
" Shuijing.... Bawa kapal ini mencari tempat daratan yang aman." Ryu menatap ke arah daratan dari kejauhan.
" Baik Tuan." Tou Shuijing langsung kembali ke dalam kapal lalu membelokkan arah agar tidak terlihat oleh siapapun.
Setelah beberapa saat kini mereka sudah berlabuh di sebuah pantai dimana tempat yang sepi.
Dengan satu kibasan Ryu menarik kapal udara lalu memasukkan ke dalam Cincin miliknya.
" Tuan... Kemana kita akan pergi?" Tanya Tou Shuijing.
" Kita tidak pernah ke Kota pelabuhan, lebih baik kita langsung menuju jantung Benua ini! Aku yakin disana kita akan menemukan keberadaan Penguasa Elemen Api." Ucap Ryu.
" Tuan... Apa Penguasa Elemen itu ada?" Dao Luo mengerutkan kening karena saat menemani perjalanan Ryu, dia sama sekali tidak merasakan apapun kecuali terus mengikuti apa yang diperintahkan oleh Ryu.
" Apa kalian melihat Pulau Melayang saat kita berada di Benua Utara?" Ryu sedikit menyelidik.
Tanpa menjawab apapun Dao Luo, Yan Ran dan tujuh Hewan Kontrak hanya menggelengkan kepala yang menandakan bahwa mereka tidak pernah melihat Pulau Melayang.
Hal itu tentu saja membuat Ryu merasa heran, bagaimana Pulau Melayang sebelumnya sudah ada di depan mata mereka namun tidak ada yang melihatnya.
Saat itu Dao Luo, Yan Ran dan tujuh Hewan Kontrak hanya menurut apa yang diperintahkan oleh Ryu. Dimana mereka hanya melihat Hutan belantara.
Mereka juga melihat jelas bahwa Ryu terbang ke udara hingga langsung menghilang dari pandangan.
" Tuan... Saat itu kami hanya melihat Tuan sedang terbang lalu menghilang. Aku pikir Tuan pergi ke Dunia Quzhu." Ucap Tou Shuijing.
' Sepertinya mereka benar-benar tidak bisa melihatnya.' Ryu membatin seraya menatap ke arah mereka yang tidak ada kebohongan sedikit pun.
" Baiklah... Kalau begitu kita ke arah sana saja! Siapa tau kita bisa menemukan Hewan Ilahi." Ryu menunjuk ke sebuah tempat dimana terlihat Hutan masih rimbun.
Ryu berniat untuk mencari Inti Roh Hewan Ilahi untuk Bai Ma sebagai pengganti Inti Jiwanya.
" Baik Tuan." Mereka pun melangkahkan kaki menuju ke arah Hutan.
******
( Benua Utara )
Kini terlihat kota Loyang semakin ramai dikunjungi oleh para Kultivator, Bangsawan, dan para Pedagang dimana mereka sangat senang karena telah mendapatkan kabar bahwa Putri Duyung sudah mati.
Untuk meyakinkan mereka Pangeran Qing Sun langsung melakukan perjalanan di atas lautan yang diikuti para Pengawal dan Prajurit Kekaisaran Beruang Putih.
__ADS_1
" Pangeran Qing Sun... Apa Putri Duyung itu benar-benar sudah mati? Tanya salah satu dari Pedagang.
" Apa kalian belum yakin? Bukankah selama ini kami telah melakukan perjalanan selama tiga bulan di atas lautan." Qing Sun sambil merentangkan kedua tangannya yang menandakan bahwa tidak ada terjadi apapun.
" Pangeran Qing Sun... Jika Putri Duyung itu sudah mati, lalu siapa yang berhasil membunuhnya? " Tanya salah satu Bangsawan.
" Aku juga tidak tau namanya... Yang jelas dia berasal dari Benua Timur yang sedang melakukan perjalanan ke berbagai Benua." Qing Sun sangat menyesal karena tidak sempat menanyakan latar belakang Pemuda yang pernah bertemu dengannya.
" Benua Timur?" Semua yang hadir di tempat itu mengerutkan kening saling berpandangan satu sama lain.
" Saudara... Lebih baik kita pergi ke Benua Timur. Aku yakin di Benua Timur banyak sekali Kultivator yang hebat. Kita bisa belajar dengan mereka." Bisik beberapa Kultivator kepada rekan mereka.
Dari keterangan Pangeran Qing Sun, mereka sangat yakin bahwa tidak ada kebohongan sedikit pun mengingat Pangeran Qing Sun adalah orang yang baik.
Baik dari para Pedagang, Bangsawan dan yang lain, mereka terlihat senang karena selama puluhan tahun tidak ada yang berani menyebrangi lautan akibat perangan Putri Duyung.
Tanpa menunggu lama para Pedagang langsung memerintahkan bawahannya dan para Pengawal untuk mengeluarkan Kapal mereka agar kembali berdagang ke berbagai Benua.
