
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
Di Dunia Quzhu kini terlihat Ryu dan Wang Mingjun sedang duduk di tempat tidur sambil berbincang.
" Jun'er... Aku harap Kalian berempat akan tinggal di Istana Kaisar. Karena aku masih memiliki Tugas yang lain." ucap Ryu.
" Baiklah Gege... Mungkin dengan kami berempat masih bisa membantu menyelesaikan Tugas Kaisar." Jawab Wang Mingjun.
" Terimakasih, kalian Istri yang baik." Ryu menggoda.
" Itu sudah menjadi kewajiban seorang Istri." Wang Mingjun mengalungkan tangannya di leher Ryu.
" Apa kita akan memulainya?" Ryu mengalungkan tangannya di pinggang Wang Mingjun.
" Mmmmm." Wang Mingjun mengangguk seraya menutup mata.
Hal yang tidak pernah Ryu lupa adalah mencium Kening Wang Mingjun secara perlahan hingga semakin turun mencapai bibir lembut Wang Mingjun.
Begitupun Wang Mingjun juga melakukan hal yang sama hingga mereka menikmati malam yang panjang dengan penuh kebahagiaan sebagai suami istri.
Lebih dari Sebulan Ryu menuruti keinginan dari Ting Ye, Wang Mingjun, Shu Meilu Qin Shuomei dan Li Jilan dan memperlakukan mereka dengan adil.
Dalam kebersamaan itu juga Ryu tidak bosan meminta mereka agar Berlatih dan Memperkuat Fondasi.
Lebih dari Sebulan di Dunia Quzhu, mereka kembali ke Dunia Abadi dimana hanya melewati Waktu satu hari.
Saat Di Ruang Kerja Kaisar, Ryu memberi Perintah kepada Keempat Jenderal untuk menyebarkan Sayembara untuk mencari Prajurit serta Pelayan yang diadakan Satu Bulan setelah Hari Pernikahan berlangsung.
Keempat Jenderal itupun membagikan semua Tugas kepada beberapa Prajurit untuk menyebar lembaran berisi Sayembara untuk mencari Pelayan Istana Kaisar yang Sudah mencapai Pendekar Alam Tahap Akhir dengan gajih tiga kali lipat yaitu 600 Batu Roh.
Begitu juga dengan Prajurit harus memenuhi persyaratan yaitu sudah mencapai Pendekar Alam Tahap Akhir dengan gajih sebesar 700 Batu Roh setiap Bulan.
Hal itu tentu saja membuat beberapa Sekte kecil langsung memilih Tawaran tersebut bahkan beberapa Anggota Klan maupun Sekte besar Juga mengikuti Seleksi tersebut.
Namun bagi mereka yang belum mencapai Syarat tersebut, membuat mereka patah semangat namun mencoba untuk berlatih dan Berkultivasi karena masih ada waktu.
......................
Satu Bulan telah berlalu, kini Ryu bersama Kelima Wanita Cantik telah melangsungkan Pernikahan yang sangat meriah bahkan Jiang Caiping juga ikut hadir dalam Pernikahan tersebut bersama beberapa Pelayan setianya.
Baik Ting Ye, Wang Mingjun, Shu Meilu, Qin Shuomei dan Li Jilan yang sudah mengetahui hubungan antara Ryu dan Jiang Caiping juga menyambutnya dengan gembira dan menganggap dia sebagai bagian dari mereka.
Setelah Acara Pernikahan selesai, Ryu bersama Kelima Istrinya kembali menuju Dunia Quzhu agar mereka bisa memiliki waktu yang lama untuk berlatih dan memperkuat Fondasi maupun untuk Berkultivasi.
__ADS_1
Pada keesokan hari, Ryu menuju ke Ruang kerja Kaisar dimana terlihat Li Chun, Keempat Menteri dan Keempat Jenderal.
" Salam Yang Mulia." Semua memberi Hormat.
" Mmmmmm." Ryu melambaikan tangannya menyapa ramah.
" Li Chun... Untuk sekarang aku akan memintamu untuk mencari keberadaan Paviliun Kelinci merah. Karena aku fikir mereka sangat berbahaya." Ryu memberikan Perintah.
" Dengan senang hati Tuan." Li Chun menundukkan kepala lalu meninggalkan ruangan.
" Jenderal Fei, Aku memintamu untuk mencari Seorang Guru Agar bisa melatih Para Prajurit nantinya dan Katakan saja bahwa Kita akan memberikan Upah tiga kali lipat dari upah yang biasa." Ucap Ryu.
