SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
Sungai Hijau


__ADS_3

Namun untuk Sheng Zhishu dan Istri Ryu yang lain, mereka sudah memperkirakan bahwa mayat Ular Sisik Merah tersebut sudah berpindah tempat ke Dunia Quzhu.


Di sisi Lain Tetua Jila merasa bangga telah mendapatkan Hewan kontrak yang menurutnya paling kuat.


" Sekarang kita periksa kembali Sungai Hijau disana. Aku yakin ada kaitannya dengan keberadaan Ular Sisik Merah ini." Ucap Ryu.


Mereka pun terus menyusuri sungai tesebut hingga menemukan suatu Kejanggalan yang berada di Sungai tersebut.


Sungai Hijau yang awalnya berwarna Putih, kini sungai itu terlihat mengeluarkan cahaya warna-warni dari kedalaman.


" Ini aneh.. Tapi aku rasa ini bukan dari sumber masalah. Tapi ini hanya kebetulan. " Ryu merasa tertarik dengan keberadaan cahaya tersebut.


Ryu berpikir bahwa cahaya dari kedalaman Sungai tersebut berasal dari Batu Pelangi.


Karena merasa yakin, Ryu langsung menyelam ke arah sumber cahaya menuju ke dasar sungai.


' Tidak salah lagi, ternyata memang Batu Pelangi.' Ryu membatin kemudian menarik tumpukan Batu bercahaya tersebut yaitu Batu Pelangi dengan cepat.


Ryu terus menyusuri dasar Sungai mengambil semua Batu Pelangi yang ada di depannya.


Sudah hampir dua jam Ryu terus menyelam ke dalam air namun belum juga muncul, bahkan lebih tepatnya Ryu hanya berjalan seperti biasa di dasar Sungai tersebut.


Di pinggir sungai, semua orang yang ada disitu merasa sangat khawatir, namun tidak untuk Sheng Zhishu dan yang lain karena mereka juga bisa melakukan hal yang sama seperti yang Suami mereka lakukan.


" Zi'er... Apa yang terjadi pada Adik Ipar?" Shui Jian terlihat khawatir sambil menoleh ke arah Qin Shuomei.


" Kakak... Kalian tidak perlu khawatir. Gege masih bisa bertahan di dalam air, bahkan lebih dari satu hari." Ucap Qin Shuomei menenangkan kekhawatiran mereka.


Setelah lima Jam kemudian, kini Ryu muncul ke permukaan sungai dengan wajah terlihat senang memandang mereka yang tengah menunggunya.


" Gege... Apa yang kamu temukan di dasar Sungai disana?" Tanya Sheng Zhishu.


" Hanya tumpukan Batu Pelangi." Ucap Ryu dengan wajah datar.


" Batu pelangi?" Semua terlihat kaget.


" Sekarang kita bisa melanjutkan perjalanan lagi." Ryu mengeringkan pakaiannya dengan Elemen Api yang membuat tubuhnya hangat.


Mendengar ucapan dari Ryu, Tetua Jila langsung kembali memimpin perjalanan terus menyusuri sungai hingga sampai di kedalaman Hutan.

__ADS_1


Saat hari mulai Gelap, Tetua Jila meminta mereka untuk bermalam dan membuat kemah dan membuat beberapa Api Unggun.


Tidak lupa juga Ryu membuat Formasi Yin-Yang Kura-kura kepada rombongannya agar terhindar dari serangan saat beristirahat.


" Gege... Apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya Sheng Zhishu.


" Shu'er... Apa yang kamu tanyakan?" Ryu menatap ke arah Sheng Zhishu lalu menoleh ke arah Istrinya yang lain.


" Gege... Saat kita bertarung dengan Ular Sisik Merah, sosok apa yang datang saat kami membawa anggota Sekte Tirai Air?" Sheng Zhishu terlihat penasaran dengan apa yang didapatkan oleh Suami mereka.


Begitupun dengan Xin Chie dan yang lain, mereka tidak bisa melihat sosok tersebut karena harus menjaga anggota Sekte Tirai Air.


" Sosok yang datang itu adalah Ratu Ular Sisik Merah itu sendiri, yang kebetulan memiliki Tubuh Abadi. Sepertinya Ratu Ular Sisik Merah adalah salah satu Makhluk Legenda yang memimpin Ular Sisik Merah." Ryu menjelaskan kepada mereka.


" Jadi begitu." Sheng Zhishu mengangguk mengerti.


" Gege... Kami juga menginginkan Hewan Kontrak seperti yang lain. Meskipun sekarang kita cukup kuat, namun dengan adanya Hewan Kontrak kami bisa menggunakannya saat berhadapan dengan para Kultivator tingkat tinggi." Ucap Nan Sian.


