SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
BU JING YU


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:




Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.




Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'




Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏


...****************...


" Lalu bagaimana dengan Hutan larangan?" Ryu kembali bertanya.


" Hutan Larangan akan terbuka satu bulan lagi. Jadi Gege masih ada waktu untuk kesana." ucap Jiang Caiping.


" Baiklah... Sepertinya aku masih ada waktu." ucap Ryu.


" Lebih baik kita makan dulu." Zhang Qixuan membawa berbagai macam hidangan ke atas meja.


" Xuan'er... Kamu sangat pengertian." Ryu melirik ke arah mereka sedikit menggoda.


" Sepertinya Suami kita ingin minta disuapi." Goda Nan Sian seraya menyediakan makanan untuk Ryu.


Mendengar ucapan dari Ryu, satu-persatu Istrinya menyuapi Ryu walaupun dengan sedikit memaksa membuat Ryu tidak bisa mengelak atas ucapannya tersebut.


Mereka sedikit puas saat Ryu terlihat kewalahan dan batuk ketika menerima makanan yang mereka sodorkan.


" Bagaimana Gege... Apa makanan itu enak?" Sheng Zhishu tersenyum puas.


" Kalian bisa membunuhku." Ryu tersedak sambil meminum segelas air putih sedikit kesal atas tindakan semua Istrinya meskipun sangat senang dengan kekompakan mereka.


Melihat ekspresi dari suami mereka, Sheng Zhishu dan yang lain merasa puas dengan tingkah Ryu yang memiliki kesenangan tersendiri bagi mereka sambil menikmati hidangan di depan mereka.


Setelah selesai makan, Ryu kembali ke kamar utama untuk membersihkan diri kemudian beristirahat.


" Sepertinya Suami kita sudah tidak sabar." Ting Ye dan Qin Shuomei masuk ke dalam kamar melihat suami mereka sudah berbaring.


" Aku akan balas perbuatan kalian yang berani mengerjai ku tadi." Ryu menarik tangan Ting Ye dan Qin Shuomei membuat mereka terbaring di atas Ryu.


" Tidak masalah, lagi pula pembalasanmu justru membuat kami sangat bahagia bahkan bisa membuat kami melayang di alam Surgawi." Qin Shuomei membuka pakaiannya satu persatu.

__ADS_1


" Mei'mei benar... Mungkin kami adalah orang yang paling bahagia di dunia ini." Ting Ye juga melakukan hal yang sama.


" Kenapa kalian bisa berfikir seperti itu?" Ryu mengerutkan keningnya.


" Karena Gege sangat pandai memanjakan Istri tanpa ada kekurangan apapun. Meski kami akan kewalahan, tapi justru itu yang kami inginkan." Qin Shuomei mencium Pipi Ryu hingga beberapa saat menuju ke bibir Ryu.


Tanpa menunggu lama Ryu langsung menyatukan tubuhnya dengan Qin Shuomei hingga membuat Qin Shuomei merasa puas saat mencapai puncaknya.


Saat merasakan air suci milik Qin Shuomei sudah keluar, Ryu melanjutkan untuk menyatukan tubuhnya kepada Ting Ye agar Qin Shuomei memiliki jeda untuk memulihkan tenaga.


Kejadian itupun terus berulang-ulang hingga Ting Ye dan Qin Shuomei, dimana mereka sudah tidak berdaya lagi karena Ryu terus menyerang mereka secara bergantian.


Meskipun dalam keadaan tidak berdaya, mereka dengan senang hati menerima perlakuan Ryu sampai akhirnya Ryu menghadiahkan cairan kental miliknya kepada Ting Ye dan Qin Shuomei hingga membuat mereka merasakan nikmat berkali-kali sampai Ryu juga kelelahan dan tertidur pulas.


Begitupun dengan Ting Ye dan Qin Shuomei yang sudah kelelahan juga tertidur pulas penuh kebahagiaan.


Pada keesokan pagi Ryu kembali ke tenda dimana tempat dia berada sebelumnya untuk memastikan keadaan Jinying palsu.


Setelah membersihkan perlengkapan, Ryu membawa Jinying palsu menuju ke Kota Linka.


