
Ryu juga terfikir kembali dengan Huli Bai Ayahnya Huli Yue yang saat itu sudah mencapai 1 Juta Tahun yang selalu melindungi Desa Lembah Persik selama hidupnya hingga dia memilih untuk Reinkarnasi karena Dunia Fana tidak bisa lagi menerimanya.
Bahkan Desa Lembah Persik juga saat itu memang sangat tertutup yang berada di tengah Hutan bahkan Ryu sendiri tidak mengenal namanya Koin apalagi seorang Kultivator.
" Apa mungkin Leluhur menutup Kultivasinya dan menjadi Orang biasa hingga setiap keturunan berikutnya tidak mengetahui tentang Dunia Kultivator?" Ryu mengerutkan kening.
" Leluhur... Aku tau yang kalian rasakan bagaimana rasanya menjadi incaran Musuh yang membuat Leluhur terlantar di tempat yang jauh agar terhindar dari Musnahnya Darah dari Klan Liu." Ryu keluar dari Alam Bawah Sadar lalu bangkit dari duduknya.
" Atas nama Leluhur dan Klan Liu, Aku Bersumpah akan mengembalikan Klan Liu dan Mengambil Kembali Kekaisaran Awan." Ryu bersuara lantang mengangkat tangan kanannya.
" Duuuaaaaarrr"
" Duuuaaaaarrr"
" Duuuaaaaarrr"
" Duuuaaaaarrr"
Langit di Dunia Abadi terlihat Sambaran Petir Hitam disusul Kobaran Api diselimuti Elemen Cahaya dan Elemen Kegelapan.
Hal itu terus berulang-ulang hingga Tujuh kali membuat semua penghuni Dunia Abadi gempar merasakan akan terjadi bencana.
...Di Kerajaan Langit :...
" Apa? Siapa yang mengangkat Sumpah? " Sosok yang sedang duduk di Singgasana.
" Yang Mulia, Hamba juga tidak tau dari mana Asal Sosok Misterius yang mengikrarkan sumpah." Salah satu sosok mencoba mencari keberadaan Orang yang bersumpah.
" Apakah Itu Kelahiran Kembali Dewa Ashura?"
" Tidak"
" Dewa Agni?"
" Tidak"
" Dewa Surgawi?"
" Tidak"
" Dewa Kegelapan? "
" Tidak"
Seisi Istana Kerajaan Langit terlihat bingung karena tidak bisa merasakan dari mana Asal Orang yang memiliki warisan Kekuatan 4 Dewa Terkuat tersebut.
" Jenderal... Apa itu tanda kelahiran Dewa yang Baru? Karena aku merasa Aura ini Bukan dari salah satu dari mereka." Ucap Sosok yang duduk di Singgasana.
" Benar Yang Mulia. Sepertinya akan lahir Dewa yang Baru. " Ucap sang jenderal.
" Jenderal, Aku Perintahkan kamu untuk mencari keberadaan Orang Misterius itu! Jangan sampai Dewa Iblis terlebih dulu menemukannya." Perintah Sang Raja.
" Baik Yang Mulia " Sosok tersebut langsung menghilang.
Di Dunia Lain :
" Mmmmm.... Siapa yang mewarisi Kekuatanku? Tidak... Dia juga mewarisi Kekuatan Dewa Kegelapan, Dewa Agni dan Dewa Surgawi." suara terdengar dari gumpalan berbentuk Bola Petir Hitam yang tidak lain adalah Jiwa Dewa Ashura.
" Yang Mulia... Aku juga tidak tau." ucap Sosok yang di depannya.
" Sangat menarik... Sepertinya akan muncul Dewa yang Baru. Jenderal, Cari Sosok itu di berbagai Dunia. Kau Awasi saja, jangan sampai Dewa Sok Suci itu menemukannya" Suara terdengar dari Bola Petir Hitam.
__ADS_1
" Baik Yang Mulia " ucap Jenderal tersebut.
" Haahh... Sepertinya aku harus cepat menemukan tubuh yang cocok tempat kelahiran ku." Suara Dewa Ashura terdengar kembali.
Di Kekaisaran Awan:
" Jenderal... Apa kamu tau, Siapa yang mengikrar Sumpah? mengapa aku merasa tidak enak?" Sosok yang berdiri di Singgasana terlihat khawatir.
" Maaf Yang Mulia, Hamba juga tidak tau. Ini memang Aneh." Jenderal tersebut tidak merasakan dari mana Asal Gabungan Elemen yang ada di Langit.
Kembali ke tempat dimana Ryu sedang berada, kini Ryu sendiri terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi karena Sumpahnya seperti membuat bencana.
" Gege... Apa yang kamu lakukan? dan mengapa di Dunia Quzhu terlihat Gelap." Xie Hua merasa Takut.
" Hua'er... Aku juga tidak tau." Ryu menggelengkan kepala.
" Gege... Aku dengar tadi kamu menyebut nama Klan Liu, Apa Gege dari Klan Liu? " Tanya Xie Hua.
