
Ryu terus memperhatikan ke berbagai sudut ruangan untuk mencari sebuah tombol rahasia untuk membuka Jalan Rahasia yang menurutnya berada di bawah Kursi tersebut.
Setelah cukup lama mencari, Akhirnya Ryu menemukan sebuah guci tepat di belakang Kursi tersebut lalu memutarnya secara perlahan.
Apa yang difikirkan Ryu ternyata benar, Seketika seakan Lantai di bawah kursi terbelah dua dan terlihat sebuah tangga menuju sebuah lorong.
Ryu terus berjalan menyusuri lorong tersebut dengan hati-hati hingga sampai di tempat yang terdapat sebuah buah Guci berisi Air dimana tumbuh bunga Teratai Api dengan Aura yang sangat kuat.
" Bagaimana ini?" Ryu sangat bingung seakan memikirkan sesuatu.
Jika Ryu menyimpan Benda tersebut pada Cincin Ruang, maka Bunga Teratai Api akan Mati jika tidak menyerapnya secepat mungkin sebelum khasiatnya menghilang dan jika dibawa dengan tangan maka pasti ketahuan bahkan sangat berbahaya sudah pasti Aura bunga tersebut akan menyebar dan pasti akan diburu oleh para Kultivator lain.
'Apa kamu membutuhkan Bantuan ku?' Suara Xian Ye terdengar.
'Apa yang bisa kamu lakukan?' Ryu bertanya.
' Aku bisa menyimpan benda itu di Dunia kecil milikku. Tenang saja' Xian Ye meyakinkan Ryu.
Merasa tidak ada pilihan lain, Ryu akhirnya menyetujui hal tersebut dan terlihat sebuah cahaya menyinari Guci tersebut kemudian terangkat semakin mengecil kemudian menghilang.
" Sepertinya ada satu lagi" Ryu menuju ke arah Aura yang sangat kuat dimana tempat Bunga Sakura Lima warna.
Kini di di depan mata, terlihat setangkai Bunga sedang berada di Sebuah batu dimana sebuah cahaya Matahari sedang menyinari dari sebuah lobang keci dari atas lorong.
Xian Ye kembali menawarkan diri untuk membantu Ryu agar bunga tersebut tidak layu, dan Khasiatnya tidak menghilang.
Setelah semua sudah terkumpul, Ryu kembali keluar lorong tersebut dengan langkah Kilat karena dia berfikir bahwa Guru Lun akan mengetahuinya.
......................
Di Depan Gerbang Sekte Bunga Sakura, pertarungan sengit antara kedua belah pihak terus berlanjut.
Di sela pertarungan, Guru Lun merasakan sesuatu dimana dia merasakan bahwa Bunga Teratai Api telah dicuri.
Guru Lun langsung keluar dari tempat pertempuran melompat ke bagian dalam Sekte.
" Mau kemana? apa kamu tidak ingin lagi bermain denganku? " Guru An menghadang seakan tidak ingin mangsanya akan kabur.
" Bajingan." Guru Lun sangat marah mengira
salah satu dari Sekte Lembah Racun telah berhasil menyusup ke bagian dalam Sekte Bunga Sakura.
Guru Lun dengan marah menyerang Guru An dengan ganas dari sebelumnya yang membuat Guru An kewalahan dan mengalami beberapa luka.
Melihat Guru An telah tersudut, Guru Jiao pun kini ikut membantu menyerang guru Lun dengan sebuah tendangan sangat kuat membuat Guru Lun terpental sepuluh meter kebelakang.
Di sisi lain saat Guru Jiao membantu Guru An, kini Jingmi serta beberapa Murid lain menyerang Guru Gui dengan berbagai teknik yang sangat kuat yang membuat Guru Gui merasa kewalahan.
Tidak inging menyiakan kesempatan tersebut, Murid yang lain juga semakin Ganas menyerang para Murid Sekte Lembah Racun dengan seluruh kekuatan membuat beberapa murid Sekte Lembah Racun terpental kebelakang.
Pihak Sekte Bunga Sakura yang seakan mendapatkan kekuatan tambahan kini dengan ganas membuat musuh mereka semakin mudur dan tersudut dengan niat untuk mempercepat pertarungan agar bisa membantu Guru mereka.
Sedangkan Guru Lun yang sempat terpental, kini bangkit kembali menyerang kedua Guru yang ada di depannya dengan Pedang Bunga Sakura milik Sekte yakni Senjata tingkat Langit.
