SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
KEMBALI KE KEKAISARAN AWAN.


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏


...****************...


Setelah Bing Ruyue sudah di Kamar Utama, Huli Yue dan yang lain langsung tertawa saling berpandangan satu sama lain.


" Akhirnya dia kena batunya." Hong Kian tersenyum puas.


" Tidak masalah... Lagi pula dia sudah ada Cincin Pemulihan." ucap Nan Sian.


" Sebaiknya kita tunggu disini saja karena aku tidak bisa Berkultivasi karena ada xi'er." Ucap Xie Hua.


" Apa kalian semua bisa memasak? " Tanya Xin Chie.


" Aku hanya bisa sedikit." Ucap Hong Kian.


" Aku memang suka memasak, tapi tidak seenak masakan Gege." Ucap Nan Sian.


" Tidak masalah... Nanti kalian akan terbiasa." ucap Xin Chie.


Setelah lama berbincang, mereka kembali ke semula lalu mengambil Kamar masing-masing yang ada di Lantai Dua.


Sedangkan Bing Ruyue kini hanya bisa menggerutu dalam hati atas kelakuan mereka yang diberikan untuk mengurus keperluan Ryu.


' Sial... Sepertinya mereka hanya mengerjaiku saja.' Bing Ruyue merasakan kehadiran mereka.


" Yue'er... Ada apa denganmu?" Ryu yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Bing Ruyue sudah ada di tempatnya.


" Ah... Gege.." Bing Ruyue bergegas mengambil pakaian ganti untuk Ryu lalu memasangnya.


" Gege... Tunggu sebentar." Bing Ruyue memasang sebuah Gelang dari Giok di tangann Ryu


" Yue'er... Apa ini?" Ryu menatap ke arah Giok tersebut seketika menyatu pada kulitnya.


" Itu adalah Gelang dari Nenekku. Katanya Gelang itu memberikan keberuntungan bagi pemakai. Jadi aku rasa sangat cocok untuk Gege." Ucap Bing Ruyue.


" Terimakasih Yue'er." Ryu mencium kening Bing Ruyue, seketika wajahnya memerah.


" Sebaiknya kita istirahat. Karena besok pagi kalian harus Meningkatkan Fondasi terlebih dulu sebelum Meningkatkan Kultivasi." Ryu berbaring di atas Ranjang.


" Gege... apa aku boleh ikut?" Bing Ruyue masih berdiri di samping tempat tidur.


" Apa aku melarangmu? " Ryu menatap ke arah Bing Ruyue.


" Mmm." Bing Ruyue mengangguk lalu berbaring di samping Ryu meskipun terlihat tegang.


" Yue'er... kamu tidak perlu seperti itu." Ryu merangkul tubuh Bing Ruyue hingga kepala Bing Ruyue bersandar di dada Ryu.


" Gege... Ini adalah pertama kalinya Aku mendekati seorang Pria. Jadi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan." Bing Ruyue berkata jujur.


" Sepertinya aku adalah Pria yang beruntung." Ryu tersenyum seraya mengusap rambut Bing Ruyue yang berwarna putih namun serasi dengan kulitnya.


Dengan tangan gemetar Bing Ruyue memberanikan diri membalas pelukan tersebut yang secara perlahan hatinya mulai hangat.


" Gege... Kalung pemberianmu ini sangat Indah. Pasti diluar sana banyak sekali yang tertarik." Bing Ruyue memegang Kalungnya.


" Kalung itu memang Indah, tapi setelah kamu memakainya keindahan Kalung itu seakan pudar tidak mampu menandingi Kecantikanmu." Ryu mengakui kecantikan Bing Ruyue dan semua Istrinya.

__ADS_1


" Gege... Kamu tidak hanya Mahir bertarung, tapi juga pandai merayu. Tapi yang lain juga sangat cantik." Bing Ruyue tersipu malu.


" Sebaiknya kita istirahat." Ryu memejamkan matanya.


Melihat Ryu yang sudah menutup matanya, Bing Ruyue diam-diam terus memandang wajah Ryu seakan tidak henti dengan kekagumannya.


" Gege... Aku tidak salah memilihmu, meskipun Aku melepaskan jabatanku." Bing Ruyue mencium kening Ryu sambil mengusap wajahnya.


Kejadian itu terus berlanjut hingga tanpa sadar Bing Ruyue mencium bibir Ryu.


Merasakan sentuhan lembut di bibirnya, Ryu kembali terbangun menatap ke wajah Bing Ruyue yang tepat di atas wajahnya.


Merasa apa yang dia lakukan sudah ketahuan, Bing Ruyue memasang wajah memerah buru-buru kembali ke tempat semula lalu menutup wajahnya.


" Yue'er... Kamu tidak perlu sungkan." Ryu membuka penutup Wajah Bing Ruyue memberikan sebuah ciuman di keningnya.