" Gege... Mau kemana kita?" Tanya Jinying palsu karena Ryu mengambil arah lain dari jalur menuju ke Kota Chang'an.


" Kita akan pergi ke Kota Linka. Aku dengar Dunia kecil akan terbuka, siapa tau ada barang berharga disana." Ryu yang sudah berubah menjadi warga biasa.


" Mmm." Jinying palsu mengangguk sambil berjalan mengikuti Ryu.


" Ying'er... Jika Harta langit milikmu sudah habis, kamu bilang saja. Nanti aku akan memberikan kepadamu lagi." Ryu bicara dengan santai seraya berjalan.


" Baik Gege... Sepertinya masih ada ." Jinying palsu tidak bisa berbohong karena Ryu pasti tau batas kemampuan untuk menyerap khasiat Harta langit itu.


" Ying'er... Sepertinya Hari sudah malam. Lebih baik kita mencari tempat untuk beristirahat." Ryu memeriksa keadaan sekitar.


" Gege... Apa kita tidak mencari Penginapan saja?" Jinying palsu beralasan karena tidak ingin terlalu dekat dengan Ryu.


" Tempat ini terlalu jauh dari permukiman warga. Jika kita melanjutkan perjalanan, ini terlalu lama. Mungkin kita akan sampai kemalaman." Ryu memasuki Hutan untuk mencari beberapa hewan biasa sebagai pengganjal perut.


Meskipun sedikit kesal, Jinying palsu mengikuti apa yang dikatakan Ryu sambil membuat tenda untuknya.


Setelah beberapa saat Ryu kembali dengan membawa dua ekor ayam hutan yang sudah terlihat bersih.


" Ying'er... Besok pagi kita akan menelusuri Hutan ini, karena aku merasakan ada sesuatu yang ganjil di tempat ini." Ryu berjalan mendekati Jinying palsu sambil membuat Api unggun.


" Mmm." Jinying palsu mengangguk sambil mendekati Ryu yang sedang memanggang Ayam Hutan.


" Ying'er... Jujur saja, aku melihat kamu sudah banyak perubahan. Sepertinya Hatimu tidak ada disini. Apa kamu sedang memikirkan orang lain?" Ryu melirik ke arah Jinying palsu dimana dia merasa Jinying palsu seperti orang asing.


" Maaf Gege... Aku juga tidak tau, mungkin saja karena aku terkena racun perusak saraf, jadi banyak hal yang hilang dariku karena ingatanku belum pulih total." Jinying palsu beralasan sambil merasakan aroma dari Ayam Hutan yang ada di tangan Ryu yang menggoda selera.


" Aku sudah bilang sebelumnya... Jika kamu tidak mencintaiku, lebih baik kamu jujur saja. Jangan terlalu memaksa keadaan. Sudah selayaknya kamu menemukan kebahagiaanmu sendiri." Ryu tidak mempermasalahkan jika Jinying berubah pikiran, karena Ryu hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Jinying.


Jika Jinying masih bertahan, maka Ryu pasti akan menjaganya dengan sepenuh hati. Namun jika Jinying memiliki pemikiran lain, maka Ryu membebaskannya.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Ryu, Jinying terlihat kebingungan mau menjawab seperti apa karena dia bukan Jinying yang asli.


" Makanlah... Sepertinya kamu sudah lapar." Ryu memberikan Panggang Ayam Hutan kepada Jinying.


" Terimakasih Gege." Jinying palsu mengambil Ayam Hutan di tangan Ryu karena sudah tidak sabar ingin mencicipinya.


Setelah memberikan Ayam Hutan tersebut, Ryu beranjak dari tempat tersebut menuju ke sebuah Pohon yang cukup rindang dan bersandar pada pohon tersebut sambil menikmati makanan di tangannya.


Sambil menikmati ayam hutan di tangannya, Ryu sambil memikirkan cara untuk mencari keberadaan Penguasa Elemen yang lain karena masih belum mendapatkan petunjuk apapun.


" Haaahh... Dimana aku harus mencarinya? Di Benua Timur ini saja sangat luas, apalagi jika harus berkeliling Dunia." Ryu menikmati makanannya sambil menatap ke langit berharap mendapatkan petunjuk.


