
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
" Teman... Sebagai Syarat utama bergabung dengan Paviliun Kelinci Merah, kamu harus meminum Ramuan ini dulu." Heng Gubeng memberikan sebuah Botol yang berisi cairan merah seperti darah.
" Teman... Kalau boleh tau, apa ini?" Ryu memegang botol tersebut sambil memeriksa.
" Itu adalah Darah Kelinci Merah yang sudah diracik dengan berbagai Sumberdaya dan dilakukan dengan berbagai metode. Dengan begitu kamu akan mengambil keuntungan dari para Wanita yang terkena Racun Kelinci Merah." ucap Heng Gubeng.
" Teman... Apa Racun Kelinci Merah ada Penawarnya? " Tanya Ryu.
" Tidak ada. Penawarnya hanya ketika kita berhubungan badan saja. Teman, kamu cepat minum saja itu." Ucap Heng Gubeng.
" Mmmmmmm." Ryu langsung meminum Ramuan tersebut.
" Teman... Sekarang kamu sudah resmi menjadi anggota Paviliun Kelinci Merah, Sekarang kita akan berpesta." Heng Gubeng mengeluarkan 20 sosok Wanita dari Cincin Ruang miliknya.
" Ampun Tuan, jangan sakiti kami" ucap semua Gadis.
" Hahahaha... Tenang saja Nona Manis, kami akan membuat kalian merasakan kenikmatan yang tiada Tara." Heng Gubeng tertawa Lantang diikuti bawahannya.
" Teman... Kalau boleh tau, apa kita punya rekan lain yang juga punya markas? Ryu bertanya kepada Heng Gubeng.
" Teman... Kalau masalah itu kami tidak Tau, Hanya Tuan Kelinci saja yang mengetahui hal tersebut." Ucap Heng Gubeng.
" Tuan Kelinci? Siapa dia?" Tanya Ryu.
" Dia adalah Salah satu pemimpin Paviliun Kelinci merah. Besok atau lusa Tuan Kelinci akan kemari untuk membawa Wanita yang mereka Pesan." Heng Gubeng ingin segera menebarkan Racun Kelinci Merah pada 20 wanita tersebut.
" Crraaash... Crraaash... Crraaash..." Ryu langsung menebas leher Heng Gubeng beserta bawahannya dengan menggunakan Langkah Hantu Harimau Petir.
" Haaahh... Hampir saja." Ryu mengambil Cincin Ruang Surgawi milik Heng Gubeng.
Melihat aksi yang dilakukan oleh Ryu, 20 Wanita tersebut bergindik ngeri membulatkan mata tanpa ada yang berani bersuara.
" Jangan takut! aku hanya menyelamatkan kalian." Ryu membuka Topengnya lalu melepas ikatan meraka.
' Tampan sekali ' Batin meraka masing-masing saat Ryu membuka Topengnya.
" Lebih baik baik kalian harus cepat pergi dari sini." Ryu membuka Pelindung tersebut.
" Terimakasih Tuan." ucap salah satu dari mereka.
" Mmmmm." Ryu mengangguk sambil menatap mereka yang masih belum bergerak dari tempatnya.
Semua terdiam merasa enggan meninggalkan Pemuda yang ada di depan mereka.
" Apa yang kalian tunggu? Apa kalian ingin diculik oleh Paviliun Kelinci Merah lagi? " Ryu terlihat kesal lalu menuju bagian terdalam Goa.
" Saudari... Apa Pemuda tadi adalah anggota Paviliun Kelinci Merah?" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
" Aku juga tidak tahu. Yang jelas Pemuda itu sangat tampan."
" Aku rasa dia bukan dari Paviliun Kelinci merah. Jika tidak, mana mungkin dia menyelamatkan kita."
" Aku rela terkena Racun Kelinci Merah itu, Jika pemuda itu yang melakukannya." Sosok yang lain berkhayal.
" Aku juga." beberapa wanita menimpal.
" Huusss... Kalian terlalu bermimpi. Pemuda itu aku yakin dia dari Keluarga yang terpandang."
Semua Wanita tersebut berkhayal dengan pemikiran mereka masing-masing.
Di bagian terdalam Goa, terlihat puluhan Wanita tanpa sehelai kain sedikitpun yang berada di lorong seperti sebuah penjara.
Para wanita yang melihat kedatangan Ryu, sontak kaget namun masih menyimpan trauma yang membuat mereka tidak berani berkata apapun.
Ryu yang melihat Pemandangan tersebut merasa geram mengutuk keras tindakan dari Paviliun Kelinci Merah.
Dalam keadaan terpaksa, Ryu Membuka dan melepaskan ikatan meraka yang diikat dengan dirantai Besi.
