
Sedangkan para Tetua yang lain melihat Liu Meng yang sedang buru-buru langsung bertanya kepada kedua Pelayan tersebut karena Penasaran.
" Pelayan, Apa yang terjadi? Mengapa Tetua Meng terlihat buru-buru?" Tanya salah satu Tetua.
" Itu... Kediaman Tetua Agung didatangi oleh Tujuh Bidadari." Jawab salah satu Pelayan.
" Tujuh Bidadari? Itu tidak mungkin. Tetua Jianheng, Tetua Xiuying, Tetua Tianba, Kita harus mengusir mereka! Siapapun tidak Boleh mendatangi Kediaman Tetua Agung tanpa Izin." Tetua Jianying langsung membawa mereka menaiki Bukit.
" Mmmmm'' merek langsung mengikuti Jianheng.
Di atas Bukit Liu Meng yang sudah sampai langsung menyelidik Ketujuh Wanita tersebut sambil menyembunyikan keberadaannya.
" Siapa Ketujuh Wanita itu? mengapa bisa berada disini?" Liu Meng meneliti mereka dengan seksama.
Tiba-tiba Liu Meng langsung melompat ke depan Ketujuh Wanita yang mencurigakan dengan Aura Pembunuh yang Pekat.
" Siapa Kalian? Mengapa bisa masuk ke Kediaman Anakku?" Liu Meng menatap mereka dengan tajam.
" Paman, Ini Aku Xin Chie menantumu" Xin Chie merasa heran karena Liu Meng tidak mengenalnya.
" Paman Ini Aku Huli Yue menantu Paman juga." Huli Yue menyapa dengan ramah.
" Chie'er, Yue'er" Liu Meng sambil menatap perubahan pada Wajah kedua Menantunya.
" Salam Ayah Mertua." Sheng Zhishu, Tianhe, Yunjiang, Yinshi, dan Yuwang menundukkan Kepala memberi Hormat kepada Liu Meng tanpa memperdulikan Aura Pembunuh yang dilepaskan Oleh Liu Meng.
" Ayah Mertua?" Liu Meng terlihat kebingungan.
Ryu yang berada di Kamar sedang menyusun beberapa Kitab dan Senjata yang Sekiranya bisa digunakan untuk Sekte Lembah Persik kini langsung menghentikan aktivitasnya karena merasakan Aura Ayahnya sudah berada di kediamannya lalu keluar dari kamar menuju arah suara.
Sedangkan Xin Chie mencoba menjelaskan kepada Liu Meng bahwa mereka semua adalah Istri dari Ryu.
" Haaahh... Chie'er, Yue'er, Aku hampir saja tidak mengenal kalian. Tapi..." Liu Meng memandang kelima Wanita lain penuh selidik.
" Ayah Mertua masih belum yakin bahwa kami juga Isteri dari Ryu." ucap Sheng Zhishu.
" Haaahh... Sudahlah, Aku harap kalian semua Berbahagia dengan pilihan kalian." Liu Meng seakan kehabisan kata.
" Ayah." Ryu tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
" Ryu'er, Jadi ini hasilnya saat kamu berpetualang." Liu Meng menggelengkan kepalanya.
" Ayah Mertua, Kami tidak keberatan jika memiliki satu Suami. Bahkan kami tidak merasa kekurangan sedikit pun" ucap Yuwang.
" Benar Paman, kami selalu mendapatkan perlakuan yang sama dari Anak Paman. Bahkan Aku sendiri merasa sangat beruntung bisa bersama yang lain saling menutupi kekurangan." ucap Xin Chie.
" Chie'er, Yue'er, jika itu Keputusan kalian aku akan memberikan Restu agar kalian menjadi Keluarga yang Bahagia." Liu Meng menatap mereka masing-masing lalu membalikkan badan ke arah Ryu "Ryu'er, aku harap kamu bisa memberikan Perlakuan yang sama kepada Mereka." Liu Meng menasehati Ryu.
" Aku akan mengingat Nasehat Ayah." Ryu menundukkan kepala merasa lega.
Di tempat lain Para Tetua terperangah saat melihat Ketujuh Wanita tersebut yang baru saja mereka dengar Ketujuh Wanita tersebut Istri dari Tetua Agung.
" Tetua Jianheng, Tetua Jianying, Kalian ingat Umur. Lagi pula mereka Istri dari Tetua Agung, jadi jaga sikap kalian." Tianba berjalan ke arah Ryu berada.
