
Setelah memasukkan Harimau putih ke Dunia Quzhu, Ryu bergegas memasuki Goa tersebut hingga menemukan beberapa Sumberdaya yang sudah berusia jutaan tahun.
Meskipun Sumberdaya itu masih sama seperti yang ditanam di Dunia Quzhu, Ryu tetap mengambilnya karena dia pikir suatu saat akan berguna.
Saat berada di bagian terdalam Goa, Ryu tertuju pada suatu benda yang menggantung di langit-langit Goa seukuran lengan dan berwarna keemasan.
" Kepompong Langit?" Sambil bergumam, Ryu melompat ke arah Kepompong Langit lalu mengambilnya hingga seisi Goa langsung bergetar hebat seperti terjadi sebuah gempa.
Merasa Goa tersebut akan runtuh, dengan cepat Ryu berlari sekuat tenaga untuk keluar dari Goa tersebut.
Dengan langkah Hantu Harimau Petir, Ryu terus berlari keluar dari Goa dimana terdapat beberapa beberapa bebatuan yang menghantam tubuhnya.
Hingga beberapa saat Ryu telah berhasil keluar dari Goa tersebut dimana hanya dalam hitungan detik Goa tersebut sudah rata dengan tanah.
" Haaahh." Ryu bernapas lega karena hampir saja dia tertimbun reruntuhan dari goa tersebut.
" Sepertinya tidak ada lagi yang tersisa." Ryu melangkahkan kaki menuju luar Hutan berencana untuk melanjutkan perjalanan ke Kekaisaran Han.
Dalam perjalanan keluar dari Hutan larangan, Ryu lebih memilih untuk menghindar dari beberapa kelompok yang lain dan tidak ingin terlalu ikut campur urusan mereka.
Setelah menempuh perjalanan beberapa hari Ryu pun sudah keluar dari Hutan larangan mencari tempat yang aman untuk kembali ke Dunia Quzhu mengingat hari sudah sore.
Di dalam Istana Emas Ryu telah disambut oleh 21 Istrinya, sedangkan Zhang Qixuan masih dalam latihan tertutup untuk menerobos Pendekar Surgawi.
" Gege... Kenapa kamu baru muncul?" Yuwang sedikit kesal karena sudah tidak sabar ingin memperlihatkan kemampuan yang mereka miliki sekarang dimana mereka sudah berhasil mencapai 20% tubuh Dewi Emas Suci.
Semua berfikir bahwa dengan kekuatan yang mereka miliki sekarang, mereka sudah mampu menandingi keperkasaan Suami mereka.
" Sepertinya kalian sudah tidak sabar, bukankah kalian sendiri yang meminta hal itu sebelumnya." Ryu mengerutkan kening sambil memperhatikan seluruh Istrinya yang menatap Dia seperti melihat mangsa yang empuk.
" Gege... Kamu harus bersamaku untuk malam ini." Sheng Zhishu menarik tangan Ryu hingga tubuh mereka saling bersentuhan.
" Ciihhhh... Aku adalah Istri yang pertama. Jadi akulah yang lebih dulu." Huli Yue tidak mau kalah dengan menarik tangan Ryu dari Sheng Zhishu hingga tubuh Ryu telah berpindah dan bersentuhan dengannya.
" Hei... Selama ini aku selalu mengalah, jadi sekarang aku yang duluan." Li Jilan menarik tangan Ryu dari Huli Yue hingga Ryu telah berpindah ke Li Jilan.
Ryu yang merasa dirinya diperebutkan oleh Sheng Zhishu, Huli Yue dan Li Jilan, kini mengerutkan kening karena tubuhnya sedikit sakit karena pelukan dari ketiga Wanita itu begitu kuat.
__ADS_1
" Untung saja tubuh Dewa Agung sudah mencapai 20% Jika tidak, mungkin tubuhku akan remuk." Ryu bergumam sambil memikirkan cara untuk menengahi Istrinya tersebut.
' Jika bukan karena Pagoda Jiwa itu telah menyerap kekuatan fisikku, mungkin tubuh Dewa Agung sudah mencapai 50% bahkan lebih.' Ryu membatin teringat saat Pagoda Jiwa yang hampir saja membunuhnya.
Meskipun begitu, Ryu merasa bersyukur karena berhasil mendapatkan Pagoda Jiwa itu yang membuat dia dengan mudah mengalahkan Hantu Malam hanya dengan kekuatan pikiran.
Jika tanpa bantuan Pagoda Jiwa, bukan hanya dia saja yang mati. Bahkan semua Istrinya juga akan mengalami nasib yang sama.
Jadi Ryu tidak menyesali kekuatan fisiknya menurun secara drastis, karena dia menganggap itu adalah harga yang pantas.
Dengan Harta langit yang mereka miliki, Ryu masih bisa meningkatkan kembali kekuatan tubuh Dewa Agung.
" Haaahh... Karena teknik itu, kalian menjadi sedikit liar." Ryu menggelengkan kepala namun dalam hati, dia sangat senang dengan sikap dari istrinya itu dan membuat Ryu merasa tertantang.
" Begini saja... Bagaimana jika kita bertarung, siapa yang menang, dia akan menjadi yang pertama." Xie Hua memberi usul karena dia juga ingin menjadi yang pertama.