" Terimakasih Tuan." ucap meraka serempak.
" Mmmm... Pasang Pakaian kalian dan cepat pergi dari sini." Ryu keluar dari lorong tersebut lalu melanjutkan penelusuran.
" Siapa Pemuda tampan itu? Aku ingin sekali mendekatinya." Bisik Beberapa Wanita tersebut.
" Huusss... Kalian terlalu berkhayal. Lihat diri kita sekarang! Apa mau Pemuda itu menikahi kita sementara sementara tubuh kita sudah kotor." ucap salah satu dari mereka.
" Benar... lebih baik kita Pasang Pakaian kita dan tinggalkan tempat ini secepatnya." ucap yang lain.
" Mmmmmmm." mereka langsung memungut Pakaian di depan mereka masing-masing.
Di dalam bagian dasar Goa, Ryu melihat Dua Sosok Wanita Cantik yang sedang terkurung di balik jeruji besi.
" Kalian Cepat pergi dari sini sebelum anggota Paviliun Kelinci merah datang kesini." Ryu melepaskan mereka dari jeruji tersebut.
"Terimakasih atas pertolongan Saudara."
Kedua Wanita tersebut terlihat senang dengan kedatangan Pemuda yang sangat tampan menolong mereka.
" Mmmmmm." Ryu mengangguk sambil berjalan keluar Goa.
" Saudara, jika boleh Tau siapa namamu?" tanya salah satu Wanita tersebut.
" Namaku Ryu. sepertinya kalian tidak diperlakukan seperti yang lain." Ryu menoleh ke arah kedua wanita tersebut masih memiliki Yin Murni.
" Namaku Mu Nalan, itu karena kami akan dijual ke Kekaisaran lain dan paling tidak kami akan dijual kepada para Bangsawan ataupun Rumah Bordil. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih, jika tidak kami tidak tau apa yang akan terjadi." Mu Nalan merasa bersyukur atas pertolongan dari Ryu
" Namaku Ling Ying, Sekali lagi aku ucapkan terimakasih atas pertolongan Saudara. jika tidak, mungkin kami akan mengalami hal yang sama." Ling Ying menundukkan kepala.
' Klan Ling? ' Ryu membatin seraya menghentikan langkahnya.
" Saudara Ryu, ada apa? " Mu Nalan melihat langkah Ryu terhenti.
" Tidak ada, hanya saja aku berfikir Paviliun Kelinci Merah ini sangat sulit ditemukan." Ryu mengalihkan pembicaraan.
" Itu benar.. Bahkan aku sendiri tidak luput dari sasaran mereka. Sekte Kuil Bambu pasti akan mencariku." ucap Ling Ying.
" Nasib kita sama. Itu karena salahku sendiri, Orang Tuaku melarangku Keluar dari Kota Anhui. Saudara Ryu, apa kamu mau mengantarku ke Kota Anhui? Tenang saja, nanti aku akan memberitahukan hal ini kepada Orang Tuaku agar memberikan Hadiah kepadamu." Mu Nalan berfikir ingin mencari kesempatan bersama dengan Ryu.
" Sepertinya kita Searah... Jika Saudara Ryu ke Sekte Kuil Bambu, Maka Sekte Kuil Bambu pasti akan memberikan Hadiah bahkan mengangkat mu menjadi Murid Sekte." Ling Ying tidak ingin kalah dari Mu Nalan.
" Aku ada urusan... Masih banyak anggota Paviliun Kelinci Merah berkeliaran, meraka sangat meresahkan warga." Ryu sebenarnya ingin pergi ke Kota Anhui ataupun Sekte Kuil Bambu. namun karena Paviliun Kelinci Merah masih bebas berkeliaran, maka dia mengurungkan niatnya.
" Aku Ikut." Jawab mereka serempak.
" Haaahh... " Ryu yang sampai di mulut Goa masih melihat Para Tawanan Wanita belum pergi.
" Tuan..." Sambut meraka serempak.
__ADS_1
" Ada apa lagi? Bukankah sudah aku bilang agar kalian cepat meninggalkan tempat ini? Ryu menggelengkan kepala.
" Tuan... Rasanya ada yang kurang jika kami tidak memberikan sesuatu sebagai ucapan terimakasih." beberapa wanita beralasan.
" Aku tidak butuh Imbalan, lebih baik kalian pergi dari sini. Aku tidak menjamin keamanan kalian jika anggota Paviliun Kelinci Merah datang kesini." Ryu merasa heran atas tindakan mereka.
" Pergi dari sini Sekarang juga! Atau..." Ling Ying menatap tajam ke arah mereka.