" Benar... Tapi Klan itu telah hancur Jutaan Tahun yang lalu. Untuk itu aku akan mengembalikan lagi Nama Klan Liu dan mengambil kembali Kekaisaran Awan." Ryu Membulatkan tekad.
" Aku akan selalu mendukung Gege." Xie Hua mengangguk meskipun belum tau sepenuhnya.
" Hua'er... Sepertinya Tubuhku seakan merespon Energi yang ada di Dunia Abadi ini. Dengan Sumberdaya yang ada sekarang kita bisa mencapai Pendekar Bumi." Ryu merasakan Sensasi yang masuk ke Tubuhnya.
" Gege... Itu sangat mustahil jika Tanpa Sumberdaya yang langka. Dengan Sumberdaya sebanyak itu mungkin kita bisa membutuhkan waktu selama Ratusan Tahun." Xie Hua merasa Ragu meskipun Banyak Sumberdaya, Namun butuh waktu Ratusan Tahun.
" Hua'er... Kamu tidak perlu khawatir. Dalam dua Tahun lagi Tubuhmu akan kembali seperti semula dan tidak lagi Ramping." Ryu memegang pinggang Xie Hua yang terlihat Kurus, namun tidak menyembunyikan kecantikannya.
" Gege... " Xie Hua memasang wajah memerah sambil memeluk Ryu.
" Wuush " Ryu menciptakan Teknik Ruang Waktu.
" Hua'er... Sekarang Dunia Quzhu akan lebih Cepat 100 kali lipat dari Dunia yang sebenarnya. Itu artinya kita bisa Berkultivasi selama 200 Tahun di Dunia Quzhu, tapi Usia kita hanya Bertambah 2 Tahun." Ryu membawa Xie Hua menuju Ruang Kultivasi.
" Hua'er... Kamu duluan, aku akan membuat Pil Kultivasi dulu! kamu bisa mengambil yang sudah ada." Ryu langsung mengeluarkan Tungku Alkemis lalu menciptakan Pil Kultivasi sebanyak mungkin.
Setelah semuanya selesai, Ryu langsung duduk bersila memulai Proses Kultivasi.
...****************...
Dua Tahun telah berlalu di Dunia Abadi yang artinya Ryu dan Xie Hua sudah menghabiskan waktu Selama Dua Ratus Tahun di Dunia Quzhu. Kini penampilan mereka telah kembali seperti semula dimana Tubuh Xie Hua sudah Padat berisi.
Begitu juga dengan Ryu, juga kembali ke bentuk semula meski terlihat lebih Muda seusai 17 Tahun.
Ryu dan Xie Hua juga sudah mencapai Pendekar Bumi Tahap Awal kini Langsung keluar dari Dunia Quzhu untuk melanjutkan Perjalanan.
" Gege... Sepertinya sekarang kita tidak perlu Khawatir lagi untuk melanjutkan Perjalanan." Xie Hua terlihat senang.
" Mmmm... Aku fikir juga begitu. Dengan begini, Orang lain tidak akan curiga." Ryu terlihat bersemangat sambil berjalan mengikuti Jalan Setapak.
Setelah berjalan sekitar 200 Meter, mereka merasakan ada sebuah Pertarungan yang tidak jauh dari mereka.
" Untung saja kita sudah mencapai Pendekar Bumi." Ryu merasakan beberapa Aura yang yang sudah mencapai Pendekar Bumi Tahap Awal.
" Mmmm." Xie Hua langsung berlari ke arah Pertarungan.
Di dalam Pertarungan terlihat Kelompok Manusia yang memiliki Penampilan Aneh yang memiliki Peliharaan Kalajengking yang berukuran Manusia Dewasa sedang melawan beberapa Kultivator yang sudah terluka Parah bahkan mati.
" Gege..." Xie Hua terlihat khawatir.
" Mungkin mereka adalah Manusia Rawa. Cepat bantu mereka.!" Ryu langsung melompat dan memotong leher dari Manusia Rawa.
__ADS_1
Xie Hua yang awalnya merasa ngeri kini mengumpulkan keberanian langsung membantu Ryu yang sedang melancarkan serangannya terhadap Gerombolan Manusia Rawa tersebut.
Dengan satu Ayunan Pedang, Ryu dapat membunuh Manusia Rawa satu-persatu dimana semua masih mencapai Pendekar Alam Tahap Awal.
" Kakek, Siapa mereka? " Tanya salah satu sosok Wanita Cantik sambil menatap Ryu dan Xie Hua sambil bertarung di sisi lain.
" Aku tidak tau... qi'er... sepertinya mereka menyamai kejeniusanmu. " Sosok Pria Paruh Baya bernama Ling Liddan memperhatikan Ryu dan Xie Hua di sela Pertempuran.
" Yang pasti mereka ada di pihak kita" Ling Liddan terus melakukan perlawanan terhadap Manusia Rawa yang menyerang.
' Pemuda itu sangat tampan' Ling Queqi melirik ke arah Ryu di sela pertarungannya.
