
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Kalian tau artinya itu? berarti Segel mereka akan semakin melemah dan mereka akan bangkit kembali untuk mengacaukan Dunia ini." ucap Li Chun.
" Senior, lalu apa yang harus kami lakukan? " Ting Ye tidak mau peristiwa itu akan terjadi lagi.
" Para Bawahan dari Tiga Raja itu sudah mulai bergerak melakukan kekacauan di Empat Benua besar ini dengan bantuan dari Manusia, Hewan Roh dan Peri yang bersekutu dengan mereka." ucap Li Chun.
" Apa salah satunya adalah Manusia Rawa? " Tanya Ryu.
" Kamu benar. Tapi itu bukan kekuatan yang sesungguhnya, mereka hanya salah satu dari pembuat kekacauan. Untuk itu aku akan mengangkat kalian menjadi Muridku." ucap Li Chun.
" Kalau jadi Murid aku tidak mau karena AU sudah banyak memiliki Guru." Ryu mengeluarkan Mutiara Kerang Langit yang telah dimasukkan lingkaran pola yang rumit.
" Wuush" Ryu melemparkan Mutiara tersebut membuat gumpalan Cahaya dari Li Chun tersedot ke dalam Mutiara Kerang tersebut.
" Sekarang kamu punya dua pilihan. Kamu mau dijadikan Pil Roh atau menjadi bawahanku? " Ryu memasang wajah jahatnya.
"...." Ting Ye terdiam tidak bisa berkata apapun atas tindakan Ryu karena telah menganggap Dewa yang selalu diagungkan kini malah ingin dijadikan Bawahan bahkan ingin dijadikan Pil.
" Anak Muda, apa yang Kamu lakukan? " Li Chun bersuara keras menandakan sebuah kemarahan.
" Aku sudah memberimu pilihan. Jika kamu ingin dijadikan Pil Roh, maka Pecahan Jiwamu selamanya akan menghilang dan sudah seharusnya karena kamu sudah mati. Tentu saja akan membantuku bisa mencapai Pendekar Bumi Tahap Akhir. Ryu mengambil kembali Mutiara tersebut.
" Jika kamu ingin menjadi bawahanku, maka kamu akan mendapatkan wujud baru." Ryu menciptakan Naga berukuran 100 Meter hampir memenuhi Ruangan.
" Gege... Naga itu?" Ting Ye merasa ketakutan.
" Haahh... baiklah, aku akan menjadi bawahanmu." Li Chun dengan nada lesu tidak rela jiwanya dijadikan sebagai Pil Roh meskipun kedua pilihan tersebut sama-sama membuatnya Rugi.
" Kau memiliki pilihan yang tepat." Ryu melepaskan Qi miliknya membuat Mutiara Kerang tersebut melayang di udara lalu menyatu dengan Naga Petir yang diciptakan Ryu, seketika Naga tersebut mengecil membentuk cahaya hingga terlihat seorang Pria Paruh Baya.
" Tidak buruk." Li Chun memeriksa sekujur tubuhnya lalu membentuk cahaya masuk ke Kening Ryu.
Terlihat sebuah Tatto Bintang segi lima yang bercahaya Putih kemudian secara perlahan menghilang dan kening Ryu seperti semula.
" Gege... Apa itu tadi? " Ting Ye kebingungan karena baru pertama kali melihat kejadian seperti itu.
" Itu adalah Wujud Energi Manusia Berkepala Hewan yang pernah aku kumpulkan. Sayangnya tidak ada di Dunia Abadi ini." Ryu mengerutkan kening sambil memperhatikan bagian Goa.
" Tidak masalah... Aku masih memiliki tiga Naga yang lain, jadi yang diperlukan hanya kepingan jiwa lagi." Ryu mengambil beberapa Sumberdaya yang ada di tempat tersebut.
__ADS_1
" Gege... Apa kamu masih memiliki tiga Naga Lain? " Ting Ye sedikit penasaran sambil membantu Ryu untuk mengambil beberapa Sumberdaya.
" Mmmmm. Nanti kamu akan tahu." Ryu sambil melakukan kegiatannya.
" Mmmm." Ting Ye hanya mengangguk.
Selesai mengumpulkan Sumberdaya, Ryu dan Ting Ye kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju bagian luar Hutan.
Pada saat Pertengahan perjalanan mereka disambut oleh Raja Serigala yang sudah mencapai Tingkat Bumi Tahap Awal beserta Pasukannya.
" Ggooooaaarr " Raja Serigala memberi instruksi kepada bawahannya.
' Cermin Neraka '
Ryu berencana untuk membereskan Serigala secepat mungkin.
" Apa? bagaimana mungkin." Ryu kebingungan karena Teknik yang dia ciptakan tidak mempan.