" Gege... maaf." Bing Ruyue berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.


Secara perlahan Ryu mencium bibir Bing Ruyue hingga tangannya mulai bergerak menyentuh bagian sensitif Bing Ruyue.


Merasakan sentuhan lembut, Bing Ruyue menutup matanya sambil memainkan lidahnya dimana lidah Ryu yang sudah menyerangnya.


Semakin lama Bing Ruyue merasakan sensasi hebat dalam tubuhnya hingga menggeliat kenikmatan seraya mengalungkan tangannya di pinggang Ryu.


Hingga beberapa saat Ryu dan Bing Ruyue sama-sama melepaskan pakaian mereka hingga seluruh kulit mereka tidak terhalang sehelai kain sedikitpun.


Malam itupun mereka lewati bersama dengan penuh kebahagiaan sebagai suami istri.


Pada keesokan hari, Ryu bergegas meninggalkan Kamarnya dimana Bing Ruyue masih berbaring di atas Ranjang dengan penuh kebahagiaan.


" Gege... Kamu memang pandai memanjakan Istri." Bing Ruyue tersenyum seraya bangkit dari tempat tidur lalu membersihkan tempat mereka.


Hari demi hari Ryu melewati kebersamaan bersama Semua Istrinya hingga hubungan mereka semakin dekat antara satu sama lain.


Begitupun dengan Ryu, senantiasa menuruti keinginan Istrinya yang terlihat bergiliran bersamanya.


Ketika pagi tiba Ryu terus berlatih menciptakan berbagai temuan baru dari berbagai Pil meskipun tidak bisa meningkatkan Kultivasi.


Satu Bulan telah berlalu, kini Ling Queqi kembali ke Istana Kekaisaran Awan, Jiang Caiping kembali ke Penginapan Giok Bulan dan Ting Ye kembali ke Kota Linka untuk mencari pengganti Walikota.


Sedangkan untuk Nan Sian, Zhao Luyi, Zhao Liying, Hong Kian, Lan Liwei dan Bing Ruyue menuju Istana Kekaisaran Shin.


Di Penghujung Acara Pernikahan Para tamu undangan juga memberikan beberapa Hadiah kepada mereka.


Setelah semuanya selesai, Pada sore hari mereka kembali berkumpul bersama seperti semula dimana Ling Queqi, Ting Ye dan Jiang Caiping juga sudah datang.


Tiga Hari setelah Pernikahan, Ryu beserta Pasukannya berpamitan kepada Seluruh Pengurus Istana Kekaisaran Shin dan Para Jenderal.


" Yang Mulia Kaisar... Sering-seringlah datang kesini." Perdana Menteri terlihat senang.


" Selamat tinggal Gege..." Nan Sian melambaikan tangannya meskipun perpisahan mereka hanya sebuah simbol.


" Mmm... Sian'er, Yi'er, Ying'er... " Kami pamit dulu." Ryu berjalan ke luar Istana.


" Sepertinya kita harus berjalan kaki." ucap Long Mubai.


" Aku rasa tidak." Ryu mengeluarkan Kapal Udara yang baru.


" Ini.." Semua kembali Kaget membulatkan mata tertuju pada Kapal Udara yang kini terlihat sangat mewah bahkan seperti sebuah Istana berjalan.


" Yang Mulia Kaisar... Kamu tidak hentinya membuat jantung kami copot." ucap Long Mubai.


" Yang Mulia Kaisar... Sepertinya kita akan berpisah. Klan Ling tidak jauh dari sini." Ucap Ling Sancuo.


" Baiklah... Kalau begitu kami pamit dulu." Ryu masuk ke dalam Kapal Udara yang diikuti yang lain.


Saat berada di dalam Kapal Udara. Ryu kembali meminta kepada Chaizu untuk mengemudi Kapal Udara.


" Yang Mulia Kaisar... Sepertinya Kapal Udara ini terlihat lebih lengkap." Bao Mingson memperhatikan sekeliling mereka.


" Benar... Kapal ini sudah menyediakan Tempat tidur dan juga tempat memasak." ucap Ryu.


" Haaahh... Seandainya aku masih muda, Aku akan berpetualang menggunakan Kapal Udara ini ke berbagai tempat." Long Mubai merasa Kapal itu mampu menahan cuaca buruk.


" Tapi Kapal semewah ini bisa mengundang perhatian. Kamu lihat saja semua ini. Semua dari bahan yang mahal dan berkualitas tinggi." Ucap Gao Liang.

__ADS_1


" Kamu benar... Bahkan Kekaisaran lain ataupun Kerajaan pasti menginginkan Kapal Udara ini." Ucap Bao Mingson.


" Tapi keserakahan mereka bisa mengundang Malapetaka untuk mereka sendiri." ucap Heilong.


" Gluug." Semua menelan ludah membayangkan bagaimana kuatnya Pasukan Semesta.