Guru An dan Guru Jiao melihat Pedang yang ada di tangan Guru Lun adalah senjata tingkat Langit membuat mereka saling berpandangan sedikit ketakutan.
Guru Lun yang seakan seperti hilang kendali yang merasakan Bunga Sakura Lima warna juga dicuri, kini mulai menyerang kedua Guru tersebut dengan Ganas dan berhasil membuat beberapa sayatan kepada Kedua Guru tersebut.
Hal itu tentu saja membuat mereka semakin terdesak hingga terpental puluhan meter ke belakang.
Merasakan bahwa pihak mereka sudah berada di Posisi tidak menguntungkan, Ketiga Guru tersebut seakan memberikan isyarat satu sama lain melompat dan berkumpul kembali ke kelompok mereka.
" Lempar" terdengar sebuah aba-aba dari Guru Gui.
Seketika para murid melemparkan sebuah beberapa botol yang berisi bubuk Racun yang membuat Guru Lun dan Semua Murid Sekte Bunga Sakura kulit mereka berubah berwarna Hitam.
Kecuali Jingmi yang sudah pernah melihat cara licik tersebut dari Sekte Lembah Racun waktu di Dunia Kecil Tuzi, dengan cepat melompat menjauhi kelompoknya sebelum mereka melempari Racun tersebut.
" Dasar Licik" Guru Lun merasakan seluruh tubuhnya seperti terbakar sambil menatap ke arah Muridmya yang juga mengalami yang sama.
Ryu yang melihat kejadian tersebut dari kejauhan setelah menyelesaikan pekerjaannya kini merasa sangat marah mengingat kembali kelicikan Sekte Lembah Racun sebelumnya.
" Guru" Jingmi menghampiri Guru Lun terlihat sangat Khawatir.
" Hahahaha. Sayang sekali aku tidak bisa mencicipi tubuh kalian lagi. Tapi kami masih punya harapan." Guru Gui menatap ke arah Jingmi dengan penuh nafsu.
__ADS_1
" Jingmi. Cepat pergi" Guru Lun sudah tau keinginan mereka tehadap Jingmi.
" Benar sekali Guru Gui, sepertinya Gadis ini adalah gadis yang paling cantik dari semua murid lain." Guru An menimpal.
Mendengar ucapan tersebut Guru Lun sangat marah mencoba untuk bangkit, namun sekuat tenaga semakin dia bergerak seakan reaksi Racun tersebut semakin kuat.
" Jingmi. Jangan hiraukan kami, cepatlah pergi!" Guru Lun terus memperingati Jingmi yang seakan tidak mau pergi.
" Wuush " Telihat Sosok Pemuda telah berdiri di tengah mereka.
" Saudara Ryu" Jingmi terlihat kaget.
" Saudari Jingmi, maaf aku terlambat." Ryu memegang Pedang Naga Pembelah Gunung sambil menatap Ketika Guru di depannya.
" Siapa kamu? " Guru Gui terlihat gemetar merasakan Aura pembunuh Pemuda yang di depan mereka sangat kuat.
" Slash... Slaash... Slaash..." Dengan langkah Kilat dan Wujud Hantu Ryu menghabisi semua Murid Sekte Lembah Racun.
" Apa?" Ketiga Guru tersebut semakin ketakutan saat melihat Murid mereka telah mati hanya dengan hitungan satu detik.
" Berikan penawarnya!" Ryu memandang mereka dengan tatapan tajam.
" Kami tidak memiliki Penawarnya " Guru An merasakan keadaan mereka tidak bagus.
" Crraaash..." Tubuh Guru An terpotong dua bagian.
" Senjata Kelas Dewa" Guru Lun memperkirakan Pedang milik Ryu karena dengan mudah memotong tubuh Guru An yang sudah berada di level 49.
" Berikan!" Ryu kembali mengucapkan hal yang sama.
" I...Itu Racun Ular Api. Tidak ada Penawarnya" Guru Jiao dengan nada gemetar.
" Crraaash.... Crraaash " Keduanya juga ikut terpotong.
" T.... Terimakasih Saudara Ryu." Jingmi menundukkan kepala tanpa rasa takut.
Hal itu tentu saja membuat Guru Lun dan beberapa Murid sangat heran, namu Pihak Jingmi dan beberapa murid yang sudah mengenalnya sudah yakin kalau Pemuda di depan mereka tidak akan berbuat buruk kepada mereka.
