
Saat merasa sudah aman, Ryu langsung membuat Sebuah Tenda Besar sebagai tempat berlindung lalu mencari beberapa dahan pohon kering untuk membuat Api unggun.
" Suamiku, apa kita harus mencari Inti Elemen terlebih dahulu atau mengembalikan Kitab itu " Tanya Xin Chie
" Sebaiknya kita mencari informasi Inti Elemen sekaligus mencari Harta Langit terlebih dulu " Ryu membuka kembali Kitab Penciptaan Dunia Kecil.
" Suamiku, Apa kamu masih memikirkan Gadis Peri itu ?" Huli Yue terlihat penasaran.
" Tidak mudah mencarinya! Bahkan nama Dunianya Aku belum tau" Ryu seakan merasa bersalah.
" Nama?" Xin Chie terlihat sedang berfikir.
" Suamiku, sepertinya nama Xian Ye itu seperti sebuah Teka-teki." Xin Chie sambil mengetuk keningnya dengan jari.
" Kenapa aku tidak terfikirkan. Aku rasa itu bukan namanya melainkan sebuah Simbol " Ryu membaca kitab tersebut dari Awal lagi.
Ryu terus membaca bagian dari Kitab sedetail mungkin membuat Xin Chie dan Huli Yue yang sedang berbincang seakan diabaikan.
" Dapat!" Ryu dengan nada keras terlihat bersemangat.
" Suamiku, bagaimana caranya?" Huli Yue penasaran.
Tanpa berkata apapun Ryu langsung berkonsentrasi membuat beberapa gerakan hingga terlihat sebuah cahaya membentuk lobang seukuran Manusia Dewasa.
" Berhasil!" Ryu langsung memasukkan kembali peralatan Kemah lalu menatap Xin Chie dan Huli Yue.
" Apa kalian ikut?" Ryu menatap Xin Chie dan Huli Yue bergantian.
" Aku ini Siluman, tidak bisa ke Dunia Peri" Jawab Huli Yue.
" Dalam darah kita juga ada darah Peri, apa yang ditakutkan lagi?" Xin Chie berjalan ke arah Portal Dimensi.
" Benar juga " Huli Yue langsung melompat mendahului Xin Chie masuk ke dalam Portal Dimensi.
Melihat tingkah Huli Yue, Ryu menggelengkan kepala lalu berjalan ke dalam Portal Dimensi bersama Xin Chie
Kini mereka sudah berada di sebuah tempat yang banyak tumbuh hamparan Bunga seluas mata memandang.
" Kuharap Bunga ini bisa menuntun kita" Ryu memetik sekuntum Bunga tersebut lalu mengeluarkan Spiritualnya.
Terlihat Bunga tersebut melayang di Udara seakan menunjukkan sebuah tempat.
Sebenarnya yang dilakukan oleh Ryu adalah kebetulan. Dia mengingat kembali saat mereka berdua Xian Ye sedang memadu kasih yang menurutnya itu juga bagian dari sebuah petunjuk. Alhasil apa yang dia harapkan ternyata benar.
Waktu berjalan hingga Pagi, Bunga tersebut terus terbang di Udara hingga melewati Hutan hingga sampai di sebuah Pohon yang memiliki Akar yang sangat Rindang membentuk sebuah lobang Besar dibawahnya.
Kini terlihat Sosok Wanita sedang memangku lututnya dengan Rambut acakan serta pakaian yang kumal dengan kondisi tubuh yang kurus memprihatinkan.
Meskipun Ryu tidak mengenalnya, namun Dia sangat yakin bahwa Sosok tersebut adalah Xian Ye.
Ryu langsung berlari dan merangkul sosok tersebut dan mengeluarkanya dari balik bawah Pohon tersebut lalu memberikan beberapa Pil dan menyalurkan Qi miliknya.
Xin Chie dan Huli Yue yang melihat kulit keriput dari Sosok tersebut merasa tidak yakin, namun karena Ryu terlihat begitu khawatir mereka pun ikut menyalurkan Qi milik mereka kepada sosok Wanita tersebut.
Puluhan kali Ryu dan kedua Istrinya memakan Pil karena Qi milik mereka sudah terkuras, namun masih belum menunjukkan Perkembangan.
Ryu yang terlihat gelisah tanpa Fikir panjang langsung menyalurkan Energi Kehidupan miliknya yang diikuti oleh Xin Chie dan Huli Yue juga menyalurkan Energi Kehidupan milik mereka karena takut Suami mereka terlalu banyak menyalurkan Energi Kehidupan yang bisa berujung kematian.
