
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
Di dalam kapal udara, Qixuan langsung memilih sebuah kamar dimana tempat para penduduk yang lain dan memilih kamar paling ujung.
Meskipun Qixuan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, namun dia yakin kalau tujuan mereka pasti meninggalkan tempat tersebut.
...----------------...
Di ruang kerja Patriak, Terlihat Ryu sedang berbincang dengan Lin Feng.
" Salam Patriak." Ryu memberi hormat.
" Ryu'er... Sepertinya kamu sedang buru-buru." Lin Feng mengerutkan keningnya.
" Benar Patriak. Sepertinya aku tidak bisa lama disini. Untuk itu aku percayakan Sekte ini kepada kalian. Untuk itu juga aku mohon pamit." Ryu menundukkan kepala.
" Aku tidak pernah menghalangi kalian, apalagi Dunia Abadi adalah Rumah kalian." ucap Lin Feng.
" Terimakasih atas pengertian Patriak. Mohon terimalah pemberianku ini. Anggap saja sebagai kenang-kenangan dari Klan Liu." Ryu memberikan kotak dimensi yang berisi Sumberdaya yang mereka dapatkan sebelumnya, 100 Armor Awan, dan 100 Cincin pemulihan.
" Ryu'er... Ini sudah terlalu banyak." Lin Feng menggelengkan kepala.
" Tidak masalah Patriak. Kalau begitu aku pamit dulu." Ryu menundukkan kepala lalu meninggalkan ruangan tersebut.
Di luar Sekte Lembah Persik, kini terlihat Dong Shen sedang menunggu kedatangan Ryu.
" Tetua Agung... Maaf aku tidak bisa mengantarmu. Tapi aku harap kalian tidak pernah melupakan kami disini." ucap Dong Shen.
" Tenang saja Tetua Shen. Jika aku sudah mencapai puncak Kultivator di Dunia Abadi, maka aku akan berkunjung kesini lagi. Bagaimanapun tempat ini juga rumah kami." ucap Ryu.
" Ka Ryu." Terlihat sosok Wanita Cantik keluar dari gerbang Sekte, yang tidak lain adalah Xin Mei.
" Adik Mei..." Ryu mengerutkan keningnya.
" Ka Ryu.... Aku datang kesini untuk meminta maaf." Xin Mei menundukkan kepala.
" Adik Mei... Dari dulu aku sudah memaafkanmu." ucap Ryu.
__ADS_1
" Ka Ryu... Apakah kita bisa bicara sebentar?" Xin Mei menatap ke arah Ryu lalu menoleh ke arah Dong Shen memberi sebuah Isyarat.
" Tetua Agung... Kalau begitu aku pamit dulu. Xin Mei, kamu jangan lupa bahwa kamu sudah memiliki Suami." Dong Shen meninggalkan tempat tersebut sambil mengingatkan Xin Mei.
" Tenang saja Tetua Shen... Aku juga tau itu." Xin Mei sedikit kesal dengan apa yang diucapkan Dong Shen.
" Adik Mei... Aku sedang buru-buru. " ucap Ryu seraya melangkahkan kakinya.
" Aku akan mengantarmu." Xin Mei berjalan mendekati Ryu.
Tanpa memperdulikan Xin Mei, Ryu terus melangkahkan kakinya menuju Desa Lembah Hitam.
" Ka Ryu... Apa kamu masih membenciku? Ka Ryu... Aku ingin kita seperti dulu lagi." Xin Mei berlari menghentikan langkah Ryu sambil meneteskan air mata.
" Adik Mei... Cintailah suamimu. Jangan pernah kecewakan orang yang mencintaimu." Ryu menggelengkan kepala melihat tingkah Xin Mei.
" Ka Ryu... Berikan aku waktu untuk sesaat." Xin Mei yang sudah tidak kuat menahan perasaannya langsung memeluk Ryu dengan erat.
" Adik Mei... Kamu tidak seharusnya seperti ini." Ryu menolak secara halus atas sikap Xin Mei.
" Ka Ryu... Tolong jangan lepaskan! Biarkan aku memelukmu seperti ini." Xin Mei seakan tidak rela meninggalkan Ryu.
