
Saat merasa sudah aman, Ryu melancarkan aksinya menuju Bangunan besar yang menurutnya itu adalah Ruang harta.
Namun ketika berada di Ruangan tersebut Ryu memasang wajah masam karena hanya menemukan 2 Buah Peti Besar dan beberapa Sumberdaya untuk membuat Pil.
Merasa ada hal yang tidak beres, Ryu keluar dari Ruangan tersebut lalu mengeluarkan Chaizu agar bisa mencari Hal yang sangat berharga.
Chaizu membawa Ryu ke sebuah Bukit yang cukup jauh dari bangunan utama yang terlihat sedang dijaga ketat oleh 10 Penjaga.
Ryu langsung mengembalikan Chaizu lalu mencoba berkonsentrasi memusatkan Qi Miliknya untuk menggunakan langkah kilat dan Wujud Hantu agar tidak ketahuan saat melewati 10 Penjaga tersebut.
" Wuush" Ryu berlari langsung menembus Pintu yang terbuat dari Besi.
" Saudara, Apa kalian merasakan sebuah hembusan Angin?" tanya salah satu Penjaga.
"Benar Saudara. Aku juga merasakannya." jawab yang lain.
" Wajar saja, ini kan sudah tengah malam. Sudah jelas itu angin malam." ucap yang lain.
" Kurasa Angin itu adalah Hantu yang sedang lewat." Penjaga yang lain beranggapan.
" Yang benar saja Saudara... Kamu jangan menakuti Kami." Penjaga yang lain merasa ketakutan.
" Benar Saudara. Apalagi ini sudah lewat tengah malam. kamu jangan bicara yang aneh-aneh " Semua terlihat gemetar.
" Sekalipun itu Hantu, kita harus tetap berjaga. Kalian mau jika Kepala kita akan dipotong?" ucap penjaga tersebut.
Mendengar ucapan itu, semua mencoba menyingkirkan rasa takut mereka. Mengingat hal yang lebih menakutkan adalah saat kepala mereka terpotong.
Di tempat lain Ryu yang sudah berada di dalam, kini terlihat Tumpukan batu Meteor dan Batu Pelangi.
Tanpa menunggu lama, Ryu langsung mengambil Langit tersebut lalu melanjutkan perjalanan menuju sudut ruangan lain.
Setelahnya masuk kedalam Ruangan tersebut, Ryu disambut dengan Kitab yang tersusun rapi seperti sebuah Perpustakaan.
" Sepertinya Kitab-kitab ini adalah Hasil Curian mereka pada beberapa Sekte atau yang lain" Ryu kembali mengumpulkan semua hingga tidak ada yang tersisa.
Dari balik Ruangan lain Ryu merasakan aura yang sangat kuat sehingga dia langsung menuju ke tempat tersebut terlihat hamparan berbagai jenis Sumberdaya yang tidak terhitung jumlahnya bahkan dari beberapa tumbuhan tersebut terdapat Jamur Iblis, Tumbuhan Racun Hati, Tumbuhan Pelumas Tulang, Ginseng Darah dan Rumput Akar putih.
" Dengan begini, Racun Gila ciptaanku akan bertambah Kuat lagi dan Pil Penawar Racun lainnya." Ryu dengan Senyuman Jahat mengambil semua tanpa sisa Sabil menyusuri Ruangan yang sangat Luas melebihkan 100 meter persegi.
" Hah... Tidak ada lagi yang tersisa. lebih baik aku harus keluar dari sini secepatnya." Ryu keluar dari dalam Ruangan menggunakan langkah kilat dan Wujud Hantu.
Saat berada di belakang Sekte, Ryu mengeluarkan Chaizu agar menjauhi Wilayah Sekte Lembah Racun.
Ketika hari sudah siang, Ryu menghentikan pelariannya mengingat Chaizu sudah lelah langsung mengembalikan Chaizu agar bisa beristirahat.
" Dengan begini, Sekte Lembah Racun tidak berani lagi bertindak seenaknya. Secara Perlahan pasti akan semakin melemah dengan sendirinya." Ryu tersenyum sangat Puas.
Di dalam Sekte Lembah Racun mulai gempar dengan terjadinya pencurian semua Sumberdaya yang selama ini mereka kumpulkan selama Puluhan Tahun telah habis tanpa sisa hanya dalam waktu satu malam.
Terlihat wajah murung dari Paktriak, Para tetua dan Guru-guru. Mereka juga meminta kepada seluruh murid Sekte agar menyebar ke berbagai arah seluruh wilayah Sekte.
