
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
Setelah berjalan kedepan Terlihat Manusia Rawa sedang bertarung melawan beberapa Sosok Kultivator.
" Ye'er..." Ryu menoleh ke arah Ting Ye lalu ikut membantu melawan Manusia Rawa langsung menggunakan Teknik Pedang Penghisap.
Ting Ye pun langsung mengangguk dan menyerang Kelompok Manusia Rawa yang juga menggunakan Teknik Pedang Penghisap.
" Langkah Hantu Harimau Petir." Ryu langsung menyerang mereka dengan kecepatan tinggi dimana setiap terbasan mampu membunuh satu Manusia Rawa.
Tidak ingin kalah dari Suaminya, Ting Ye juga melepaskan teknik api miliknya membuat tubuh Manusia Rawa langsung terbakar dan langsung menebas leher mereka Satu-persatu.
" Ketua... Siapa mereka? " Tanya salah satu sosok sambil menyerang Manusia Rawa yang ada di depannya.
" Aku tidak tau, yang jelas mereka juga membantu Kita." Jawab Ketua kelompok tersebut yang juga sambil menyerang Manusia Rawa.
' Teknik yang mereka pakai sangat mengerikan' batin beberapa sosok yang melihat setiap terbasan Ryu dan Ting Ye membuat Manusia Rawa langsung terhisap.
Setelah melakukan Pertarungan cukup lama, kini Manusia Rawa semakin berkurang hingga tidak ada satupun yang tersisa.
" Terimakasih atas bantuan Saudara. Kalau tidak, mungkin kami akan banyak yang terluka." Ketua kelompok tersebut berjalan mendekati Ryu. " Oh ya perkenalkan namaku Cheng Chuang, dan mereka adalah kelompokku." Cheng Chuang. memperkenalkan diri mereka.
" Terimakasih juga telah membantu para Warga disini, perkenalkan namaku Xie Ryu, dan ini Ting Ye Istriku. " Ryu memperkenalkan diri mereka.
" Walikota? " Cheng Chuang dan kelompoknya sontak kaget sambil menatap ke arah Ting Ting. " Salam Walikota Ye. " Cheng Chuang dan kelompoknya menundukkan kepala.
" Mmmmm." Ting Ye mengangguk menyapa dengan ramah.
" Kalau begitu kami pamit dulu, mohon maaf kami harus mencari keberadaan Paviliun Kelinci merah." Cheng Chuang melangkahkan kaki beserta kelompoknya.
" Tunggu! Apa kalian sudah tau dimana keberadaan Paviliun Kelinci merah? " Ryu menghentikan langkah mereka.
" Saudara... Kami juga tidak tau. yang jelas mereka sudah banyak menculik para Murid Wanita dari Sekte Tirai Bambu, bahkan beberapa Warga dari Kota Simmon juga tidak luput dari mereka." Cheng Chuang memberi keterangan.
" Saudara, apa kalian dari Sekte Tirai Bambu?" tanya Ryu.
" Bukan Saudara... Kami para Kultivator bebas. Kami menjalankan misi dari Walikota Simmon, kebetulan Kami berbagi Kelompok dengan Anggota Sekte Tirai Bambu jadi kami tau situasi mereka. " Ucap Cheng Chuang.
" Yang aku dengar, Paviliun Kelinci merah menculik Para Wanita untuk dijual ke Luar Kekaisaran Awan dan sebagian sebagai Budak mereka." Lanjut Cheng Chuang.
" Mohon maaf aku tidak bisa membantu kalian, tapi aku akan memilih jalur lain untuk mencari keberadaan mereka juga." ucap Ryu.
" Baiklah Saudara, kami pamit dulu." Cheng Chuang membawa kelompoknya meninggalkan tempat tersebut.
" Ye'er... Sepertinya kita harus cepat-cepat ke Linka, Aku khawatir jika seperti ini terus, maka Kekaisaran Awan akan dalam bahaya. " Ryu mempercepat langkahnya diikuti Ting Ye.
__ADS_1
......................
Di sebuah Lembah dimana terdapat sebuah Danau lahar Api yang sangat luas yang menandakan siapapun yang melewatinya langsung terbakar.
Di Pinggir Danau tersebut memiliki tebing yang yang sangat tinggi dimana terdapat sebuah Goa yang sangat Luas, namun tidak memiliki jalan untuk maupun keluar.
Di bagian dalam Goa itu sendiri seperti sebuah lorong membentuk bangunan yang tersusun Rapi dengan berbagai macam Sumberdaya terlihat Sosok Wanita Cantik memakai Pakaian berwarna Ungu yang memperlihatkan bagian lekuk tubuhnya.
