
" Seperti Xuan'er masih melakukan latihan tertutup, kalau begitu aku pergi dulu." Ryu bergegas untuk keluar dari Dunia Quzhu.
" Gege... Hati-hati! " Sheng Zhishu mengingatkan.
" Mmm." Ryue mengangguk lalu menghilang dari tempat tersebut.
Di pinggir sebuah Hutan, Ryu langsung memeriksa keadaan sekitar hingga memastikan sudah aman.
" Shuijing." Ryu memanggil Tou Shuijing untuk keluar dari Alam Jiwa.
" Salam Tuan." Tou Shuijing muncul di depan Ryu dengan wujud bunglon.
" Sekarang bawa aku pergi ke Kota Chang'an!" Ryu memberi perintah.
" Baik Tuan." Tou Shuijing memperbesar ukurannya agar Ryu bisa naik ke punggungnya.
Setelah memiliki ukuran yang cukup, Ryu dengan segera naik ke punggung Tou Shuijing dimana mereka langsung melesat terbang ke udara menuju kota Chang'an.
Perjalanan itu pun sudah memakan waktu selama lima hari dimana Ryu memberi isyarat kepada Tou Shuijing untuk menghentikan perjalanan.
" Shuijing... Kita cari tempat yang aman untuk beristirahat. Kamu juga harus memulihkan diri." Ryu memberi isyarat kepada Tou Shuijing.
" Tidak masalah Tuan... Aku masih mampu untuk terbang beberapa hari lagi." Tou Shuijing merasa dirinya masih mampu.
" Aku tau itu... Tapi kamu harus menyimpan tenagamu juga, karena kita tidak tau apa yang akan terjadi kedepan." Ryu tidak ingin kejadian sebelumnya terulang kembali.
" Baik Tuan." Tou Shuijing tidak ingin melawan, karena apa yang dikatakan Ryu ada benarnya. Jika tanpa bantuan Ryu, mungkin dia bersama Chaizu dan Jiejia sudah mati.
Secara perlahan Tou Shuijing memperlambat kecepatannya hingga saat berada di tanah lapang, dia mendarat di tempat itu.
" Shuijing... Kamu boleh kembali untuk memulihkan diri, karena besok pagi kita akan kembali melanjutkan perjalanan." ucap Ryu.
" Baik Tuan." Tou Shuijing menundukkan kepala lalu masuk ke Alam Jiwa.
Setelah Tou Shuijing sudah pergi, Ryu pun menciptakan Pelindung Yin-Yang Kura-kura lalu masuk ke Dunia Quzhu.
" Gege... Sampai dimana kita sekarang?" Tanya Xie Hua.
" Jika tidak ada kendala, mungkin tiga hari lagi kita sudah sampai di Kota Chang'an." Ryu menjawab sambil melangkahkan kaki ke kamar utama.
__ADS_1
" Haaahh... Aku tidak sabar untuk melihat Dunia luar. Tidak menyangka kita seperti seorang buronan di wilayah kita sendiri." Wang Mingjun menggelengkan kepala.
" Sabar... Lebih baik kita istirahat!" Sheng Zhishu meninggalkan tempat tersebut menuju ke kamar utama.
" Hei... Apa kamu ingin minta jatah lagi?" Xin Chie langsung menghentikan langkah Sheng Zhishu.
" Apa yang kamu lakukan? Lagi pula kita membutuhkan energi 'Yang' Matahari agar mempercepat proses penyempurnaan tubuh Dewi Emas Suci." Sheng Zhishu menyingkirkan Xin Chie yang berada di depannya.
" Apa yang kamu pikirkan? Lagi pula dia adalah Suami kita. Itu hal yang wajar, kecuali kamu ingin selingkuh dengan pria diluar sana." Huli Yue menuju ke kamar utama.
" Siapa juga yang mau selingkuh?" Xin Chie mengikuti arah Huli Yue.
" Siapa yang berkhianat kepada Gege, aku akan memakannya dengan wujud Naga emasku." Yinshi mengeluarkan Aura Intimidasi seakan mengancam yang lain.
" Hanya orang bodoh yang meninggalkan Gege. Jelas-jelas dia bisa memberikan sesuatu yang sangat berharga." Nan Sian mengabaikan Aura Intimidasi dari Yinshi langsung masuk ke kamar utama.
" Aku pikir tidak akan ada wanita diluar sana memiliki kebahagiaan seperti yang kita dapatkan." Hong Kian membandingkan keperkasaan Ryu melebihi puluhan pria perkasa diluar sana.
" Bagus... Jadi target makananku sekarang hanya ada dua orang. Tapi itu hanya hidangan pembuka." Yinshi menarik kembali Aura Intimidasi sambil berjalan menuju kamar utama.
" Efek dari teknik tubuh Dewi Emas Suci itu membuat kita menjadi liar dan memiliki sifat dari Roh Suci itu sendiri. Lu'lu, Aku harap kamu bisa mengendalikan naluri dari Harimau putih yang ada pada dirimu." Xie Hua mengingatkan kepada Shu Meilu.
" Aku akan berusaha." Jawab Shu Meilu.
" Sebenarnya ini sangat sulit untukku, ada dorongan lain yang membuatku seperti haus darah. Tapi aku akan mencoba mengendalikan diri." Wang Mingjun juga merasakan perubahan pada dirinya yang seakan ingin terus bertarung.
