SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
PERTARUNGAN KEKAISARAN 5


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏


...****************...


" Crraaash." Ryu kembali memotong tangan kiri Sang Jenderal.


" Aaarrrggghhhh." Teriakkan Sang Jenderal semakin menjadi.


" Wuush." Ryu mengikat tubuh Sang Jenderal dengan jaring Petir agar dia tidak dapat menyembuhkan diri.


" Bunuh saja aku." Teriak Sang Jenderal karena merasakan sakit yang luar biasa.


Tanpa memperdulikan ucapan tersebut, Ryu mendekati Ikatan Para Jenderal dan yang lain.


" Terimakasih Yang Mulia Kaisar." ucap mereka.


" Sembuhkan diri kalian. Biar kami yang tangani mereka." Ryu memberikan Pil Pemulihan kepada mereka lalu menoleh ke arah dimana Istrinya berada.


" Crraaash... Crraaash... Crraaash... " Ryu seperti bayangan memotong leher Prajurit yang menyekap Istrinya.


Ryu dengan segera melepas tali ikatan tersebut sambil mengirimkan Pesan jiwa kepada Xie Hua.


' Gege... disini juga ada Ka Zhishu dan yang lain juga sedang memulikan diri.' Xie Hua membalas pesan jiwa dari Ryu.


' Apa? mengapa mereka keluar? Ini tidak boleh ada orang lain yang mengetahui hal ini.' Ryu tidak ingin rahasia tentang Roh Suci dan Dewi Agung tersebar luas.


" Gege... Terimakasih." Suara lemah dari Ting Ye, Wang Mingjun, Shu Meilu, Qin Shuomei, Li Jilan, Ling Queqi dan Jiang Caiping.


" Terimakasih Yang Mulia Kaisar." Bing Ruyue, Hong Kian dan Lan Liwei menundukkan kepala sambil menutupi bagian gunung kembar mereka.


" Mmmm." Ryu mengangguk sambil memperhatikan Pasukan Bawahannya dan Prajurit dari Jenderal Jintao dari kejauhan.


' Sepertinya mereka bisa mengatasinya.' Ryu membatin lalu menoleh ke arah Iatrinya lalu menarik mereka ke Dunia Quzhu.


" Pakailah Pakaian kalian." Ryu mengambil tiga Pasang Pakaian dari Dunia Quzhu lalu memberikan kepada ketiga Maktriak tersebut.


" Terimakasih Yang Mulia Kaisar." Jawab mereka serempak lalu menimpali Pakaian mereka dengan Pakaian yang diberikan oleh Ryu.


Hal itu mereka lakukan karena tidak ada tempat untuk menggantikan Pakaian ditambah Kondisi mereka juga sedang terluka.


" Sembuhkan diri kalian." Ryu memberikan beberapa Pil Pemulihan lalu bergegas menuju Gerbang Istana.


Setelah berada di Gerbang Istana, Ryu menciptakan sebuah dinding transparan lalu membuat sebuah Simbol di atas tanah dan memberikan beberapa Mutiara Kerang Langit di berbagai sudut lingkaran.


" Semoga saja ini berhasil." Ryu berencana menghapus ingatan tentang Ketujuh Istrinya dari Para Pengungsi, Dan semua yang ada di Istana Kekaisaran Awan termasuk Para Jenderal, Menteri dan Prajurit.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai. Ryu langsung menuju ke Kamar Utama Istana Kaisar dengan menggunakan Teleportasi.


Sesampai di Kamar Utama, Ryu membawa mereka semua ke Dunia Quzhu.


" Sembuhkan diri kalian disini." Ryu memberikan Pil Pemulihan kepada mereka.


" Gege... Kami minta maaf." Sheng Zhishu bersuara. karena tindakan mereka akan membahayakan keselamatan mereka sendiri.


" Semua telah terjadi. Semoga saja mereka tidak ada yang mengingat. Berikan aku tetesan darah kalian." Ryu meminta kepada Ketujuh Istrinya.


" Mmmm." Sheng Zhishu, Xin Chie, Huli Yue, Tianhe, Yunjiang, Yinshi dan Yuwang menetes darah mereka masing-masing di sebuah botol kecil.


" Aku pergi dulu." Ryu membawa botol kecil tersebut lalu meninggalkan Dunia Quzhu.


Saat berada di Gerbang Istana Kaisar, Ryu langsung menyebarkan Spiritualnya untuk meneteskan darah dari Ketujuh Istrinya ke dalam Lingkaran tersebut.


Setelah beberapa saat, Ryu kembali ke medan Pertempuran untuk membantu mempercepat dan mengakhiri Pertarungan tersebut.


" Bboooom... Bboooom... Bboooom... " Ryu melepaskan Bola Petir Hitam mengarah ke berbagai tempat dimana Pasukan Kekaisaran Shin berkumpul.


