia tau kamu berada disini." ucap Sheng jie.


" Satu lagi, Jika Suamimu ingin datang ke Dunia ini, Maka dia Harus menghadapi Hukuman Langit, melewati tantangan dan cobaan yang berat bahkan Godaan yang tidak mampu dihindarkan. Itupun kalau kalau dia tau caranya, bahkan aku sendiri hanya tahu dari sebuah Legenda." Lanjut Sheng Jie.


Mendengar ucapan tersebut, Sheng Zhishu terlihat murung langsung tertunduk lesu meneteskan Air mata " Meskipun Jutaan Tahun, aku akan tetap menunggunya " Sheng Zhishu kembali mengusap air matanya.


" Zhishu'er… mulai sekarang kamu harus menerima kenyataan sekarang. Besok ataupun lusa kamu akan terbiasa." Sheng Yen menghibur.


Setelah beberapa saat, Sheng Zhishu mulai tersadar seakan dirinya seperti seekor semut yang berada di hadapan Gajah merasakan Aura yang sangat kuat dari kedua Sosok yang mengaku sebagai Orang Tuanya.


Hingga dia pun diajak untuk kembali beristirahat oleh Orang tuanya mengingat fisiknya masih lemah dan masih membutuhkan Waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaga secara total.


Setelah Sheng Zhishu kembali ke tempat tidurnya, Sheng Yen dan Sheng Jie menghilang dari pandangan hingga menuju bagian lantai Dasar Istana yang sangat Megah.


" Haaahh.. Aku tidak percaya anak kita masih di Pendekar Fana Tahap Awal. Jika begini bukan tidak mungkin dia akan menjadi Budak bahkan bekerja di Rumah Bordil, " Sheng Jie merasa sangat Gelisah bercampur senang karena Anak Mereka telah pulih.


" Suamiku, Kamu jangan bicarakan ini padanya. Bagaimanapun dia adalah anak kita dan Satu-satunya Pewaris Tunggal Kerajaan Sheng. Jadi jangan samakan Anak kita dengan Budak ataupun Rumah Bordil." ucap Sheng Yen.


" Tapi Istriku, sampai kapan kita terus menyembunyikan kebenarannya. Kamu Tau sendiri bagaimana Kejamnya Dunia Kultivator. Yang lemah akan ditindas, bahkan dijadikan Bahan mainan." Sheng Jie berjalan mondar-mandir.


" Biar aku akan mencari Guru Terbaik dari Kerajaan Sheng untuk anak kita. Bila perlu Kita akan membeli Sumberdaya terbaik untuknya." Ucap Sheng Yen.


" Aku percayakan Anak kita untukmu. jangan sampai ada satupun dari Pengurus Kerajaan Sheng yang tau keberadaannya. Aku Khawatir mereka akan mengusir kita dari Kerajaan kita sendiri karena memiliki Anak yang Lemah." ucap Sheng Jie.


" Kamu Tenang saja.! lagi pula Pelindung Gabungan kita bisa menyembunyikan keberadaan Menara itu." Ucap Sheng Yen.


" Mmmmm'' Sheng Jie berjalan keluar Ruangan menuju Ruang Kerja Kerajaan.

__ADS_1


__ADS_2