" Gege... Raja Serigala itu memiliki Darah Suci." Ting Ye membuyarkan lamunan Ryu sambil menghalau serangan dari Kelompok Serigala.
" Aku mengerti sekarang." Ryu mengambil Pedang Naga Petir menghadang Kelompok Serigala yang menyerangnya.
Kelompok Serigala terlihat sangat lincah, membuat Ryu sendiri terlihat kewalahan ' Serigala ini hampir menyamai Kekuatan fisikku.' Ryu menghindar sambil mencari celah untuk menyerang balik.
' Jadi ini yang dimaksud Guru mengenai Hewan Roh di Dunia Abadi? Sungguh perbedaan yang signifikan.' Ryu tidak menyangka Kelompok Serigala yang masih berada di Tingkat Alam tahap Akhir mampu menghalau serangan Ryu.
Beruntung saja Ryu dan Ting Ye memiliki Senjata Roh tingkat Langit hingga mampu membuat luka kepada Serigala tersebut.
Terlebih untuk Ryu yang memiliki Petir Hitam yang bercampur Racun, setiap luka sayatan yang ditimbulkan membuat Serigala tersebut merasakan organ tubuh mereka seakan terbakar hingga secara perlahan tenaga mereka menurun drastis.
Raja Serigala yang menyaksikan bawahannya bisa dikalahkan, merasa marah langsung menyerang ke arah Ting Ye.
" Ggooooaaarr" Auman yang sangat kuat dari Raja Serigala membuat tekanan udara menyebar menyerang mereka berdua.
" Langkah Hantu Harimau Petir" Ryu menghadang dan menyerang balik ke tubuh Raja Serigala.
" Bboooom." Raja Serigala Terpental menabrak beberapa bawahannya
" Terimakasih Gege " Ting Ye tersadar jika Raja Serigala berniat menyerang tiba-tiba.
" Mmmm" Ryu mengangguk langsung menebas Kelompok Serigala tersebut.
Ryu yang menggunakan Teknik Langkah Hantu Harimau Petir kini dengan ganas mengayunkan pedangnya menebas leher Serigala satu-persatu hingga mencapai Raja mereka.
Sayatan demi sayatan yang dilakukan Ryu membuat Raja serigala Kewalahan karena Energinya menurun secara drastis meskipun mencoba untuk menghindar.
" Crraaash." Ryu langsung memotong Leher Raja Serigala yang sudah kehilangan tenaga.
Setelah berhasil membunuh Raja Serigala, Ryu kembali membantu Ting Ye untuk membereskan sisa Serigala yang masih menyerang Ting Ye.
Berkat bantuan Ryu, Ting Ye mulai bisa bergerak bebas melancarkan serangannya hingga tidak ada satu pun yang tersisa.
" Sebaiknya kita harus istirahat, karena hari mulai gelap, kita sudah terlalu jauh memasuki Hutan." Ryu mengambil Inti Roh Serigala satu-persatu.
" Gege... kenapa kita tidak lanjutkan saja?" Ting Ye berniat ingin meninggalkan Hutan secepatnya sambil membantu mengambil Inti Roh Mayat Serigala.
" Kita sudah terlanjur masuk ke sini, jadi tidak ada salahnya jika kita sambil mencari beberapa Hewan Roh atau Sumberdaya yang ada di tempat ini " Ryu mengimbas tangannya membawa Mayat tersebut ke Dunia Quzhu.
Ryu memang bisa menggunakan Teknik Teleportasi, tapi dia harus mengetahui terlebih dulu seluruh wilayah dimana tempat dia tinggal sekarang dengan tujuan tidak ada satupun yang terlewatkan.
Saat berada di Dunia Quzhu, Ryu dan Ting Ye langsung beristirahat kemudian keesokan pagi di Dunia Quzhu Ryu membuat beberapa Pil Roh dari Inti Roh yang mereka kumpulkan.
__ADS_1
Begitu juga dengan Ting Ye, dia fokus untuk meningkatkan Fondasi agar cepat mencapai Tingkat Naga Langit.
Hingga keesokan pagi di Dunia Abadi mereka kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai ke jalan Utama tanpa mengalami kesulitan meskipun dihadang Sekelompok Hewan Roh namun dapat dikalahkan dengan mudah.
Sebelum mencapai Kota Heson, mereka menuju Markas Manusia Rawa terlebih dulu dimana mereka harus menundukkan Pemimpin mereka seperti cara yang sebelumnya.
Selesai mengumpulkan semua Pemimpin Manusia Rawa, Ryu dan Ting Ye langsung menuju ke Kota Heson yang kini tidak jauh dari depan mereka.
Di dalam Kota Heson Ryu dan Ting Ye merasa heran karena tidak terlihat penduduk satupun.