Begitupun dengan para Kultivator bebas, mereka tidak ingin melewatkan bagian itu. Banyak dari antara mereka yang langsung mengikuti kapal para Pedagang untuk melakukan perjalanan bersama.
Para Pedagang maupun Bangsawan juga tidak keberatan dengan adanya para Kultivator itu, dimana mereka akan lebih aman dari para Perompak.
Pangeran Qing Sun sangat senang dengan kematian Putri Duyung atau Shiren dimana para warga bisa kembali berlayar untuk mencari ikan sebagai sumber penghasilan mereka yang ada di pesisir pantai.
" Pengawal... Aku ingin kamu mencari pemahat yang handal yang membuat patung seperti ini." Qing Sun mengeluarkan gulungan yang terlihat sebuah lukisan.
" Tuan... Apakah ini adalah lukisan dari Pemuda itu?" Tanya Pengawal.
" Mmm... Dialah yang membunuh Putri Duyung. Kemungkinan usianya sama denganku, tapi kekuatannya begitu mengerikan. Aku ingin memberikan julukan Dewa Lautan, karena dialah yang pertama kali menjelajah lautan yang selama puluhan tahun tidak ada yang berani menyebranginya." Ucap Qing Sun.
" Baik Pangeran... Aku akan mencari seorang pemahat yang handal." Ucap Pengawal lalu meninggalkan tempat tersebut.
" Pangeran... Lalu bagaimana dengan Pemuda itu? Apa dia masih berada di Benua ini?" Tanya salah satu Jenderal.
" Aku pikir Pemuda itu sudah tidak ada lagi di Benua Utara." Qing Sun menggelengkan kepala karena sekeras apapun Putri Mahkota Qing Yun mencari keberadaan Ryu, dia tidak akan berhasil menemukannya.
Apalagi Putri Mahkota Qing Yun hanya melihatnya dari sebuah lukisan yang dilukiskan sendiri oleh Qing Sun.
" Maafkan hamba Pangeran... Ini semua salahku karena telah menyinggung Pemuda itu." Jenderal tersebut merasa bersalah karena sebelumnya dia dan para Prajurit telah bertindak kasar kepada Ryu.
" Kalian tidak salah... Hanya saja Pemuda itu telah memilih jalan hidupnya sendiri." Qing Sun yang mengetahui Pemuda misterius itu mengatakan bahwa dia sedang melakukan petualangan ke berbagai Benua lainnya.
__ADS_1
*****
( Istana Kekaisaran Beruang Putih )
Di sebuah ruangan Istana Kekaisaran Beruang Putih terlihat sosok wanita cantik yang menatap sebuah lukisan di tangannya.
Dialah Putri Mahkota Qing Yun yang baru saja pulih dari penyakit yang dia alami selama dua tahun terakhir.
Dari raut wajah Qing Yun terlihat sangat senang dengan adanya lukisan tersebut di tangannya.
Seketika raut wajahnya kembali murung karena sosok yang ada di lukisan tersebut masih belum ditemukan meskipun sudah menyebarkan beberapa Prajurit untuk mencari keberadaan Pemuda misterius yang memberikan kepadanya Melati Emas dan Bunga Spiritual Krisan.
" Tok... Tok... Tok." Terdengar suara ketukan pintu kamar Putri Mahkota Qing Yun.
" Siapa?" Tanya Qing Yun.
" Hamba Tuan Putri." Terdapat suara dari seorang Pelayan pribadi Qing Yun.
" Masuklah." ucap Qing Yun.
Terlihat sosok Pelayan mendatanginya sambil membawakan makanan.
" Silahkan dinikmati Tuan Putri." Pelayan tersebut mempersilahkan.
" Pelayan... Apa ada kabar dari Prajuritku?" Tanya Qing Yun.
" Belum Tuan Putri." berkata dengan jujur.
" Mmm.." Qing Yun hanya menganggukkan kepala.
" Hamba pamit dulu Tuan Putri." Pelayan memberi hormat lalu meninggalkan tempat tersebut.
" Apakah Pemuda itu sudah pergi ke Benua Timur?" Qing Yun bergumam sesekali menatap ke arah lukisan.
" Sepertinya aku harus menyusulnya ke Benua Timur." Qing Yun yang masih penasaran dengan wajah dari Pemuda yang ada di lukisan tersebut.
" Tidak... Tidak... Lebih baik aku meminta kepada Ayah untuk mengutus Pengawal Istana untuk mencari keberadaan Pemuda itu di Benua Timur." Qing Yun kembali mengurungkan niatnya untuk pergi ke Benua Timur.
Qing Yun berpikir jika dia pergi ke Benua Timur, maka akan terlalu berbahaya apalagi dirinya tidak pernah melakukan perjalanan jauh.
Oleh karena itu Qing Yun lebih memilih untuk mengutus Pengawal Istana untuk mencari Pemuda tersebut yang membuatnya merasa tertarik.
__ADS_1