
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
Di Alam Kehampaan :
Di dalam perjalanannya menuju Dunia Fana, Ryu hanya berpijak pada cahaya warna-warni, yang di sekelilingnya juga terlihat cahaya warna-warni.
Untuk mengisi waktu sampai ke tujuan, Ryu mengambil beberapa Buah Tangan Budha, Buah Persik Bulan, Anggrek Darah Naga dan Ginseng Air lalu menyerap khasiat dari Harta langit tersebut.
" Pendekar Ryu... Ada dimana kita ini?" Jinying keluar dari tubuh Ryu terlihat gelisah.
" Kita akan menuju Dunia Fana." Ryu bicara dengan santai.
" Apa?" Jinying memiliki firasat buruk berusaha untuk mencari jalan keluar.
Sekalipun Jinying berlari ke berbagai arah, namun setelah tidak terlihat dia muncul kembali di dekat Ryu.
Namun Jinying terus berusaha untuk keluar dari tempat tersebut tapi tetap saja kembali seperti semula.
Hal itu terus terjadi hingga Jinying semakin kewalahan karena sudah banyak mengeluarkan tenaga pada akhirnya dia pun menyerah langsung duduk di samping Ryu.
' Apa yang difikirkan Pemuda ini yang membuatku harus terseret bersamanya.' Jinying membatin sambil memperhatikan Ryu yang sedang duduk bersila.
Satu Minggu...
Dua Minggu...
Tiga Minggu...
Satu Bulan...
Dua Bulan...
Tiga Bulan...
Ryu dan Jinying terus berada di cahaya warna-warni yang seakan tanpa ujung.
Satu Tahun...
Jinying sudah bosan terus duduk di samping Ryu karena Ryu tidak pernah bicara dengannya hingga memilih untuk kembali ke Alam Jiwa.
Tepat Satu Tahun Lima Bulan Ryu telah kembali ke Dunia Fana dimana sebuah Goa di Atas Bukit di belakang Sekte Lembah Persik.
" Sepertinya sudah sampai." Ryu membuka kembali matanya.
Ryu pun beranjak dari tempat tersebut keluar dari Goa sambil memeriksa keadaan sekitar.
" Disini sepertinya Aku sudah mencapai Level 100. Tidak buruk." Ryu berjalan menuju Ruang Kerja Paktriak.
" Ryu'er... Kau kah itu?" terdengar suara dari arah belakang Ryu.
" Ayah..." Ryu berlari kecil langsung berlutut di depan Ayahnya.
__ADS_1
" Nak... Akhirnya kamu Pulang." Liu Meng tanpa terasa air matanya metetes.
" Maaf Ayah... Aku telah membuatmu khawatir." Ryu juga tidak mampu menahan air matanya metetes.
" Tetua Agung." Beberapa Tetua Sekte Lembah Persik yang masih mengenal jelas Sosok tersebut.
Ryu mengangguk ramah seraya tersenyum.
Liu Meng pun membawa mereka menuju Ruang kerja Patriak dimana terlihat sosok Pria Sepuh sedang duduk di kursi.
" Salam Patriak." Ryu memberi hormat kepada Lin Feng.
Di luar Sekte Lembah Persik yang mendengar kedatangan Ryu, Para Tetua dan Guru mulai berbondong-bondong menuju ke Ruang kerja Patriak.
Dengan kedatangan seluruh pengurus Sekte, Ruang kerja Patriak kini sudah penuh bahkan ada yang duduk di lantai.
Dari beberapa orang yang berada di Ruang, banyak yang melemparkan pertanyaan tentang cara Ryu bisa kembali ke Dunia Fana.
Karena diantara mereka banyak yang berasal dari Desa Lembah Hitam, Ryu pun menceritakan tentang perjalanannya secara singkat mulai dari sejak awal menjalani Hukuman Langit hingga sampai dia kembali.
Terlihat dari wajah mereka semua begitu antusias mendengarkan apa yang diceritakan oleh Ryu.
Sebelum Ryu menyampaikan tujuannya, Ryu mengeluarkan sebuah bola kristal sebesar kepalan lalu meneteskan darahnya.
" Ryu'er... Apa itu?" Liu Meng merasa heran.
" Ayah... Teteskan darah Ayah disitu." Ryu meletakkan ke atas meja di tengah mereka ingin menguji kesamaan darah mereka
Tanpa banyak bicara Liu Meng langsung meneteskan darahnya seketika bola kristal tersebut mengeluarkan cahaya berwarna biru.
