SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
WALIKOTA BEI


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Xie Hua ( Reinkarnasi Dewi Teratai Tujuh Hati ) Pemilik Tubuh Abadi Kultivator Angin mewariskan Elemen Cahaya, Kegelapan, Api dan Petir dari Tujuh Istri Ryu sebelumnya.


Untuk Para Pembaca setia KULTIVATOR PETIR RACUN, Penulis menyajikan beberapa Tokoh Karakter dari cerita ini yang sudah Penulis siapkan dan hanya menunggu Tokoh karakter lain yang muncul. Jika ada kesamaan Nama ataupun Tokoh karakter, Penulis mohon maaf karena ini hanya sebuah cerita Fiksi.


...****************...


Para Penjaga Gerbang yang melihat Walikota Ye menggandeng Seorang Pemuda merasa heran karena tidak seperti biasanya.


" Saudara... Siapa Pemuda yang di samping Walikota Ye itu? Sepertinya masih sangat Muda." Tanya salah satu Penjaga.


" Entahlah Saudara... Mungkin saja itu kekasihnya. Sepertinya Walikota Ye begitu lengket Pada Pemuda itu. Sungguh beruntung sekali Pemuda itu." ucap yang lain.


" Kamu benar. Padahal Walikota Ye adalah sosok yang sangat dingin kepada para Pria. Jika begitu, Pasti pemuda itu memiliki kelebihan yang mampu menaklukkan hati Walikota Ye."


" Mungkin saja Saudara, Pemuda itu memiliki Kharisma yang sangat kuat. Pantas saja Walikota Ye bertekuk lutut kepadanya." ucap mereka karena baru pertama kali melihat Walikota Ye seperti itu.


Di dalam Ruangan Walikota Bei, terlihat ada beberapa Sosok yang seperti sedang berdiskusi.


" Salam Walikota Bei... Maaf telah mengganggu kalian." Ting Ye menundukkan kepala.


" Ah... Sebuah kehormatan Walikota Ye bisa datang ke sini. Silahkan duduk." Gu Bei mempersilahkan.


" Terimakasih Walikota Ye." Ting Ye menundukkan kepala lalu menoleh ke arah Ryu disampingnya. " Gege.." Ting Ye memegang tangan Ryu menuju kursi yang tersedia.


" Mmmmm." Ryu mengikuti lalu duduk di samping Ting Ye.


Semua mata langsung tertuju pada Ting Ye terlebih kepada Ryu dengan ekspresi yang berbeda.


" Perkenalkan ini Suamiku Xie Ryu." Ting Ye dengan bangga memperkenalkan Suaminya karena melihat Ekspresi dari beberapa Sosok yang ada di tempat tersebut tertuju pada mereka.


Mendengar perkataan dari Ting Ye, semua memasang wajah masam karena Pujaan hati mereka telah dimiliki Orang lain.


" Ah... Salam Ryu'er... Namaku Gu Bei kebetulan menjabat sebagai Walikota disini." Gu Bei tidak ingin menyinggung Ting Ye, karena Walikota Ye adalah sosok yang Paling disegani dari seluruh Walikota yang ada di Kekaisaran Awan.


" Untuk sementara Rapat kita tunda. Jadi kalian bisa kembali ke tempat masing-masing." Gu Bei menatap para tamu undangan bergantian.


" Baik Walikota Bei." Semua memberi Hormat lalu meninggalkan Ruangan.

__ADS_1


" Walikota Ye, kalau boleh tau ada apa hingga membuat kalian kesini? " Gu Bei menatap mereka bergantian.


" Aku dan Suamiku datang kesini hanya untuk memastikan keadaan disini. Kebetulan Kami lewat karena ingin menuju Kota Hasperia." Ting Ye memberi keterangan.


" Disamping itu kami juga menyampaikan mengenai Manusia Rawa yang saat ini membuat Kekacauan. Tapi sepertinya Manusia Rawa itu telah Pindah ke tempat lain. Jadi aku rasa Para Penduduk bisa melakukan aktivitas seperti biasa." ucap Ting Ye.


' Pindah?' Gu Bei mengerutkan kening "Walikota Ye, apa kamu yakin? " Gu Bei masih belum percaya.