" Sepertinya aku tidak bisa keluar dari sini sebelum memperkuat Jiwaku yang hampir memudar." ucap sosok Wanita tersebut dengan nada lirih yang tidak lain adalah Sheng Zhishu.
Setelah memeriksa seluruh bagian sudut Ruangan dalam Goa tersebut, Sheng Zhishu kembali ke tempat semula dimana terdapat sebuah Batu berbentuk Kursi yang juga terdapat sebuah meja batu berukuran besar.
" Sayang, aku berjanji tidak akan membuatmu menderita lagi. Setelah Aku keluar, aku akan mencarimu." Sheng Zhishu menghela nafas sambil menatap langit-langit Goa secara perlahan pandangannya tertuju pada sebuah Peti berukuran besar.
' Semoga saja aku menemukan pakaian yang cocok untukku.' Sheng Zhishu berjalan mendekati Peti Besar tersebut lalu membukanya.
Saat membuka Peti tersebut, Sheng Zhishu menghela nafas karena yang ada di dalam Peti tersebut hanya terdapat Pakaian yang sama seperti yang dia pakai sekarang dan terdapat beberapa benang untuk menjahit.
" Haaahh... Sepertinya aku harus membiasakan diri untuk memakai Pakaian ini. Semoga saja Suamiku sangat senang." Sheng Zhishu senyum tipis lalu kembali ke tempat duduk sebelumnya.
Setelah berdiam diri cukup lama, Sheng Zhishu mulai menutup mata untuk menyatukan tubuh Barunya agar bisa membentuk Reinkarnasi Ratu Kirrin Api secara sempurna
Sheng Zhishu Pemilik Tubuh Abadi Ratu Kirrin Api, Kultivator Api.
...****************...
Di Kota Linka :
Setelah memakan waktu yang lama, kini Ryu dan Ting Ye sudah sampai di Istana Walikota Ye dimana terlihat Xie Hua sedang menyambut kedatangan mereka.
" Gege..." Xie Hua berlari kecil menuju ke arah Ryu langsung memeluknya.
" Hua'er... maaf telah membuatmu menunggu lama." Ryu membalas pelukan Xie Hua lalu mengerutkan kening tersadar Aura dari Ketujuh Istrinya sudah hilang.
" Hua'er... Aura ini? " Ryu terlihat penasaran.
" Gege... Beberapa hari yang lalu saat aku terbangun, Aura Mereka sudah menghilang." Xie Hua tertunduk lesu. " Gege... Aku minta maaf, aku tidak bisa menjaga mereka."
" Hua'er... Aku tidak menyalahkanmu. Tapi hatiku mengatakan bahwa mereka masih Hidup." Ryu mengusap Rambut Xie Hua lalu berjalan menuju Kamarnya.
" Aku harap begitu... Gege, Apa kalian berhasil?" tanya Xie Hua.
" Mmmm... Aku akan menjadikanmu sebagai Permaisuri Kekaisaran Awan, Aku sudah membicarakan hal ini kepada Ye'er dan Empat Istri baruku." Ryu langsung masuk kedalam kamar.
" Gege... Apa mereka memiliki Tubuh Abadi itu?" Tanya Xie Hua.
" Benar... Semuanya memiliki Tubuh Abadi. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mereka secepat ini." Ryu mengambil Batu Bintang lalu membuat tempat untuk Teleportasi.
" Gege... Aku sudah meminta Pelayan untuk menyiapkan makanan kita." Ting Ye muncul dari balik pintu.
" Apa kita tidak ke Istana Kaisar saja? Karena aku berencana memperkenalkan Hua'er pada yang lain." Ryu menoleh ke arah Ting Ye.
" Gege... Apa Teleportasi itu bisa kami Gunakan juga? " Ting Ye berencana untuk menyusul belakangan.
" Untuk sekarang tidak bisa. Kecuali Aku sendiri yang membawa kalian. Haaahh... Racun itu benar-benar merepotkan." Ryu mengerutkan keningnya.
" Baiklah... Nanti aku bicara kepada Pelayan." Ting Ye kembali keluar kamar mencari memberitahukan hal tersebut.
Setelah beberapa saat, Ting Ye telah kembali menemui Ryu dan Xie Hua hingga mereka langsung menuju Istana Kaisar.
Setelah berada di Kamar Utama Istana Kaisar, Ryu membawa mereka keluar untuk menemui Istrinya yang lain yang terlihat sedang duduk di Ruang Tamu keluarga.
" Gege... Apa ini Permaisuri kita? " Wang Mingjun menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
" Wah... Sangat Cantik. Sangat cocok sebagai Permaisuri." Li Jilan menatap ke arah Xie Hua.
" Kalian semua juga sangat cantik." Xie Hua merasa tidak enak.
