SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
TAMENG KURA-KURA SURGAWI.


__ADS_3

Ryu yang merasakan Aura dari kedua sosok wanita di depannya sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap menengah, langsung mengirim pesan jiwa kepada Sheng Zhishu untuk membantu.


" Wuush." Sheng Zhishu muncul di samping Ryu.


" Pendekar Surgawi tahap menengah." Sheng Zhishu mengerutkan kening hingga terlihat sebuah senyuman lebar ingin menjajal kemampuannya.


Melihat Sheng Zhishu yang muncul tiba-tiba, Guru kedua dan Guru keempat sontak kaget sambil meningkatkan kewaspadaan.


" Gege... Aku ingin menjajal kemampuanku dengan wanita itu." Sheng Zhishu melompat ke arah Guru keempat.


" Cciiihhhh... Jika seperti ini, rencana bisa gagal." Guru keempat menggerutu karena serbuk mata merah berada di tangan Guru pertama, yang tentu akan sangat sulit untuk menjangkau Ryu.


Ryu yang mendapatkan lawan Guru kedua, tanpa menunggu lama langsung melompat ke arah Guru kedua.


Pertarungan sengit antara kedua belah pihak tidak bisa terelakkan lagi, dengan gerakan yang lincah Ryu menciptakan pukulan ke arah Guru kedua.


Melihat serangan itu. Guru kedua tidak tinggal diam langsung menciptakan energi angin mengelilingi tubuhnya menghadang Ryu.


Pertarungan sengit antara Ryu dan Guru kedua kini semakin sengit hingga membuat kerusakan di sekitar mereka.


Setelah memakan waktu yang cukup lama pertukaran serangan dari kedua belah pihak kini semakin kuat hingga terlihat Hutan yang awalnya sangat rimbun, kini telah menjadi lapangan tandus.


" Duaarr... Duaarr... Duaarr." Ryu menjatuhkan Hujan Petir membuat Guru kedua sontak kaget karena tidak mengetahui dari mana asal Petir Hitam tersebut.


Tentu saja Hal itu tidak dia ketahui, karena Ryu hanya menggunakan kekuatan fikiran.


Sambaran Petir tersebut memang tidak terlalu berbahaya bagi seseorang yang sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap menengah karena Ryu masih belum mampu menggunakan kekuatan penuh, namun tetap saja akan membuat lawan terkecoh.


Hal itu dikarenakan Ryu belum mendapatkan Tubuh Dewa Agung dengan sempurna, jika saja Tubuh Dewa Agung seratus persen maka Ryu dapat menggunakan Petir dari Penguasa Elemen Petir dengan kekuatan penuh.


Karena sambaran Petir sudah bersarang pada tubuhnya, Guru kedua mulai merasakan nyeri sambil memeriksa wilayah pertarungan karena dia menganggap ada orang lain.


Ryu yang melihat celah tersebut langsung membuat Bola Petir Hitam mengarah ke Guru kedua.


" Bboooom." Guru kedua yang terlihat lengah tidak sempat menghindar hingga Bola Petir Hitam telah bersarang pada tubuhnya.


" Uhuuk." Guru kedua memuntahkan darah segar.


Baru saja Guru kedua bangkit, kini Ryu sudah berdiri di depannya membuat sebuah pukulan keras kepada Guru kedua.


' Kecepatan macam apa ini.' Guru kedua membatin melihat Ryu sudah berada di depannya tidak sempat menghindar.


" Bboooom." Pukulan keras mengenai tubuh Guru kedua hingga terpental puluhan meter.


Namun Ryu seakan tidak ingin memberikan kesempatan, dengan langkah Hantu Harimau Petir Ryu bergerak cepat ke arah Guru kedua.


" Bboooom." Ryu kembali membuat pukulan keras kepada Guru kedua.

__ADS_1


" Aaarrrggghhhh." Guru kedua yang mendapatkan pukulan tersebut kini tubuh terangkat ke udara merasakan seluruh tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa.


Tidak sampai disitu saja Ryu kembali mengarahkan pukulan keras kepada Guru kedua sebelum menyentuh tanah.


" Bboooom." Tubuh Guru kedua terpental puluhan meter menabrak gundukan tanah hingga menciptakan kawah kecil.


" Uhuuk." Guru kedua memuntahkan segumpal darah merasakan nafas mulai terputus-putus dengan kondisi mengenaskan.


" Tap... Tap... Tap." Ryu berjalan mendekati Guru kedua dengan tatapan dingin.


" Kraaack." Ryu mencekik leher Guru kedua hingga patah dan kehilangan nyawa.


Di pertarungan lain Tou Shuijing yang memiliki ukuran tubuh yang besar dengan mudah melancarkan serangan membuat Guru pertama tidak diberi kesempatan untuk melawan.


Dengan ketujuh kepalanya, Tou Shuijing menyemburkan elemen Api dan Petir ke arah Guru kedua.


" Sial... Jika begini terus, aku akan mati." Guru pertama menggerutu sambil berusaha untuk menghindar dari serangan Api dan Petir tersebut.


Meskipun dari segi tingkat Kultivasi Tou Shuijing berada di bawah satu tingkat dari Guru pertama, namun karena serangan dari Tou Shuijing seakan tidak ada hentinya membuat Guru pertama tidak diberikan kesempatan untuk menyerang.


Sambil mencari celah, Guru pertama berusaha untuk menghindar hingga mendapatkan satu kesempatan.