" Siapa takut? Asalkan tidak ada yang memakai Hewan Kontrak, perubahan wujud, atau pusaka langit." Nan Sian juga tidak mau kalah.
" Setuju." Mereka mengangguk lalu berjalan keluar Istana menuju tanah lapang yang cukup jauh dari Istana Emas.
Mendengar ucapan tersebut Ryu menaikkan alis melihat perubahan sikap dari Istrinya, namun tidak menghalangi mereka.
Tidak hanya itu saja, dengan pertarungan mereka juga bisa memperbaiki setiap kelemahan mereka sendiri.
Bagi seorang Kultivator, pengalaman bertarung adalah wajib. Semakin banyak menjalani pertarungan, maka semakin besar orang itu akan memenangkan pertarungan.
Di sisi lain 21 wanita tersebut sudah saling menyerang satu sama lain hingga hanya dalam hitungan detik wilayah pertarungan menjadi rusak total.
Bahkan di wilayah pertarungan kini sudah membentuk kawah besar yang membuat Hewan Roh yang ada di sekitar berlarian menjauhi tempat itu.
Ledakan demi ledakan kini menyebar luas hingga ke berbagai arah.
Pertarungan itu pun terus berlanjut hingga hari mulai gelap dimana semua masih terlihat tidak ada yang mau mengalah.
Ryu yang melihat hal itu sedikit khawatir, karena akibat pertarungan mereka membuat banyak kerusakan.
Akhirnya Ryu pun mengambil tindakan untuk menghentikan mereka, karena merasa pertarungan itu sudah cukup.
__ADS_1
" Cukup." Ryu menengahi mereka sambil melepaskan Aura Dewa Agung.
Mendengar ucapan dari Ryu, mereka langsung menghentikan pertarungan mereka dimana nafas dari 21 Istri Ryu mulai terputus-putus.
" Sepertinya latihan kalian sudah cukup. Aku rasa kalian semua terlihat imbang." Ryu tidak ingin Istrinya terlalu menikmati pertarungan mereka.
" Gege... kenapa kamu menghentikan kami?" Wang Mingjun sedikit heran.
Begitupun dengan yang lain, mereka merasa heran karena Ryu menghentikan pertarungan mereka.
" Aku tidak ingin kalian kewalahan untuk melayaniku karena kalian sudah banyak mengeluarkan tenaga. Lagi pula hari sudah malam yang menandakan bahwa kalian juga harus beristirahat. Satu lagi... Aku tidak ingin kulit putih Istri-istriku yang sangat cantik ini tergores sedikit pun." Ryu sedikit menggoda mereka agar Istrinya tidak merasa kecewa.
Mendengar ucapan dari Ryu, mereka langsung tersipu malu dengan wajah memerah mulai terlihat jinak.
" Ah... Gege bisa saja..." Tianhe dan Qin Shuomei berjalan mendekati Ryu lalu menggandeng tangannya.
" Kalian jangan berbuat curang." Ting Ye dan Shu Meilu menarik tangan Ryu hingga menempel kepada mereka berdua.
' Haaahh... Teknik itu benar-benar merepotkan. Bahkan mampu membuat sifat mereka menjadi berubah dan liar.' Ryu membatin sambil memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah tersebut.
" Begini saja... Biar aku sendiri yang menentukan pilihan. Bagaimana?" Ryu berniat untuk menyelesaikan permasalahan mereka karena jika memilih untuk bertarung, maka akan memakan waktu yang cukup lama.
" Baiklah... Sekarang siapa yang lebih dulu dari kami?" Sheng Zhishu menatap ke arah Ryu.
" Sepertinya kalian tadi bertarung dengan adil. Tidak ada yang memakai Pusaka langit dan Hewan Kontrak. Shu'er, Chie'er, Yue'er, He'er, Jiang'er, Shi'er, Wang'er, Ye'er, Hua'er, Jun'er, Lu'er, Mei'er, An'er... Kalian juga tidak menggunakan teknik perubahan wujud dari Tubuh Abadi yang kalian miliki. Jadi aku menambah satu point untuk kalian. Apa yang lain setuju?" Ryu bertanya kepada mereka.
" Mmm." semua mengangguk setuju.
" Hua'er... Sepertinya kamu lebih unggul dari yang lain, jadi kamu yang pertama." Ryu menatap ke arah Xie Hua.
" Mmm." Xie Hua mengangguk lalu berdiri di samping Ryu sambil mengejek yang lain.
" Haaahh... " Yang lain menghela napas karena mereka mengakui bahwa Xie Hua lebih unggul dari mereka.
" Wang'er... Kamu juga lebih unggul dari yang lain, meskipun kamu dibawah Hua'er." Ryu menatap ke arah Yuwang.
" Aku mengakui itu." Yuwang berdiri di samping Xie Hua juga ikut mengejek yang lain.
__ADS_1
" Yue'er, peringkat ketiga. Chie'er, kamu peringkat keempat. Shu'er, kamu peringkat kelima." Ryu menatap ke arah Huli Yue, Xin Chie yang Sheng Zhishu.
" Mmm." Ketiga Wanita itu berdiri di samping Ryu.