" Mmmmm" Ryu mengangguk seraya melangkahkan kakinya.
" Saudara Ryu Tolong Selmatkan Guru dan Temanku.! " Jingmi berlutut di hadapan Ryu.
" Saudara Ryu." Jingmi menghentikan langkah Ryu dengan berlutut dibawah kakinya.
Melihat apa yang dilakukan Jingmi, Ryu mengela napas panjang sambil menggelengkan kepala.
" Tolonglah Saudara Ryu. Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan! Bahkan mengabdikan diriku Seumur hidup." Jingmi memeluk kedua Kaki Ryu.
Guru Lun yang menyaksikan hal tersebut seakan mengutuk keras Jingmi yang seakan merendahkan Harga dirinya sendiri.
" Haaahh... Baiklah. aku akan mencoba. Tapi ini bukan hal mudah. Karena ada 2 cara saja.
Pertama aku harus mencari Siluman Ular Api Usia Ribuan Tahun minimal tingkat Surgawi. Tapi Racun pada mereka akan bertahan kira-kira lima jam. Jadi sangat sulit untuk mencari Siluman Ular Api secepat itu." Ryu mencoba menjelaskan.
" Cara kedua?" Jingmi penasaran
" Aku tidak mau melakukannya" Ryu kembali melangkahkan kakinya.
" Saudara Ryu tolong selmatkan Kami!" Para murid berusaha sekuat tenaga untuk bersuara.
" Tuan Ryu. Tolong selamatkan murid-murid ku. mereka sudah aku asuh dari sejak mereka masih kecil. " Guru Lun kini melunak.
" Guru " Para Murid mulai menangis mengingat saat mereka kecil yang merasakan kejamnya dunia akibat Orang yang menjual mereka sebagai Budak dan wanita penghibur.
" Jingmi maafkan aku terlalu keras mendidik kalian. Semua itu kulakukan agar Laki-laki tidak semena-mena terhadap kalan kelak." Guru Lun mencoba sekuat tenaga untuk berbicara.
Jingmi yang merasa tidak tega sambil menggelengkan kepala berharap Ryu memberikan pertolongan kepada mereka.
" Guru Lun. ini tidak semudah dipikirkan. karena Racun Ular Api sudah menyebar ke setiap organ tubuh kalian. Jadi aku harus mengambil semua Racun itu dari beberapa bagian tubuh kalian. Karena aku bukan seorang Alkemis atau ahli obat. Jadi aku minta maaf." Ryu menjelaskan.
Jingmi yang mendengar penjelasan tersebut kini mulai paham mengapa Ryu tidak bisa membantu mereka, bukan karena tidak mau tapi ada hal yang harus Ryu jaga.
Semua Murid yang paham dengan apa yang dikatakan oleh Ryu, kini saling berpandangan satu sama lain sambil memikirkan sesuatu.
" Jika begitu Tuan Ryu, tolong selamatkan aku." Guru Lun beranggapan jika dia bisa disembuhkan, maka dia sendiri yang akan menyelamatkan Muridnya.
__ADS_1
Guru Lun juga berpikir meskipun mempertaruhkan harga dirinya, yang penting semua murid bisa terselamatkan.
" Haaahh. Baiklah. " Ryu sangat terpaksa seakan mengutuk dirinya sendiri, mengingat dia belum bisa membuat Penawar Racun karena terkendala Sumberdaya belum ditemukan.
" Tuan Ryu. " Guru Lun membawa mereka masuk menuju Ruang Pengobatan.
Melihat kepergian Guru Lun, Jingmi dan Ryu semua Murid kembali lagi berpikir. Mengingat hanya itu jalan terakhir agar mereka bisa sembuh satu-persatu mereka membulatkan tekad agar Ryu juga membantu mereka.
" Guru Lun. maafkan aku." Ryu mencoba berkonsentrasi.
" Mmmm" Guru Lun membuka pakaiannya.
Ryu membuat luka Empat titik yaitu bagian Dahi, bawah Tenggorokan, tengah ulu Hati dan bagian bawah Pusar Guru Lun kemudian menyerap semua Racun dari bagian yang telah dilukai tersebut.
Kini Kulit yang awalnya telah menghitam secara berangsur-angsur telah kembali Putih seperti semula.