Di sisi Ryu sendiri telah berhasil mengalahkan lawan yang sangat banyak hingga mampu membunuh separuh dari jumlah Manusia Rawa bersama Hewan Kontrak mereka.
' Manusia Rawa ini memiliki fisik yang kuat' Ryu merasakan setiap serangannya harus mengeluarkan seluruh kekuatan dengan penuh untuk membunuh mereka.
' Jadi ini maksud Guru dengan kekacauan itu.' Ryu terus mengayunkan pedangnya membunuh Manusia Rawa dan Hewan Roh yang menyerangnya.
' Pemuda itu sangat menarik... Sangat cocok menjadi Suami qi'er.' Ling Liddan melirik ke arah Ryu. ' Tapi... Siapa Wanita yang bersamanya.' Ling Liddan melirik ke arah Xie Hua sambil mengayunkan pedang ke arah lawan.
' Langkah Hantu Harimau Petir ' Ryu menambah kecepatan seperti bayangan menyerang kelompok Manusia Rawa.
Xie Hua yang melihat Aksi dari Ryu, juga tidak mau kalah berniat untuk memperagakan Teknik yang dia pakai.
" Tebasan Pedang Angin." Xie Hua melepaskan tekanan udara yang tipis namun memiliki ketajaman seperti Pedang membuat Sepuluh Manusia Rawa mati terpotong.
" Tarian Pedang Angin." Xie Hua seakan menari bersama Pedang di tangannya membuat Tusukan Pedang mengenai jantung Manusia Rawa hingga mati.
" Pedang Angin Penghukuman." Xie Hua melempar Pedang dari tangannya membuat pedang tersebut melayang dan menebas leher Manusia Rawa yang dia lewati.
Ryu yang sempat melirik ke arah Xie Hua, kini memasang wajah masam karena dibalik sifat manja ternyata menggunakan Teknik yang mematikan.
" Seratus Pedang Tanpa Wujud." Xie Hua memejamkan mata sesaat lalu membuka kembali, Seketika Puluhan Manusia Rawa mengeluarkan Darah dari berbagai bagian tubuh mereka.
' Siapa Gadis itu? mengapa teknik yang dia Pakai setara dengan Teknik tingkat Surgawi.' Ling Liddan memasang wajah masam karena Tekni tingkat Surgawi sangat langka dan sulit dipelajari.
' Wanita ini... Sepertinya Dia sangat berbahaya.' Ling Queqi melirik ke arah Xie Hua merasa ngeri.
" Getaran Cinta Pertama." Xie Hua kembali melepaskan Tujuh kelopak Bunga Teratai berukuran besar berwarna Hitam diselimuti Petir dan Api menuju kumpulan Manusia Rawa.
" Bboooom... Bboooom... Bboooom..." ketujuh Kelopak tersebut langsung meledak menciptakan tekanan yang sangat kuat membuat tujuh Kawah kecil. Seketika Semua Manusia Rawa langsung mati.
' Hua'er... Nama Teknik yang kamu pakai tidak sesuai dengan Kerusakan yang ditimbulkan.' Ryu senyum masam merasakan sedikit Imbas dari Teknik tersebut menyamai Teknik Auman Bencana Harimau Petir.
Sedangkan Ling Liddan dan Ling Queqi harus menjauhi wilayah Pertarungan saat merasakan Aura dari Teknik yang digunakan Xie Hua sangat berbahaya.
Ketiga Pemimpin dari Manusia Rawa yang sudah mencapai Pendekar Bumi Tahap Menengah menyaksikan semua bawahan mereka sudah mati, mereka langsung lari dari Areal Pertarungan dengan menggunakan Hewan Kontrak.
Ryu yang melihat ketiga Pemimpin Manusia Rawa yang sudah lari, kini menghentikan aksinya karena seluruh Bawahan mereka sudah mati langsung menoleh ke arah Xie Hua.
" Hua'er... Teknik yang kamu pakai hampir saja melukaiku." Ryu berjalan ke arah Xie Hua seraya tersenyum.
" Maaf Gege... Aku terlalu bersemangat." Xie Hua memang sengaja memperlihatkan Tekniknya karena dia sudah tahu kalau Suaminya bisa menghalau Teknik tersebut.
" Terimakasih atas bantuan Junior. Kalau tidak, mungkin Aku dan Cucuku akan mengalami nasib yang sama." Ling Liddan berjalan ke Arah Ryu dan Xie Hua meskipun dalam keadaaan Terluka.
" Tidak masalah Senior, Kami hanya kebetulan lewat. " Ryu menyambut dengan senyuman ramah.
" Kakek.." Ling Queqi berjalan dengan tertatih karena mengalami luka dalam.
" Oh perkenalkan Namaku Ling Liddan, dan ini Cucuku Ling Queqi." Ling Liddan memperkenalkan diri mereka. " qi'er... " mengisyaratkan kepada Ling Queqi.
__ADS_1
" Terimakasih atas bantuan kalian." Ling Queqi menundukkan kepala.