SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
PENYESALAN


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏


...****************...


Para anggota Sekte Ular merasa khawatir karena sosok yang mereka lawan sekarang memiliki Teknik aneh yang mampu menahan gerakan mereka.


Dengan penuh kehati-hatian mereka mencoba kembali menyerang ke arah Ryu, namun tetap saja saat mereka berjarak sekitar 20 meter, mereka dapat merasakan tekanan yang sangat menakutkan karena setiap pergerakan mereka semakin melambat.


Yang lebih parah lagi, saat mereka sudah berjarak 10 meter seakan tubuh mereka seperti ditimpa beban berat yang tentu membuat mereka semakin kewalahan.


Disisi lain Ryu yang sudah bangkit , kembali menyerang mereka dengan jarak dekat sambil melancarkan serangannya dengan sebilah Pedang di tangannya menyerang balik ke arah lawan.


Dengan wawasan para Tetua tersebut, bahwa Ryu memiliki Teknik yang bukan berasal dari wilayah Kekaisaran Awan ataupun Kekaisaran Shin melainkan wilayah Kekaisaran Han atau Taiyang.


Namun ada juga yang beranggapan bahwa Ryu menggunakan Aura Pembunuh atau sejenisnya yang mengganggu konsentrasi pihak lawan.


Satu-persatu Ryu berhasil membunuh anggota Sekte Ular dimana saat mereka ada celah, disitu Ryu melancarkan serangan terkuatnya.


Merasa tidak mampu untuk melawan Ryu, salah satu Tetua menoleh ke belakang dimana tempat Tetua Agung dan Guru Agung berada.


Namun kali ini mereka terlihat murung karena sosok yang mereka harapkan sudah tidak ada di tempat.


" Tetua." Tetua yang lain mengisyaratkan agar mereka memilih untuk mundur.


Mendapatkan isyarat tersebut para Tetua yang lain mengangguk setuju secara diam-diam meninggalkan area pertarungan dengan teknik meringankan tubuh.


Mereka berfikir dari pada mendapatkan kerugian banyak, lebih baik mereka mengorbankan Murid Sekte Ular dimana terdapat 47 orang tersebut.


Setelah beberapa Ryu baru menyadari bahwa Tetua Agung, Guru Agung, Jinying dan dua Tetua yang lain sudah menghilang, dengan sedikit kesal Ryu berusaha secepat mungkin untuk mengalahkan lawan yang ada di depannya yang seakan terus menyerangnya.


Setelah melakukan pertarungan cukup lama, kini dari 47 orang anggota Sekte Ular hanya tersisa sepuluh Orang yang sudah dalam keadaan terluka.


Dengan tenaga yang tersisa Ryu terus melancarkan serangannya hingga beberapa saat mereka semua sudah mati.


Dengan cepat Ryu mengambil Cincin dan menarik mayatnya ke Dunia Quzhu.


Merasakan kehadiran beberapa orang yang menuju arah Pertarungan, Ryu dengan cepat meninggalkan tempat tersebut agar keberadaannya tidak diketahui.


Setelah berada di tempat yang aman, Ryu kembali berubah wujud menjadi warga biasa berjalan dengan santai sambil mencari keberadaan Jinying dan yang lain.

__ADS_1


Namun sudah lama Ryu mencari keberadaan mereka, tapi masih belum menemukan tempat mereka untuk bersembunyi.


Dengan penuh kekesalan Ryu kembali ke Penginapan Giok Bulan dimana tempat tinggalnya untuk sementara.


Sesampai di Penginapan Giok Bulan Ryu langsung menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri dan melanjutkan untuk menyerap Inti Roh Kadal ungu dimana sebelumnya sempat tertunda.


...----------------...


Di pinggir Hutan terdapat sebuah Goa kecil dimana terlihat Tetua Agung, Jinying dan Bu Jing Yu.


" Kenapa kamu membawa kami kesini?" Bu Jing Yu terlihat kesal dengan sikap Tetua Agung mereka.


" Apa kalian tidak lihat kekuatan mengerikan dari Pemuda itu?" Tetua Agung memiliki insting yang peka merasakan jika mereka terlalu lama beranda di tempat pertarungan Ryu dan anggota Sekte Ular, tentu saja akan membuat mereka mengalami masalah.


Sebenarnya Bu Jing Yu bukan mempermasalahkan hal itu, namun dia berfikir jika bersama dengan Ryu Bu Jing Yu hidupnya akan bahagia.


Bu Jing Yu merasa heran dengan pemikiran dari Jinying yang memilih Tetua Agung sebagai pendamping hidupnya, jika difikir Ryu lebih sempurna dibandingkan dengan Tetua Agung.


