SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
PENGHIANATAN


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. πŸ™πŸ™πŸ™


...****************...


Dengan begitu Ling Xianzi akan lebih mudah untuk menguasai Perguruan Hantu Malam.


Setelah beberapa saat Ling Xianzi meninggalkan bangunan tersebut berniat untuk menuju ke Kota Linka.


...----------------...


Di pinggir Hutan, Ryu dan Bu Jing Yu kembali melanjutkan perjalanan hingga memakan waktu selama dua hari mereka telah berada di Pintu Gerbang Kota Linka.


" Maaf Tuan Pendekar... Bisa tunjukkan tanda pengenalnya?" Tanya salah satu Penjaga Gerbang.


" Penjaga... Kami hanya seorang pengembara, jadi kami tidak memiliki tanda pengenal." Ryu memberikan beberapa Batu Roh tidak ingin identitasnya diketahui.


Bu Jing Yu yang berada di sampingnya merasa heran karena Ryu tidak menunjukkan wujud aslinya yang tentu akan mempermudah mereka untuk masuk.


" Tunggu sebentar Tuan Pendekar." Salah satu Penjaga Gerbang mengeluarkan sebuah Buku lalu mencatat jumlah Batu Roh yang dikeluarkan oleh Ryu.


Melihat apa yang dilakukan oleh Penjaga Gerbang tersebut Ryu mengerutkan kening tidak menyangka jika Walikota Chuang memiliki kebijakan seperti itu untuk menekan pungutan liar dari semua bawahannya.


' Sepertinya Walikota Chuang memiliki pengalaman.' Ryu menganggap Cheng Chuang pernah mengalami hal serupa, sehingga dia tidak ingin wilayahnya menjadi sarang pengurus pungutan liar.


" Silahkan Tuan dan Nona tanda tangan disamping ini." Penjaga Gerbang meminta kepada Ryu dan Bu Jing Yu untuk menandatangani buku tersebut.


Tanpa banyak berpikir Ryu dan Bu Jing Yu langsung menandatangani buku tersebut hingga mereka dipersilahkan untuk masuk.


" Ying'er... Kita harus mencari Penginapan sambil menunggu Dunia kecil itu terbuka." Ryu menoleh ke arah Bu Jing Yu sambil melangkahkan kakinya.


" Mmm." Bu Jing Yu mengangguk setuju sambil berjalan mengikuti Ryu.


Sesampai di depan Penginapan Giok Bulan, Ryu langsung masuk hingga kedatangannya disambut oleh satu sosok Pelayan.


" Silahkan masuk Tuan, Nona... Apa yang bisa saya bantu?" Pelayan menyambut ramah.


" Pelayan... Aku ingin memesan satu Kamar terbaik di Penginapan ini." Dalam penyamarannya Ryu bertingkah seperti orang biasa.


" Ada Tuan... Untuk kelas eksekutif harganya 1000 Batu Roh termasuk makanan terbaik disini." Pelayan sedikit mengerutkan kening merasa tidak yakin jika Ryu memiliki Batu Roh sebanyak itu namun tetap menjaga sikap profesional.


" Aku akan memesan selama lima hari." Ryu mengeluarkan 5000 Batu Roh


" Si... Silahkan Tuan… mari saya antar." Pelayan tersebut berusaha menyembunyikan rasa kagetnya seraya menuntun Ryu dan Bu Jing Yu menuju ke lantai lima.


" Berapa banyak Harta milik Pemuda ini? Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini." Bu Jing Yu dengan keserakahannya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Pelayan tersebut menunjuk ke arah Kamar yang akan ditempati oleh Ryu dan Bu Jing Yu.


" Silahkan masuk Tuan, Nona... Ini kamarnya." Pelayan mempersilahkan kepada Ryu dan Bu Jing Yu.


" Terimakasih Pelayan." Ryu menyapa ramah sambil berjalan masuk ke kamar yang diikuti Bu Jing Yu.


Saat berada di dalam kamar, Ryu memperhatikan keadaan sekitar dimana sama persis dengan Penginapan Giok Bulan yang ada di Kota Hasperia.


Tidak beberapa lama dua Pelayan lain membawakan makanan dan dua guci arak lalu menyusun makanan di atas meja makan.


" Silahkan dinikmati Tuan." Kedua Pelayan mempersilahkan lalu meninggalkan tempat tersebut hingga muncul empat Pelayan lain yang memakai kain tipis.


" Permisi Tuan, Nona... Apa Tuan sama Nona ingin makan dulu atau Pijatan?" tanya salah satu dari Pelayan.


' Ping'er... Kenapa kamu tidak menghilangkan paket lengkap yang satu ini.' Ryu menggerutu dalam hati teringat saat pertama kali dia masuk ke Penginapan Giok Bulan.