" Adik Mei... Jika kamu dilihat orang lain seperti ini, itu sama saja membuatmu dalam masalah." Ryu sambil memperhatikan wilayah sekitar takut akan dilihat orang lain.
" Ka Ryu... Tolong untuk kali ini, temani aku pergi ke suatu tempat. Setelah itu aku tidak akan menghalangimu lagi." Xin Mei terus memeluk erat tubuh Ryu sambil memelas.
Setelah berfikir cukup lama, Ryu menjawab dengan sebuah anggukan kecil lalu mengirim pesan jiwa kepada Jianheng jika semua sudah masuk ke dalam kapal udara agar bisa menunggu di Hutan bagian Timur Desa Lembah Hitam dimana tempat tinggal Huli Yue sebelumnya.
" Baiklah... Aku akan memenuhi permintaanmu. Tapi setelah ini, Suamimu." ucap Ryu.
" Terimakasih Ka Ryu... Itu sudah pasti. Tapi sekarang suamiku sedang menjalankan misi." Xin Mei melepaskan pelukannya seraya menarik tangan Ryu membawa ke suatu tempat.
Tidak beberapa lama mereka sudah berada di sebuah Bukit kecil yang letaknya diantara Sekte Lembah Persik dan Desa Lembah Hitam.
Di puncak bukit tersebut terdapat sebuah batu besar yang diatasnya terlihat datar sekitar 2 x 3 meter.
" Ka Ryu... Kamu tau kenapa aku membawamu kesini?" Xin Chie menatap ke arah bangunan yang ada di Sekte Lembah Persik dari kejauhan.
Sedangkan di belakang tempat mereka berada juga terlihat bangunan yang ada di Desa Lembah Hitam.
" Sejak Aku mendengar bahwa ketujuh Istrimu meninggal, Aku melakukan perjalanan jauh ke Sekte ini."
" Tapi saat aku sudah sampai di Sekte, aku mendengar kamu sudah pergi ke Dunia Abadi." Xin Mei menghela nafas panjang.
" Mendengar hal itu, Aku memohon meminta ampunan kepada Patriak Sekte Lembah Persik dan Paman Meng."
" Walaupun mereka terlihat ragu, namun aku tetap memohon hingga akhirnya mereka juga memaafkanku dan untuk menebus kesalahanku, aku meminta menjadi seorang Pelayan yang mengurus kediamanmu.
Meskipun posisiku sebagai pelayan, Paman Meng menganggap aku juga sebagai Anggota Sekte Lembah Persik dan mendapatkan hak yang sama seperti anggota yang lain.
Hingga ada seorang Pria yang mengutamakan perasaannya kepadaku."
" Meskipun aku tidak bisa mencintainya, namun aku mencoba membuka diri untuk menerimanya sebagai Suamiku." Xin Mei menyandarkan kepalanya di bahu Ryu.
" Adik Mei... Apa yang kamu miliki sekarang, seharusnya kamu jaga dan rawat. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari." Ryu teringat akan Istrinya yang selalu memberikan hal yang terbaik untuknya.
" Ka Ryu... Aku punya satu permintaan sebelum kamu pergi." Xin Mei menatap wajah Ryu hingga mencium bibirnya dengan penuh gairah.
__ADS_1
Sambil menutup mata Xin Mei mulai melepaskan pakaiannya satu-persatu memperlihatkan sebuah Gunung kembar dan kulit putih bersih.
Secara perlahan kini semua pakaian Xin Mei semua sudah terlepas hingga memperlihatkan bagian Goa Sucinya lalu duduk di pangkuan Ryu sambil mengarahkan miliknya tepat pada Tongkat milik Ryu meskipun Ryu masih berpakaian lengkap.
Merasakan sentuhan dari Xin Mei, Ryu mencoba mengendalikan diri menolak secara halus atas tindakan yang dilakukan Xin Mei.
Di sisi lain Xin Mei seakan tidak ingin melepaskan pelukannya seraya menggoyangkan pinggul merasakan samar-samar tongkat milik Ryu masih tertutup kain menyentuh goa miliknya.
Dengan rasa penasaran, Xin Mei memberanikan diri untuk memegang benda milik Ryu yang sontak membulatkan matanya namun tetap menikmati permainan lidahnya di mulut Ryu.