Secara perlahan Sosok Wanita tersebut mulai membaik hingga mampu menggerakkan beberapa tubuhnya berusaha untuk membuka matanya.
" Xian Ye, mengapa bisa begini?" Ryu mulai bersuara dibalik rasa cemasnya.
'Tuan' Tidak mampu bersuara berusaha mencari arah suara yang dia kenal.
Ryu kembali mengeluarkan Qi miliknya untuk mencerna Pil yang ada di Tubuh Sheng Zhishu meskipun dia sendiri hampir kehabisan tenaga.
Dengan bantuan kedua Istrinya, Tubuh yang awalnya keriput dan penuh banyak luka secara perlahan membaik meski tidak pulih seutuhnya.
" Xian Ye, Siapa yang melakukan ini?" Ryu yakin pasti ada orang dibalik semua itu.
Karena belum mampu bersuara, Sheng Zhishu berusaha menulis sesuatu di Tanah dengan jarinya sekuat tenaga.
__ADS_1
" Istriku, tolong jaga dan rawat Dia." Ryu sangat marah menatap ke depan.
" Mmmmm'' Kedua Istrinya mengangguk langsung membawa Sheng Zhishu ke Dunia Kecil.
" Kalian semua Harus membayarnya dengan mahal." Ryu sambil memegang Batu Giok di tangannya.
......................
Terlihat di Kerajaan Peri Bunga sedang ramai dengan adanya Acara Pernikahan Sheng Xianzi dan Putra Mahkota dari Kerajaan Peri Pohon.
" Akhirnya keinginan kita semua telah terwujud" Sheng Shu terlihat senang.
" Sesuai keinginan Ibu. Tidak ada lagi yang menghalangi kita." Sheng Xianzi merasa bangga.
" Tenang saja Bibi, dengan begini Dua Kerajaan kita akan semakin Kuat." Putra Mahkota antusias.
Suara ucapan selamat atas Pernikahan tersebut terdengar dari seluruh tamu undangan yang hadir ditambah lagi dengan kemenangan mereka telah menguasai Kerajaan Peri Bunga.
Sekilas bayangan yang sangat cepat langsung berdiri didepan Pengantin dan kerumunan Tamu Undangan sosok yang Asing bagi mereka.
" Siapa diantara Kalian yang melukai Sheng Zhishu sekarat?" Ryu menatap tajam ke arah Sheng Shu, Sheng Xianzi dan yang ada di tempat itu.
Semua yang ada di tempat itu seakan mengejek Ryu yang begitu percaya diri dengan Kultivasi masih di Level 51 bahkan ada beberapa yang tidak bisa menahan tawa.
" Anak Muda, Kamu siapa? Lebih baik kamu Pulang ke rumahmu dan minta susu ke Ibumu. Aku tidak ingin bertarung dengan orang lemah, apalagi di hari kebahagiaanku " Putra Mahkota menganggap Ryu hanya angin lalu.
" Baiklah, Akan aku buat tempat ini jadi Pengantin Darah." Ryu mengalirkan Qi pada Batu Giok berbentuk Kulit Kerang.
" Duuuaaaaarrr "
" Duuuaaaaarrr"
" Duuuaaaaarrr"
Di atas langit seakan terbelah menjadi Dua muncul Empat Sosok Naga dengan panjang 100 Meter diikuti Ratusan Naga seukuran 50 Meter seakan menutupi Langit di sekitar Istana Kerajaan.
" Salam Tuan Penguasa, Akhirnya kami mendapatkan tugas juga " Suara Naga Biru menggelegar seperti Bunyi Halilintar.
" Tuan Penguasa, Apa kamu menginginkan Kami bermain dengan sekumpulan Serangga ini?" Naga Hitam memandang sinis semua yang ada di situ.
" Silahkan Kalian bermain sepuasnya! Sisakan Kedua Wanita itu untuk ku." Ryu sedikit ketakutan tidak menyangka Kekuatan mereka meningkat drastis sambil menunjuk Sheng Shu dan Sheng Xianzi lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah Kilat.
" Sesuai perintah Tuan Penguasa" Suara Naga Biru menggelegar diikuti sambaran Petir.
Seketika Cuaca buruk terjadi dengan Awan yang menggumpal disertai Hujan Petir dan Api membuat jeritan yang memilukan.
