
( Di kediaman Walikota)
Di ruang rapat Walikota terlihat, Tan Tihuna dan Jenderal Mao berencana untuk memberikan sesuatu yang berharga untuk Ryu karena telah membantu mereka.
Tan Tihuna yang sudah mengetahui bahwa Ryu tidak menginginkan harta, maka dia meminta kepada Jenderal Mao untuk mencari wanita yang paling cantik di Kota Chang'an untuk melayani Ryu.
Satu-persatu para Prajurit mencari gadis yang menurut mereka paling cantik hingga mereka berhasil mengumpulkan 20 wanita tersebut.
Tidak lupa Jenderal Mao memberitahukan tujuan mereka, tentu saja hal itu membuat para Gadis sangat marah karena mereka seakan direndahkan.
Namun setelah Walikota Tan Tihuna akan memberikan hadiah sebesar 100 Ribu Batu Roh, yang membuat mereka langsung luluh dimana Batu Roh sebanyak itu mampu menghidupi kebutuhan keluarga mereka selama satu tahun hidup mewah.
Ditambah lagi dengan sosok yang mereka layani adalah Song Juan orang kepercayaan Kaisar Ryu sekaligus sosok yang menyelamatkan kota Chang'an dari kehancuran, tentu saja membuat mereka semakin bersemangat.
Tapi kali ini Walikota Tan Tihuna hanya meminta dua gadis saja yang melakukan hal itu membuat Gadis yang lain langsung murung karena keinginan mereka tidak terpenuhi.
Dari kedua Gadis tersebut, mereka mengambil yang paling cantik sedangkan yang lain langsung dipulangkan kembali dengan sedikit imbalan Batu Roh sebagai tutup mulut.
" Tuan Walikota... Apa Tuan yakin dengan keputusan ini?" Jenderal Mao mengerutkan kening saat kedua Gadis itu dibawa oleh Pelayan untuk berdandan.
" Jenderal Mao... Pria mana yang tidak tergoda dengan wanita. Hanya saja tergantung cara mereka menempatkan diri agar tidak dipandang sebagai orang mesum. Lagi pula kedua wanita itu juga tidak keberatan." Tan Tihuna tersenyum lebar.
" Andai saja aku memiliki seorang Putri, maka aku tidak segan untuk menjadikan Song Juan sebagai menantuku. Sayangnya aku hanya memiliki dua orang Putra." lanjut Tan Tihuna.
" Aku mengerti Tuan Walikota." Jenderal Mao mengangguk setuju.
" Sekarang kita pergi ke Penginapan Giok Bulan. Masalah kedua wanita itu biar Prajurit yang mengantar mereka." Tan Tihuna melangkahkan kaki keluar dari kediamannya diikuti oleh Jenderal Mao.
*****
( Penginapan Giok Bulan )
Saat Ryu sedang Berkultivasi, kini Walikota Tan Tihuna dan Jenderal Mao mendatangi kamar Ryu yang juga diantar oleh seorang Pelayan.
Ryu pun menghentikan kegiatannya lalu berjalan mendekati pintu kamar dimana terlihat Tan Tihuna dan Jenderal Mao sudah berdiri di depan.
" Salam Tuan Pendekar... Maaf telah mengganggu." Tan Tihuna bicara dengan sopan.
__ADS_1
" Tidak masalah Tuan Walikota. Silahkan masuk." Ryu mempersilahkan mereka.
" Mmm." Tan Tihuna dan Jenderal Mao mengangguk lalu masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Pelayan yang mengantar mereka, langsung meninggalkan tempat itu kembali melakukan pekerjaannya.
" Silahkan duduk." Ryu kembali mempersilahkan mereka untuk duduk.
Tan Tihuna dan Jenderal Mao pun mengambil tempat duduk hingga terlihat mereka saling berpandangan seakan meminta salah satu dari mereka untuk membuka pembicaraan.
Melihat hal itu Ryu langsung berinisiatif untuk membuka pembicaraan karena kedua tamunya tersebut masih diam.
" Kalau boleh tau, ada apa sampai Tuan Walikota dan Jenderal Mao sampai repot-repot datang kesini?" Ryu membuka pembicaraan.
" Ah... Begini Tuan Pendekar... Sebenarnya ini mengenai rencana penyerangan di Kerajaan Pasir Putih. Apakah Tuan Pendekar yakin bahwa kita mampu melawan mereka?" Tan Tihuna bicara dengan hati-hati karena takut akan menyinggung Ryu.
" Tuan Walikota... Jika kita tidak mengambil tindakan, maka Kerajaan Pasir Putih akan melakukan hal yang buruk di wilayah Kekaisaran Awan." Ryu tidak ingin terjadi sesuatu pada saat dia dan Istrinya meninggalkan Kekaisaran Awan atau bahkan meninggalkan Benua Timur.
Untuk itu Ryu berniat menghancurkan Kerajaan Pasir Putih dan setelah itu Ryu berencana mencari seseorang yang mengetahui letak Benua Tengah.
Meskipun Ryu memiliki Kapal Udara, namun untuk berpergian Ryu membutuhkan seseorang yang pernah ke Benua Tengah.
" Tuan Pendekar... Apa kita tidak meminta bantuan dari Istana Kekaisaran Awan?" Tanya Walikota.
" Apa Tuan Walikota tidak pernah menyelidiki kekuatan dari Kerajaan Pasir Putih?" Ryu kembali melemparkan pertanyaan kepada Tan Tihuna.