" JALAN BAYANGAN" Teriak Ryu dengan sebuah Pedang di tangannya sambil melepaskan Aura Naga Langit.


" Kraaack... Kraaack... Kraaack..." Semua Pasukan Kekaisaran Shin yang masih dibawah Pendekar Bumi Tahap Awal menjadi kabut darah saat berdekatan dengan Ryu walaupun tanpa menyentuh.


Sedangkan bagi Pendekar Bumi Tahap Menengah dan Pendekar Bumi Tahap Akhir langsung terluka Berat akibat serangan Mental dari Aura intimidasi yang dikeluarkan Ryu.


" Serangan mental yang sangat kuat." beberapa sosok yang sudah mencapai Pendekar Bumi Tahap Akhir merasakan tubuh mereka seperti ditimpa beban Puluhan Ton.


Dengan bantuan dari Aura tersebut, Prajurit Jenderal Jintao merasa terbantu dimana mereka hanya Pendekar Alam Tahap Akhir dengan mudah bisa membunuh Pendekar Bumi Tahap Akhir.


" Aura Intimidasi yang sangat Mengerikan." Jenderal Jintao melihat kejadian tersebut di depan matanya.


Di sisi lain, Jenderal Heilong, Jenderal Li Chun dan Pasukan Semesta malah terlihat kesal karena Permainan mereka seakan dihentikan oleh Ryu dimana mereka masih mampu bergerak bebas membunuh semua lawan yang ada di depan mereka.


Di tempat yang tidak jauh dari mereka Nan Sian, Zhao Luyi dan Zhao Liying juga terlihat senang dengan bantuan tersebut membuat gerakan mereka menjadi bebas.


Untuk melampiaskan kekesalannya Jenderal Heilong langsung berubah wujud menjadi Naga Hitam dan Jenderal Li Chun langsung berubah wujud menjadi Naga Petir membuat Pasukan Kekaisaran Shin semakin ketakutan.


Baik Chaizu berubah wujud menjadi Harimau Petir, Jiejia berubah wujud menjadi Laba-laba Raksasa Berkepala tiga, Zi Mayi berubah wujud menjadi sosok Semut Raksasa diikuti Pasukannya, Zi Mifeng berubah wujud menjadi sosok Lebah Raksasa diikuti oleh Pasukannya.


Melihat perubahan wujud dari Pasukan Semesta, Pasukan Kekaisaran Shin langsung gemetar hingga kehilangan semangat untuk bertarung lagi.


" Yang Mulia Kaisar, ternyata aku sudah memiliki saingan berat sekarang." suara Jenderal Li Chun dengan wujud Naga Petir sambil menyembur Petir kepada lawan didepannya.


" Bukan hanya kamu, aku juga tersaingi." Jenderal Heilong dalam wujud Naga Hitam mengibaskan ekornya membuat puluhan Pasukan Lawan terbang ke udara.


Sesekali Jenderal Heilong menyemburkan Elemen Kegelapan membuat tubuh pihak lawan langsung mengering.


" Benar-benar mengerikan." semua sosok yang sudah mencapai Pendekar Langit Tahap Menengah dan Pendekar Langit Tahap Awal mencoba untuk melarikan diri.


" Ggooooaaarr." Chaizu mengeluarkan Auman saat melihat beberapa sosok yang ingin melarikan diri.


" Aaarrrggghhhh." Langkah mereka terhenti saat menerima serangan Petir dari Chaizu yang menyelimuti tubuh mereka.


" Untung saja aku ada di pihak mereka." Jenderal Jintao membatin saat melihat kengerian dari serangan Pasukan Bawahan Ryu lalu mengisyaratkan kepada Prajuritnya untuk menjauhi wilayah Pertarungan karena takut akan berimbas pada mereka.


Meskipun Jenderal Jintao sudah mencapai Pendekar Langit Tahap Akhir, namun jika terkena efek serangan tersebut pasti akan membuatnya terluka berat.


Mendapatkan isyarat tersebut. Prajurit Jenderal Jintao langsung mundur sekaligus memulihkan diri karena banyak mendapatkan luka.


Setelah beberapa saat kini Pasukan Kekaisaran Shin hanya menyisakan 34 Pasukan yang mengalami Luka berat yang diantaranya adalah 14 Pendekar Langit Tahap Menengah dan 20 Pendekar Langit Tahap Awal.


" Jenderal Li Chun, Jenderal Heilong, bawa mereka ke Penjara." Ryu memberi Perintah sambil menatap ke arah 34 sosok tersebut yang sudah diikat dengan Jaring Petir.

__ADS_1


" Sampai mati pun aku tidak akan mengakui kekalahan ini." Salah satu Jenderal mencoba untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut.


" Kraaack." Tubuh Jenderal tersebut hancur berkeping-keping.