" Ah itu... Maaf." Jianheng dan Jianying mengendalikan pikiran mereka.
" Kalian Tinggal disini atau ikut?" Xiuying mengikuti Tianba.
" Tetua Agung, maafkan kami" Gumam Jianheng seraya berjalan ke arah Ryu.
" Tetua Agung sangat beruntung. Ternyata benar Ketujuh Bidadari itu begitu nyata berada di Bukit ini." Jianying menggelengkan kepala.
Setelah berjalan beberapa saat, Para Tetua yang lain sudah berada di depan Ryu dan yang lainnya merasa sangat senang atas kepulangan Tetua Agung mereka.
__ADS_1
" Salam Tetua Agung." Keempat Tetua memberi Hormat.
" Terimakasih telah menyambut kedatangan kami " Ucap Ryu.
" Tetua Agung, Aku akan mengabarkan ini Pada semua Anggota Sekte. Mereka juga sudah lama menantikan Kepulangan Tetua Agung." Jianheng ingin membuat Pesta Besar-besaran.
" Aku juga Setuju. Bila perlu kita Undang dari berbagai Cabang Sekte Lembah Persik." Tianba ikut menimpal.
" Kalau begitu apa yang kita tunggu lagi? Tetua Agung, Kami mohon Pamit." Jianying tidak sabar mengumumkan hal tersebut.
Tanpa sempat Ryu bicara apapun, Keempat Tetua tersebut langsung meninggalkan Kediaman Ryu mengumumkan tentang kepulangan Ryu Kepada Paktriak, Para Tetua lain, Semua Guru dan Murid di Sekte Lembah Persik.
Hanya dalam waktu Sehari Isu tentang Tetua Agung yang beristri Tujuh Bidadari langsung tersebar dengan cepat membuat Seluruh Anggota Sekte saling bertanya-tanya bagaimana rupa dari Ketujuh Istri Ryu.
Dari isu tersebut ada beberapa Murid Muda beranggapan bahwa itu terlalu melebih-lebihkan, bahkan beberapa Murid Sekte Wanita menganggap diri merekalah yang Cantik.
Begitupun pendapat beberapa Tetua lain dan Guru Sekte bahwa selama ini masih tidak ada yang menyaingi Tetua Qixuan dan Guru Jingmi yang dikenal Paling Jenius dan sangat Cantik.
Namun bagi mereka yang sudah lama mengenal Tetua Jianheng, Jianying, Tianba dan Qixuan dari Awal berdirinya Sekte Lembah Persik, mereka yakin bahwa apa yang dikatakan itu bukan hal yang berlebih-lebihan meskipun mereka masih belum bertemu.
Paktriak Lin Feng dan Para Tetua lain yang Sudah Tua mendengar kabar tersebut juga sangat senang bukan masalah ketujuh Istri Ryu, melainkan karena Tetua Agung yang dikenal sangat Dermawan yang mampu membuat Sekte Lembah Persik seperti sekarang.
Undangan pun disebarkan kepada seluruh Cabang Sekte agar bisa menghadiri Acara Penyambutan Tetua Agung yang diadakan Satu Bulan kedepan mengingat jarak yang ditempuh cukup jauh meskipun dengan bantuan Hewan Kontrak.
Ryu dan Ketujuh Istrinya tidak lepas dari kabar tersebut dan Kedua Pelayanan sebelumnya juga meminta mereka untuk tetap bertahan di Kediaman mereka sampai Hari yang telah ditentukan.
" Haaaah... Ini sudah berlebihan." Ryu sedikit kesal.
" Sayang, sepertinya Para Tetua sangat menghormatimu." Tianhe yang masih belum tau mengapa bisa seperti itu.
" Suamiku, Ikuti saja keinginan mereka. Mungkin itu wujud dari Kekaguman mereka padamu " ucap Sheng Zhishu.
" Kalau begitu lebih baik kita Berkultivasi untuk meningkatkan Fondasi saja dulu, mengingat Mencapai Tingkat Semesta bukanlah hal mudah." ucap Ryu.
" Di tingkat Langit saja tidak ada yang mampu jika tidak memakai Harta Langit, itupun kalau mendapatkannya sangat berlimpah " Tianhe tidak menyangka dengan hasil yang mereka capai sekarang hanya seperti sebuah mimpi.
Disisi lain mereka sama-sama memikirkan bagaimana cara agar Danau Tujuh Hati berfungsi kembali mengingat Energi Alam sudah menipis.
