SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
CHANG'AN 3


__ADS_3

Setelah membunuh semua anggota Organisasi Kapak Dosa, Ryu pun kembali ke dalam Kota Chang'an dimana para Penjaga Gerbang sudah membuka kembali Pintu Gerbang.


" Terimakasih atas bantuan Tuan Pendekar." Jenderal Mao berlari ke arah Ryu hingga berlutut di depannya.


Melihat apa yang dilakukan oleh Jenderal Mao, semua Prajurit pun melakukan hal yang sama langsung berlutut di hadapan Ryu.


" Terimalah hormat kami pada Tuan Pendekar." Ucap semua Prajurit serempak.


" Bangunlah! Kalian tidak perlu melakukan hal seperti itu. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan." Ryu merasa tidak enak atas tindakan mereka yang menurutnya terlalu berlebihan.


Mendengar apa yang dikatakan Ryu, Jenderal Mao dan Prajurit pun bangkit kembali karena telah menganggap Ryu sebagai Pahlawan di kota Chang'an.


Beberapa Pengawal Penginapan Giok Bulan yang berniat untuk membantu Prajurit kini hanya diam mematung ternyata kelompok organisasi Kapak Dosa dapat dikalahkan oleh satu orang saja.


" Lebih baik kita kembali ke Penginapan Giok Bulan dan melaporkan kejadian ini." Ucap salah satu dari Pengawal tersebut.


" Mmm." Yang lain mengangguk lalu meninggalkan tempat tersebut.


Setelah berbincang beberapa saat dengan Jenderal Mao mengenai rencana penyerangan terhadap Kerajaan Pasir Putih, Ryu pun berpamitan untuk kembali ke Penginapan Giok Bulan.


" Prajurit... Bakar semua mayat disana agar tidak menimbulkan penyakit. Setelah itu kalian boleh kembali ke tempat masing-masing." Jenderal Mao memberi perintah saat Ryu sudah pergi, lalu berjalan menuju kediaman Walikota Tan Tihuna untuk melaporkan kejadian tersebut.


Begitupun dengan Prajurit, mereka langsung keluar dari Gerbang Kota untuk membakar mayat dari organisasi Kapak Dosa.


*****


( Di Penginapan Giok Bulan)


" Istriku... Ternyata Pemuda yang dari Sekte Gunung Phoenix itu bukan orang biasa. Aku melihat sendiri bagaimana dia bisa membunuh kelompok organisasi Kapak Dosa dengan mudah." Ucap sosok Pria pengawal Penginapan Giok Bulan sekaligus Suami dari Liem Ao Ai.


" Syukurlah... Kalau begitu kita bisa menyetor hasil pendapatan Penginapan Giok Bulan kepada Nyonya besar Jiang Caiping." Liem Ao Ai terlihat senang.


" Kalau begitu, biar aku sendiri yang mengantarnya." Suami Liem Ao Ai menawarkan diri.


" Haaahh... Bilang saja kalau kamu ingin bertemu dengan kelima Pengawal yang ada di Gunung Cahaya Bulan itu." Liem Ao Ai terlihat kesal karena dia mengetahui bahwa suaminya tersebut sangat tertarik kepada kelima Pengawal pribadi Jiang Caiping.


" Tidak Istriku... Mana mungkin aku seperti itu, lagi pula sekarang aku sudah menjadi milikmu." Goda Pria tersebut kepada Liem Ao Ai meskipun dia sendiri sebenarnya memang ingin mendekati kelima Pengawal pribadi Jiang Caiping.

__ADS_1


Meskipun baginya Liem Ao Ai sangat cantik, namun kelima Pengawal pribadi Jiang Caiping tidak kalah cantik.


Apalagi setelah mendapat penolakan dari kelima Pengawal tersebut, Suami Liem Ao Ai malah semakin bersemangat untuk mendekati mereka.


" Dasar Pria yang tidak bisa dipercaya." Ketus Liem Ao Ai masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Suaminya.


" Lalu siapa lagi yang kesana jika bukan aku? Apa kamu ingin meminta bantuan dari Pengawal yang lain?" Tanya Pria tersebut.


" Haaahh... Baiklah, sepertinya aku tidak punya pilihan lain." Liem Ao Ai memberikan lima kotak besar yang berisi Batu Roh.


" Tenang saja Istriku... Jika kamu semakin marah, kamu malah terlihat semakin cantik." Goda Pria tersebut sambil memasukkan kelima kotak tersebut ke Cincin Ruang miliknya.


' Haaahh... Sepertinya Kotak ini diberi segel. Jika aku membukanya dengan paksa, maka aku akan ketahuan. Jika seperti ini aku tidak bisa bersenang-senang di rumah bordil.' Pria tersebut membatin sambil memikirkan cara untuk mendapatkan Batu Roh sebanyak mungkin agar bisa memenuhi keinginannya ke rumah bordil.


" Ah... Gege... Kamu bisa saja. Jadi kapan kamu berangkat? " Liem Ao Ai menoleh ke arah Suaminya itu.


" Mungkin aku akan berangkat sekarang juga. Lebih cepat lebih baik." Ucap Pria tersebut.


" Kenapa tidak besok pagi saja? Aku masih pengen ini." Liem Ao Ai memegang sesuatu di balik kedua kaki suaminya.


Merasakan sentuhan tangan dari Liem Ao Ai, naluri seorang pria normal dari Suaminya tersebut langsung bangkit.


" Istriku... Aku akan pergi dulu! Setelah semua selesai, aku akan cepat kembali. Tapi aku butuh Batu Roh lebih banyak lagi untuk keperluan perjalananku." Ucap Pria tersebut sambil mencium kening Liem Ao Ai.


