
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
" Apa tidak ada cara lain?" Tetua Agung mengerutkan keningnya.
" Tetua Agung... Hanya itu Harta yang aku miliki. Aku tau apa yang kalian fikirkan, karena efek serbuk mata merah membuat target memiliki gairah yang memuncak. Tapi itu tidak akan terjadi jika kita tidak terkena serbuk itu. Tapi jika ada cara lain, maka kita tidak perlu memakai serbuk mata merah." ucap Tetua.
" Kita memang sudah mencapai Pendekar Langit tahap akhir, tapi jika Matriak Liwei dan pendukungnya mengetahui rencana kita, maka kita akan mendapatkan masalah." ucap Guru Agung.
" Darah Pendekar Langit tahap akhir sangat berharga dibandingkan dengan Pendekar Alam ataupun Pendekar Bumi yang pernah menjadi korban kita. Jangan sampai kesempatan ini hilang." Ucap Tetua Agung.
" Tetua Agung benar... Darah Pendekar Langit tahap akhir sebanding dengan enam ribu Pendekar Bumi tahap akhir. Itu artinya leluhur kita pasti akan bangkit." ucap salah satu Tetua.
" Kalau begitu lakukanlah! kumpulkan semua pendukung kita disini." Tetua Agung memberi perintah.
" Baik." Beberapa Tetua langsung meninggalkan Goa tersebut kembali ke Sekte Kabut Ilusi.
" Tetua Agung... Sepertinya kita harus membuat Pelindung kasat mata di Goa ini. dengan begitu kita akan aman." Guru Agung memberi usul.
" Aku juga telah memikirkan hal itu." Tetua Agung senyum licik sambil berjalan ke mulut Goa.
...----------------...
Dua hari kemudian Lan Liwei membawa Ryu dan Hong Kian menuju lapangan Sekte Kabut Ilusi.
Meskipun terlihat cemas Lan Liwei mencoba menepis keraguannya sambil memperhatikan beberapa sosok yang ada di lapangan Sekte terlihat lebih sedikit dari biasanya.
' Tetua... Sepertinya ada yang tidak beres.' Tetua yang lain mengirim pesan jiwa kepada rekannya.
' Kita harus waspada. Aku khawatir mereka ingin mengincar Yang Mulia Kaisar.' Tetua yang lain meningkatkan kewaspadaan.
' Sepertinya mereka ingin melakukan serangan terbuka. Ada baiknya jika seperti ini dari pada sulit mengetahui siapa kawan dan siapa lawan.'
Lan Liwei yang menyadari hal itu juga langsung meningkatkan kewaspadaan karena beberapa Para Tetua Wanita, beberapa Guru wanita dan Murid wanita saja yang tidak hadir.
Sedangkan dua Tetua pria, lima Guru Pria, dan semua Murid pria terlihat masih lengkap.
Sambil meningkatkan kewaspadaan Lan Liwei memperkenalkan Suaminya dan Hong Kian yang juga Istri Ryu dan menjabat sebagai Matriak Sekte Gunung Phoenix.
Mendengar ucapan dari Lan Liwei, semua terlihat senang karena berkat bantuan Kaisar Ryu mereka bisa kuat seperti sekarang.
__ADS_1
Semua anggota Sekte Kabut Ilusi yang ada di tempat itu begitu mengagumi sosok Kaisar Ryu yang Dermawan dengan berbagai macam pujian.
" Sungguh Anugerah Matriak kita bisa memiliki Suami yang Berwibawa dan Dermawan. Tidak salah seorang Bidadari bisa menjadi istrinya." bisik beberapa anggota Sekte Kabut Ilusi.
Yang lain juga mengangguk setuju sambil melontarkan pujian kepada Ryu, Lan Liwei dan Hong Kian.
Di sisi lain Para Tetua dan Guru terus meningkatkan kewaspadaan karena takut akan terjadi serangan tiba-tiba dimana kekuatan Sekte kehilangan setengah yang menandakan bahwa para pendukung Tetua Agung dan Guru Agung memiliki kekuatan yang setara dengan mereka.
" Wuush." Tiba-tiba keluar asap tebal berwarna ungu dari berbagai arah seakan mengelilingi mereka.
" Awas... Racun pelemasan tulang." Teriak beberapa Tetua membuyarkan kekaguman dari anggota yang lain.