" Seperti yang Walikota lihat. Karena Aku sudah meminta para bawahanku untuk menyusuri berbagai tempat, tapi mereka tidak menemukan apapun lagi. Jika Para penduduk terus diungsikan, maka Stok kebutuhan pangan semakin berkurang. Itu artinya akan membuat para Penduduk bisa Kelaparan, bahkan Seisi Istana sendiri." ucap Ting Ye.


" Baiklah, nanti aku akan memberitahukan kepada Prajurit untuk membawa kembali para Penduduk yang mengungsi." Gu Bei terlihat senang.


" Walikota Ye... Apakah kalian akan menghadiri Acara Pernikahan Ketiga Putra Mahkota itu? " Tanya Gu Bei.


" Benar... Itulah kenapa aku membawa Suamiku. Jadi mereka tidak punya alasan lagi untuk bertindak semena-mena." ucap Ting Ye.


" Kamu benar... Kaisar Zao sudah kelewatan membuat aturan yang tidak masuk akal hanya untuk kesenangan mereka sendiri." Gu Bei menggelengkan kepala.


" Kalau begitu, Kami pamit dulu. Karena masih ada hal lain yang kami urus." Ting Ye bangkit dari tempat duduknya.


" Ah... Tunggu sebentar Walikota Ye... Bukankah kalian baru saja sampai. Lebih baik kalian menginap disini untuk semalam. " Gu Bei menawarkan.


" Gege... Bagaimana menurutmu?" Ting Ye meminta tanggapan dari Ryu.


" Karena hari sudah sore, tidak masalah. Lagi pula jika kita keluar, Penginapan masih tutup." Ryu merasakan ada sesuatu yang salah dari Para Tamu undangan Walikota Bei.


Untuk itu dia ingin menyelidik masalah tersebut bagaimanapun Walikota Bei terlihat ramah kepada mereka.


" Oh... Pelayanan... Siapkan Kamar untuk Tamu Kehormatan kita. jangan lupa siapkan jamuan terbaik." Gu Bei menatap ke arah Ketiga Pelayanan.


" Baik Tuan." Para Pelayan menundukkan kepala lalu meninggalkan Ruangan.


" Baiklah Walikota Bei, kami akan menginap disini. " Ting Ye menuruti apa yang dikatakan Suaminya.


" Mmmmmm." Ryu dan Ting Ye mengangguk lalu mengikuti Gu Bei.


...****************...


Di tempat lain Wilayah Kediaman Walikota Bei:


Terlihat beberapa Sosok yang memakai Topeng Kelinci berwarna Merah dengan Gerak gerik yang mencurigakan.


" Teman... Aku baru saja mendapat informasi dari Le Kun, target kita bertambah satu lagi yang baru saja datang." ucap salah satu sosok kepada yang lain.


" Kalau begitu, kita hanya menunggu Waktu Malam. Baru kita beraksi." ucap yang lain.


" Aku sudah tidak sabar lagi untuk menikmati Tubuh Kedua Istri Walikota Bei dan juga Kedua Anaknya." ucap yang lain.


" Kamu benar Teman. Tapi yang baru datang itu juga tidak kalah Cantik. Aku dengar dari Le Kun Wanita itu adalah Walikota Ye sendiri."


" Benarkah? Wanita itu memang sangat Cantik, tapi juga sangat berbahaya. Apa Kamu yakin? " Tanya yang lain.


" Kalau terkena Serbuk Kelinci Merah, Pendekar Surgawi pun tidak luput dari sasaran."


" Aku tau kalau masalah itu jika mereka menahannya sama saja merusak Meridian mereka. Tapi tetap saja kita harus berhati-hati."


" Mmmmmmm." mereka semua mengangguk.


Kembali kepada Ryu dan Ting Ye yang sudah berada di dalam Kamar Tamu yang terlihat sedang membicarakan sesuatu.


" Ye'er... Sepertinya aku mendapat firasat buruk malam ini. Karena aku melihat salah satu dari Tamu Undangan Walikota Bei begitu mencurigakan." Ucap Ryu.

__ADS_1


" Gege... Apa kamu yakin?" tanya Ting Ye.


" Ye'er... Kamu Percayalah." Ryu meyakinkan Ting Ye.


" Kalau begitu kita harus waspada." Ting Ye memilih untuk percaya.


" Ye'er... Biar aku saja yang menyelidiki masalah ini, karena aku bisa bergerak bebas dengan Teknik milikku. lebih baik kamu tinggal disini saja.!" Ryu mengingatkan jika pergerakan mereka ketahuan oleh Para penjaga dan Prajurit Walikota Bei, maka akan terjadi kesalahpahaman.