" Permaisuri, Perkenalkan namaku Wang Mingjun "
" Permaisuri, Perkenalkan namaku Shu Meilu "
" Permaisuri, Perkenalkan namaku Qin Shuomei."
" Permaisuri, Perkenalkan namaku Li Jilan "
Keempat Wanita tersebut memperkenalkan diri mereka masing-masng.
" Jun.jun, Lu.lu, Mei.mei, An.an, Kalian tidak perlu memanggilku seperti itu. " Xie Hua merasa gerah dengan panggilan tersebut.
" Tapi Permaisuri." Keempat Wanita tersebut kebingungan.
" Ye'er, Begini saja... Kalau kita berkumpul seperti ini tidak perlu terlalu formal dan cukup dengan nama saja. Tapi saat ada Tamu atau yang lain kita akan memanggil Permaisuri. Aku sendiri lebih suka memanggil 'Hua'er '." Ting Ye ikut bersuara.
" Baiklah, aku rasa kalian sepakat." Ucap Ryu.
" Mmmmmm." Semua mengangguk setuju.
Selesai berbincang kecil, mereka menuju Ruang Kerja Kaisar untuk memperkenalkan Xie Hua yang memiliki Gelar Permaisuri kepada Para Menteri, Para Jenderal dan beberapa Pengawal lainnya.
Setelah memperkenalkan Permaisuri, Ryu membawa mereka kembali ke Ruang keluarga Kaisar dimana Ryu meminta Kepada Xie Hua untuk mengatur semua masalah Istana Kaisar yang juga dibantu Keempat Istrinya yang lain.
Sedangkan untuk Ting Ye, masih mengatur Wilayah Kota Linka dan tetap menjabat sebagai Walikota.
" Gege... Apa kamu langsung pergi lagi?" Xie Hua yang baru saja bertemu suaminya.
Ryu yang faham maksud Xie Hua langsung menoleh ke arahnya. " Hua'er... Aku akan tinggal Sehari disini. Aku rasa sudah cukup jika menemanimu di Dunia Quzhu." Ryu senyum kecil.
" Gege... Sepertinya Aku akan kembali ke Linka." Ting Ye bersuara.
" Baiklah... Aku akan mengantarmu." Ryu memegang tangan Ting Ye lalu menghilang.
" Hua'er... Apa kamu mengenal baik tujuh Mendiang Istri Suami kita?" Wang Mingjun penasaran dengan Lukisan yang ada di Dunia Quzhu.
" Aku mengenal mereka cukup lama. Mereka sangat cantik Seperti Bidadari, bahkan aku sendiri seperti Orang biasa saat bertemu dengan mereka." Xie Hua membayangkan kembali Raut wajah Tujuh Istri Ryu sebelumnya.
" Benarkah? " Shu Meilu terlihat penasaran.
" Mmmmmm. Tapi itu menurutku, semua tergantung dari pandangan kita. Yang pasti mereka sangat baik padaku seperti menyayangi adik kandung mereka sendiri." Xie Hua menerangkan kepada mereka.
Setelah cukup lama berbincang, mereka semua kembali ke Kamar masing-masing, Begitu juga dengan Xie Hua langsung ke Kamar utama sambil menunggu kedatangan Ryu.
Saat berada di dalam Kamar, terlihat Ryu juga muncul di Kamar membuat Xie Hua sedikit kaget.
"Gege..." Xie Hua terlihat kesal karena kemunculan Ryu tiba-tiba.
" Maaf... Aku kira kalian masih ada di Ruang Keluarga. " Ryu merasa bersalah lalu membaringkan tubuhnya di atas kamar tidur.
" Gege... Apa kita tidak langsung ke Dunia Quzhu saja?" Xie Hua seakan ingin melepaskan kerinduannya.
" Mmmmm" Ryu mengibas tangannya seketika mereka telah berada di Ranjang di Dunia Quzhu.
" Kalau begini kan lebih baik." Xie Hua langsung menindih tubuh Ryu sambil mengalungkan tangannya di leher Ryu.
" Dengan senang hati Permaisuri." Ryu menggoda mengalungkan tangannya di pinggang Xie Hua.
" Gege.." Xie Hua memegang tangan Ryu lalu menyentuh ke bagian perutnya.
" Hua'er... Kamu Hamil? " Ryu mengerti isyarat tersebut.
__ADS_1
" Mmmmm... Pil penunda kehamilan sudah habis makanya jadi begini." Xie Hua terlihat murung.
" Hua'er... Justru aku sangat senang. Dengan begitu Klan Liu akan cepat bertambah banyak di Dunia Abadi ini. Bila perlu Keturunanku akan memenuhi seluruh Wilayah Kekaisaran Awan ini." Ryu langsung memeluk Xie Hua penuh kebahagiaan.