SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
SEKTE BURUNG HANTU 4


__ADS_3

Setelah itu mereka berdua masuk ke kediaman masing-masing yang telah disediakan oleh Tetua Mu Dan.


Di dalam kamarnya, perasaan Wu Tian bercampur aduk karena begitu berharap agar Ryu bisa menyelamatkan hidupnya.


Di sisi lain Wu Tian juga merasakan kurang yakin jika Ryu dapat menyelesaikan masalah tersebut.


" Semoga saja Saudara Juan bisa mengatasinya. Jika dia tidak mampu, mana mungkin dia berani masuk kesini." Wu Tian meyakinkan dirinya sendiri karena dia memiliki pandangan yang berbeda saat bertemu dengan Ryu.


Di tempat lain Ryu masih terlihat santai sambil menunggu waktu malam hari untuk melancarkan aksinya.


Pada malam hari Ryu langsung menyelinap masuk ke kediaman Guru Agung terlebih dulu agar tidak menimbulkan keributan karena di dalam denah yang diberikan oleh Wu Tian, ketiga wanita itu memiliki jalur yang sama.


Setelah beberapa saat Ryu sudah berada di tempat kediaman khusus orang penting.


Dari salah satu bangunan Ryu dapat merasakan Aura dari Ling Xianzi sedang bersama orang lain.


Dengan rasa penasaran, Ryu langsung menyelinap ke bangunan tersebut hingga beberapa saat terlihat Ling Xianzi sedang bersama delapan sosok Pemuda dalam keadaan tanpa busana.


Di dalam kamar itu terlihat sedang menikmati sensasi yang diberikan oleh delapan pemuda tersebut secara bergantian menikmati keindahan tubuhnya.


" Haaahh... Benar-benar memalukan." Ryu bergumam sambil berjalan mendekati mereka dan berniat mengirimkan Ling Xianzi ke Dunia Quzhu untuk diadili oleh Istrinya.


" Siapa kamu? " Salah satu pemuda merasakan kehadiran orang lain seraya menoleh ke arah Ryu yang sedang mendekati mereka.


" Hei... Bukankah Pemuda itu adalah Murid baru yang dibawa oleh Tetua Mu Dan?" ucap salah satu Pemuda.


" Beraninya kamu mengganggu kesenangan kami. Kita bunuh Pemuda itu!" Pemuda yang lain terlihat kesal karena kedatangan Ryu mengganggu kesenangan mereka.


" Tunggu! Pemuda ini sangat tampan, biarkan saja dia bergabung bersama kita." Ling Xianzi merasa tidak ada masalah jika Ryu menikmati tubuhnya, karena dia berpikir bahwa Pemuda tersebut bisa mewakili perasaannya yang begitu mendambakan kehadiran Ryu bersamanya.


" Oh Dewiku, jika itu yang kamu inginkan maka kami tidak keberatan. Lagi pula milikmu selalu sempit, aku harap Pemuda itu bisa membantu kami untuk memuaskan keinginan Dewiku yang sangat cantik ini." Ucap salah satu Pemuda, karena selama ini merekalah yang seakan tidak berdaya saat berhubungan badan dengan Ling Xianzi.


Ryu yang mendengar ucapan tersebut semakin kesal secara diam-diam mengeluarkan jarum racun berniat untuk membunuh mereka.


" Jleeep... Jleeep... Jleeep." Delapan jarum racun menancap sempurna di leher kedelapan Pemuda tersebut hingga mati tanpa menimbulkan suara.


" Siapa kamu sebenarnya?" Ling Xianzi sontak kaget karena Pemuda yang di depannya sekarang dengan mudah membunuh Murid jenius yang sudah mencapai Pendekar Bumi tahap menengah dengan mudah.


Dengan sigap Ling Xianzi memungut pakaiannya karena tidak mungkin baginya untuk bertarung dengan kondisi tanpa busana.

__ADS_1


" Siapa Aku? Ling Xianzi... Sepertinya permainanmu sampai disini saja, karena Istriku begitu menginginkan nyawamu." Ryu menggelengkan kepala mantan Istrinya itu melakukan hal yang tidak pantas hanya demi mendapatkan kekuatan.


" Ge... Gege." Ling Xianzi sontak kaget merasa malu karena perbuatannya diketahui oleh orang yang dia cintai.


" Kamu tidak pantas memanggilku seperti itu." langsung mengibaskan tangannya membuat Ling Xianzi menghilang dari pandangan menuju ke Dunia Quzhu.


" Haaahh... Untung saja dia masih lengah." Ryu menghela nafas karena bisa lebih mudah menarik Ling Xianzi ke Dunia Quzhu saat dia berusaha untuk memasang kembali pakaiannya.


Tanpa menunggu lama Ryu langsung menarik delapan Mayat tersebut ke Dunia Quzhu agar tidak meninggalkan jejak.


Setelah itu Ryu kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman Guru Agung dengan mengaktifkan Armor Pelangi lalu menggunakan Langkah Hantu Harimau Petir.


Saat berada di sebuah kamar kediaman Guru Agung, Ryu kembali disambut dengan pemandangan yang seperti sebelumnya dimana terlihat Guru Agung sedang bercumbu dengan dua sosok Pria salah satu Tetua dari Sekte Burung Hantu dan Tetua Mu Dan itu sendiri.


" Haaahh... Apakah Sekte ini memang pekerjaannya seperti itu?" Ryu sedikit kesal sambil memegang sebuah botol kecil yang berisi Racun kelinci merah.


" Traaang." Botol tersebut langsung pecah saat berbenturan dengan kepala Tetua Mu Dan.