Setelah berhasil menyerap semua Racun dari keempat titik tersebut, Ryu meminta Guru Lun membalikkan badannya dan Ryu kembali melukai tiga titik yaitu bagian tengkuk, bawah bahu dan bagian pinggang.
Ryu juga kembali mengambil Racun tersebut hingga tidak ada Racun sedikit pun yang tersisa.
" Tian Ryu. terimakasih." Guru Lun kembali memasang pakaiannya meniggalkan Ruangan tersebut dengan wajah memerah.
'Sepertinya Racun itu tidak sesederhana yang aku pikirkan' Guru Lun sejenak berpikir.
" Guru" tiba-tiba semua murid datang ke tempat tersebut.
" Ah... Silahkan! Jingmi, atur mereka agar bisa bergantian" Guru Lun yang Paham tujuan mereka mengingat Racun tersebut seakan terus membakar tubuh mereka.
" Baik Guru" Jingmi menundukkan kepala.
" Aku tau kalian sudah tidak tahan lagi merasakan Racun itu. Tapi kuharap agar bersabar. Untuk kali ini aku tidak bisa membantu." Guru Lun Sangat tertekan melihat semua muridnya seakan tidak sanggup lagi menahan Racun tersebut.
Guru Lun langsung pergi dari tempat itu untuk menenangkan diri, sambil meneteskan air mata seakan merasakan penderitaan Semua Murid.
Disisi lain saat Ryu ingi keluar dari Ruangan untuk melanjutkan perjalanan, kini telah disambut Puluhan Murid seakan minta pertolongan.
Karena sudah terlanjur, mau tidak mau akhirnya Ryu mencoba menyelamatkan mereka satu-persatu.
Butuh waktu sangat lama, akhirnya Ryu telah berhasil menyerap semua Racun yang ada pada tubuh mereka dengan keringat bercucuran karena sudah menghabiskan seluruh Energi Qi miliknya.
" Haaahh... sepertinya perjalananku akan sedikit terganggu" Ryu bergumam dengan napas terputus-putus.
" Saudara Ryu, terimakasih telah menyelamatkan kami " Jingmi memberi Hormat.
Ryu bangkit dari tempat duduknya untuk melanjutkan perjalanan ke Sekte berikutnya, seketika pandangannya gelap langsung tersungkur pingsan.
" Saudara Ryu" Jingmi dengan cepat membopong tubuh Ryu lalu membaringkan ke tempat tidur.
Mendengar teriakkan dari Jingmi, semua murid langsung masuk kedalam kamar yang terlihat Ryu sedang pingsan.
" Senior Jingmi, apa yang terjadi?" tanya beberap murid.
" Sepertinya dia kehabisan tenaga. mungkin beberapa hari juga pilih." Jingmi sambil memeriksa keadaan Ryu.
" Sebaiknya kalian tunggu diluar saja, biar aku yang menunggunya " Jingmi paham akan kekhawatiran mereka.
Meskipun mereka sebenarnya ingin menjaga Ryu, namun karena senior mereka yang meminta akhirnya mereka kembali ke luar kamar
Di tempat lain, Guru Lun terlihat murung atas hilangnya kedua Pusaka Langit yang dia anggap telah berhasil dicuri oleh Sekte Lembah Racun.
Namun disisi lain dia juga merasa bersyukur karena para murid sudah kembali normal berkat bantuan Ryu.
" Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk mempertahankan Sekte ini lagi. " Guru Lun mengingat kembali Saat Sekte mereka Sangat Ramai.
Setelah dua hari Ryu kembali pulih seperti sedia kala, dan berencana melanjutkan perjalanan ke Sekte Kuil Kebenaran.
" Salam Senior Ryu." Sambut semua murid seakan berusaha menyembunyikan wajah mereka yang memerah teringat kejadian saat Ryu menolong mereka.
" Mmmm" Ryu hanya menjawab dengan anggukan.
" Saudara Ryu. Mengapa kamu terlihat sedang buru-buru?" Jingmi melihat sikap Ryu.
" Aku masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan secepatnya." ucap Ryu.
"Tuan Ryu. Jika kamu butuh bantuan, aku bisa membantumu" Guru Lun menawarkan diri.
__ADS_1
" Guru Lun tidak perlu repot-repot. aku masih bisa." ucap Ryu.
" Saudara Ryu. Sesuai janjiku aku akan mengabdi kepadamu Seumur hidupku " Jingmi membuat keputusan.