SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
Rencana Penyerangan Kekaisaran Naga Hitam


__ADS_3

( Bagian lain Kekaisaran Naga Hitam )


" Jendral Chang Lan, Jendral Fang Dao, Jendral Junda... Aku rasa sekarang saatnya kita harus memberontak. Aku sudah muak hidup dalam kepalsuan ini." Ucap salah satu Penasehat Istana.


" Kakak... Aku juga sudah bosan seperti ini. Aku rasa hal ini kesempatan kita. Apalagi lima Sekte pendukung Kaisar Dong telah lenyap." Ucap Jenderal Chang Lan.


" Penasehat Cuang... aku juga merasa begitu. Aku tidak sudi adikku dijadikan Selir oleh Pangeran biadab itu." Timpal Fang Dan.


" Bukan hanya kalian... Aku juga tidak Suka dari sikap Putra Mahkota dan Ketiga Pangeran yang suka merendahkan wanita." Ucap Jenderal Junda.


" Kita harus mengatur siasat sebaik mungkin agar tidak tercium oleh Pihak Istana." Ucap Penasehat Cuang.


" Pangeran Wusan, Pangeran Taicu dan Pangeran Bauli satu bulan lagi akan menyelenggarakan Pernikahan dengan Putri Kerajaan Tao, Kerajaan Ma dan Kerajaan Shin. Aku rasa itu adalah waktu yang tepat." Ucap Jendral Chang lan.


" Benar... Aku dengar dari mata-mata pihak kita, tiga Kerajaan itu juga dalam keadaan terpaksa menikahkan Putri mereka kepada Ketiga Pangeran Itu." Jendral Junda menimpal.


" Benarkah Begitu?" Ucap Sosok yang tiba-tiba muncul di samping mereka.


" Si... Siapa Kamu?" Ketiga Jendral dan Penasehat Istana Ketakutan.


" Jangan Takut! Aku bukan dari pihak Istana, Tapi aku diutus oleh Tuanku untuk memata-matai Istana Kekaisaran." Ucap Tou Shuijing.


" Jadi siapa Tuanmu? Lalu mengapa memata-matai Istana Kekaisaran." Penasehat Cuang memberanikan diri.


" Tuanku adalah menantu dari Patriak Tirai Air. Tuanku juga yang telah menghancurkan Lima Sekte besar yang kini sedang hangat diperbincangkan itu." Jawab Tou Shuijing.


"Jadi Tuanmu lah yang menghancurkannya?" Tanya Jendral Junda.


" Apa aku berbohong? Aku datang kesini karena tuanku tidak ingin membunuh orang yang tidak bersalah. Jadi, jika kalian Ingin selamat tinggalkan Istana sekarang juga!" Ucap Tou Shuijing dengan nada mengancam.


" Tuan... Rencana pernikahan tiga Pangeran akan dilaksanakan satu bulan lagi. Kami juga mengatur rencana untuk memberontak pada hari pernikahan itu. Jadi kapan kalian akan menyerang?" Tanya Penasehat Cuang.


" Hanya Tuanku yang tau masalah itu. Tapi sepertinya Tuanku sendiri yang akan bertemu dengan kalian. Aku akan mengantar Tuanku kepada Kalian dua hari lagi di tempat ini." Ucap Tou Shuijing seraya menghilang meninggalkan ruangan tersebut.


" Jendral Chang... Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Penasehat Cuang.


" Kakak... Sepertinya kita harus menunggu Tuan dari Pemuda itu tadi, kekuatan kita masih belum mampu untuk memberontak. Dengan bantuan mereka, aku harap kita tidak melakukan pemberontakan sia-sia " ucap Jenderal Chang Lan.


" Jika begitu, kita sudahi pertemuan ini menunggu dua hari lagi." Sahut Penasehat Cuang.


Keempat Sosok tersebut bergantian meninggalkan Bangunan menuju ke Istana dan tempat mereka masing-masing.

__ADS_1


*****


Di Depan Gerbang Sekte Tirai Air, terlihat Ryu dan 23 Istrinya sedang menuju pintu Gerbang.


" Salam Tuan Muda, Salam Tuan Putri... Silahkan masuk." Pemimpin Penjaga menundukkan kepala seraya mempersilahkan Ryu dan Istrinya.


" Mmmm." Ryu mengangguk kecil masuk ke dalam Sekte bersama 23 Istrinya.


Para Tetua dan para Murid yang melihat kedatangan Ryu dan 23 Istrinya sangat senang langsung mendatanginya.


" Salam Tuan Muda, Salam Tuan Putri... Patriak sedang menunggu kalian " Tetua Siwu memberi hormat diikuti yang lain.


Para Murid juga menyapa mereka dengan hangat dengan memberi penghormatan.


Ryu yang melihat kejadian itu hanya mengerutkan kening disertai anggukan kepala.


'Tuan Muda... Ada beberapa petinggi istana yang ingin memberontak pada Kekaisaran. Mereka merencanakan melakukan penyerangan satu bulan lagi pada hari pernikahan tiga Pangeran bersamaan.' sebuah pesan jiwa yang disampaikan oleh Tou Shuijing.


'Kembalilah kesini! Aku akan menemui mereka secara langsung.' Ryu membalas dengan pesan jiwa.


Ryu kemudian masuk ke dalam ruang pertemuan terlihat Patriak Mao, Shui Jian beserta Istrinya dan Para Tetua.


"Salam Ayah... Salam Kakak dan para Tetua." Qin Shuomei memberi hormat diikuti Sheng Zhishu dan yang lain.