" Kebetulan... Aku juga sangat capek." Bu Jing Yu langsung membaringkan tubuhnya di atas Ranjang yang disediakan.


" Bagaimana dengan Tuan?" Tanya salah satu dari Pelayan.


" Haaahh." Ryu menghela nafas sambil berbaring di atas Ranjang yang disediakan.


Tanpa menunggu lama keempat Pelayan tersebut melakukan tugas mereka memberikan pijatan kepada Ryu dan Bu Jing Yu.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, keempat Pelayan tersebut telah menyelesaikan tugas mereka lalu meninggalkan ruangan dimana Ryu dan Bu Jing Yu langsung menikmati hidangan yang telah disediakan.


' Sial... Kenapa baru sekarang Tetua Agung membalas pesan jiwa dariku.' Bu Jing Yu sedikit kesal sambil memeriksa keadaan sekitar.


Melihat ekspresi dari Bu Jing Yu, Ryu sedikit menyelidik namun berpura-pura tidak mengetahui hal tersebut.


" Ping'er, Aku ingin menyerap Inti Roh yang aku dapatkan sebelumnya. Jika kamu ingin melihat pemandangan Kota ini, aku persilahkan. Dengan begitu aku harap Ingatanmu pulih kembali." Ryu mengambil tempat duduk untuk menyerap khasiat Inti Roh Kadal ungu.


" Terimakasih Gege... Aku akan berkeliling sebentar." Bu Jing Yu keluar dari kamar menuju lantai dasar.


Sedangkan Ryu sendiri memperhatikan dari kejauhan karena merasa ada sesuatu yang aneh dari sikap Bu Jing Yu yang menyamar sebagai Jinying.


Setelah berada di tempat yang sepi, Bu Jing Yu disambut oleh dua sosok yang salah satu dari mereka tidak asing bagi Ryu.


" Kau... " Jinying sontak kaget saat melihat sosok wanita yang menyerupai dirinya.


" Ying'er... Dia adalah Guru Agung yang sedang menyamar sebagai dirimu untuk menyelinap masuk ke Istana Kekaisaran Awan." Tetua Agung menjelaskan situasi tersebut kepada Jinying.


" Tenang saja Yang Mulia Ratu. Aku hanya menjalankan tugasku." Bu Jing Yu melepaskan mahkota dari kepalanya hingga berubah ke wujud aslinya.


" Cukup menarik... Sepertinya kamu cukup membantuku agar tidak ketahuan saat meninggalkan Istana." Jinying terlihat senang.


" Guru Agung... Bagaimana dengan penyelidikan mu?" Tanya Tetua Agung.


" Sumberdaya di Istana Kekaisaran Awan memang sangat banyak, tapi aku yakin mereka menyimpan Harta yang lebih banyak lagi di suatu tempat." Ucap Bu Jing Yu.


" Mereka memiliki Dunia kecil sendiri yang mereka sebutkan Dunia Quzhu. Disana sangat banyak Harta langit yang berlimpah. Tidak hanya itu saja, Sumberdaya yang lain juga sangat banyak yang tidak pernah kalian dapatkan di Dunia ini." Jinying bicara dengan santai.


Jika saja dia tau Sekte Ular akan membantunya, maka Jinying akan membawa semua Sumberdaya sebanyak mungkin.


" Ying'er... Apa kamu bisa kembali ke tempat itu untuk mengambil Sumberdaya untuk kita?" Tanya Tetua Agung.


" Bayi ini cukup merepotkan karena dia menyerap kekuatanku. Lagi pula, Aku harus pergi ke kamar utama Istana Kekaisaran Awan jika harus menuju Dunia Abadi." Jinying sambil mengelus perutnya.


Jinying dapat merasakan bahwa Teknik bayangan yang dia miliki sudah diserap oleh calon bayinya, dengan begitu Jinying tidak bisa lagi bergerak sekehendaknya.


" Tidak masalah... Tunggu sampai anak kita sudah lahir, maka kamu bisa kembali lagi ke Istana Kekaisaran Awan. Mereka tidak akan curiga denganmu." Tetua Agung mengelus perut Jinying agar Bu Jing Yu merasa cemburu.


' Cciiihhhh... Berani sekali si cabul ini menyentuhku. Tapi tidak masalah, sepertinya dia memiliki perasaan pada Guru Agung. Dengan begitu, rencanaku akan lebih mudah.' Jinying membatin seraya tersenyum membiarkan Tetua Agung mengelus perutnya.

__ADS_1


" Selamat Tetua Agung... Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ayah." Bu Jing Yu sedikit kesal karena Jinying dan Tetua Agung menunjukkan keromantisan mereka.