Namun disisi lain Bu Jing Yu juga merasa bersyukur karena dengan Jinying lebih memilih Tetua Agung, maka saingannya untuk mendapatkan Ryu akan berkurang.


" Apa yang dikatakan Tetua Agung itu benar. Jika saja Tetua Agung sendiri tidak mampu mengalahkanku, Apalagi jika berhadapan dengan Kaisar Ryu." Jinying berusaha menenangkan diri merasa sangat menyesal telah meninggal Ryu dan Istrinya yang lain.


Hal yang paling menyakitkan lagi dimana Ryu menganggap bahwa anak dalam kandungannya adalah hasil hubungannya dengan Tetua Agung.


Jika Jinying kembali ke Istana Kekaisaran Awan, maka dapat dipastikan bahwa Ryu dan Istrinya yang lain akan mengusirnya karena mereka menganggap bahwa Jinying telah mengkhianati kepercayaan mereka.


' Nak... Maafkan aku telah membawamu dalam situasi seperti ini.' Jinying menahan rasa sedihnya sambil mengusap perutnya yang tidak lama lagi akan melahirkan.


Sedangkan Bu Jing Yu yang mendengar ucapan dari Jinying, kini memaklumi kekhawatiran Tetua Agung karena mengingat saat dia masih bersama dengan Ryu, Ryu dengan mudah menghalau lawan.


Hal yang paling menyakitkan untuk Bu Jing Yu dimana dia telah memberikan sesuatu yang berharga selama ini dia jaga selama lebih dari seratus tahun.


Tetua Agung berharap agar bayi yang ada di kandungan Jinying akan cepat lahir, dengan begitu Tetua Agung akan melancarkan rencananya untuk menikmati keindahan tubuh Jinying dan Bu Jing Yu sekaligus.


' Serbuk mata merah ini sangat berharga peninggalan dari leluhur, jadi aku akan menggunakannya sebaik mungkin.' Tetua Agung mencoba mengendalikan pikirannya seakan air liurnya menetes saat memandang Jinying dan Bu Jing Yu.


" Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" Jinying yang sudah kehilangan semangat berusaha untuk tegar demi bayi yang ada di kandungannya.


" Aku mendapatkan firasat buruk, tidak lama lagi Sekte Ular akan diserang.' Ucap Tetua Agung.


" Itu tidak mungkin." Bu Jing Yu terlihat khawatir, bagaimanapun dia juga adalah bagian dari Sekte Ular.


" Lebih baik kita Bawa anggota Sekte Ular menuju Kekaisaran Taiyang dimana kita mendapatkan perlindungan dari Sekte Ular disana. Dengan begitu kita bisa mengatur rencana berikutnya." Tetua Agung memberi usul.


" Tapi bagaimana dengan rencana kita untuk menjelajahi Dunia kecil?" Bu Jing Yu merasa tidak ingin meninggalkan Kekaisaran Awan.


" Lupakan masalah Dunia kecil. Disana kita akan lebih banyak mendapatkan Sumberdaya. Dengan begitu saat kita sudah benar-benar Kuat, kita akan memberi perhitungan kepada Kekaisaran Awan." Tetua Agung merasa itu adalah keputusan yang tepat.


" Saudari Jinying, bagaimana pendapatmu?" Tanya Bu Jing Yu.


" Aku hanya ikut keputusan kalian." Jinying merasa semua sudah terjadi, mau tidak mau dia harus memperkuat diri sebelum kembali ke Istana Kekaisaran Awan.


" Baiklah... Kalau begitu kita akan pergi ke Sekte Ular terlebih dulu. Kita tidak punya banyak waktu." Tetua Agung membawa mereka keluar dari Goa.


" Mmm." Jinying dan Bu Jing Yu mengangguk sambil berjalan mengikuti Tetua Agung.


Dalam hati Tetua Agung sangat senang dimana saat berada di Sekte Ular di Kekaisaran Taiyang, maka akan lebih mudah untuknya mendapatkan hati Jinying dan Bu Jing Yu.

__ADS_1


Karena di sanalah dia memiliki pengaruh besar dimana tempatnya berasal, karena Ayahnya sendiri adalah Patriak Sekte Ular dimana sudah mencapai Pendekar Semesta.


...----------------...


Di Dunia Quzhu :


Terlihat 22 Istri Ryu sedang berkumpul untuk membicarakan tentang Dunia kecil.


" Qi'qi, Yue'yue... Apa ada kabar tentang Istana Walikota di Linka?" Tanya Ting Ye.