Para Tetua pun membalas anggukan seraya membalas hormat dari mereka.


Mereka sangat senang dengan kerendahan hati dari Ryu dan Istrinya. Meskipun memiliki kekuatan yang mengerikan, namun mereka sangat ramah kepada orang tua.


" Ryu'er... Kalian dari mana saja selama ini? Apakah kalian sudah dengar empat Sekte telah dihancurkan itu?" Tanya Patriak Mao sekedar memastikan dugaan mereka, meskipun sangat yakin.


" Ayah Mertua... Sepertinya kabar itu terlalu cepat. Sebenarnya aku ingin menyampaikan hal itu juga pada Ayah Mertua dan lainnya, bahwa lima Sekte yang pernah menghancurkan Sekte Tirai Air telah kami musnahkan dari Benua ini." Ucap Ryu dengan santai.


" Apa? Bagaimana bisa?" Tanya seluruh orang yang ada di tempat itu, termasuk Patriak Mao sendiri.


" Ryu'er... Aku tidak menyangka kalian bisa melakukan hal seperti itu. Untuk menyerang satu Sekte saja bahkan kami belum mampu." Patriak Mao menggelengkan kepala.


" Ayah Mertua... Itu adalah tugasku sebagai bagian dari Sekte Tirai Air. " Ucap Ryu.


"Ahh... Silahkan duduk. Aku hampir lupa." Patriak Mao baru tersadar dari rasa kagumnya.


Ryu dan 23 Istrinya pun mencari tempat untuk duduk.

__ADS_1


" Ayah Mertua... Satu bulan lagi dari sekarang aku dan pasukanku akan menyerang Kekaisaran Naga Hitam. Aku meminta sedikit bantuan dari Sekte ini untuk melawan mereka" Ucap Ryu.


Meskipun Ryu dan 23 Istrinya serta Pasukan Semesta memiliki kekuatan besar, namun tidak mudah untuk mengalahkan Prajurit Kekaisaran yang begitu banyak yang tentu akan menguras tenaga mereka.


'Sudah aku duga' Patriak Mao membatin.


" Ryu'er... Apa kamu yakin? Kami bisa saja mengerahkan bantuan dari Seluruh Murid Sekte. Tapi kita harus mengaturnya dengan matang. Lagi pula aku sudah bosan terus bersembunyi seperti ini." ucap Shui Jian.


" Tuan Muda Ryu... Aku juga siap akan membantumu." Tetua Jila terlihat bersemangat.


" Ryu'er... Untuk membantumu aku bahkan mengerahkan seluruh kekuatan Sekte Tirai Air ini. Aku bahkan seluruh Tetua akan membantumu." Ucap Patriak Mao.


" Ayah Mertua tenang saja... Aku sudah mengaturnya. Yang aku butuhkan dari anggota Sekte Tirai Air agar bisa mengulur waktu. Karena Prajurit Kekaisaran memiliki jumlah besar dan tentu membutuhkan tenaga yang besar." Ucap Ryu.


Mendengar ucapan dari Ryu, mereka langsung mengangguk. Karena sebesar apapun kekuatan mereka, jika berhadapan dengan lawan yang banyak maka membutuhkan waktu yang sangat lama dan tentu menguras tenaga.


" Ayah Mertua... Besok pagi kami Akan pergi Ke Gurun Es. Aku harap Sekte Tirai Air berlatih lebih keras lagi untuk mempersiapkan diri. Kami akan Kembali kesini saat hari itu tiba." Ucap Ryu.


" Haaahh... Baiklah... Mulai besok kita akan menutup diri dari Dunia luar selama satu bulan. Tetua Jila dan dan para Tetua lainnya, katakan kepada seluruh Guru Sekte dan para Murid untuk berkumpul di lapangan sekte besok pagi." Ucap Patriak Mao sambil menoleh ke beberapa Tetua yang ada di tempat itu.


" Baik Patriak." Ucap mereka bersamaan lalu meninggalkan ruangan tersebut.


" Ayah Mertua... Mohon terimalah ini dan juga untuk Ibu Mertua." Ryu Memberikan Dua Pedang Biru dan Dua Cincin pemulihan.


Tidak lupa Ryu juga memberikan Pedang Biru dan Cincin pemulihan Kepada Shui Yue.


Sedangkan untuk Shui Jian, Ryu hanya memberikan beberapa Pil karena sebelumnya Shui Jian sudah mendapatkan Pedang Biru dan Cincin pemulihan.


Ryu Juga memberikan penjelasan dari kedua jenis benda tersebut dan cara menggunakan agar meneteskan darah mereka.


Hal itu tentu saja mereka sangat senang. Mereka berpikir bahwa kedua jenis benda tersebut adalah setara dengan Senjata Roh tingkat langit bahkan bisa dibilang Pusaka yang paling langka.


' Anakku... Kamu memang sangat beruntung nak. Kamu memilih Suami yang Sempurna.' Patriak Mao membatin sambil menatap Qin Shuomei Putrinya.


" Ryu'er... Terimakasih Banyak. Ternyata Adikku membawa Dewa Keberuntungan di keluarga kita." Shui Jian memuji Qin Shuomei dan yang lain sangat senang.


" Kakak..." Qin Shuomei menunduk malu.


Mereka pun kini berbincang ringan hingga suasana tersebut menjadi lebih hangat.


Begitupun dengan Sheng Zhishu dan yang lain juga dianggap sebagai Anaknya sendiri oleh Patriak Mao.

__ADS_1


__ADS_2