Setelah melihat hasil tersebut, Ryu meminta kepada Para tetua dan guru yang berasal dari Desa Lembah Hitam untuk melakukan hal yang sama.
Meskipun sedikit heran, mereka pun satu-persatu meneteskan darah mereka hingga semua mengeluarkan cahaya berwarna biru.
" Tetua Agung... Apa maksudnya itu tadi?" tanya Tetua Jianheng.
" Aku hanya menguji apakah kita berasal dari darah yang sama, yaitu darah Klan Liu." Ucap Ryu.
" Aku ingin mencobanya." Dong Shen meneteskan darahnya namun tidak menimbulkan reaksi.
" Aku juga ingin mencoba." Lin Feng meneteskan darahnya juga tidak menimbulkan reaksi.
Bahkan beberapa orang yang ada disitu juga satu-persatu meneteskan darah mereka, namun tetap saja tidak ada reaksi.
Melihat hal itu Ryu semakin yakin bahwa memang di Desa Lembah Hitam berasal dari darah yang sama meskipun ada yang mengeluarkan cahaya biru yang kuat dan mengeluarkan cahaya biru yang samar-samar.
Ryu pun menyampaikan tujuannya kepada mereka agar membawa mereka ke Dunia Abadi.
Mendengar apa yang dikatakan Ryu, mereka sangat senang meski sedikit ragu.
" Ryu'er... Apa kamu yakin bisa membawa kami ke Dunia Abadi?" tanya Liu Meng.
" Tetua Agung... Bukankah jika kesana kami harus menjalani hukuman langit?" Jianheng mengerutkan keningnya.
" Tidak perlu karena kalian bersamaku. Hanya saja kalian akan mengulang kembali Kultivasi kalian." ucap Ryu.
" Kalau begitu tidak masalah... Aku yakin Tetua Agung akan membantu kita." ucap Tianba.
" Itu tidak masalah..." ucap Ryu.
" Tetua Jianheng, Tetua Jianying, Tetua Xiuying, Tetua Tianba... Aku minta bantuan kalian untuk menguji kesamaan darah kita pada yang lain dari Desa Lembah Hitam." ucap Ryu.
" Baik Tetua Agung." ucap mereka serempak.
" Patriak, Tetua Shen... Aku titipkan Sekte Lembah Persik kepada kalian dan yang lain." ucap Ryu.
" Ryu'er... Sekalipun kamu tidak memintanya tentu saja aku akan menjaga Sekte ini." ucap Lin Feng.
" Tetua Agung... Aku sudah berjanji akan berdiam di Sekte ini tentu saja aku akan melakukannya. Lagi pula aku sudah memiliki keluarga disini." Ucap Dong Shen.
" Sepertinya kembaran namaku tidak ada di tempat ini." ucap Guru Qixuan.
__ADS_1
" Kembaran namaku juga tidak hadir." Ucap Guru Jingmi.
Mendengar ucapan tersebut Ryu mengerutkan kening mengingat Tetua Qixuan yang berasal dari Sekte Pedang Kuno dan Jingmi yang berasal dari Sekte Bunga Sakura yang pernah bertemu dengannya dulu.
Tiba-tiba muncul satu sosok Wanita Paruh Baya namun masih terlihat awet muda bersama satu anak kecil yang seusia 8 tahun.
" Suami... " Guru Lun menatap ke arah Liu Meng lalu menoleh ke arah Ryu.
" Ayah... " Anak kecil tersebut berlari kecil ke arah Liu Meng.
" Ryu'er... Ini adikmu, namanya Fang, Fang'er... Dia kakakmu yang aku ceritakan itu." Liu Meng sedikit malu
" Salam Kakak Ryu, namaku Fang." Fang menundukkan kepala kepada Ryu.
" Fang'er... Kemarilah." Ryu sedikit canggung karena tidak menyangka sudah memiliki adik kandung.
Liu Meng pun menceritakan bahwa dia sudah menikah dengan Guru Lun saat Ryu melakukan perjalanan ke Dunia Abadi hingga mendapatkan seorang Putra.
Mendengar hal itu Ryu terlihat senang, bagaimanapun Ayahnya pasti akan bosan jika hidup sendiri yang tentu tidak ada yang mengurusnya.