" Ba... Baiklah." mereka langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut.
" Haaahh... Kalian juga cepat pergi! " Ryu menatap ke arah Ling Ying dan Mu Nalan.
" Gege... Aku ikut denganmu! Apa kamu membiarkan seorang wanita melakukan perjalanan seorang diri?" Ling Ying seakan Enggan melepaskan Ryu begitu saja.
" Aku juga ikut. Akan sangat berbahaya jika aku melakukan perjalanan seorang diri." Mu Nalan ikut menimpal.
" Kau..." Ling Ying terlihat geram sambil menatap Mu Nalan dengan tajam.
" Kau sendiri mau Apa? Kalau begitu kita berdua harus pergi bersama. Bukankah itu adil?" Mu Nalan menatap balik ke arah Ling Ying tidak mau kalah.
" Haaah..." Ryu mempercepat langkahnya tanpa memperdulikan meraka berdua.
" Gege.. Tunggu." Ling Ying dan Mu Nalan berlari mengejar Ryu.
Setelah berjalan cukup jauh Ryu menghentikan langkahnya merasa tidak enak karena kedua Wanita tersebut terus mengejarnya.
" Gege... Apa dengan begini caramu memperlakukan seorang Wanita?" Mu Nalan berkata dengan nafas memburu.
" Gege... Kamu harus mengantar kami sampai tujuan." Ling Ying bersuara dengan nafas terputus-putus.
" Kalian begitu keras kepala. Baiklah... Aku akan mengantar kalian, tapi aku tidak menjamin keamanan kalian." Ryu sedikit mengancam meskipun dia sadar jika kedua Wanita tersebut melakukan perjalanan sendirian, bukan tidak mungkin mereka akan tertangkap lagi.
" Mmmmmm." mereka mengangguk setuju.
......................
Beberapa Hari sebelumnya:
Di wilayah terlarang sebuah Sekte, terdapat sebuah Menara yang sangat tinggi berwarna Merah, terlihat sosok Wanita Cantik bergaun Putih corak Biru laut yang sedang duduk di atas Puncak menara tersebut sambil memperhatikan wilayah di sekelilingnya.
" Haaahh.... Masih beruntung disini banyak menyimpan Sumberdaya, jadi aku tidak akan kelaparan." Tianhe menatap sekelilingnya lalu berjalan menuju sebuah kursi
" Sayang... Tunggulah sampai aku menyempurnakan tubuh baru ini." Tianhe mencari tempat untuk duduk bersila.
Tianhe : Pemilik Tubuh Abadi dari Ratu Merak ( Leluhur Sekte Menara Awan ) Kultivator Cahaya + Angin.
......................
Di sebuah tempat terlihat Cheng Chuang bersama kelompoknya sedang berjalan melewati Jalan setapak sambil berbincang kecil.
" Saudara Chuang, Apa benar yang memukul kita hingga Pingsan itu adalah Yang Mulia Kaisar baru? " Tanya sosok yang disampingnya.
" Benar Saudara Yuchen. Yang Mulia Kaisar meminta kita untuk Ke Istana Kaisar. " Cheng Chuang memperlihatkan sebuah surat.
" Apa? Jadi Jenderal? " Cheng Yuchen sontak kaget melihat isi dari Surat tersebut.
Para kelompok yang lain juga terkejut setelah mendengar ucapan dari Cheng Yuchen merasa hal itu sangat mustahil.
" Awalnya aku juga tidak percaya dengan ini. Tapi setelah melihat Cap dan tetesan darah ini, aku sangat yakin." Ucap Cheng Chuang.
" Pantas saja Kekaisaran Awan mengadakan Sayembara dengan gajih yang sangat menggiurkan." Ucap Cheng Yuchen.
" Aku rasa tidak ada salahnya jika kita mengabdikan diri kepada Kaisar Ryu. Apalagi sampai dia sendiri yang ikut turun tangan, Itu berarti Kaisar Ryu membutuhkan banyak Prajurit untuk melindungi seluruh Wilayah Kekaisaran Awan." Cheng Chuang merasa terpanggil untuk menjadi Prajurit Kaisar.
" Kamu benar... Bukankah kita dari dulu selalu melawan ketidakadilan dengan sukarela. Tapi sekarang keberuntungan Langit hadir di tengah kita." Ucap Cheng Yuchen.
" Mmmmm. Dengan gajih sebesar itu, kita bisa menggunakannya untuk membeli Sumberdaya ataupun sebagai kebutuhan hidup sehari-hari." Cheng Chuang melangkahkan kaki menuju Ibu Kota Hasperia bersama yang lain.
__ADS_1