" Baik Yang Mulia Kaisar." Li Fei menundukkan kepala lalu berjalan keluar Ruangan.
" Jenderal Tianli, Jenderal Bizhu, Jenderal Su Wu... Aku meminta kalian agar memilih Prajurit terbaik agar bisa ditugaskan ke berbagai Kota di Wilayah Kekaisaran Awan." Ryu memberi Perintah.
" Baik Yang Mulia Kaisar."
" Baik Yang Mulia Kaisar."
" Baik Yang Mulia Kaisar."
Jenderal Tianli, Jenderal Bizhu, dan Jenderal Su Wu menundukkan kepala lalu menuju kediaman Prajurit.
" Yang Mulia Kaisar, meskipun status kami sebagai Mertuamu tapi kami adalah Menteri dan itu artinya kami tidak mungkin hanya berdiam diri." Li Shang merasa tidak enak karena mereka seperti makan gajih buta.
" Baiklah, Tapi sebelumnya aku minta maaf kepada Ayah Mertua semuanya. Aku hanya meminta kalian untuk mengurus Sumberdaya milik Kekaisaran ini agar bisa dibagikan kepada Para Jenderal dan Prajurit juga memilih Jenderal yang Baru yang cocok untuk membantu Jenderal yang lain." ucap Ryu.
" Baik Yang Mulia Kaisar." Jawab keempat Menteri.
" Mmmmmm." Ryu mengangkat tangannya.
Ryu sebenarnya merasa tidak enak karena harus memberi Perintah kepada Keempat Ayah Mertuanya, namun karena bagian dari tugas mau tidak mau dia harus melakukannya.
Setelah semuanya pergi, Ryu membuka beberapa Dokumen yang sudah ditaruh di meja kerjanya.
" Menarik... Sepertinya Keempat Raja dan Lima Sekte ini memiliki Pendirian yang kokoh." Ryu mengerutkan keningnya.
" Tidak masalah jika mereka tidak menggangu ketentraman Warga yang dibawah Kekuasaan Kekaisaran Awan." Ryu sambil menatap beberapa titik Hutan yang masih belum terjamah oleh siapapun.
' Hhhmmmm.... Suatu saat aku harus mengunjungi Wilayah ini." Ryu merasa tertarik dengan Hutan yang masih belum pernah dilewati yang mungkin menyimpan Sumberdaya atau tempat Sekte atau Kediaman Aliran Hitam.
Ryu berfikir dengan Wilayah Kekaisaran Awan begitu Luas, bukan tidak mungkin para penyusup akan memasuki Wilayahnya meskipun dikelilingi Hutan belantara bahkan lebih buruk jika ditambah Kehadiran Sekte Aliran Hitam.
Setelah selesai membaca semua Dokumen, Ryu berfikir kembali jika ada waktu Dia akan mengunjungi Kelima Sekte, Empat Kerajaan dan 20 Kota dimana termasuk Kota Linka tempat kediaman Istrinya sendiri.
" Haaahh... Ternyata Jadi Kaisar sangat membosankan." Ryu menggerutu lalu berjalan menuju kamar Kediamannya.
Sesampai di Kamar, Ryu langsung menuju Dunia Quzhu mencoba untuk Berkultivasi agar bisa menerobos ke tingkat selanjutnya.
Di Istana Emas, Ryu juga merasakan Kelima Istrinya juga sedang berlatih lalu berjalan menuju Ruang Kultivasi.
Pada hari Ketiga, Ryu yang sudah berada di Ruang kerja Kaisar kini terlihat Li Chun bersama Empat sosok Wanita yang berada di sampingnya.
" Tu...Tuan.." Li Chun terlihat gugup.
" Salam Yang Mulia Kaisar." Keempat Sosok Wanita Muda tersebut memberi Hormat.
" Li Chun, ada apa? Dan siapa Keempat Wanita yang bersamamu? " Ryu mengerutkan keningnya.
" Ini Karena tugas yang Tuan berikan. Keempat Wanita ini terkena Racun Kelinci merah saat aku menolong mereka dan....." Li Chun menunduk tidak berani melanjutkan keterangannya.
" Lalu bagaimana dengan Paviliun Kelinci merah itu? Apa sudah mendapat petunjuk?" Ryu terlihat penasaran.