" Silahkan jika kalian ingin beristirahat. Kalian boleh pilih Kamar dimana yang kalian inginkan." ucap Ryu.


" Baik Yang Mulia Kaisar." ucap ketiga Paktriak tersebut.


Setelah mereka pergi, Ryu juga meninggalkan tempat tersebut menuju Kamar Utama Kapal.


" Haaahh... Sepertinya mereka sudah berkumpul di Dunia Quzhu." Ryu melihat Hong Kian, Lan Liwei dan Bing Ruyue sudah tidak ada di kamar juga kembali ke Dunia Quzhu.


......................


Setelah menempuh perjalanan selama dua hari, Kini mereka telah sampai di Istana Kekaisaran Awan.


Di dalam Istana Kekaisaran Awan, Ryu kini telah disambut oleh Para Jenderal dan Menteri.


" Salam Yang Mulia Kaisar." ucap mereka.


" Mmm." Ryu mengangguk seraya berjalan menuju Istana Kaisar.


......................


Tiga Hari setelah Kejadian Penyerangan di Kekaisaran Shin, kini telah tersebar luas berita tentang Kekaisaran Awan berhasil menaklukkan Empat Kerajaan dan Kekaisaran Shin di seluruh Benua Timur.


Banyak dari berbagai Sekte Aliran Putih, Aliran Netral maupun Aliran Hitam menyebarkan mata-mata ke seluruh Wilayah Kekaisaran Awan maupun Kekaisaran Shin untuk memastikan kebenaran tersebut.


Tidak hanya sampai disitu, Beberapa Kerajaan, Kekaisaran yang lain juga memerintahkan kepada mata-mata terbaik mereka untuk memastikan kebenaran tersebut.


Setelah mendapat kabar bahwa Berita tersebut memang benar, beberapa Kekaisaran, Kerajaan maupun Sekte mengingatkan kepada bawahannya agar tidak bersinggungan kepada Kekaisaran Awan agar tidak menimbulkan dampak buruk kepada mereka.


Di Istana Kekaisaran Awan sendiri, Ryu menyampaikan kepada seluruh Pengurus Istana bahwa Xie Hua, Wang Mingjun, Shu Meilu, Qin Shuomei dan Li Jilan akan menjalani Latihan tertutup.


" Untuk sekarang masalah Kekaisaran Awan akan ditugaskan kepada Ratu Ling Queqi dan Ratu Bing Ruyue." ucap Ryu.


" Baik Yang Mulia Kaisar." ucap mereka serempak.


" Jenderal Chuang... Untuk sekarang aku tugaskan kamu untuk menjadi Walikota di Kota Linka." Ryu memberikan sebuah surat disertai Lencana dari Kekaisaran Awan.


" Baik Yang Mulia Kaisar."


" Chaizu, Mayi, Mifeng, Jiejia, Heilong, Li Chun... Aku akan melakukan perjalanan jauh. Aku harap kalian tinggal disini saja." ucap Ryu.


" Tapi Tuan... Kami ingin selalu bersama Tuan." Chaizu tidak ingin berpisah dengan Tuan mereka.


" Aku tau kalian suka berpetualang. Tapi sekarang Istana Kekaisaran Awan sangat membutuhkan bantuan kalian." Ucap Ryu.


" Yang Mulia Kaisar... Untuk masalah Kekaisaran, biar aku dan Jenderal Li Chun yang menjaganya." ucap Heilong.


" Benar Yang Mulia Kaisar... Sepertinya Para Tawanan kita sebelumnya sudah melakukan Sumpah Langit. Jadi aku rasa tidak ada yang dikhawatirkan lagi." ucap Li Chun.


" Baiklah... Kalau begitu aku serahkan kepada kalian semua." ucap Ryu.


" Terimakasih Tuan." Chaizu dan yang lain terlihat senang.


" Chaizu... Berikan Batu Bintang Kepada Jenderal Heilong." Ryu memberi Perintah.


" Baik Tuan. " Chaizu mengeluarkan Batu Bintang dari tubuhnya lalu memberikan kepada Heilong.


" Yang Mulia Kaisar, Apa ini?" Heilong terlihat kebingungan.


" Heilong... Teteskan darahmu pada batu bintang itu. Kamu akan tahu sendiri." ucap Ryu.


" Baik Yang Mulia Kaisar." Heilong meneteskan darahnya lalu berkonsentrasi untuk menyatukan Batu Bintang tersebut ke tubuhnya.


" Heilong... Apa kamu sudah tau?" Ryu kembali bertanya.


" Hamba sudah tau Yang Mulia Kaisar. Hamba akan berjanji menjalankan Perintah Yang Mulia Kaisar seperti yang dilakukan oleh Chaizu." Ucap Jenderal Heilong.



Ling Queqi Kultivator Air

__ADS_1



Bing Ruyue Kultivator Es.


__ADS_2