" Perjalanan kita masih panjang... Suatu saat kita akan menemukan Hewan Kontrak yang cocok untuk kalian semua." Ucap Ryu.


" Sebenarnya tanpa Hewan Kontrak, kita masih mampu. Hanya saja untuk berjaga-jaga." Bing Ruyue ikut bersuara.


Mereka pun berkumpul kembali berbincang ringan kemudian menuju tempat peristirahatan masing-masing.


" Gege... Apa kita tidak ke Istana Kristal saja? hidungku serasa ingin mencium wangi Bunga Melati Emas disana." Ucap Nan Sian.


" Gege... Sepertinya Sian'sian tidak mau giliran mereka bertiga Yi'yi dan Ying'ying terganggu. " Xie Hua menggoda mereka.


" Bukan seperti itu Hua'hua... Tapi sepertinya bayi ini ingin bersama Ayahnya. " Zhou Luyi menjulur lidahnya sedikit mengejek.


" Haaahh... Sepertinya tidak lama lagi Keluargaku akan bertambah." Ryu menatap ke arah Istrinya.


" Aku rasa begitu... Mungkin kelahiran mereka akan bersamaan dengan bayi di kandunganku." Ucap Li Jilan.


" Bukan hanya kalian saja, tapi kita semuanya kecuali Ying'ying." Sheng Zhishu melirik ke arah Jinying.


" Tidak masalah... Tidak lama lagi aku akan menyusul." Jinying tidak mau kalah dengan yang lainnya.


" Kamu terlalu cepat! Liu Bai Jun masih kecil." Sheng Zhishu menggelengkan kepala.

__ADS_1


" Itu perutku juga. Selagi punya Gege sangat subur, apa salahnya hamil lagi." Ucap Jinying.


" Haaahh... Baiklah kita istirahat di Istana Kristal" Ryu membuat Formasi di dalam tenda kemudian menuju Istana Kristal.


" Yi'yi, Ying'ying... Sekarang giliran Kita." Nan Sian menarik tangan Zhao Luyi dan Zhao Liying tanpa mempedulikan tatapan yang lain menuju kamar utama.


" Haaahh... Sepertinya malam ini tanganku pegal lagi." Ucap Ryu.


" Memang ada apa Gege?" Tanya Jinying.


" Semalaman Shu'er dan yang lain terus memintaku mengelus perutnya. Semoga saja mereka bertiga tidak melakukan hal yang sama." Ryu menghela napas panjang.


" Hmmm. Sepertinya itu ide bagus. Aku rasa Anakku juga meminta dimanjakan sama Ayahnya." Bing Ruyue menggoda Suaminya yang diikuti Lan Liwei dan Hong Kian.


Tanpa berkata apapun Ryu lang menuju kamarnya yang diikuti yang lain menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.


*****


Keesokan Hari, Tetua Jila terus menyusuri Sungai tersebut. Sebenarnya Ryu yang meminta kepada mereka untuk melanjutkan perjalanan.


Meskipun mereka telah menyimpulkan air yang tidak bisa dipakai penduduk adalah akibat dari kelompok Ular Sisik Merah yang mereka bunuh sebelumnya.


Namun untuk Ryu yang memiliki pemikiran lain bahwa di ujung sungai itu pasti ada beberapa Sumberdaya yang berharga.


Tetua Jila yang sebenarnya ingin menghentikan perjalanan mereka takut akan bahaya. Tapi karena ada Ryu dan 23 Istrinya, dia merasa yakin bahwa mereka akan mampu menghalau apapun.


Saat mencapai kaki Gunung, mereka juga menemukan kembali cahaya warna-warni yang berasal dari Batu Pelangi di dalam air.


Kini Tetua Jila, Shui Jian dan Para Murid juga ikut menyelam dan mengambil tumpukan Batu Pelangi tersebut.


Tidak itu saja. mereka juga menemukan beberapa Sumberdaya yang tumbuh subur di dalam Hutan tersebut.


" Hahahaha... Aku tidak menyangka, ternyata di kedalaman Hutan seperti ini sangat banyak menyimpan Harta." Shui Jian Merasa sangat senang.


" Tuan Muda Ryu... Ternyata keberuntungan langit berpihak kepada kita." Tetua Jila merasa senang karena Ryu bersama rombongannya.


Semua Istri Ryu juga terlihat membantu mereka mengumpulkan Sumberdaya untuk para Murid.


Sedangkan Ryu sendiri tetap fokus mengambil Batu Pelangi yang semakin menuju ke kaki Gunung.

__ADS_1


__ADS_2