Mendapatkan serangan dadakan, semua anggota Sekte langsung mencari keberadaan sosok yang menyebarkan racun tersebut.
Namun karena racun tersebut sudah menyebar ke sekeliling mereka, tentu saja membuat mereka tidak berdaya merasakan tubuh mereka langsung melemah.
Satu-persatu Anggota Sekte Kabut Ilusi mulai berjatuhan karena racun tersebut mulai bersarang di tubuh mereka yang membuat mereka lemah tidak berdaya.
Melihat hal itu Ryu langsung mengibaskan tangannya untuk menghapus asap racun tersebut, tapi sayangnya semua sudah terlambat.
" Hahahaha... Akhirnya rencana kita berjalan sesuai rencana." Tiba-tiba muncul beberapa sosok yang memakai penutup wajah.
" Anak Muda... Lebih baik kamu menyerahkan diri agar yang lain bisa selamat." ucap sosok wanita yang memakai penutup wajah mendekati Ryu.
" Kalian fikir aku akan menyerahkan diri begitu saja?" Ryu mengeluarkan Pedangnya sambil menatap tajam ke arah sosok yang berada di dekatnya.
" Gege... Selamatkan dirimu." Hong Kian yang terlihat lemah berusaha melawan racun tersebut.
Begitupun dengan Lan Liwei dan beberapa Tetua yang lain berusaha mengalirkan Qi untuk menangkal racun tersebut.
Tentu saja hal itu tidak diberikan kesempatan oleh puluhan sosok yang melihat aksi mereka karena takut mereka bisa memulihkan diri.
Kini Puluhan Wanita yang memakai penutup wajah langsung melompat dan menyerang Hong Kian dan Lan Liwei.
Hal itu tentu saja membuat Hong Kian dan Lan Liwei kewalahan karena konsentrasi mereka terbagi disamping melawan puluhan orang sekaligus mereka juga harus menahan racun yang ada pada tubuh mereka.
Pertukaran serangan itupun tidak bisa dihindarkan lagi hingga membuat tekanan udara di sekitar
' Sial... ternyata kedua wanita ini sangat kuat.' Salah satu dari pihak lawan membatin, meskipun sudah terkena racun namun masih bisa bertahan.
Disisi lain Hong Kian dan Lan Liwei juga berusaha menahan serangan tersebut. Jika saja mereka tidak terkena racun, mereka dengan mudah mengalahkan puluhan wanita tersebut.
Semakin lama Hong Kian dan Lan Liwei tidak mampu lagi bertahan karena merasakan tubuh mereka seakan lunak seperti tidak bertulang.
Melihat kesempatan tersebut puluhan wanita yang memakai penutup wajah begitu liar menyerang mereka hingga mereka sudah tidak berdaya.
" Ikat mereka! " Perintah sosok Wanita lain.
Tanpa menunggu lama mereka langsung mengikat Hong Kian dan Lan Liwei dengan senyum kemenangan.
Di pertarungan lain Ryu juga tidak tinggal diam langsung menciptakan Hujan Petir membuat pihak lawan menjadi kabut darah.
" Ini tidak bisa dibiarkan." Tiga sosok wanita yang memakai penutup wajah merasakan bahwa Ryu bisa menjadi ancaman untuk mereka.
" Serang Pemuda itu!" Teriak sosok wanita lain melihat rekan mereka tidak mampu mengalahkan Ryu.
" Baik." Puluhan wanita yang sudah mencapai Pendekar Langit tahap menengah melompat ke arah Ryu sambil melakukan serangan.
Saat pulutan wanita tersebut mendekati Ryu, kini mereka merasakan tubuhnya seperti ditimpa beban berat membuat gerakan mereka melambat.
__ADS_1
" Aura apa ini." Puluhan wanita berkeringat dingin merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka.
" Tetua Agung... Sepertinya ada yang salah dengan anggota kita." Guru Agung memperhatikan bahwa saat bawahannya mendekati Ryu, gerakan mereka seperti dikendalikan.
" Sepertinya Pemuda itu memiliki teknik Pengendali fikiran. Ini Buruk." Tetua Agung melihat bawahannya sudah banyak yang mati.