" Ye'er... kenapa Kota ini terlihat sepi?" Ryu sambil memperhatikan keadaan sekitar.
" Mungkin saja mereka diungsikan oleh Walikota karena takut akan diserang oleh Manusia Rawa." Ting Ye memprediksi.
" Kalau begitu, cuma tempatmu saja yang terlihat Ramai. Karena dari keempat Kota yang aku kunjungi cuma Kota Linka yang Aman." Ryu sambil menatap ke arah Ting Ye.
" Itu karena kami melawan. Seluruh Tembok kami pasang banyak jebakan." jawab Ting Ye.
" Sungguh Istri yang cerdas." Ryu tersenyum sambil mengusap rambut Ting Ye.
" Kalau cuma diam saja, Manusia Rawa itu akan bisa bergerak bebas. Jika seperti itu terus, maka kami akan kehabisan Pangan, sedangkan Kita tempatku hanya berharap Hasil Alam." Ting Ye menjelaskan keadaan di wilayahnya.
" Gege... lebih baik kita ke kediaman Walikota Heson. Agar mereka tidak terus mengungsi." Ting Ye memberi usul.
" Ye'er... Sebenarnya aku masih belum mengenal tempat ini lebih Jauh. Apakah di Wilayah Kekaisaran Awan tidak ada Sekte yang akan membantu? " Ryu terlihat serius.
" Sebenarnya Banyak sekali Sekte di Wilayah Kekaisaran Awan. Hanya saja mereka lebih memilih untuk mempertahankan Wilayah mereka Masing-masing." Ting Ye menghela nafas panjang.
" Sekte Aliran Putih tidak berdaya karena Aturan yang dibuat oleh Kaisar Zou meskipun mereka ingin membantu Penduduk. Begitupun dengan Sekte Aliran Netral, lebih memilih untuk bertahan, Karena Sekte Aliran Hitam lebih mendominasi karena Bantuan mendapat Sumberdaya begitu berlimpah oleh Kaisar Zou." ucap Ting Ye.
" Kita lihat saja nanti. Aku akan menghancurkan Sekte Aliran Hitam." Ryu mengepal tangannya.
" Gege... Itu tidak mungkin. Banyak Aliran Hitam yang sudah mencapai Pendekar Langit. Jadi kita hanya bisa menekan pergerakan mereka saja." Ting Ye menggelengkan kepala.
" Meskipun Leluhur Sekte tidak Pernah keluar dari latihan tertutup, tapi mereka akan keluar jika Sekte mereka berada dalam bahaya." lanjut Ting Ye.
" Bagaimana kalau Aku akan mencuri Harta mereka dengan Langkah Hantu Harimau Petir milikku?" Ryu dengan senyum Jahat.
" Gege... Kita tidak tau apa yang ada di dalam Sekte. Bukankah Gege lihat sendiri bagaimana Ratu Rubah Langit. Itu salah satu contohnya." Ting Ye menggelengkan kepala mendengar ide dari Suaminya.
" Gege... Dimata Orang lain kadang kita seperti Orang baik, namun di kalangan tertentu justru kitalah yang seperti Orang jahat. Dan itu semua tergantung dari siapa yang menilai kita. " Ting Ye melanjutkan ucapannya.
" Mungkin Ye'er benar... Baiklah aku tidak akan melakukannya." Ryu mengingat kembali saat dia bertarung dengan Ratu Rubah Langit. Untung saja dia bisa selamat, jika saja Ratu Rubah Langit membunuhnya itu hal yang mudah.
" Gege...Aku tidak ingin kehilanganmu, itulah kenapa aku melarang." Ting Ye menatap Ryu penuh arti.
" Maaf... Aku berjanji tidak akan bertindak ceroboh " Ryu memegang pundak Ting Ye seraya menatapnya.
" Mmmmm... Sepertinya kita sudah sampai. Biar aku yang bicara dengan mereka." Ting Ye menatap ke arah Pintu Gerbang Kediaman Walikota.
" Mmmmm." Ryu berjalan mengikuti Ting Ye.
" Penjaga... Aku ingin bertemu dengan Walikota. " Ting Ye membuka Cadarnya lalu menutup kembali.
" Ah... Silahkan Walikota Ye." Penjaga terlihat gemetar langsung membuka Pintu Gerbang.
" Gege... Ayo masuk!" Ting Ye menoleh ke arah Ryu lalu menggandeng Tangannya.
Ryu pun langsung masuk menuju ke kediaman Walikota Heson yang terlihat megah, namun tidak semegah Istana Walikota milik Ting Ye
__ADS_1
Ting Ye ( Walikota Linka ) Kultivator Api. Pemilik Tubuh Abadi.