__ADS_1
" Tuan, mereka lebih memilih untuk Mati dari pada memberi keterangan." Ucap Li Chun.
" Yang Mulia Kaisar... Kami meminta maaf sebelumnya. Pemuda ini telah membantu kami untuk menghilangkan Racun Kelinci merah itu. Jadi..." Keempat Wanita tersebut tidak berani melanjutkan pembicaraan.
' Li Chun, Apa itu benar kamu menyelamatkan mereka? ' Ryu bertanya melalui pesan jiwa.
' Benar Tuan... Itulah kenapa Keempat Wanita ini memintaku untuk bertanggung jawab.' Li Chun membalas dengan pesan jiwa.
' Li Chun... Aku tidak melarang mu untuk Menikah dengan mereka. Lagi pula Wajahmu sekarang lebih Muda dan tampan bahkan terlihat gagah dari pertama kita bertemu. Masalah usia itu tidak menjadi hambatan.' Ryu menjawab dengan pesan jiwa.
' Terimakasih Tuan... Aku akan Menikahi meraka.' Ucap Li Chun.
' Itu lebih baik, katakan saja kapan hari pernikahan kalian?' tanya Ryu.
' Untuk masalah itu aku akan meminta Restu kepada orang tua mereka.' Jawab Li Chun.
' Baiklah, Aku tidak akan mengekangmu kamu juga harus memiliki kehidupan yang layak.' ucap Ryu.
" Tuan... Paviliun Kelinci Merah itu sangat berbahaya, Sudah banyak yang menjadi korban mereka." Li Chun berbicara seperti semula.
" Kamu Benar... Jika seperti ini terus, yang dikhawatirkan mereka akan bertambah Kuat dan bertambah Banyak." Ucap Ryu.
" Mereka Benar-benar Licin." Li Chun mengepal tangannya.
" Untuk masalah itu kita bicarakan nanti. Sekarang Aku merestui pernikahan kalian." Ryu menatap ke arah Empat Sosok Wanita tersebut sudah gelisah.
" Terimakasih Yang Mulia Kaisar." Keempat Wanita tersebut berlutut di hadapan Ryu.
" Mmmmmm... Sekarang kalian boleh kembali." Ucap Ryu.
" Baik Tuan"
" Baik Yang Mulia Kaisar"
Li Chun dan keempat Wanita tersebut meninggalkan Ruangan.
" Kamu begini, aku sendiri yang harus turun tangan." Ryu mengepal tangannya lalu kembali ke Kamar.
Setelah berada di Kamar, Ryu menceritakan kejadian tersebut kepada Istrinya mengenai Paviliun Kelinci merah.
Ryu juga meminta Wang Mingjun, Shu Meilu, Qin Shuomei dan Li Jilan untuk mengurus semua yang ada di Kekaisaran, termasuk Mencari Pelayanan.
" Baik Gege... Kami akan mengurus semuanya." Ucap Li Jilan.
" Kalian Harus Hati-hati." Wang Mingjun mengingatkan
" Baiklah, kalau begitu, kami pamit dulu." Ryu memberikan Cincin Ruang kepada mereka yang berisi Harta langit.
" Ye'er... Mari kita berangkat." Ryu membawa Ting Ye bersamanya.
" Mmmmm." Ting Ye mengangguk lalu mengikuti Ryu.
Setelah keluar dari Istana, Ryu meminta kepada Penjaga Gerbang agar tidak memberitahu hal tersebut kepada orang lain kecuali Keempat Jenderal dan Keempat Menteri.
" Gege... Apa kita langsung menuju Kota Linka?" Tanya Ting Ye.
" Aku rasa begitu. Kita harus mencari keberadaan Anggota Paviliun Kelinci merah itu. " ucap Ryu seraya berjalan.
" Semoga saja kita bisa menemukan mereka." Ting Ye mengangguk.
Sesampai di Pintu Gerbang Kota Hasperia, Ryu dan Ting Ye langsung berjalan melewati jalan Utama dimana tempat jalan mereka sebelumnya.
Setelah menempuh Perjalanan selama Enam jam, Ryu dan Ting Ye menemukan beberapa Warga yang sedang berlari berpapasan dengan mereka.
__ADS_1
" Gege... Sepertinya mereka sedang dalam bahaya." Ting Ye merasa Warga tersebut dalam kesulitan.
" Mungkin saja... Mari kita langsung kesana." Ryu mempercepat langkahnya yang diikuti Ting Ye.