SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
HUTAN LARANGAN


__ADS_3

Sedangkan lima Sekte yang berhubungan dengan Istana yaitu Sekte Lembah Api, Sekte Kuil Bambu, Sekte Kabut Ilusi, Sekte Menara Awan dan Sekte Gunung Phoenix tidak pernah lagi membeli Sumberdaya kepada mereka.


Sedangkan Sekte yang lain dan beberapa anggota keluarga Klan lain hanya membeli Sumberdaya hanya dalam jumlah sedikit, itupun termasuk pembelian dari Kultivator bebas.


Hal itu memang terjadi karena pihak Kekaisaran Awan memiliki Batu Roh yang tidak terbatas yang tentu tidak memperdulikan masalah harga yang diberikan pihak Assosiasi Matahari Timur.


Jika saja Assosiasi Matahari Timur mengetahui bahwa pihak Istana hanya membeli Sumberdaya untuk dibudidayakan, maka secara otomatis mereka tidak akan menjual Sumberdaya tersebut.


" Sepertinya aku harus menjalin kerjasama dengan pihak Istana dan menjual Sumberdaya dengan harga yang terjangkau." Manager Assosiasi Matahari Timur menurunkan harga dirinya sendiri agar penjualan Sumberdaya kembali seperti semula.


...----------------...


Pada keesokan hari dimana Ryu dan Istrinya sedang berpamitan kepada anak mereka, Anggota Klan Liu, dan seluruh pengurus Istana Kekaisaran Awan, kini mereka sudah berada di luar pintu gerbang Istana.


" Gege... Apa kita langsung ke Kota Anhui?" Tanya Sheng Zhishu.


" Mmm... Sebaiknya kita nikmati perjalanan. Tapi untuk Xuan'er, lebih baik kamu latihan tertutup untuk menerobos Pendekar Surgawi." Ryu menoleh ke arah Zhang Qixuan.


" Haaahh... Baiklah, semoga aku cepat menyusul." Zhang Qixuan menghela nafas seraya masuk ke Dunia Quzhu.


" Gege... Maafkan kami, untuk beberapa bulan kedepan kami tidak bisa melayanimu karena kami ingin menyempurnakan tubuh Dewi Emas." Xin Chie merasa tidak enak.


" Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi aku sedikit heran, dari mana kalian dapatkan Teknik itu?" Ryu mengerutkan kening.


" Ah... Itu... Kami hanya menemukan teknik itu secara kebetulan." Wang Mingjun menjawab dengan cepat meskipun harus berbohong kepada Ryu. Karena dia tidak ingin bahwa Teknik tersebut berasal dari Ling Xianzi yang mereka sempurnakan lagi.


" Aku hanya mengingatkan kepada kalian. Jangan sesekali menggunakan Teknik yang tidak jelas, Apalagi itu dari Aliran Hitam. Jika tidak, secara perlahan akan merusak kepribadian kalian." Ryu mengingatkan kepada mereka.


Mendengar ucapan dari Ryu, semua saling berpandangan satu sama lain merasa sedikit takut mengingat Teknik yang mereka gunakan berasal dari Aliran Hitam.


Mereka ingin berterus terang kepada Ryu, namun mulut mereka seakan terkunci takut kalau suami mereka akan marah.


" Gege... Kalau begitu kami pergi ke Dunia Quzhu saja. Nanti kalau kita sudah berada di wilayah Kekaisaran Han, kami akan keluar lagi." Sheng Zhishu mengisyaratkan kepada yang lain.


" Tidak masalah... Lagi pula kita tidak bisa melakukan perjalanan seperti ini. Jika aku membutuhkan bantuan kalian, aku bisa memanggil kalian." Ryu tidak keberatan jika di harus berjalan kaki sendiri.


Mendapat persetujuan dari Ryu, mereka pun satu-persatu meninggal Ryu menuju ke Dunia Quzhu.


" Haaahh... Untung saja kalian menyempurnakan Teknik itu. Jika tidak, mungkin kalian akan memiliki sifat seperti Ling Xianzi. Tapi sekarang aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi sifat buas dari Istriku." Ryu senyum masam seraya menggelengkan kepala lalu melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Ryu sebenarnya sudah mengetahui hal itu saat semua Istrinya berada di Dunia kecil yang dimana dia sebagai Dewa ataupun Penguasa di Dunia tersebut.


Dengan kata lain Ryu bisa mengetahui apapun yang ada di Dunia Quzhu, termasuk semua jenis Hewan, Peri, dan Ras manusia yang ada di Dunia Quzhu.


Bahkan dari desiran ombak, Angin, Awan, hingga dedaunan yang berjatuhan Ryu dapat merasakannya berkat Pagoda Jiwa.


Namun itu terjadi di Dunia Quzhu saja, jika berada di Dunia yang lain akan beda ceritanya.


Hanya satu yang tidak bisa ketahui, yaitu fikiran makhluk hidup yang ada di Dunia Quzhu.


Ryu sempat berfikir jika dia mampu naik sampai ke tingkat teratas Pagoda Jiwa, maka dia mengetahui semua fikiran Makhluk yang ada di Dunia Quzhu.


Untuk mengisi waktu pada malam hari selama dalam perjalanan, Ryu kembali mengolah Aura Pembunuh menjadi Aura Dewa Agung.