Karena sudah tidak sabar lagi Xin Mei berniat untuk melepaskan pakaian milik Ryu namun aksi itu dihentikan oleh Ryu.
" Adik Mei... Tolong jangan lanjutkan lagi!" Ryu yang masih mengendalikan diri menolak hal tersebut.
" Ka Ryu... " Xin Mei seakan memelas kepada Ryu agar bisa ke tahap selanjutnya.
" Adik Mei, kamu harus ingat bahwa kamu sudah memiliki Suami." Ryu bangkit dari tempat duduknya tanpa menoleh ke arah Xin Mei yang sudah tanpa busana.
Xin Mei yang sudah hanyut dalam permainannya sendiri kini hasratnya semakin kuat sambil menahan penderitaan yang dialami karena keinginannya tidak kesampaian.
" Aku harus pergi sekarang." Ryu melangkahkan kakinya menuruni bukit tersebut.
Namun kali ini Xin Mei terus menahannya karena sudah tidak tahan dengan fikirannya sudah kacau.
" Ka Ryu, aku mohon..." Suara lirih terdengar dari Xin Mei sambil memeluk Ryu dari belakang berharap agar Ryu bisa menghapus penderitaannya tersebut.
Bagi seorang Pria yang masih normal, tentu saja membuat hasrat Ryu langsung bangkit karena pengaruh sentuhan dari Xin Mei.
Namun Ryu tidak ingin hal itu terjadi karena Xin Mei sudah memiliki Suami yang tentu bisa menghancurkan keluarga mereka.
Dengan terpaksa Ryu meninggalkan tempat tersebut dengan menggunakan langkah Hantu Harimau Petir tanpa memperdulikan apa yang telah dilakukan Xin Mei.
Saat mencapai Desa Lembah Hitam, Ryu langsung menuju bagian timur untuk menemui anggota Klan Liu yang lain.
Setelah sampai di Hutan bagian timur desa, Ryu telah disambut oleh Liu Meng, Jianheng, Jianying serta yang lain.
" Salam Tetua Agung." Ucap mereka serempak.
" Mmm." Ryu mengangguk lalu masuk ke dalam kapal udara yang diikuti yang lain.
Saat berada di dalam kapal, Ryu meminta kepada Jianheng untuk mengemudi kapal udara menuju Hutan yang keempat.
" Ryu'er... kita harus kemana sekarang?" Tanya Liu Meng.
" Ayah... Sebaiknya kita bereskan dulu masalah di Dunia Fana ini sebelum kita pergi." Ryu tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengambil Inti Roh Siluman karena masih berfungsi saat berada di dunia Quzhu.
" Baiklah... Aku rasa itu masuk akal, agar keseimbangan di Dunia Fana ini masih terjaga." Liu Meng merasa hal itu ada benarnya dengan keberadaan Dewa Siluman dan pasukannya tentu akan membahayakan kelangsungan hidup manusia.
" Untuk kali ini aku meminta semua anggota Sekte Lembah Persik yang sudah mencapai level 70 keatas agar ikut bersamaku." Ryu merasa hal itu akan cukup membantu.
" Baik Tetua Agung." ucap mereka serempak.
Di dalam kapal udara terdiri dari dua lantai, dimana untuk lantai dasar sebagai tempat peristirahatan penduduk Desa Lembah Hitam sedangkan lantai dua untuk anggota Sekte Lembah Persik.
Ryu meminta kepada beberapa anggota wanita untuk mengurus keperluan dan menyediakan makanan kepada seluruh anggota Klan Liu selama dalam perjalanan.
Beberapa anggota Sekte dan penduduk Desa Lembah Hitam yang wanita pun dengan senang hati menerima tugas tersebut karena perlengkapan masak juga telah tersedia di lantai dua.
__ADS_1
Setelah memberikan tugas kepada mereka, Ryu menuju ruang kemudi dan meminta kepada Jianheng untuk berhenti sejenak ketika ada melihat Sungai.
Saat berada di tepi sungai yang cukup besar, Ryu keluar dari kapal udara lalu memasukkan air ke kotak dimensi hingga terisi penuh hingga kembali lagi ke kapal udara.