Zi Mifeng yang kebetulan ada disitu mencoba menawarkan Intisari dari Madu yang mereka buat untuk memperbaiki Energi Alam pada Danau tersebut meskipun membutuhkan waktu yang sangat lama.
" Suamiku, bagamana kalau kita coba memberikan Intisari dari Sumberdaya yang tidak kita Pakai, meskipun membutuhkan waktu sangat lama paling tidak untuk mempercepat sedikit proses pengembalian Energi Alam." Sheng Zhishu memberi usulan.
" Kedengarannya sangat bagus. dari pada Sumberdaya kita menumpuk." ucap Ryu.
Sheng Zhishu pun langsung mengambil semua Sumberdaya langsung mengurainya seperti cahaya lalu menaruh ke dalam Danau hingga terlihat menyatu dengan Air yang masih bening.
Setelah itu mereka keluar dari Pintu Danau dan kembali ke Ruang Kultivasi untuk mengisi keseharian mereka hingga saat sudah sore, mereka menyudahi aktifitas dan memilih untuk beristirahat.
Setiap hari mereka selalu melakukan hal yang sama dimana mengumpulkan Sumberdaya dilanjutkan Berkultivasi dan berlatih hingga Saat Malam kembali untuk istirahat.
Tepat di hari yang telah ditentukan, mereka langsung keluar dari Dunia Kecil menuju kediaman lalu keluar dari Rumah.
" Sebaiknya kita Pakai Cadar saja! Aku tidak mau menjadi perhatian orang banyak." Sheng Zhishu mengeluarkan Kain Tipis berwarna Biru laut untuk menutupi wajahnya.
" Mmmmm'' mereka langsung memakai Cadar masing-masing sesuai dengan warna pakaian mereka.
" Baiklah, kita berangkat sekarang " Ryu membawa mereka menuruni Bukit yang terdapat sebuah tangga yang sangat lebar.
" Tuan, Nyonya, Meraka sudah menunggu di Lapangan Sekte." ucap Pelayan yang berbeda di Kaki Bukit.
Setelah beberapa saat Ryu langsung disambut oleh Lin Feng, Dong Shen, dan beberapa Tetua lain.
" Salam Paktriak, Salam para Tetua." Ryu dan Ketujuh Istri memberi hormat.
__ADS_1
" Ryu'er, Kamu semakin Kuat saja sekarang. Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu, Tapi Kesepakatan Tetua itu mengharuskan aku menunggu." Lin Feng Terlihat senang.
" Tetua Agung. Sudah lama tidak bertemu " Dong Shen menyapa ramah.
Beberapa Tetua dan Guru yang lain pun Satu-persatu mengenalkan diri mereka mengingat Cerita dari Para Tetua dan Guru Senior tentang Sosok Tetua Agung.
Paktriak Lin Feng pun memperkenalkan Ryu kepada semua yang hadir di tempat itu juga mengenalkan Ketujuh Istri dari Ryu meskipun belum tau Nama dari mereka semua.
Semua Murid dan beberapa Guru langsung terperangah saat melihat Ketujuh Wanita yang memakai Cadar meski wajah mereka ditutup sehelai kain namun masih memancarkan sebuah kecantikan luar biasa hanya dari mata dan alis mereka saja.
" Ketujuh Wanita itu benar-benar cantik sekali. Dengan memakai Cadar saja sudah seperti itu, bagaimana jika memperlihatkan wajah mereka." Bisik satu sama lain.
" Ternyata kabar itu memang benar adanya. Bidadari-bidadari yang sangat Cantik."
" Tetua Agung memang sangat beruntung bisa mendapatkan Wanita yang sangat cantik sekaligus."
" Benar Saudara, Wajar saja Para Tetua sangat menghormatinya karena sifat Dermawan."
Bisik beberapa Anggota Sekte Lembah Persik bahkan para Tetua dan Guru yang menganggap Qixuan dan Jingmi adalah Wanita tercantik kini berubah fikiran.
Begitupun dari beberapa Murid Wanita yang menganggap Kabar sebelumnya sangat berlebihan kini langsung tertunduk lesu karena kecantikan mereka masih jauh dari kata sebanding.
Ryu dan Ketujuh Istrinya juga berbincang ringan dengan beberapa Tetua Baik mengenai Perkembangan Sekte, maupun beberapa hal yang terjadi sekarang.
Disamping itu beberapa Murid terbaik Sekte juga menunjukkan kemampuan mereka bahkan beberapa Murid juga meminta pandangan langsung mengenai perkembangan latihan mereka selama ini kepada Ryu hingga Ryu meminta Puluhan Murid terbaik di Seke untuk maju ke Arena latihan.