" Bukankah Gege juga punya pendapatan sendiri? Apa itu tidak cukup? " Tanya Liem Ao Ai.


" Semua sudah aku habiskan untuk meminum Arak bersama rekan-rekanku saat di kedai. Aku tidak enak jika tidak mentraktir mereka, apalagi selalu menjadikan alasan bahwa suami seorang Manager bisa miskin. Jelas saja aku tidak terima hal itu, karena aku sangat mencintaimu." Pria tersebut memainkan drama agar keinginannya terpenuhi.


" Haaahh... Baiklah! Aku rasa ini sudah cukup. " Liem Ao Ai terbuai dengan pujian dari suaminya tersebut dengan memberikan 50.000 Batu Roh.


" Terimakasih Istriku. Kamu sangat baik sekali." Pria tersebut mencium kening Liem Ao Ai lalu meninggalkan ruangan keluar dari Penginapan Giok Bulan.


Dalam hati Pria tersebut sangat senang, karena bisa mendapatkan Batu Roh sebanyak itu hanya dengan bermodal rayuan gombal kepada Istrinya.


Dengan 50.000 Batu Roh di tangannya, Pria tersebut bisa bersenang-senang di rumah bordil. Apalagi ditambah dengan pendapat yang dia kumpulkan selama bekerja di Penginapan Giok Bulan.


" Saudara... Ada angin apa kamu hari ini begitu bersemangat." Sosok Pria lain yang berjalan mengikuti suami Liem Ao Ai.

__ADS_1


" Benar Saudara... Nanti malam kita bisa bersenang-senang sepuasnya. Apa kamu juga sudah memiliki banyak Batu Roh?" Tanya suami Liem Ao Ai.


" Tenang saja Saudara. Ternyata rencana kita telah berhasil. Apalagi dengan kematian kelompok organisasi Kapak Dosa, jadi kita bisa bebas di rumah bordil. Aku juga banyak mendapatkan Batu Roh dari kedua Istriku. Kamu tau sendiri kan kedua Istriku itu berasal dari keluarga Bangsawan, jadi tidak sulit untuk mereka memberikannya." Ucap rekannya tersebut.


" Kamu lebih enak bisa mendapatkan dua Istri sekaligus. Sedangkan aku masih ada satu. Itulah kenapa aku mengajakmu ke Penginapan Giok Bulan yang ada di Gunung Cahaya Bulan. Kamu tau sendiri kan disana ada lima wanita yang cantik. Jika aku berhasil menjadi Suami mereka, maka aku tidak perlu repot-repot lagi menjadi Pengawal Penginapan Giok Bulan di kota Chang'an ini." Ucap Suami Liem Ao Ai.


" Bukankah kelima wanita itu sudah memiliki Anak? Yaaah... Walaupun mereka belum berhasil menemukan Ayah kandung anak mereka. Jadi apa kamu mau menjadi Ayah dari kelima anak itu? " Tanya rekannya.


" Dulu aku memang tidak ingin menjadi Ayah dari kelima anak itu. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Demi mendapatkan kelima kanita itu, aku harus melakukannya." Ucap suami dari Liem Ao Ai.


" Cukup masuk akal. Lagi pula wanita mana yang bertahan lama hidup sendirian tanpa sentuhan dari sosok Pria." Ucap rekannya.


Mereka pun berjalan menuju Pintu Gerbang Kota Chang'an berniat untuk melakukan perjalanan ke Kota Hasperia.


*****


Di dalam Penginapan Giok Bulan, terlihat Ryu sedang duduk bersila untuk meningkatkan Aura Dewa Agung dan meningkatkan tubuh Dewa Agung.


" Tok... Tok... Tok.... " Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar yang membuat Ryu membuka mata.


" Siapa?" Tanya Ryu sambil bergegas dari tempat duduknya.


" Saya Tuan... Ingin membawa makanan untuk Tuan." ucap Pelayan dari luar pintu.


" Silahkan masuk." Ryu menghela nafas seraya membuka pintu kamar.


" Permisi Tuan." Pelayan tersebut masuk ke dalam kamar lalu menaruh hidangan tersebut di atas meja makan.


" Pelayan... Aku tidak memesan Arak." Ryu mengerutkan kening saat melihat di atas meja terdapat tiga guci arak.


" Arak ini adalah arak terbaik disini Tuan. Manager Ai sendiri yang memberikannya sebagai ucapan terimakasih karena telah membantu Prajurit untuk mengalahkan Organisasi Kapak Dosa." Pelayan menjelaskan tentang Arak tersebut karena dia berpikir bahwa Ryu pasti akan menyukai arak tersebut.


" Terimakasih Pelayan... Tapi aku tidak bisa meminum arak itu." Ryu menggelengkan kepala karena dalam hidupnya hanya sekali meminum arak. Itupun membuat dia kehilangan kesadaran dan berakhir melakukan sesuatu kepada Huli Yue saat berada di Dunia Fana.


" Kalau begitu, aku pamit dulu Tuan." Pelayan meninggalkan kamar tersebut kembali ke tempatnya bekerja tanpa memperdulikan ucapan dari Ryu, karena dia berpikir bahwa Ryu memperhitungkan harga dari arak tersebut yang sangat mahal.


Ryu pun menikmati hidangan tersebut, namun tidak berani menyentuh arak yang di depannya tersebut karena tidak terbiasa.

__ADS_1


Setelah melahap makanannya, Ryu bergegas dari meja makan mencari tempat duduk untuk Berkultivasi.


__ADS_2