Jinying palsu yang memperhatikan Ryu seperti sedang bersedih, kini merasa tidak enak hati menganggap Ryu sedang memikirkannya.


" Ini tidak baik... Jika Pemuda itu mengusirku, maka kesempatanku untuk mengambil sumber Harta Langit akan hilang begitu saja. Aku harus mendekatinya meskipun aku mengorbankan kehormatanku." Jinying palsu membulatkan tekad demi mencapai tujuan dan demi Sekte Ular.


Dengan perasaan yang kacau, Jinying palsu berjalan perlahan mendekati dimana Ryu berada.


" Gege... Aku minta maaf karena selama ini tidak menunjukkan sebagai seorang Istri." Jinying palsu mendekati Ryu.


"Ying'er... Kemarilah!" Ryu menarik tangan Jinying.


Mendapatkan perlakuan tersebut, Jinying palsu berusaha untuk menahan rasa terkejut hingga duduk di pangkuan Ryu.


Dengan lembut Ryu mencium leher Jinying palsu sambil memeluk Jinying palsu berharap dia bisa terhibur dengan keberadaan Jinying palsu tersebut karena dalam fikiran Ryu sedikit kacau tentang Penguasa Elemen.


' Pemuda ini benar-benar menganggapku sebagai Jinying. Andai saja dia tau kalau aku ini Bu Jing Yu, mungkin dia akan kaget.' Bu Jing Yu memegang tangan Ryu lalu merangkulnya merasakan sensasi yang berbeda.


Meskipun Bu Jing Yu ingin menolak, namun kali ini hatinya berkata lain karena sudah lama tidak merasakan sentuhan dari sosok Pria.


Semakin lama Ryu memeluk tubuh Bu Jing Yu, kini tangannya mulai meremas Gunung Kembar milik Bu Jing Yu yang masih kencang meskipun usianya sudah lebih dari seratus tahun.


Bu Jing Yu yang merasakan sentuhan lembut dari Ryu kini tidak bisa menolak bahkan dengan senang hati membalikkan posisinya hingga bertatap muka dengan Ryu.


" Gege... Bawa aku terbang bersamamu malam ini." Pendirian Bu Jing Yu mulai goyah karena merasakan sensasi kenikmatan yang diberikan Ryu membuat naluri seorang wanita langsung bangkit.


Secara perlahan Ryu mulai mencium bibir Bu Jing Yu hingga Bu Jing Yu juga membalas ciuman tersebut dimana lidahnya seakan memburu sesuatu yang berharga di dalam mulut Ryu.


Mendapatkan serangan dari Bu Jing Yu, Ryu juga tidak tinggal diam langsung memburu lidah Bu Jing Yu hingga terdengar erangan nikmat dari Bu Jing Yu.


Satu-persatu pakaian mereka berdua terlepas hingga kini tubuh mereka seakan menyatu.


Dari situ Ryu merasakan keanehan dari Bu Jing Yu yang dia fikir adalah Jinying dimana milik Bu Jing Yu terasa sangat sempit hingga membuatnya kesusahan untuk menerobos masuk.


Namun karena sudah dikuasai oleh sensasi yang luar biasa, Ryu tidak terlalu banyak berpikir lagi hingga membutuhkan waktu yang cukup lama bagian Inti tubuh mereka menyatu dengan sempurna.


Dengan penuh kelembutan Ryu dan Bu Jing Yu menikmati malam itu penuh kebahagiaan hingga Bu Jing Yu seakan melupakan tujuannya.


Mereka pun berhenti sejenak lalu melanjutkan keinginan mereka di dalam Tenda.


Saat berada di dalam tenda, Ryu membaringkan tubuh Bu Jing Yu secara perlahan hingga tergambar jelas sebuah kebahagiaan dari raut wajah Bu Jing Yu.

__ADS_1


Setelah Ryu berbaring di samping Bu Jing Yu, dengan cepat wanita tersebut merangkul Ryu dengan posisi kepala disandarkan di tubuh Ryu.


' Seperti aku berubah pikiran. Mungkin aku akan menjadi orang yang sangat beruntung bisa terus bersama pemuda ini.' Bu Jing Yu tersenyum sambil mencium kening Ryu.


__ADS_2