Semua Murid Sekte juga seakan merasa hidup mereka terancam, mengingat dalam Pertarungan Senjata kebanggaan mereka hanya Racun.
Sedangkan Ryu sendiri yang sudah berada sangat jauh dari Wilayah Sekte Lembah Racun melanjutkan Perjalanan kembali ke Sekte Lembah Persik.
Meskipun jarak Sekte Lembah Persik sangat jauh dari tempatnya sekarang, dengan bantuan Chaizu dia mampu mempercepat perjalanan hanya memakan waktu kurang dari dua Bulan.
" Hah... Akhirnya sampai juga" ucap Ryu saat sudah berada di depan Gerbang Sekte Lembah Persik.
" Tetua Agung" Salah satu Penjaga memberi hormat terlihat senang.
Mendengar ucapan tersebut para Penjaga lain yang belum mengenal Ryu hanya mengikuti atasan mereka untuk memberi hormat.
" Ketua Penjaga." Ryu memakup tangan dengan senyuman ramah.
" Silakan Masuk Tetua Agung" Ketua Penjaga memberi jalan.
" Mmmmm" Ryu mengangguk langsung menuju ke dalam Sekte.
Saat memasuki Sekte, Ryu menatap dua bangunan besar yang terlihat hampir selesai yang terlihat beberapa murid sedang ikut membantu penyelesaian.
__ADS_1
" Tetua Agung" Tetua Cunying memberi hormat diikuti salah satu Sosok berpakaian Guru terlihat Asing di mata Ryu.
" Salam Tetua Agung. Namaku Cunying, Aku baru diangkat menjadi Guru Baru disini." Guru Cunying mengerti keadaan sekarang meskipun baru mengenal Sosok Tetua Agung.
Saat Ryu mendengar namanya, Ryu sedikit mengerut kening karena nama kedua sosok di depannya sama. Kedua sosok yang mengerti akan hal tersebut hanya tersenyum saling berpandangan.
" Tetua Cunying, Guru Cunying. Aku menemui keluargaku terlebih dulu." Ryu menyapa ramah.
" Silahkan Tetua Agung" mereka memberi jalan.
"Mmmmm " Ryu mengangguk melanjutkan langkahnya.
" Tetua Cunying. Ternyata Tetua Agung masih sangat muda. " Guru Cunying yang menganggap bahwa Tetua Agung adalah Sosok yang sudah Sepuh.
" Ya begitulah Guru Cunying. Meskipun masih Muda, berkat dirinya lah Sekte ini bisa semegah sekarang. Itulah kenapa kami sepakat mengangkatnya menjadi Tetua Agung meskipun dia tidak menginginkannya." Tetua Cunying menjelaskan.
" Yah. aku juga sudah mendengar dari cerita Guru lain. Sekarang rasa penasaranku telah terpenuhi. Sungguh sangat Dermawan meski masih Muda. Tidak dipungkiri dia memiliki Dua istri yang Sangat Cantik menyaingi Putri Kaisar Jin Jierui." Terlihat sebuah senyuman dari Guru Cunying.
" Saat aku belum menjadi bagian Sekte ini, banyak hal yang kutemui di Benua ini. banyak sekali Keluarga Bangsawan hingga Anggota Keluarga Kaisar memiliki Puluhan Istri dengan berbagai Alasan. Ada yang Demi menjalin hubungan bisnis, masalah kekuasaan, hingga demi kepuasan semata." Guru Cunying teringat masa lalu.
" Begitulah yang terjadi. Siapa yang memiliki Nama yang Besar, sudah pasti menjadi incaran semua orang. Baik dengan niat menjalin hubungan maupun mengangkat Derajat mereka." Tetua Cunying tersenyum sambil menggelengkan Kepala.
" Jika Kaisar Jin Jierui tau dengan kebesaran Tetua Agung kita, bukan tidak mungkin dia akan mengambil Tetua Agung menjadi menantunya demi mempertahankan Kekuasaannya. Ah sudahlah, kita sudah terlalu jauh berfikir kesitu." Guru Cunying menggelengkan kepala sambil meninggalkan tempat tersebut melanjutkan pekerjaannya.
Di tempat lain, Ryu melihat sosok wanita yang dia kenal dari bagian pojok menjauhi Kerumunan Murid yang lain juga sedang menatapnya. Dia pun mengangguk sebagai sapaan menandakan dia telah mengenal Sosok tersebut meskipun tanpa respon sedikitpun dari tatapan kosong Wanita itu.