Sheng Shu dan Para Pengikutnya seakan tidak berdaya dengan hal tersebut, Karena Kekuatan mereka sudah diluar dari Batas wajar yang membuat tubuh mereka dihantam Hujan Petir dan Api berkal-kali.
Ditambah lagi dengan datangnya Angin Puyuh yang sangat besar dan kuat seakan menyapu bersih dan merobek tubuh bagian tubuh mereka.
Sesaat kemudian Pasukan Naga telah menyelesaikan tugas mereka tanpa perlawanan sedikitpun hingga Dua Sosok Wanita terlempar ke arah Ryu dengan kondisi menggenaskan.
Dengan cepat Ryu langsung mengikat seluruh tubuh mereka dengan Jaring yang sangat kuat bercampur Petir dan Racun.
" Tuan Penguasa, tugas kami telah selesai." Naga Biru menghampiri Ryu.
" Mengapa kalian terlalu banyak? Bahkan untuk kalian berempat saja sudah lebih dari cukup." Ryu menutupi rasa takutnya.
" Mereka semua senang denganmu. Itulah sebabnya mereka juga ingin datang." ucap Naga Merah
" Aaahhhh... Kami terlalu bersemangat." Naga Hitam juga muncul.
" Terimakasih atas bantuan Kalian semua. aku sangat senang kini kalian sudah jauh lebih kuat dariku." Ryu mengakui kehebatan mereka.
" Itu semua Berkat Darah sang Kau berikan Tuan Penguasa. Tapi Sepertinya Tuan Penguasa Memiliki Darah yang sangat kuat dari sebelumnya." Naga Biru masih merasakan Aura Penindasan padanya dari darah yang dimiliki Ryu sekarang.
" Dari mana kalian tau?" Ryu mulai khawatir.
" Status kami sekarang sudah berada di Dewa Naga, jadi kami bisa merasakan. Tapi Tuan Penguasa Tenang saja, Hanya segelintir Dewa yang mengetahui hal itu. Itupun kalau mereka bertatapan langsung." Naga biru menjelaskan.
Mendengar ucapan tersebut Ryu menjadi khawatir tidak menyangka Armor Pelangi Ciptaannya masih belum mampu menyamarkan Darah Baru miliknya yang memiliki Aura yang sangat kuat.
__ADS_1
" Tuan Penguasa, sepertinya kami memiliki kebiasaan baru Sepertinya tidak lengkap jika tidak dilakukan." Naga Putih menumpuk hasil jarahan mereka.
Ryu berfikir bahwa darahnya telah mewariskan suatu kebiasaan unik kepada Keempat Naga tersebut langsung senyum tipis melihat ke arah Harta itu.
" Aku hanya mengambil Kitab dan Batu Roh ini saja" Ryu mengambil semua Tumpukan Kitab dan dua bagian Batu Roh.
" Sebenarnya Kami kurang membutuhkan Batu Roh ini, tapi masih bisa digunakan untuk mempercepat Pengumpulan Energi Alam Pusaka Langit yang yang Habis terkuras oleh Tuan Penguasa." Naga Putih mengambil sisa Harta tersebut.
" Tuan Penguasa, Kami mohon Pamit tidak bisa terlalu lama meninggalkan Wilayah kami." Naga Biru menatap langit Seketika langit mulai terbuka.
Satu-persatu Para Naga terbang masuk ke dalam celah tersebut hingga semua Naga tersebut hilang diikuti Celah tersebut kembali menutup.
Ryu kembali menatap kedua Wanita tersebut seakan memandangnya dengan penuh kebencian. Namun dengan kondisi mereka yang sekarang seakan sudah tidak berdaya akibat Jaring Petir yang mengikat mereka seakan membakar tubuh mereka.
Ryu melambaikan tangan membuat Kedua Wanita tersebut menghilang, lalu melesat ke arah tumpukan Mayat Para Peri dengan wajah jahatnya.
" Itulah Akibatnya meremehkan ku. Aku akan menjadikan kalian sebagai pengorbanan untuk Dunia Kecil ku." Ryu mengibaskan tangannya ke Arah tumpukan Mayat tersebut.
Setelah semua tidak ada yang tersisa, Ryu keluar dari Dunia Peri kembali ke dalam Hutan dimana awal mereka berada kemudian masuk kembali ke dalam Dunia Kecil.
Terlihat tiga Sosok Wanita yang khawatir seakan menunggu kedatangannya dan juga Dua Sosok Wanita lain yang sedang tidak berdaya dengan tubuh terikat.