Dari kejauhan Ryu yang melihat hal itu merasa kesal, Tidak menyangka bahwa Jinying bisa berbuat seperti itu bahkan sudah memiliki Anak dari orang lain.


Ryu berfikir seperti itu karena Jinying sudah pergi lebih dari satu tahun, dengan begitu Anak yang ada di kandungan Jinying bukan anaknya.


Ditambah lagi dengan sosok wanita lain, yang Ryu fikir dia juga Istri dari Pria yang berada di dekat mereka.


" Ternyata mereka berniat untuk memanfaatkan ku." Ryu terlihat geram atas penghianatan dari Istrinya tersebut.


Dengan amarah yang memuncak karena merasa telah dikhianati, Ryu langsung berjalan mendekati mereka dengan niat membunuh.


" Jadi begini cara kalian? Ternyata kalian memiliki niat busuk." Ryu dengan wujud aslinya menatap tajam ke arah Jinying dan Bu Jing Yu lalu tertuju pada Tetua Agung.


" Ge... Gege." Jinying dan Bu Jing Yu sontak kaget merasa serba salah.


" Hahahaha.... Jadi ini Kaisar Ryu itu. Sepertinya Drama kita sudah ketahuan." Tetua Agung sangat senang dengan begitu sudah dipastikan bahwa Ryu akan membenci Jinying yang tentu akan lebih mudah untuknya mendapatkan hati Jinying.


" Tetua Agung..." Puluhan anggota Sekte Ular maju kedepan bersiap untuk menghadapi Ryu.


' Ini tidak baik... Aku tidak mungkin mengalahkan mereka sebanyak ini.' Ryu menyipitkan mata mengukur tingkat Kultivasi mereka yang rata-rata mencapai Pendekar Langit dan dua sosok sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap awal.


Ditambah lagi dengan adanya Tetua Agung, Jinying dan Bu Jing Yu yang juga sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap awal tentu hal itu bukan perkara mudah.


" Aku akan membalas penghinaan ini. Kau, kau dan kau... Aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri." Ryu menunjuk ke arah Tetua Agung, Jinying dan Bu Jing Yu dengan penuh kemarahan.


" Serang dia! " Tetua Agung memberi perintah kepada 50 anggota Sekte Ular.


" Baik." Anggota Sekte Ular langsung melompat ke arah Ryu dengan kekuatan penuh.


Mendapatkan serangan tersebut Ryu langsung mengeluarkan jarum racun sambil mundur ke belakang.


" Sleeep... Sleeep... Sleeep." Dengan gerakan cepat Ryu melempar jarum racun tepat mengenai empat sosok yang menyerangnya.


" Formasi Ular mengitari Gunung." Salah satu Tetua memberi instruksi.


Dengan segera anggota yang lain membuat sebuah pola gerakan hingga mengelilingi Ryu dengan kecepatan tinggi.


Merasa dirinya sudah terkepung, Ryu langsung melepaskan Aura Dewa Agung membuat pertahanan Formasi Ular mengitari Gunung yang mereka ciptakan terkecoh.


" Duaarr... Duaarr... Duaarr." Ryu kembali menjatuhkan Hujan Petir membuat anggota Sekte Ular merasa sakit yang luar biasa.


Melihat bawahannya tidak berdaya, Tetua Agung secara diam-diam membawa Jinying dan Bu Jing Yu meninggalkan tempat tersebut karena menurutnya itu terlalu berbahaya.


" Semburan Ular Api." Beberapa Tetua tidak ingin mengambil resiko menggabungkan kekuatan mereka.


" Bboooom.... Bboooom." Mendapatkan serangan tiba-tiba, membuat Ryu terpental puluhan meter.


Dengan segera Ryu kembali bangkit langsung melepaskan Bola Petir Hitam mengarah kepada mereka.


" Bboooom." Ledakan keras membuat mereka terpental ke udara.


" Tetua." Salah satu dari mereka mendapatkan firasat buruk.


" Mmm." Yang lain mengangguk lalu melemparkan Bubuk racun membuat sekeliling Ryu ditutupi kabut asap tebal berwarna merah.


Dengan adanya Asap berwarna merah tersebut Ryu pandangannya terbatas sambil memeriksa di sekelilingnya.


" Bboooom." Sebuah serangan dari arah belakang membuat Ryu terpental memuntahkan darah segar.


Melihat Ryu yang masih mampu menahan serangan tersebut membuat anggota Sekte Ular berkeringat dingin, bagaimana mungkin ada orang yang mampu menahan Racun yang sangat mematikan tersebut hanya mampu mengaburkan pandangannya saja.


Dalam sejarah pertarungan mereka, Sekte Ular paling sangat ditakuti oleh kalangan aliran Putih karena Racun yang mereka ciptakan.

__ADS_1


__ADS_2