Ryu langsung melanjutkan langkahnya menuju dimana kediaman mereka mengingat Kedua Istrinya pasti sudah menunggu.
" Ka Ryu." Xin Chie dan Huli Yue berlari ke arah Ryu yang sudah muncul di depan mereka.
" Apa aku sudah terlalu lama?' Ryu merasakan pelukan kedua Istrinya sangat kuat.
" Mmmmm" mereka berdua kembali melepas pelukan.
" Adik Chie, Bagaimana dengan hasilnya?" Ryu menatap Xin Chie.
" Sepertinya antusias para murid luar biasa. Tapi hanya sekitar 30 Murid saja yang terlihat berbakat." ucap Xin Chie.
" Sepertinya mereka sudah mampu mencapai kemurnian 80 hingga 86 Persen. Kurasa itu sudah lumayan." jawab Xin Chie.
" Syukurlah. lebih baik kita masuk ke dalam. " Ryu membawa mereka ke dalam Rumah.
" Ryu'er... Kau sudah kembali." Sambut Liu Meng.
" Ayah... " Ryu memberi hormat.
" Ryu'er... Bagaimana dengan Perjalananmu?' Liu Meng bertanya.
" Baik Ayah. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan." Ryu tersenyum puas.
" Ayah... Dalam perjalanan pulang aku membawa beberapa Sumberdaya untuk membuat Pil. Semoga ini bisa membantu Sekte agar lebih Kuat lagi." Ryu memberikan sebuah Cincin Ruang berisi Sumberdaya.
" Ini sudah lebih dari cukup, nanti aku akan membawanya kepada Tetua Shen." Liu Meng melihat isi dari Cincin tersebut.
" Ayah, aku ke kamar dulu untuk membersihkan diri. " Ryu memberi hormat.
" Ah.. Silahkan. kebetulan aku ingin bertemu Paktriak serta para Tetua lain mengenai perluasan wilayah Sekte." Liu Meng meninggalkan tempat tersebut.
Saat sudah berada di dalam Kamar, Ryu membuat Pelindung Tempurung Kura-kura lalu mengeluarkan dua buah Pusaka Langit.
" Adik Chie, ini untukmu. Dengan Pusaka Ini kuharap kamu bisa naik level." Ryu memberikan Bunga Teratai Api.
" Mmmm" Xin Chie mengambil bunga tersebut.
" Adik Yue, Ini untukmu. kuharap kamu bisa naik level juga" Ryu memberikan Bunga Sakura Lima warna.
" Terimakasih Ka Ryu." Huli Yue mengambil Bunga tersebut.
" Kalian Seraplah Pusaka Langit itu sebelum kita melanjutkan perjalanan. Dengan Pelindung Tempurung Kura-kura ini, tidak ada yang tau atau orang yang terganggu mengingat Pusak ini akan menyakiti tubuh kalian, tapi tidak seberapa jika kalian lebih berkonsentrasi.
" Baik Ka Ryu. " Kedua istrinya langsung mencari tempat untuk menyerap kedua Pusaka Langit.
__ADS_1
Setelah kedua Istrinya sudah mulai melakukan proses penyerapan, Ryu langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu duduk di sebuah Kursi untuk membuka Kitab Penciptaan Dunia Kecil.
" Haaah. sepertinya dengan kekuatanku sekarang aku tidak bisa mempelajarinya" Ryu merasakan Tenaga dan Spiritualnya semakin berkurang.
" Ada apa dengan Tubuhku? Akhir-akhir ini Semakin melemah. Apa ada yang salah dengan tingkat Kultivasi ku." Ryu merasakan ada hal yang tidak beres.
'Aku tidak mungkin terus menerus menggunakan Pil seperti ini' Ryu menelan Puluhan Pil Pemilihan.
Ryu berencana keluar kamar, tiba-tiba tubuhnya menghilang menuju ke Dunia Kecil
" Haaahh... Xian Ye, mengapa kamu membawaku kesini?" Ryu sedikit jengkel.
" Aku hanya mengabarkan padamu. Sebentar Lagi kekuatanku akan pulih." Xian Ye terlihat senang.
" Syukurlah kalau begitu." Ryu terlihat Cuek.
"Aku membawamu kesini karena kedua Istrimu sedang menjalani proses penyerapan. Apa kamu mau mengganggu mereka? lagipula ini tempat yang aman untukmu berlatih" ucap Xian Ye.