" Kami juga baru mengetahui bahwa Perampok yang menutup akses menuju Ibukota Kekaisaran Awan adalah ulah dari Organisasi Kapak Dosa yang dibayar oleh Kerajaan Pasir Putih." Tan Tihuna menghela nafas panjang.
" Untuk masalah informasi, Aku rasa Penginapan Giok Bulan lebih tau dari kami. Karena sebelumnya kami juga mengetahui informasi ini dari Penginapan Giok Bulan." Jenderal Mao ikut bersuara.
" Penginapan Giok Bulan memang sangat membantu kita selama ini. Tidak heran jika Kaisar Ryu mengambil Istri dari Pemilik Penginapan ini. Jenderal Mao... tolong panggil perwakilan dari Penginapan Giok Bulan ini, sekaligus apa yang sebelumnya aku minta kepadamu." Tan Tihuna melirik ke arah Jenderal Mao, seakan mengisyaratkan sesuatu.
" Baik Tuan Walikota... Kalau begitu aku pamit dulu." Jenderal Mao menundukkan kepala lalu meninggalkan kamar tersebut.
Setelah beberapa saat kini terlihat Jenderal Mao, Liem Ao Ai dan dua wanita lain yang bersama mereka.
" Salam Tuan Pendekar, Salam Tuan Walikota." Liem Ao Ai memberi hormat sambil melirik ke arah guci arak yang masih dalam keadaan utuh di atas meja.
__ADS_1
" Silahkan duduk." Ryu mempersilahkan mereka sambil menatap ke arah dua wanita lain bersama mereka.
Dengan sebuah anggukan Jenderal Mao, Liem Ao Ai mengambil tempat untuk duduk berhadapan dengan Ryu. Sedangkan kedua wanita tersebut langsung duduk di samping kiri dan kanan Ryu.
Karena kedua wanita itu duduk hampir menempel pada Ryu, tentu saja mengundang pertanyaan baginya langsung menoleh ke arah Liem Ao Ai dan Tan Tihuna seakan meminta penjelasan.
Melihat tatapan dari Ryu, Liem Ao Ai tersenyum tipis seraya mengambil sebuah guci arak lalu menuangkan ke sebuah cawan.
" Tidak baik membiarkan minuman yang berharga ini begitu saja." Liem Ao Ai meneguk arak tersebut lalu menuangkan ke cawan lain dan diberikan kepada Ryu.
Tan Tihuna yang awalnya sangat gugup kini bernapas lega karena Liem Ao Ai begitu cepat tanggap terhadap situasi tersebut.
" Mohon maaf Manager Ai... Aku tidak terbiasa dengan minuman seperti ini." Ryu menolak secara halus atas pemberian dari Liem Ao Ai.
" Baru kali ini aku mendengar bahwa seorang Pendekar hebat sangat takut dengan arak." Liem Ao Ai tersenyum masam seakan tidak percaya bahwa Pemuda yang di depannya tidak pernah meminum arak.
Dimana dari setiap Kultivator bahkan para Dewa tertinggi begitu menyukai yang namanya arak.
Namun kali ini mereka menemukan ada satu orang yang tidak menginginkan arak tersebut yaitu Ryu yang mereka kenal dengan nama Song Juan.
Tan Tihuna, Jenderal Mao dan dua wanita itu juga sontak kaget setelah mendengar ucapan dari Ryu.
Mendengar ucapan dari Liem Ao Ai, Ryu merasa terpancing untuk meminum arak tersebut agar tidak dilecehkan sebagai seorang pria normal.
" Kalau seperti ini kan terlihat bagus." Liem Ao Ai kembali tersenyum menatap ke wajah Ryu yang sudah memerah karena efek dari arak tersebut.
" Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan." Ryu menahan rasa panas di tenggorokannya saat meneguk arak tersebut.
" Begini Manager Ai... Kami ingin meminta informasi tentang kekuatan Kerajaan Pasir Putih. Apa kamu mengetahuinya?" Tan Tihuna sambil meneguk secawan arak.
Tanpa menjawab apapun, Liem Ao Ai memberikan guci arak tersebut kepada kedua wanita yang disamping Ryu dan meminta mereka untuk menuangkan kepada yang lain.
Liem Ao Ai yang memahami situasi tersebut dimana dia mengambil kesimpulan bahwa kedua wanita tersebut akan melayani Ryu selama satu malam.
Liem Ao Ai yang sudah berpengalaman dalam bidang pelayanan, maka sudah banyak mengetahui bahwa banyak para bangsawan, pemerintahan ataupun orang besar pasti disuguhkan dengan beberapa wanita untuk menemani mereka termasuk apa yang di hadapannya sekarang dimana kedua wanita itu akan melayani Ryu.
" Tuan Walikota... Aku juga tidak mengetahui hal itu sepenuhnya. Namun beberapa keterangan dari Pengawal Penginapan Giok Bulan, Kerajaan Pasir Putih ada tiga Jenderal yang sudah mencapai Pendekar Langit tahap akhir. Sedangkan yang lain banyak yang masih berada di Pendekar Bumi. Hanya saja aku pernah mendengar bahwa satu leluhur Kerajaan Pasir Putih yang sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap awal." Liem Ao Ai memberikan informasi yang dia ketahui.
__ADS_1
" Gluug." Tan Tihuna dan Jenderal Mao menelan ludah membayangkan jika mereka akan menyerang kerajaan Pasir Putih itu.
Disisi lain Ryu masih terlihat santai tanpa merasa takut sedikit pun, karena hal itu tidak begitu sulit untuknya.