" Tetua." Guru Agung memberikan perintah kepada salah satu sosok yang tidak jauh dari mereka.
" Baik." sosok tersebut mengambil sebuah botol yang berisi serbuk mata merah.
Merasakan serangan tiba-tiba, Ryu langsung menghindar dari arah serangan sambil menjatuhkan Hujan Petir membuat puluhan wanita yang berada di sekitar langsung terluka parah.
" Kekuatan macam apa pemuda itu." kelima sosok wanita yang sudah mencapai Pendekar Langit tahap akhir merasa heran.
Disisi lain Ryu yang melihat bahwa Hong Kian dan Lan Liwei sudah tertangkap, membuat dia kehilangan konsentrasi berusaha menyelamatkan mereka.
" Wuush." Serbuk mata merah berhasil mengenai tubuh Ryu.
Secara perlahan Ryu merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya " Serbuk mata merah." Ryu bergumam sambil memikirkan cara untuk menghancurkan mereka.
Namun disisi lain Ryu melihat anggota Sekte Kabut Ilusi yang tidak berdaya, membuat dia kembali berfikir untuk melakukan Teknik terkuatnya yang tentu membuat mereka terkena imbas.
Dengan sekuat tenaga Ryu menggunakan Langkah Hantu Harimau Petir mendekati Hong Kian dan Lan Liwei.
" Bboooom... Bboooom... Bboooom." Ryu membuat pukulan keras kepada keenam sosok yang menyekap Istrinya hingga mereka terpental puluhan meter.
" Wuush." Ryu mengibaskan tangannya membawa Hong Kian dan Lan Liwei ke Dunia Quzhu dengan kesadaran yang tersisa
" Bboooom." Gabungan serangan secara tiba-tiba membuat Ryu terpental puluhan meter tanpa sempat menghindar.
" Benar-benar menyusahkan." Tetua Agung yang baru saja menyerang Ryu bersama Guru Agung dan salah satu Tetua.
" Bawa Pemuda itu dan semua pria disini ke tempat Altar persembahan " Guru Agung memberi perintah saat melihat Ryu sudah kehilangan kesadaran akibat Serbuk mata merah.
" Baik Tetua Agung." Beberapa sosok yang masih tersisa membawa Ryu dan para Pria yang ada di tempat itu.
" Kalian benar-benar licik." ucap beberapa Tetua dari pihak Lan Liwei merasa kasihan kepada Ryu.
Mereka beranggapan jika saja Ryu tidak terkena Serbuk mata merah, maka para pengikut Tetua Agung pasti akan mati.
Meskipun dari pihak Lan Liwei ingin melawan, namun mereka juga tidak berdaya akibat racun pelemasan tulang tersebut.
" Cepat sembuhkan diri kalian." Tetua Agung memberikan beberapa Pil kepada bawahannya yang terluka.
" Baik.." Mereka mengambil Pil tersebut lalu mencari tempat untuk memulihkan diri.
" Tetua Agung... Bagaimana dengan mereka?" salah satu Tetua menunjuk ke arah Anggota wanita Sekte Kabut Ilusi yang berpihak kepada Lan Liwei.
" Biarkan mereka disini. Setelah Leluhur kita bangkit, mereka akan berpihak kepada kita." Tetua Agung membawa mereka menuju Goa tempat Altar persembahan.
Sesampai di tempat Altar persembahan, mereka langsung mengikat Ryu di Altar persembahan yang kini sudah berhalusinasi dengan gairah yang memuncak.
Dalam keadaan setengah sadar Ryu mencoba mengendalikan pikirannya berusaha menekan efek Serbuk mata merah meskipun dia tau jika dia terus menekan, maka secara perlahan energi rancun yang dia miliki akan menghilang.
Dalam hati Ryu mengutuk keras orang yang menciptakan serbuk mata merah tersebut yang merupakan salah satu kelemahannya karena memiliki sifat bertolak belakang dengan racun yang dia miliki.
" Ikat para tawanan pria kita. Jika leluhur kita masih belum bangkit, maka mereka juga bisa menjadi tumbal persembahan." Guru Agung memberi perintah.
" Baik." Puluhan wanita mengikat mereka lalu membawanya ke sebuah lorong goa agar tidak menggangu konsentrasi saat proses Ritual yang mereka lakukan.
__ADS_1