Untuk itu Wang Mingjun secara diam-diam berburu Hewan Roh yang ada di Dunia Quzhu tersebut.
" Dari kami semua yang memiliki Tubuh Abadi mungkin kami bisa mengendalikan diri. Tapi aku harap kalian juga bisa mengendalikan diri. Semakin kita menyempurnakan tubuh Dewi Emas Suci, maka tidak menutup kemungkinan jika ada yang memilih jalan hidupnya sendiri karena tidak mampu mengontrol nafsu." Xie Hua menyadari bahwa efek dari teknik yang mereka gunakan mampu mengubah fikiran yang memakainya.
Itulah sebabnya kenapa Yinshi mengeluarkan Aura Intimidasi, karena dia juga menyadari hal tersebut dimana naluri sosok Naga Emas yang ada pada tubuhnya seakan bergejolak.
Mendengar ucapan tersebut Ling Queqi, Jiang Caiping, Zhao Luyi, Zhao Liying, Hong Kian, Lan Liwei dan Bing Ruyue merasa takut jika suatu saat nanti mereka akan menjadi orang yang jahat seperti apa yang dilakukan oleh Ling Xianzi dan Jinying.
" Aku tidak ingin menjadi orang jahat. Hua'hua, apa yang harus kami lakukan?" Ling Queqi berkeringat dingin.
" Aku juga tidak tau. Yang jelas, teknik itu sudah menyatu dalam tubuh kita. Tapi aku memiliki sedikit gambaran. Semakin kuat perasaan Cinta kalian dengan Gege, kemungkinan besar kalian bisa mengendalikan diri. Karena diluar sana banyak sekali orang yang jahat bisa menjadi baik karena perasaan Cinta. Tapi jika Cinta diikuti keegoisan, maka orang yang baik bisa menjadi jahat." Xie Hua menjelaskan kepada mereka.
" Baiklah... Aku mengerti." Bing Ruyue menganggap itu bukan masalah besar, yang penting bisa memposisikan diri mereka sendiri dalam mengambil sikap.
__ADS_1
Setelah melakukan percakapan kecil, mereka pun satu-persatu menuju ke kamar utama dimana tempat Ryu beristirahat.
Pada keesokan hari Ryu kembali melanjutkan perjalanan bersama Tou Shuijing untuk menuju ke kota Chang'an.
Dalam perjalanan mereka tidak menemukan kendala yang berarti hingga tiga hari kemudian mereka sudah berada di depan pintu gerbang kota Chang'an.
Di tempat itu juga terlihat sangat ramai dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai wilayah sedang mengantri untuk masuk ke dalam Kota.
Setelah beberapa saat, kini giliran Ryu untuk mendapatkan antrian untuk diperiksa oleh penjaga Pintu Gerbang.
" Tuan... Mana tanda pengenalnya?" Salah satu Penjaga Gerbang menadahkan tangan depan Ryu.
Tanpa berkata apapun Ryu mengeluarkan sebuah Lencana Sekte Gunung Phoenix milik Hong Kian.
" Sekte Gunung Phoenix? Si... Silahkan masuk Tuan Pendekar." Penjaga tersebut berkeringat dingin dengan sigap memberikan jalan kepada Ryu.
" Terimakasih Penjaga." Ryu melangkahkan kakinya masuk ke dalam Kota Chang'an.
Saat Ryu sudah tidak kelihatan lagi, penjaga tersebut memberikan Isyarat kepada rekannya yang lain hingga sosok tersebut langsung masuk ke dalam sebuah bangunan yang tidak jauh dari tempat itu.
Di dalam bangunan itu terdapat ratusan sosok yang sedang duduk beristirahat hingga Penjaga Gerbang tadi langsung masuk yang membuat mereka merasa heran.
" Salam Jenderal." Penjaga Gerbang memberi hormat kepada satu sosok yang sedang duduk di sebuah kursi.
" Penjaga... Ada apa?" Sosok yang dipanggil Jenderal mengerutkan kening menatap ke arah Penjaga tersebut.
" Jenderal... Tadi baru saja ada anggota Sekte Gunung Phoenix yang masuk ke Kota ini." ucap Penjaga Gerbang dengan tangan gemetar.
" Hhmmm... Sepertinya kita telah kedatangan tamu dari jauh. Penjaga... Berapa orang dari Sekte Gunung Phoenix?" tanya Jenderal.
" Hanya satu orang." Jawab Penjaga Gerbang.
" Hanya satu orang? " Jenderal tersebut mengerutkan kening diikuti yang lain juga terlihat heran saling berpandangan satu sama lain.
" Benar Jenderal." Penjaga Gerbang menegaskan.
" Baiklah... Sekarang kamu boleh kembali melanjutkan tugasmu." Sosok Jenderal memberi perintah kepada Penjaga Gerbang.
" Baik Jenderal." Penjaga tersebut menundukkan kepala lalu meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
" Jenderal... Sepertinya anggota Sekte Gunung Phoenix itu bukan orang sembarangan, bagaimana mungkin ada orang yang bisa selamat dari para Perampok itu." ucap salah satu dari mereka.
" Aku juga berpikir seperti itu. Nanti aku akan menemui orang itu bersama Pemimpin Penjaga. Semoga saja orang itu bisa membantu kita." Sosok Jenderal menghela nafas panjang.