" Baiklah... kalau begitu aku ke Dunia Quzhu saja. Aku akan berlatih disana. Gege... Hati-hatilah, jangan sampai ada yang salah faham." Ting Ye langsung menuju ke Dunia Quzhu.


Setelah Ting Ye sudah menghilang, Ryu langsung duduk bersila untuk memeriksa keadaan sekitar memperkuat Pendengarannya.


Dalam waktu sudah tengah malam, Ryu merasakan ada beberapa Sosok yang sudah memasuki Kediaman Walikota Bei lalu membuka kembali matanya.


Di tempat Lain, terlihat Empat sosok memakai Topeng Kelinci berwarna merah langsung menerobos masuk kedalam kamar Walikota sambil menyebarkan Racun Kelinci Merah.


" Cepat! yang lain sudah menunggu!" perintah salah satu sosok lain kepada temannya.


" Mmmmm." kedua Sosok lain langsung membopong tubuh Kedua Wanita yang di samping Walikota Bei.


" Bboooom." Ryu langsung masuk kedalam dan memukul salah satu sosok tersebut yang membuatnya terpental Menabrak dinding kamar.


" Siapa kalian?..." Gu Bei terbangun dari tidurnya sambil menatap beberapa sosok lain termasuk Ryu.


" Paviliun Kelinci Merah?" Gu Bei tersadar langsung memasang wajah marah " Kau..." Gu Bei menunjuk ke arah Ryu.


" Cepat pergi! Kedua Sosok lain langsung membawa kedua Istri Gu Bei mengunakan Teknik meringankan tubuh.


" Berhenti!" Gu Bei bergegas menghadang Ryu karena dia menganggap Ryu juga anggota Paviliun Kelinci Merah.


Saat itu juga Kedua sosok lain berlari dengan meringankan tubuh berusaha untuk kabur.


" Walikota Bei, tolong jangan halangi aku. Anda salah faham." Ryu serba salah, ingin mengejar bisa-bisa memperburuk keadaan.


" Masih saja mengelak?" Gu Bei langsung memukul ke arah Ryu.


" Track..." Ryu menahan Pukulan keras Gu Bei.


" Maaf Walikota Bei... Aku tidak ada waktu untuk menjelaskan. Jika Terlambat kedua Istrimu akan berada dalam bahaya." Ryu langsung menggunakan Langkah Hantu Harimau Petir.


" Gluug." Gu Bei menelan ludah mengingat Dia memukul Ryu dengan kekuatan penuh namun bisa ditahan dengan mudah.


Seketika Gu Bei tersadar, Jika Ryu bagian dari Kelompok Paviliun maka dia tidak akan memukul anggota yang lain.


" Putriku." Gu Bei beranjak dari tempatnya langsung menuju ke kamar Kedua Putrinya.


Sesampai di Kedua Kamar lain, Gu Bei mendapati Kedua Putrinya sudah menghilang.


" Pengawal" Gu Bei langsung berlari ke arah keberadaan Pengawalnya yang juga terlihat Sudah mati


Gu Bei pun berinisiatif untuk mengejar sendiri mencari keberadaan Kedua Istri dan Kedua Putrinya.


Di tempat lain terlihat 20 Sosok yang sedang berlari sambil membawa Empat sosok Wanita yang tidak lain adalah Istri dan Putri dari Walikota.


" Sepertinya kita sudah aman." Salah satu sosok Senyum kebahagiaan di balik topengnya.


" Benar Saudara... Teknik meringankan tubuh kita tidak ada tandingannya." Yang lain menimpal.


" Hahaha... Sekarang kita hanya menunggu Reaksi dari Racun itu! setelah itu kita bersenang-senang." Suara kesenangan dari beberapa Sosok tersebut.


Di Sisi lain, Ryu terlihat kebingungan mencari keberadaan penculik tersebut menggerutu dalam hati jika saja Gu Bei tidak menghalanginya mungkin saja dia mampu mengejar.

__ADS_1


" Sial..." mengapa mereka lari begitu cepat. " Ryu terlihat Panik karena baru kali ini dia seakan tidak berdaya dalam hal kecepatan.


Sesekali Ryu melepaskan Spiritualnya namun sama saja tidak membuahkan hasil hingga Ryu mengambil inisiatif untuk berlari mengejar ke arah pinggir Hutan.


__ADS_2