" Aku lupa mengingatkan, jika kalian berusaha sekuat tenaga melepaskan jaring Petir itu, maka sama saja kalian bunuh diri. Seperti yang kalian lihat dari rekan kalian itu." Ryu menunjuk ke arah kepingan Daging dari jenderal yang baru saja ingin melepaskan diri.


" Gluug." 33 Pasukan yang tersisa menelan ludah berkeringat dingin dan mulai pasrah.


" Mari kita ke Istana." Ryu membawa mereka masuk kedalam Istana.


" Baik Yang Mulia Kaisar." ucap mereka serempak lalu mengikuti Ryu dari belakang.


" Salam Yang Mulia Kaisar." Long Mubai, Bao Mingson, Gao Liang, Bing Ruyue, Hong Kian, Lan Liwei, Zuge dan Tiankong menundukkan kepala.


" Sepertinya kalian belum pulih Total, lebih baik kalian Menginap beberapa hari disini Istana sampai kalian benar-benar pulih." Ryu menatap mereka bergantian.


" Tidak masalah Yang Mulia Kaisar. Kami bisa Pulang sekarang." Hong Kian ingin meninggalkan tempat tersebut.


" Maktriak... Apa kalian menganggapku sebagai musuh? " Ryu menghentikan langkah mereka.


" Ba... Baik Yang Mulia Kaisar." mereka mengangguk tidak enak menolak tawaran tersebut.


" Jenderal Chuang, Jenderal Yuchen, katakan kepada Pengungsi bahwa keadaan sudah aman. Dan biarkan mereka kembali ke tempat masing-masing." Ryu memberi Perintah.


" Baik Yang Mulia Kaisar." Kedua Jenderal langsung menuju halaman Istana.


Sedangkan Ryu dan yang lain langsung menuju ke dalam Istana yang kini disambut oleh beberapa Pelayan.


" Salam Yang Mulia Kaisar." Pelayan menundukkan kepala.


" Paktriak Long Mubai, Paktriak Bao Mingson, Paktriak Gou Liang, Maktriak Bing Ruyue, Maktriak Hong Kian, Maktriak Lan Liwei dan Kalian berdua." Ryu menatap mereka karena belum tau nama mereka.


" Salam Yang Mulia Kaisar, Saya Zuge. Putra dari Maktriak Sekte Gunung Phoenix." Zuge memperkenalkan diri.


" Salam Yang Mulia Kaisar, Saya Tiankong. Putra dari Maktriak Sekte Kabut Ilusi." Tiankong memperkenalkan diri.


"Mmmm... Lebih baik kalian Istirahat dulu untuk memulihkan tenaga kalian." Ryu menatap mereka bergantian.


" Pelayan... Bawa mereka ke Kamar Tamu Kehormatan dan layani keperluan mereka." Ryu menatap ke arah Pelayan.


" Baik Yang Mulia Kaisar." Kelima Pelayan menundukkan kepala lalu menoleh ke arah Pemimpin sekte. " Mari Tuan, Mari Nona, biar kami antar." ucap Pelayan.


" Yang Mulia Kaisar, kalau begitu kami pamit dulu." Ucap mereka bersamaan lalu mengikuti kelima Pelayan tersebut.


" Mmmm." Ryu mengangguk ramah.


Baik Nan Sian, Zhao Luyi dan Zhao Liying maupun Jenderal Jintao terlihat senang karena Ryu begitu ramah kepada siapapun meski sebelumnya berbanding terbalik saat di medan Pertempuran.


" Permaisuri Sian, Ratu Luyi, Ratu Liying, Apa rencana kalian selanjutnya? " Ryu menatap mereka bergantian.


" Maaf Yang Mulia Kaisar, untuk sekarang ini sangat tidak mungkin jika kami kembali ke Kekaisaran Shin. Karena kami sudah dianggap sebagai buron Istana." ucap Nan Sian.


" Benar Yang Mulia Kaisar... Kami semua sudah di Cap sebagai Buron. Hanya Jenderal Jintao dan Prajuritnya saja yang bisa ke Wilayah Kekaisaran Shin." Zhao Luyi menimpal.


" Jadi begitu... Jenderal Jintao, apa kamu bisa menyembunyikan keberadaan mereka?" Ryu menatap ke arah Jenderal Jintao.


" Seisi Kediamanku sekarang sudah diawasi oleh beberapa Prajurit. Jadi aku tidak bisa membawa mereka." ucap Jenderal Jintao.


" Lalu bagaimana denganmu dan Prajurit yang kamu bawa?" Tanya Ryu.


" Hamba juga tidak tau, karena Hamba sendiri sudah memisahkan diri dari Pasukan Kekaisaran Shin saat menempuh perjalanan kesini ketika melewati Hutan." Ucap Jenderal Jintao.


" Sepertinya Kasusmu juga sama. Jika kamu kembali tentu saja akan mengundang pertanyaan dan sudah pasti banyak yang curiga." Ryu memahami posisi Jenderal Jintao.

__ADS_1


__ADS_2