Liu Meng juga menceritakan bahwa Tetua Qixuan terus menyendiri di kediamannya saat Ryu pergi ke Dunia Abadi.
Bahkan hal yang paling memilukan adalah ketika Tetua Qixuan memainkan seruling miliknya setiap malam hingga menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
Liu Meng juga menceritakan bahwa Xin Mei sekarang telah menjadi Pelayan khusus yang selalu merawat tempat kediaman Ryu dan sudah menikah dengan salah satu Tetua Sekte Lembah Persik.
" Ryu'er... Sepertinya Tetua Qixuan memilih untuk hidup menyendiri. Sudah banyak orang yang ingin melamarnya, namun dia selalu menolak." Lin Feng sedikit khawatir dengan kondisi Qixuan.
" Tetua Agung... Aku mohon agar kamu menjadikannya sebagai Istri. Jika tidak, seumur hidup kami selalu merasa sedih karena seruling yang dia mainkan." Dong Shen seakan tidak sanggup lagi selalu mendengar suara seruling dari Qixuan.
" Ryu'er... Sebagai sesama Wanita, aku merasakan kesedihan dari Tetua Qixuan. Aku harap kamu bisa menghiburnya." Guru Lun ikut bersuara.
" Aku tidak bisa, aku sudah memiliki 21 Istri." ucap Ryu.
" 21 " Semua membulatkan mata dengan rahang terbuka lebar.
Mendengar apa yang dikatakan anaknya Liu Meng menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepala tidak bisa berkata apa-apa lagi.
" Ryu'er... Paling tidak kamu menemuinya dan menjelaskan kondisimu sekarang." Lin Feng merasa sesak nafas dengan kepala sedikit pusing.
Tidak ingin merespon apa yang mereka katakan Ryu kembali bertanya tentang keadaan Sekte Lembah Persik dan seluruh Dunia Fana.
Lin Feng pun menceritakan bahwa banyak sekali Siluman yang menyerang warga yang tidak tau dari mana asal mereka yang hampir tidak bisa dimusnahkan.
Disamping itu Ras Iblis juga sering muncul di berbagai tempat di Benua Lotus bahkan dikabarkan Benua Bintang juga mengalami nasib yang sama.
Beruntung saja di Benua Lotus masih bisa diredam oleh Pasukan Keempat Naga Gunung, namun mereka tidak mampu menghancurkan Pasukan Siluman tersebut.
Mendengar apa yang mereka katakan, Ryu merasa tertantang karena dia fikir jika menghancurkan Pasukan Siluman itu artinya dia mendapatkan keuntungan dari Inti Roh Siluman tersebut.
Begitu juga dengan Pasukan Iblis, Ryu tertantang untuk menjarah harta paling berharga yang mereka miliki.
Ryu merasa akan lebih mudah untuk mengalahkan mereka karena dia sekarang sudah mencapai puncak Kultivator yang ada di Dunia Fana.
Ditambah lagi dengan Aura Dewa Agung dan Anugerah Inti Petir tentu saja akan sangat membantu.
Ryu pun mengutarakan keinginan sebelum pergi ke Dunia Abadi bersama seluruh Anggota Klan Liu.
" Patriak... Aku minta beberapa Anggota Sekte yang memiliki Kultivasi diatas Level 80 untuk menghancurkan Pasukan Siluman itu." Ucap Ryu.
" Untuk Level 80 hanya beberapa orang saja. Jika digabungkan dengan seluruh Cabang Sekte Lembah Persik maka hanya berkisar 100 Orang saja." ucap Lin Feng.
" Itu tidak masalah... Karena aku berniat untuk membawa bekal sebanyak mungkin sebelum pergi ke Dunia Abadi." ucap Ryu.
" Baiklah... Aku akan mengabarkan hal ini kepada seluruh Cabang Sekte yang ada di Benua Lotus ini." ucap Lin Feng.
" Mmm... Kalau begitu aku pamit dulu." Ryu keluar dari Ruang kerja Patriak menuju kediamannya.
Sesampai di kediamannya Ryu ingin menciptakan cincin pemulihan, dan menambah Jarum sebagai senjata rahasianya sebanyak mungkin.
Tidak hanya sampai disitu, Ryu juga berniat untuk membuat sebuah Armor dari Besi Awan yang dia miliki untuk mengurangi jumlah korban.
__ADS_1