Mendengar ucapan Xian Ye memang benar, mengingat proses penyerapan tersebut memakan waktu hingga berbulan-bulan akhirnya Ryu memutuskan berada di Dunia Kecil untuk membaca Tumpukan Kitab yang dia dapatkan dari Sekte Lembah Racun.
Xian Ye menciptakan sebuah tempat untuk peristirahatan mereka agar lebih berkonsentrasi untuk mempelajari semua Kitab.
Xian Ye juga menceritakan tempat asalnya dimana Dunia yang dia tinggali tidak ada perkelahian. Xian Ye juga menceritakan tentang Dunia dari Peri Ras lain walaupun dia sendiri belum pernah melihatnya namun menurut Legenda, Hanya Dunia Peri yang kecil lah yang Damai. Di dalam Dunia Peri yang sangat luas, Juga sering terjadi Perperangan untuk merebut kekuasaan.
Karena Dunia Peri yang Besar adalah tempat berkumpulnya Peri dari berbagai Ras. Hal itulah yang membuat mereka saling bermusuhan.
Di Dalam Dunia Kecil ciptaan Xian Ye memanglah sangat kecil namun masih mampu menampung Puluhan Orang.
Hari demi hari Ryu terus membaca Kitab yang ditemani oleh Xian Ye hingga akhirnya mereka semakin akrab berkat Xian Ye yang tidak pernah berhenti menemaninya.
Waktu telah berjalan hingga berbulan-bulan hubungan mereka terlihat sangat intim, membuat Ryu merasakan ketulusan hati dari Xian Ye.
" Tuan Ryu, Seperti sudah waktuku untuk pergi sekarang." Terlihat senyuman dari Xian Ye menutupi kesedihannya.
" Xian Ye, apa kamu masih ingin kembali ke Duniamu?" Ryu terlihat serius.
" Meskipun aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak bisa bersamamu di Dunia Kalian" Xian Ye yang tau isi hati Ryu.
" Tuan Ryu... Bersamamu di akhir-akhir ini sudah cukup untukku. Meskipun kita harus terpisah, Tapi aku sangat bahagia dalam menjalankan hidupku selanjutnya." Xian Ye tidak bisa menahan Air matanya.
" Tapi kamu masih bisa tinggal disini" ucap Ryu.
" Tuan Ryu. Jika aku ada disini, maka kamu lah yang akan meninggal. Bukankah kamu merasa tubuhmu semakin lemah?" ucap Xian Ye
Mendengar ucapan tersebut Ryu baru sadar mengapa tubuhnya bisa semakin lemah.
" Apakah ada cara?" tanya Ryu.
" Aku juga tidak tau, Aku pernah mendengar sebuah Mitos ada Seorang Kultivator yang sudah mencapai Level 100, Dia membawa seorang Peri ke Dunianya. Aku dengar mereka juga memiliki keturunan di Dunia ini, bahkan Keturunan mereka mampu menembus Dunia Dewa dan Iblis." Xian Ye menjelaskan.
" Benarkah? Aku akan mencari cara. " Ryu terlihat bersemangat.
" Tuan Ryu, sepertinya kita harus berpisah. Aku tidak mau tubuhmu semakin lemah, itu akan mempengaruhi tingkat Kultivasimu." Xian Ye bangkit dari tempatnya.
" Wuush" sebuah cahaya berbentuk Cincin seakan keluar dari Ruang Hampa
" Tuan Ryu, Aku akan menantimu. Pelajarilah Kitab yang kuberikan, dia akan menuntunmu menemukan Duniaku." Lambaian tangan Xian Ye memasuki Cahaya tersebut, seketika Ryu telah kembali ke Kamarnya.
" Sepertinya sangat mustahil bisa mencapai Level 100. Yang aku tau di Dunia ini hanya bisa mencapai Level 90, itupun hanya Mitos." Ryu berfikir itu sangat tidak mungkin.
" Ka Ryu." Terdengar suara Xin Chie dan Huli Yue memecahkan lamunan Ryu.
" Adik Chie, Adik Yue, kalian sudah berhasil?" Ryu mencoba memperbaiki sikapnya.
" Seperti yang kamu lihat sekarang" Xin Chie dan Huli Yue memperlihatkan tingkat Kultivasi mereka sudah naik satu level.
" Selamat. sekarang kalian istirahatlah, karena dalam beberapa hari lagi kita akan mulai perjalanan panjang." ucap Ryu.
" mmmm'' Xin Chie dan Huli Yue bergantian ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Sepertinya aku harus menemui Paktriak" Ryu melangkahkan kakinya keluar kamar.
__ADS_1