" Kata Jenderal Yuchen, Walikota Chuang tidak menempati Istana Walikota tempat Ye'ye sebelumnya. Dia lebih memilih untuk tinggal di Istana miliknya sendiri berkat bantuan kita sebelumnya." ucap Ling Queqi.


" Lalu siapa yang menempati Istanaku sebelumnya?" Tanya Ting Ye.


" Tidak ada... Mereka hanya menempatkan beberapa Pelayan untuk merawat tempat itu dan menempatkan beberapa Prajurit terbaik di Pintu Gerbang dan melarang siapapun yang memasuki Istana itu." Ucap Ling Queqi.


" Bagus... Jadi kita tidak perlu repot-repot kesana, karena di kamarku sudah diletakkan Batu Bintang oleh Suami kita." ucap Ting Ye.


" Kalau begitu kita harus membuat Pelindung di Istana itu. Anggap saja sebagai tempat peristirahatan kita juga." ucap Sheng Zhishu.


" Aku setuju... Tapi jangan kasih tau sama Suami kita." Huli Yue berbisik kepada mereka.


" Baiklah... Dengan gabungan Pelindung yang kita miliki, tidak ada yang mampu menembus tempat itu selain kita sendiri." Ucap Yunjiang.


" Sebenarnya aku sudah bosan tinggal disini. Aku ingin berpetualang seperti dulu lagi." Xin Chie terlihat murung mengingat saat kebersamaan mereka bersama Ryu saat menjalani hidup dalam suka dan duka.


" Aku juga berfikir seperti itu. Dunia ini sangat luas, pasti akan sangat menyenangkan jika berpergian bersama Gege." Tianhe terlihat murung.


Mendengar ucapan dari Xin Chie dan Tianhe, Sheng Zhishu, Huli Yue, Yunjiang, Yinshi, dan Yuwang tertunduk lesu membayangkan kebersamaan mereka seperti dulu.


Dengan tingkat Kultivasi mereka sekarang, mereka mereka akan lebih mudah untuk bertarung.


" Aku juga menginginkan hal seperti itu. Meskipun aku hanya sebentar berpetualang bersama Gege, tapi banyak sekali wawasan baru yang aku dapatkan." Xie Hua teringat masa-masa bersama dengan Ryu.


" Meskipun perjalananku bersama Gege hanya sesaat, tapi aku masih menginginkan hal yang baru. Lagi pula aku sekarang bukan lagi sebagai Walikota." Ting Ye merasa akan ada baiknya jika bersama dengan Ryu baik suka maupun duka.


" Aku belum pernah berpetualang sama sekali." Tapi aku juga ingin mencoba mencari pengalaman baru." Ucap Wang Mingjun.


" Aku juga." Shu Meilu, Qin Shuomei dan Li Jilan ikut bersuara.


" Haaahh... Lalu bagaimana dengan kami?" Nan Sian terlihat kesal, dia juga tidak ingin ketinggalan.


" Sian'sian... Sepertinya kamu harus tinggal di Istana Kekaisaran Shin. Biar aku dan Yi'yi menemani Suami kita melakukan perjalanan.


" Itu tidak adil. Aku juga ingin ikut." Ucap Nan Sian.


" Qi'qi... Sepertinya kamu sendiri yang menjaga Istana Kekaisaran Awan. Aku akan pergi bersama Gege." Bing Ruyue juga tidak ingin ketinggalan.


" Haaahh..." Ling Queqi tertunduk lesu.


" Jika kalian ikut semua, Lalu siapa yang menjaga Istana Kekaisaran Awan dan Shin?" Jiang Caiping menggelengkan kepala mendengar ucapan mereka.


" Aku ada ide... Sekarang kan Anggota Klan Liu sudah kembali kesini, dengan begitu kita meminta bantuan mereka." Ling Queqi memberi usul.


" Sebanyak ini? Apa kita harus berjalan bersama Suami kita dengan jumlah seperti ini." Yunjiang menggelengkan kepala membayangkan jika dengan 22 wanita sekaligus menggandeng Ryu dalam perjalanan, Pasti akan banyak menimbulkan perhatian dan pasti akan banyak pertarungan.


" Itu masalah gampang... Kita atur saja secara bergantian sebanyak dua orang. Dengan begitu tidak terlalu mengundang perhatian." Ucap Sheng Zhishu.

__ADS_1


" Cukup masuk akal... Sekarang yang kita butuhkan adalah bagaimana cara mempersiapkan anggota Klan Liu?" Tanya Nan Sian.


__ADS_2