
Sesampai di Pemukiman Penduduk, Ryu menanyakan tentang beberapa hal yang menurutnya akan membantu perjalanan. Dari informasi yang didapat, Ryu sedang berada di Kerajaan Petir dan Kota terdekat bernama Kota Hunnan.
Setelah mendapatkan Informasi tersebut, Ryu langsung bergegas menuju ke Kota Hunnan dimana akan menempuh perjalanan selama Tiga Hari berjalan kaki.
Karena Ryu belum mengetahui seluk-beluk Benua Bintang, Ryu memilih untuk berjalan Kaki agar tidak terlalu mencolok ditambah mencari berbagai informasi lain dimana keberadaan Inti Elemen dan Harta Langit.
Sesampai di Kota Hunnan, Ryu langsung mencari sebuah Kedai yang menurutnya bisa menemukan petunjuk.
Saat berada di sebuah Kedai yang diatasnya ada Penginapan, langsung berjalan menuju meja kosong yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
" Pelayan" Ryu melambaikan tangan kepada Pelayan yang tidak jauh dari mejanya.
" Ada apa Tuan?" Tanya Pelayan.
" Aku mau Pesan makanan terbaik disini." Ucap Ryu.
" Baik Tuan, Tunggu sebentar" Pelayan meninggalkan meja menuju Ruang Dapur.
Tidak terlalu menunggu lama, Pelayan Wanita tadi membawakan Pesanan ke Meja dimana Ryu berada.
" Silahkan dinikmati Tuan." Pelayan menggalakkan tempat tersebut.
Sambil menikmati hidangan, Ryu sambil mendengar pembicaraan Beberapa Sosok yang berada di kedai tersebut.
" Saudara Cheung, Syukurlah kamu bisa selamat dari para Perompak saat ke Benua ini" Ucap Salah satu yang berada di satu meja dengan Cheung.
" Ya begitulah Saudara Rou. Mungkin Sang Pencipta masih menginginkan aku tetap hidup. Seandainya aku punya harta banyak, aku juga lebih memilih Kapal besar itu agar tidak dihadang Perompak." Ucap Cheung.
" Lebih baik kamu siapkan dirimu untuk Besok, apalagi tingkatan Petir milikmu susah dicari. Kamu pasti langsung diterima menjadi Murid Sekte Menara Petir " Ucap Shandian Rou.
" Aku harap juga begitu. Karena tujuanku ke Benua ini untuk banyak belajar lagi." ucap Cheung.
" Elemen Petir ada tingkatan? sepertinya aku harus mengetahui hal ini lagi " Gumam Ryu.
Saat mereka berdua berbincang, Ryu mencoba memberanikan diri untuk bergabung bersama mereka, karena setiap buku yang dia baca tidak pernah mengetahui hal itu.
Wajar saja mengingat Benua Lotus sangat minim Sumberdaya ditambah lagi Ryu hanya mengandalkan Pemahaman dari semua Kitab yang dia baca, tidak ada yang memberi pembelajaran kepadanya dari seorang Guru yang handal.
" Maaf Saudara Apakah saya boleh bergabung disini?" Ryu terlihat malu-malu.
Pembicaraan mereka berdua pun berhenti menatap ke arah Ryu sambil menyelidik.
" Saudara, sepertinya aku pernah mengenalmu saat di Benua Lotus" Cheung sambil mengingat wajah Ryu.
" Benar Saudara aku datang dari Benua Lotus Ingin Belajar di Benua ini" Ryu mulai teringat wajah dari Cheung.
" Ah silahkan duduk Saudara. Sepertinya kerajaan Petir kedatangan Dua Orang tamu dari Benua Lotus " Shandian Rou menyambutnya dengan Ramah.
" Terimakasih Saudara, Perkenalkan namaku Ryu. Jika berkenan siapa nama Saudara berdua?" Ryu sambil duduk bersama mereka.
" Salam kenal Saudara Ryu, Namaku Shandian Rou. Panggil saja Rou." Shandian Rou mengenalkan diri.
" Salam kenal juga Saudara Ryu, Namaku Cheung. Tidak menyangka kita bisa bertemu disini " Cheung terlihat senang.
" Tadi aku sempat mendengar tingkatan Petir. Jika boleh tau, Mohon penjelasan dari Saudara. Maklum di Benua Lotus sangat minim Pengetahuan" Ryu merendah.
" Aaiiss Saudara Ryu, Itu sangat Mudah bagi Kultivator Petir. Tingkatan Petir itu ada Lima mulai dari Warna Kuning, Biru, Merah, Ungu, dan yang terakhir yang terkuat Warna Hitam.