Tidak hanya itu saja, Ryu juga menyempurnakan tubuh Dewa Agung dimana sempat berkurang akibat Pagoda Jiwa yang masuk secara paksa di Alam Jiwanya.


Namun Ryu tidak mempermasalahkan hal itu karena menurutnya itu adalah harga yang pantas untuk mendapatkan Pagoda Jiwa.


Setelah menempuh perjalanan selama dua minggu, Ryu telah berada di Hutan larangan dimana terlihat Formasi Kuno telah terbuka.


Dengan penuh kewaspadaan, Ryu langsung masuk ke dalam Hutan tersebut hingga menemukan beberapa sosok yang juga ikut menelusuri Hutan tersebut.


" Sepertinya Pemuda itu sangat mencurigakan." Guru pertama memperhatikan Ryu yang sedang berjalan sendiri dari kejauhan bersama keempat Guru lain yang sudah menyamarkan keberadaan mereka.


" Mmm." Guru kelima mengangguk lalu memusatkan fikiran dengan menyentuh jari telunjuk di keningnya.


Setelah beberapa Guru kelima memperhatikan Ryu kini memiliki wujud yang lain.


" Tidak salah lagi... Pemuda itu adalah Kaisar Ryu." Guru kelima tersenyum lebar seperti mendapatkan buruan yang empuk.


" Kalau begitu, kita harus mencari tempat yang aman untuk menyekap pemuda itu." Guru ketiga terlihat senang.


" Mmm." mereka mengangguk sambil mengikuti Ryu dari kejauhan.


Ryu yang masih belum menyadari hal itu, terus melanjutkan perjalanan untuk mencari sesuatu yang berharga di Hutan larangan tersebut.


Saat sudah masuk ke bagian terdalam Hutan, Ryu tiba-tiba merasakan ada beberapa sosok yang mengikutinya.


Dengan sigap Ryu langsung mengaktifkan Armor Pelangi lalu menggunakan Langkah Hantu Harimau Petir.

__ADS_1


" Kemana Pemuda itu?" mereka terlihat heran saat merasakan Aura dari Ryu langsung hilang begitu saja.


" Kenapa kalian mengikutiku?" Ryu muncul di hadapan mereka sambil meningkatkan kewaspadaan.


" Boleh juga." Guru pertama tersenyum lebar menutup rasa keterkejutannya karena Ryu mampu mendeteksi keberadaan mereka.


" Ternyata benar apa yang dikatakan Ling Xianzi. Pemuda ini memiliki energi 'Yang'matahari." Guru ketiga berbisik kepada yang lain sambil menatap Ryu dengan intens.


Meskipun mereka bersuara pelan, dengan ketajaman pendengarannya Ryu mengetahui apa yang dibisikkan oleh salah satu dari mereka.


' Ternyata mereka dari Perguruan Hantu Malam. Sial.. Mereka ternyata menginginkan tubuhku. Aku yakin mereka memiliki racun pembangkit gairah.' Ryu mendapatkan firasat buruk seakan tidak ingin berurusan dengan racun tersebut.


" Shuijing, Chaizu, Jiejia." Ryu memanggil ketiga Hewan Kontrak miliknya.


" Wuush... Wuush... Wuush." Tiga Hewan kontrak berdiri di depan Ryu.


" Salam Tuan." Ketiga Hewan Kontrak memberi hormat lalu menoleh ke arah kelima sosok di belakang mereka.


" Sial.. Ternyata pemuda itu memiliki Hewan Kontrak." Guru pertama terlihat kesal.


" Aku tidak suka ada yang mengganggu perjalananku. Shuijing, serang wanita itu." Ryu menunjuk ke arah Guru pertama.


" Baik Tuan." Tou Shuijing dengan wujud Hydra raksasa berkepala Tujuh langsung menyerang ke arah Guru pertama.


" Sial... Kenapa aku harus melawan monster mengerikan ini." Guru pertama mendorong tubuhnya kebelakang menjauhi tempat tersebut agar bisa bertarung dengan bebas.


Tentu saja hal itu membuat Tou Shuijing sangat senang, karena dengan begitu dia langsung memperbesar tubuhnya hingga lebih tinggi dari pepohonan yang ada di tempat itu.


" Ggooooaaarr." Tou Shuijing mengaum keras dengan Aura Intimidasi yang sangat kuat.


" Chaizu... Serang wanita itu!" Ryu menunjuk ke arah Guru ketiga.


Tanpa berkata apapun Chaizu langsung melompat dan menyerang Guru ketiga dengan sebuah cakaran.


" Ggooooaaarr." Chaizu mengaum keras menciptakan tekanan udara.


" Sial.. Mengapa Pemuda ini memiliki Hewan Kontrak yang mengerikan." Guru ketiga yang bergindik ngeri dengan adanya sosok Hydra, harus mendapatkan lawan seekor Harimau langsung mundur ke belakang.


" Jiejia... Serang wanita itu." Ryu menunjuk ke arah Guru kelima.

__ADS_1


" Zzzttttt." Dengan wujud Laba-laba setinggi enam meter, Jiejia langsung menyerang ke arah Guru kelima.


Guru kelima yang mendapat lawan seekor Laba-laba, langsung melompat ke belakang untuk menghindar dari arah serangan.


__ADS_2