" Api Penghakiman." Teriak Guru pertama menciptakan puluhan bola Api seakan jatuh dari langit.


" Bboooom... Bboooom... Bboooom." Bola Api mengarah kepada Tou Shuijing dengan wujud Hydra raksasa.


" Ggooooaaarr." Tou Shuijing meraung keras merasakan seluruh tubuhnya seperti terbakar karena bola Api terus menghujam tubuhnya.


" Wuush." Gerakan cepat dari ekor Tou Shuijing seakan membelah udara dengan kecepatan tinggi.


Melihat arah serangan tersebut Guru pertama berkeringat dingin sambil menciptakan perisai elemen Api untuk menahan serangan tersebut karena tidak sempat menghindar.


" Bboooom." Kibasan ekor Tou Shuijing menciptakan gempa kecil hingga membentuk galian dengan tekanan udara yang sangat kuat.


" Uhuuk." Guru pertama memuntahkan segumpal darah merasakan seluruh tubuhnya seakan remuk.


" Wuush." Tou Shuijing menciptakan bola Petir dari ketujuh kepalanya ke arah Guru pertama.


" Bboooom... Bboooom... Bboooom." tujuh bola Petir bertumpu pada tubuh Guru pertama hingga mati dalam kondisi mengenaskan.


Di pertarungan lain juga terlihat Chaizu sedang bertukar serangan kepada Guru ketiga.


Dengan wujud Harimau, Chaizu bergerak dengan lincah menyerang Guru ketiga dari berbagai arah.


Melihat arah serangan Chaizu yang tidak terbaca membuat Guru ketiga merasa frustasi dan berusaha untuk menahan serangan tersebut.


Cakaran demi cakaran yang Chaizu lancarkan membuat tubuh Guru ketiga banyak mengalami luka sayatan.

__ADS_1


Darah segar pun mengalir dari luka sayatan tersebut membuat Guru ketiga semakin pucat karena sudah banyak mengeluarkan darah.


" Ggooooaaarr." Chaizu mengaum keras menciptakan gelombang Petir membuat Guru ketiga terpental puluhan meter.


Tidak ingin menyiakan kesempatan, Chaizu berlari ke arah Guru ketiga sambil mengaum melompat tinggi dan mencakar tubuh Guru ketiga yang masih tergeletak di tanah.


" Kraaack." Leher Guru ketiga patah hingga kehilangan nyawa.


Di pertarungan lain Jiejia pun tidak mau kalah, dengan jaring laba-laba yang dia miliki membatasi ruang gerak Guru kelima.


Guru kelima yang semakin terdesak kini mencoba untuk melepaskan diri dari jaring laba-laba yang mengelilingi tubuhnya.


" Tidak ada cara lain... Aku harus menggunakannya." Guru kelima mengeluarkan sebuah Pedang kembar dari Cincin Ruang.


Dengan adanya kedua pedang di tangannya, Guru kelima menebas jaring laba-laba tersebut hingga terputus.


" Craaash... Craaash... Craaash." Guru kelima bergerak memutar sambil melakukan gerakan seperti sedang menari.


Secara perlahan Guru kelima berhasil keluar dari jaring laba-laba tersebut lalu membuat gerakan yang lincah mengarahkan kedua Pedangnya ke Jiejia.


Jiejia yang melihat hal tersebut bergindik ngeri membayangkan seluruh kaki laba-laba nya terputus oleh kedua pedang tersebut.


" Sleeep... Sleeep." Dua buah jarum racun melesat cepat menancap sempurna di kedua tangan Guru kelima.


" Aaarrrggghhhh." Guru kelima berteriak keras merasakan kedua tangannya hampir tidak bisa digerakkan dengan kedua pedang di tangannya terlepas.


Dengan penuh kebencian Guru kelima menoleh ke arah sumber serangan tersebut dimana Ryu sedang berdiri.


" Dasar licik." Guru kelima bersuara keras ingin menyerang ke arah Ryu.


Namun hal itu segera dihentikan oleh Jiejia, dengan keenam kakinya dia bergerak menghadang Guru kelima.


Dengan bantuan dari Ryu, kini Jiejia terlihat bersemangat seraya melancarkan serangan ke arah Guru kelima.


Karena kedua tangannya tidak mampu digerakkan seperti semula, Guru kelima seakan terlihat pasrah menanti ajalnya.


Tusukan demi tusukan dari kaki Jiejia yang runcing membuat Guru kelima banyak mengalami luka.


Karena sudah banyak mengeluarkan darah, secara perlahan Guru kelima kehilangan tenaga hingga kehilangan nyawa.


Di pertarungan lain Sheng Zhishu yang sedang berhadapan dengan Guru keempat, kini terlihat seimbang.


Dari tingkat Kultivasi, Sheng Zhishu berada di bawah satu tingkat dari Guru keempat, namun dari segi Fondasi Sheng Zhishu jauh lebih kuat.


Hal itulah yang membuat Sheng Zhishu sangat yakin bisa mengalahkan Guru keempat.


Pertukaran serangan itu pun terus berlanjut hingga Guru keempat merasa khawatir karena keempat rekannya sudah dikalahkan.

__ADS_1


Dengan mendorong tubuhnya ke belakang Guru keempat mengeluarkan sebuah tameng yang berukiran Kura-kura.


" Pusaka langit?" Sheng Zhishu menatap tajam ke arah benda tersebut.


__ADS_2