" Mohon bimbingan dari Tetua Agung." ucap murid yang sudah berada di Arena latihan.
" Sekarang Pasang Posisi bertarung kalian semua." Ryu sambil menatap mereka.
" Baik." jawab mereka serempak.
" Wuush " Ryu mengambil semua senjata dari Murid.
" Apa? Cepat sekali." semua Murid tidak menyangka senjata yang mereka pegang dengan kuat bisa berpindah tangan tanpa disadari.
" Kalian paham kan dengan apa yang baru saja saya lakukan? " Ryu bertanya kepada mereka.
Mendengar pertanyaan dari Ryu mereka terlihat kebingungan saling berpandangan mencerna kejadian yang baru mereka alami.
" Dalam sebuah Pertarungan yang kita butuhkan adalah Kecepatan. Jangan biarkan Lawan kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki Pertahanan mereka apalagi menyerang balik kita." Ryu mengembalikan senjata mereka sambil berjalan ke arah tempat duduknya.
" Tetua Agung, mohon penjelasan lebih lengkap lagi." Tetua Dong Shen hanya mendapatkan samar-samar dari penjelasan tersebut.
" Tetua Shen, Banyak Kultivator di luar sana yang memiliki Teknik Pengunci Lawan. Jika kita kalah cepat, maka sudah tentu akan tau hasilnya." Ryu sambil menatap mereka yang terlihat Antusias.
" Dengan kecepatan juga cara terbaik jika melawan Musuh yang lebih kuat dari Kita. Seperti yang aku katakan, jangan memberi jeda sedikit pun jika lawan kita sudah lengah." Ryu menggunakan Langkah Kilat berdiri di tempat lain.
"Kecepatan juga bisa membantu ketika kita berada dalam Bahaya ataupun berhadapan dengan Musuh yang bisa membahayakan kita." Ryu memandang ke arah Tianhe, Yunjiang dan Yinshi sambil tersenyum.
" Tetua Agung, sekarang aku sudah paham. Terimakasih atas penjelasannya." Dong Shen menundukkan kepala.
Semua yang ada di tempat itu mulai mengerti dan mengangguk setuju berpikir Setinggi apapun Tingkat Teknik yang dipakai jika tidak didukung dengan kecepatan, maka akan percuma jika berhadapan dengan Lawan yang gerakannya tidak bisa terbaca.
Ryu juga memberikan Pemahaman baru yang pernah dia dapatkan ketika berada di Benua Bintang baik itu dari Aura, Kualitas Tulang, Jiwa sebagai Fondasi sebagai seorang Kultivator agar mampu mengimbangi Tingkat Kultivasi.
Ryu juga memberikan Puluhan Kitab yang dia Salin dari Kitab pemberian Shandian Shan untuk meningkatkan Fondasi meskipun sangat berbeda dari Teknik yang mereka Pakai karena Darah mereka berbeda dengan Darah campuran yang dimiliki Ryu dan Ketujuh Istrinya paling tidak pemahaman mereka bisa disamakan dengan Kultivator dari Benua Bintang.
Mendengar Penjelasan dari Ryu, kini wawasan mereka menjadi terbuka bahkan Lin Feng pun sangat senang dengan Pengetahuan baru tersebut.
" Ryu'er... Tidak sia-sia kamu berpetualang ke Benua Bintang. Dengan begitu aku sebagai Paktriak seakan ingin memulai dari awal lagi." Lin Feng terlihat senang.
" Paktriak, itu tidak masalah. Dengan begitu Sekte kita bisa menyamai Kultivator dari Benua Bintang. Aku berharap Enam Bulan kedepan Kalian semua paling tidak sudah mencapai Aura Tingkat Kaisar, Tulang Tingkat Kaisar, Jiwa tingkat Kaisar, Qi Tingkat Kaisar dan Elemen Tingkat Raja." ucap Ryu.
__ADS_1
" Ryu'er... Sepertinya untuk mencapai Tingkat Petapa saja kami harus membutuhkan waktu Puluhan Tahun. Bagaimana mungkin kami mencapai Fondasi setinggi itu." Lin Feng merasa hal itu sangat mustahil.
" Aku bisa mempercepat Waktu di Sekitar Sekte ini sehari sebanding dengan seratus Hari. Berarti Proses kalian seperti 50 Tahun." ucap Yuwang.