" Siapa itu?" Tetua Mu Dan sangat kesal karena terkena lemparan botol tersebut yang mengeluarkan asap berwarna merah muda.


" Racun kelinci merah? Siapa yang melakukannya?" Guru Agung mulai merasakan efek dari Racun kelinci merah.


' Sial... Racun ini sangat kuat.' Tetua Agung merasakan birahinya semakin meningkat.


" Tap... Tap... Tap." Ryu berjalan dengan santai sambil mendekati ketiga sosok tersebut.


" Kamu?"


" Juan'er?"


Kedua sosok tersebut sangat kaget karena kedatangan Ryu yang tiba-tiba sambil melirik ke arah Guru Agung yang sudah tidak kuat lagi menahan hasratnya.


" Tetua... Sssshhhhhh... Cepat lakukan! Sssshhhhhh." Guru Agung tidak memperdulikan kehadiran Ryu karena efek Racun terus mengendalikan pikirannya.


" Juan'er... Apa yang kamu lakukan disini?" Mu Dan menatap ke arah Ryu seakan meminta penjelasan.


" Sudahlah Tetua, Seperti Guru Agung sudah tidak sabar lagi. Jika Pemuda itu ingin ikut, dia bisa menunggu kita." Salah satu Tetua yang sudah tidak sabar lagi ingin menikmati keindahan tubuh Tetua Agung yang sudah tanpa busana memainkan Gunung Kembarnya sendiri sambil membuka kedua pahanya agar cepat dijelajahi.


" Jleeep... Jleeep." Kedua jarum racun menancap sempurna di leher kedua Tetua tersebut.

__ADS_1


" Aaahhhkk." Kedua Tetua merasakan pandangan mereka menjadi gelap hingga kehilangan nyawa.


Secara perlahan Ryu mulai mendekati ranjang tersebut dimana dia dapat melihat jelas tubuh dari Guru Agung yang terlihat masih kencang putih dan mulus.


" Gluug." Ryu menelan ludah melihat pemandangan tersebut namun berusaha untuk mengendalikan diri.


" Anak Muda... Cepat lakukan untukku! Ssshhhhh..." Guru Agung memainkan jari pada bagian sensitif miliknya.


' Ciihhhh...' Ryu memalingkan wajah atas pemandangan tersebut.


' Wanita ini memiliki Tubuh Abadi, Apa Dewi Agung mau memakai tubuh wanita ini?' Ryu membatin sambil mengingat apa yang dikatakan oleh Shen Weida.


" Sepertinya kamu masih mengingat janjimu. Tubuh wanita ini memang kotor, Tapi aku masih bisa memperbaikinya setelah mendapatkan Tubuh Abadi yang lain." Shen Weida tiba-tiba muncul di hadapan Ryu.


" Penguasa... Bagaimana caranya aku memberikan Tubuh Abadi untukmu?" Ryu menundukkan kepala.


" Itu gampang saja. Kamu harus menarik Jiwa wanita ini ke Pagoda Jiwa. Dengan begitu aku bisa membawa tubuh wanita ini bersamaku. Hanya saja aku tidak bisa menyentuh wanita ini sebelum Racunnya menghilang, karena efek Racun itu bisa berimbas kepadaku." Shen Weida menggelengkan kepala atas tindakan dari Ryu.


Namun dia dapat memahami situasi tersebut, jika Ryu tidak menggunakan Racun kelinci merah maka Ryu bisa mati di tangan Guru Agung.


" Baiklah Penguasa." Ryu memusatkan fikirannya lalu berjalan mendekati Guru Agung seraya menyentuh dahinya dengan jari telunjuk.


Seketika Jiwa Guru Agung ditarik paksa menuju Pagoda Jiwa hingga wanita tersebut langsung mati.


Saat wanita tersebut sudah mati, Ryu memasangkan kembali pakaian Guru Agung dan mengambil Cincin Ruang miliknya lalu menyimpannya di Cincin pemulihan.


" Mahkota? Tapi mengapa Auranya sangat kuat?" Ryu mengambil Mahkota tersebut dari Cincin Ruang milik Guru Agung dimana Mahkota tersebut sangat indah dengan corak Biru Kristal.


" Anak Muda... Mahkota itu adalah Salah satu dari Artefak Kuno yang memiliki 12 Jiwa Abadi yang dikurung di dalamnya. Mahkota itu juga hanya bisa digunakan oleh wanita saja. Beruntung sekali wanita itu tidak bisa menggunakannya dengan baik. Jika tidak, kekuatannya setara dengan Pendekar Semesta Tahap Awal." Shen Weida sangat tertarik dengan Mahkota yang ada di tangan Ryu, namun dia tidak berani mengutarakan keinginannya.


" Kalau begitu, Aku rasa Dewi Agung sangat cocok menggunakannya karena Mahkota ini akan meningkatkan kekuatan pikiran." Ryu memberikan Mahkota tersebut kepada Shen Weida.


" Anak Muda... Mahkota ini sangat berharga. Lebih baik kamu berikan kepada salah satu Istrimu." Shen Weida merasa tidak enak, meskipun dia sangat menginginkan benda tersebut.


Meskipun dia adalah salah satu dari Penguasa di Dunia Fana, namun karena dia baru saja terbangun, tentu saja kekuatanya sangat lemah.


Apalagi saat berada di Dunia Fana, Shen Weida sudah mengeluarkan kekuatanya untuk memulihkan Dunia tersebut hingga kekuatannya sekarang seperti Orang biasa.


Untuk itulah Shen Weida meminta pertolongan kepada Ryu agar bisa mencari 12 Tubuh Abadi dan 12 Jiwa Abadi agar bisa meningkatkan kekuatannya kembali.

__ADS_1


__ADS_2