" Suamiku." Xin Chie dan Huli Yue terlihat senang lepas dari kekhawatiran mereka.
" Tuan Ryu, Terimakasih!" Sheng Zhishu berlutut di depan Ryu dengan kondisi tubuhnya Kurus kering namun masih menyimpan Kecantikannya.
" Nona Zhishu, tidak perlu seperti itu" Ryu mengangkat tubuh kurus Sheng Zhishu.
Sheng Zhishu bangkit berdiri lalu menoleh ke arah Dua Wanita yang dia anggap sebagai Keluarga seakan tidak percaya dengan Aksi keji mereka membunuh Ayahnya dan membunuh semua Pengikut Setia Raja kerajaan Peri Bunga.
" Nona Zhishu, lakukanlah menurutmu pantas sebagai hukuman untuk mereka " Ryu menatap kedua Wanita tersebut.
Dalam Hati mereka sangat menyesal karena telah meremehkan Ryu sebelumnya, tidak menyangka dia memiliki dukungan dari Dewa Naga.
Sheng Zhishu menghampiri mereka berdua dengan penuh dendam mengingat kejadian saat mereka menyiksa hingga membuatnya seperti Mayat Hidup.
Sheng Zhishu juga bertanya-tanya dalam hati, mengapa Ryu dengan mudah mengalahkan mereka yang sudah jauh lebih tinggi levelnya.
Sheng Shu sendiri sudah berada di Level 61 dan Sheng Xianzi sudah mencapai Level 52 ditambah lagi dengan Putra Mahkota beserta Para pendukung mereka yang juga tidak kalah kuat.
Di sisi lain Ryu sendiri telah memikirkan hal tersebut karena dia memiliki dukungan dari Dewa Naga yang telah malampaui dirinya bahkan lebih kuat dari yang dia kira.
Sheng Zhishu yang tidak ingin berfikir terlalu jauh, memegang pundak kedua Wanita tersebut dengan penuh amarah.
" Wuush" Sheng Zhishu menghisap Energi Kehidupan mereka berdua.
" Aaarrrggghhhh" jeritan yang memilukan dari kedua wanita tersebut.
Setelah beberapa saat kini wajah Cantik dari kedua wanita tersebut mulai memudar hingga kering tidak bernyawa. Hanya hitungan detik tubuh mereka terurai menjadi bagian dari tumbal Dunia Kecil ciptaan Ryu.
Dunia Kecil yang awalnya masih tandus, kini sudah ditumbuhi oleh Pepohonan hingga membentuk Hutan Baru diikuti Aliran Energi Alam mulai muncul semua itu berkat banyaknya bangkai Siluman dan Peri yang terurai menjadi Tanah dalam sekejap.
Sheng Zhishu yang tersadar dari apa yang telah dia perbuat kini menangis dengan kerasnya seakan menyesali apa yang dia lakukan.
Xin Chie dan Huli Yue yang tidak tega melihatnya, mereka langsung mendekati Sheng Zhishu untuk menghiburnya.
" Nona Zhishu, kami tau perasaanmu. Bahkan kami akan melakukan hal yang sama jika kami berada di posisi mu." Xin Chie mengusap punggung Sheng Zhishu dengan lembut merasa tidak enak.
Berhari-hari mereka berada di dalam Dunia Kecil, secara perlahan perasaan Sheng Zhishu mulai membaik walaupun tidak sepenuhnya pulih seutuhnya.
" Suamiku, untuk sementara waktu Aku dan Adik Yue akan mendampingi Nona Zhishu sampai dia benar-benar pulih total." ucap Xin Chie.
" Suamiku, kita harus tetap melanjutkan perjalanan kita, mungkin Hari ini kita Aman, tapi kita tidak tau apa yang terjadi di kemudian hari." Huli Yue merasakan hal yang akan terjadi di kemudian hari.
" Kalau begitu, aku akan kembali ke Dunia kita. Istriku, kalau Nona Zhishu sudah pulih total berikan padanya." Ryu mengeluarkan Kristal Penggabungan Darah dan Armor Pelangi.
" Mmmmm" Xin Chie mengangguk seraya mengambil kedua benda tersebut.
" Aku Pergi dulu! " Ryu meninggalkan mereka menuju Dunia mereka yang sebenarnya.
Di dalam Hutan, Ryu langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan mencari Para penduduk agar bisa mencari Informasi.
__ADS_1