Tapi di dunia ini hanyalah Mitos Jika ada yang berwarna Hitam, Ungu saja aku tidak pernah mendengar apalagi melihatnya.Berunntung Saudara Cheung ini memiliki Petir berwarna Merah, Itu pun sangat langka." Shandian Rou memuji Cheung.
" Ngomong-ngomong Saudara Ryu memiliki Elemen Petir juga? Apa boleh aku melihatmya?" Cheung terlihat penasaran.
" Aahhh.... Itu..." Ryu terlihat ragu.
" Aaiiss.. Sesama teman saja kamu tidak mau memperlihatkan kepada Kami. Apa Elemen Petir milikmu masih rendah? " Shandian Rou menggelengkan kepala.
" Bukan begitu, tapi...." Ryu membuat percikan Petir di tangannya.
" Apa?" Cheung dan Shandian Rou sontak berdiri membulatkan mata.
" I... Itu... Haaaiiisss. Kedua sahabatku dari Benua Lotus ini bisa membuatku jantungan." Shandian Rou berusaha menyembunyikan rasa kagetnya.
" Saudara Ryu, ternyata kamu memang luar biasa " Cheung menggelengkan kepala.
" Begini saja, bagaimana kalau aku merekomendasikan kalian menjadi Murid Sekte Menara Petir. Dengan begitu kalian berdua bisa memiliki kesempatan untuk menjelajahi Gunung Kuno." Shandian Rou terlihat bersemangat.
" Tapi..." Ryu terlihat ragu mengingat akan tujuannya.
" Saudara Ryu, Kamu tenang saja. Kerajaan Petir adalah Wilayah yang sangat Ramah. Aku jamin kalian tidak akan mengalami masalah, asalkan kalian tidak membuat Onar." Shandian Rou tau tentang Dunia Kultivator.
" Benar Saudara Ryu, Selama ini aku tidak pernah mendapat gangguan apapun. Bahkan aku sudah berkali-kali ditolong oleh Kultivator Senior dari Kerajaan Petir ini." Cheung menimpal.
__ADS_1
" Saudara Ryu, dengan kondisimu sekarang sangat tidak mudah untukmu. Kamu akan menjadi incaran Kultivator lain mengingat Elemen Petir milikmu tidak ada bandingannya. Lagi pula jika kamu berhasil masuk ke Gunung Kuno, bukan tidak mungkin kamu bisa menemukan Harta Langit Bahkan Inti Petir yang melegenda itu. Dengan satu syarat, kamu menganggap Klan Shandian juga bagian dari Keluargamu sendiri." Shandian Rou berusaha meyakinkan Ryu.
" Baiklah, kalau begitu aku setuju!" Ryu merasa itu langkah awal untuknya mencapai tujuan.
" Nah begitu namnya seorang teman. Tapi ingat, Jika suatu saat kalian bertemu dengan Kultivator Api kalian harus berhati-hati. Apalagi Kultivator Es, mereka sangat Licik." Shandian Rou tiba-tiba serius.
" Terimakasih telah memperingatkan ku" Ryu teringat Saat berada di dalam Kapal. Apa yang dikatakan Shandian Rou memang benar.
" Jika begitu Aku pamit dulu, Besok Pagi aku akan menjemput kalian berdua. Jangan sampai kesiangan!" Shandian Rou meninggalkan tempat tersebut seraya melambaikan tangan.
" Saudara Ryu, Ini keberuntungan kita bisa bertemu dengan Para Kultivator Petir disini. Mereka sangat kuat, tetapi ramah kepada siapapun." Cheung Begitu senang.
" Mmmmm" Ryu mengangguk merasakan hal yang sama.
" Jika begitu, aku kembali ke Kamar dulu. sampai besok" Cheung menuju kamarnya di lantai Atas.
Dalam fikiran Ryu kini kembali pada saat mendapatkan Kelima Kitab yang berhasil direbut Klan Shandian. Mungkin saja Klan Shandian tidak ingin Sejarah Kelam dari Klan mereka tidak ingin tercoreng lagi.
Ryu pun melangkahkan kakinya menuju meja kasir untuk membayar Pesanannya sekaligus menyewa sebuah kamar untuk beristirahat.
Pada keesokan Pagi mereka bertiga beranjak menuju Sekte Menara Petir yang letaknya tidak jauh dari tempat itu, hanya memakan waktu Delapan jam berjalan kaki.
Sesampai di Gerbang Sekte, mereka disambut Ramah oleh Penjaga Sekte langsung menuju ke Ruang kerja Paktriak.
" Salam Paktriak. Aku membawa Murid baru yang aku rekomendasikan kemaren." Shandian Rou memberi Hormat.
" Salam Paktriak." Ryu dan Cheung memberi hormat.
" Rou'er sudah kubilang berkal-kali jangan panggil aku dengan nama itu " Shandian Shan merasa risih.
Ryu dan Cheung yang tidak tau tentang hubungan apa yang terjadi pada mereka hanya terdiam saling berpandangan.
" Tapi Paktriak." Shandian Rou masih melotot.
" Hah. Sudahlah." Shandian Shan menyerah sambil menatap Ryu dan Cheung bergantian.
' Sepertinya memang benar apa yang dikatakan Rou'er. Sungguh luar biasa. Semoga saja mereka bukan orang yang berniat Jahat ' Fikir Shandian Shan.
" Rou'er, antar mereka langsung ke lapangan latihan! Aku ingin melihat langsung." Shandian Shan meninggalkan Ruangan.
" Saudara Ryu, Saudara Cheung, Ikut aku!" Shandian Rou menuntun jalan menuju lapangan latihan sekte.
Terlihat beberapa Murid Sekte begitu Antusias melihat kedatangan Murid Baru, mengingat Shandian Rou pernah memberi tahukan tentang adanya sosok Murid baru yang memiliki Elemen tingkat tiga yaitu berwarna Merah. Namun Shandian Rou belum sempat memberitahukan dengan Petir yang dimiliki Ryu.
Para Murid menebak siapa yang memiliki Petir merah tersebut.
" Saudara, menurutmu siapa diantara mereka berdua yang memiliki Petir Merah? " tanya salah satu Murid.
" Sepertinya yang ada di Sisi Kiri itu, kelihatannya begitu meyakinkan dari Otot-ototnya yang begitu Kekar." jawab murid di sebelahnya.
" Aku juga setuju. Disamping dia Kekar, dia juga sangat Tampan." ucap salah satu Murid Wanita.
" Saudari benar sekali." Sambut beberapa Murid Wanita lain.
" Haaaiiisss... Kalian sempat saja menilai dari segi penampilan." ucap Murid Pria lain.
" Aku bertaruh, bahwa Pemuda yang di sisi Kanan yang memiliki Petir Merah itu." Shandian Yihua bersuara.
Hal ini tentu saja membuat mereka bertanya-tanya dengan ucapan dari Shandian Yihua mengingat Aura dari Ryu sangat kuat dari Cheung. Padahal Yihua adalah Murid paling Jenius dari Sekte Menara Petir membuat mereka sangat menyayangkan hal itu.
Yihua sendiri yakin dengan apa yang dia katakan, walaupun dia merasakan Aura Petir dari Ryu lebih kuat dari Cheung.
" Siapa yang berani bertaruh 100 Koin Emas denganku? " Yihua menantang mereka.
Mendengar tawaran yang menggiurkan, puluhan Murid langsung mengambil Koin mereka untuk bertaruh membuat Yihua sangat bersemangat.
" Jangan salahkan aku." Yihua senyum kemenangan.
Puluhan Murid yang ikut bertaruh juga yakin dengan keputusan mereka dan menganggap Ryu lah yang memiliki Petir Merah tersebut.
Melihat tingkah dari Murid mereka, beberapa Guru yang hadir menggelengkan kepala.
" Saudara Cheung silahkan maju duluan." ucap Shandian Rou.
" Baik" Cheung langsung menuju Arena latihan.
Kini yang menjadi lawan Cheung sendiri adalah Yihua, dimana sudah dipilih oleh Paktriak sendiri.
Cheung yang masih berada di Level 50 merasa tidak Adil melawan Yihua yang sudah berada di Level 52, namun mau tidak mau dia harus mengeluarkan tenaganya.
" Wuush" Sebuah Formasi pelindung menutupi Arena.
__ADS_1
" Saudara Cheung jangan sungkan mengeluarkan seluruh kekuatanmu" Yihua berada di posisi siap bertarung.
" Baik" Cheung langsung mengeluarkan Petir Merah berbentuk Harimau.
" Apa?" beberapa Murid yang bertaruh Koin terlihat murung karena telah menghabiskan uang bulanan mereka sambil menatap ke arah Ryu dengan berbagai pertanyaan.
" Hhhhhmmm" Yihua senyum puas melihat Exspresi dari beberapa Murid langsung mengeluarkan Petir biru berbentuk burung Phoenix.
Perpaduan saling menyerang kedua Petir menyambar satu sama lain membuat pelindung bergetar hebat.
" Dduaaar.." pertemuan Pukulan mereka membuat gelombang Petir menyebar ke seluruh Arena.
Cheung yang merasa Petir miliknya tidak mampu menembus pertahanan Yihua, kin langsung mengubah posisi memperkuat Petir miliknya bertumpu pada Pukulan.
" Bboooom"
" Bboooom"
"Bboooom"
Pukulan Cheung masih dapat ditahan oleh Yihua dengan mudah yang membuat berkeringat dingin.
" Jadi begini rasanya dengan perbedaan Level yang cukup jauh" Gumam Cheung merasa prustasi melihat semua serangan miliknya seakan tidak berfungsi.
" Booomm... Booomm" Serangan tiba-tiba dari Yihua membuat Cheung terpental mengenai pelindung pembatas.
Yihua langsung menarik kembali Petir biru miliknya berjalan mendekati Cheung
" Saudara Cheung, Aku akui kehebatan Petir milikmu. Namun karena perbedaan Level juga sangat menentukan. Berusahalah! mungkin suatu saat kamu akan melampauiku." Yihua langsung berjalan ke luar Arena.
" Terimakasih atas sarannya saudari." Cheung sadar apa yang dikatakan Yihua memang benar, itulah kenapa dia sendiri sampai pergi ke Benua Bintang. Setelah memberi penghormatan dia langsung kembali ke tempat semula.
" Saudara Ryu, sekarang giliranmu. Jangan lupa perkenalkan dirimu, aku lupa kasih tau namamu." Shandian Rou sedikit menggarukkan kepala.
" Mmmmm" Ryu mengangguk seraya berjalan ke tengah Arena.
Semua murid terlihat penasaran dengan Petir yang dimiliki Ryu mengingat Auranya sangat kuat dari milik Cheung.
" Salam semuanya Namaku Ryu, mohon bimbingannya" Ryu menundukkan kepala.
Kini muncul sosok pemuda terlihat Seusia 30 tahun dengan Kultivasi Level 56 berjalan santai menuju ke Arena.
Melihat apa yang menjadi lawan Ryu adalah Senior mereka, banyak Murid menganggap Paktriak terlalu berlebihan mengingat Ryu masih di Level 51.
" Salam Junior, Namaku Shandian Dohuang. Jangan sungkan keluarkan kekuatanmu" Dohuang mengepal tinjunya.
" Wuush" Formasi pelindung yang lebih kuat dari sebelumnya.
" Dengan senang hati Senior" Ryu membuat Petir Ungu di kedua tangannya.
Melihat Petir Ungu milik Ryu membuat mereka seakan tidak percaya yang mereka Fikir Petir Ungu hanya sebuah Legenda.
Tanpa menggunakan Elemen, Dohuang langsung melesatkan serangannya ke Arah Ryu. Ryu yang sudah siap kini menangkis semua serangan dari Dohuang.
Semua Orang yang menyaksikan itu kembali dikejutkan karena Dohuang adalah Sosok Senior memiliki seni bertarung dengan cepatnya.
Namun yang mereka lihat sekarang Ryu dengan mudah bahkan masih terlihat santai.
' Bagaimana Pemuda ini masih bisa menangkis seranganku.? Dohuang terlihat kesal.
Sisi Ryu sendiri juga menganggap itu serangan biasa tentu itu berkat bantuan Inti Roh Harimau dengan Kera Bertanduk Sisik naga membuat semua Gerakan Dohuang masih bisa dibaca.
' Sepertinya aku telah meremehkan Junior ini' Dohuang menyebarkan Petir Biru ke seluruh tubuhnya kembali menyerang Ryu dengan lebih cepat lagi.
" Praaaaakk"
" Prraaaaakk"
" Praaaaakk"
Pukulan Dohuang mampu membuat Ryu mundur beberapa langkah kebelakang.
Mendapatkan kesempatan tersebut Dohuang langsung melepaskan Serangan tiba-tiba ke arah Ryu.
Ryu yang merasakan Serangan yang sangat kuat ke arahnya, secara refleks menggunakan langkah Kilat membuat Dohuang memukul ruang kosong.
" Apa? Secepat itu?" Beberapa Murid menyaksikan kecepatan berpindah Ryu hampir tidak terlihat.
" Ternyata Pemuda itu masih menyimpan kekuatannya " Shandian Shan langsung memberikan Pesan Jiwa kepada Dohuang.
Dohuang yang mendapatkan Pesan Jiwa dari Paktriak menganggap itu berlebihan, namun Dia mengingat kembali gerakan cepat Ryu Dohuang kini terlihat serius.
__ADS_1