SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
YIN ES RACUN.


__ADS_3

" Adik Ipar mau tau saja masalah Wanita." Xie Xian menimpal.


" Aku sudah selesai Makan, sebaik-baiknya bereskan makanan kalian. Setelah itu kita akan ke Balai Sumberdaya." Ryu sambil menunggu mereka.


" Mmmmm'' Xie Hua dan Xie Xian menyelesaikan makanannya.


Setelah selesai makan, Mereka langsung menuju ke Balai Sumberdaya membeli beberapa kebutuhan sebagai Kultivator.


Di dalam bangunan yang sangat besar, mereka diperlihatkan dengan berbagai macam Hiasan lukisan, Patung dan berbagai kerajinan lain yang menurut Ryu sangat unik.


Ryu yang penasaran dengan bentuk lukisan Tua yang sangat besar di balik sudut ruangan sambil menyipitkan matanya.


" Ternyata Tuan memiliki penglihatan yang tajam." ucap salah satu sosok yang berada di tempat tersebut.


" Senior, ada hal Apa dengan Lukisan ini begitu Hidup tidak seperti Lukisan lain." Ryu terus memperhatikan dengan seksama dari Sosok dalam lukisan tersebut yang membuat perasaanya berubah-ubah.


Dari semua Sosok yang ada di Lukisan tersebut memiliki berbagai Aura yang terpancar mulai dari Aura Keagungan, Kekuatan, Perlindungan, Kesembuhan, Keserakahan, Nafsu, Kekuasaan, hingga berbagai macam Aura lainnya.


" Anak Muda, Lukisan ini sudah ada sejak Ratusan tahun yang lalu. Mereka adalah Sosok Dewa-dewi yang pernah berada di Dunia ini. Mereka semua memiliki Kelebihan masing-masing." ucap Pria tersebut yang sudah berusia sekitar 150 Tahun namun masih terlihat muda.


" Senior, Siapa Ketiga Sosok Dewa ini? " Ryu menunjuk ke arah lukisan tersebut.


" Ini adalah Dewa Petir yang berkuasa atas Langit dan Bumi, Ini adalah Dewa Api yang berkuasa sebagai hakim Perang, dan Ini adalah Dewa Ashura yang melambangkan Kejahatan dan kebaikan." Pria tersebut menerangkan.


' Mengapa Ketiga Sosok ini seperti dekat denganku.' Ryu sambil menatap ke sosok yang lain.


" Senior, Kalau kedua Sosok ini?" Ryu menunjuk kedua sosok lain.


" Yang ini Namanya Shang Di atau Dewa Surga yang pernah hidup di Dunia ini saat terjadi Perperangan melawan Dewa dari Hewan Roh. Dan yang Ini Namanya Tian atau Dewa langit Yang pernah Hidup di Dunia ini saat terjadi Perperangan dengan Dewa Iblis." Pria tersebut dengan sabar menjelaskan karena Ryu terlihat serius.


' Apakah Di Dunia Setengah Abadi ini sama dengan Dunia Fana? Apakah disini ada Dewa, Iblis, Peri, Siluman atau yang lain juga seperti di Dunia Fana?' Ryu seakan Fikirannya mulai kacau.


" Jika Tuan ingin mengetahui lebih mendalam tentang latar belakang Dewa-dewi ini, Tuan bisa membacanya di Kitab Dewa Kuno. meskipun tidak mempelajari Teknik, aku rasa tidak ada salahnya jika menambah Pengetahuan." Pria tersebut memberi saran.


" Senior, dimana aku bisa menemukan Kitab itu?" Ryu sangat berminat.


" Aku bisa mencarinya untuk Tuan. Tapi harganya sangat mahal Tuan. Bahkan Klan terbesar saja tidak mampu membelinya. Aku juga tidak tau mengapa Pemilik Akademi ini menjual Kitab itu dengan Nilai yang tinggi." Pria tersebut tidak tidak yakin kalau Ryu bisa membelinya.


" Senior bisa sebutkan berapa harganya." ucap Ryu.


" Harganya memang tidak masuk akal Tuan, 5 Juta Batu Roh." Pria tersebut berbisik kepada Ryu.


" Sepertinya aku harus menghabiskan tabunganku selama Sebelas Tahun." Ryu berpura-pura memasang wajah masam mengeluarkan Batu Roh.


" Tuan tunggu disini, aku akan mengambilnya." Pria tersebut kegirangan lalu menuju ke Ruangan lain yang dilindungi oleh Formasi.


Setelah menunggu waktu cukup lama, Pria tersebut keluar dari Ruangan langsung berlari ke arah Ryu lalu memberikan Kitab tersebut kemudian menghilang tanpa Ryu sadari.


Ryu yang merasa Kitab tersebut sangat berharga dari apapun, Ryu langsung menyimpannya ke Dunia Quzhu.


" Gege... Kenapa kamu lama sekali?" Xie Hua langsung menuju ke arah Ryu yang sangat lama beranda di Sudut Ruangan.


" Ah... Aku hanya ingin melihat lukisan ini saja." Ryu yang seakan tidak henti terus memperhatikan Lukisan tersebut.

__ADS_1


" Gege... Ada apa denganmu? mengapa kamu terus menatap lukisan itu?" Xie Hua menatap Ryu sesaat menoleh ke lukisan.


" Entahlah Hua'er... lukisan ini seakan Hidup." Ryu tanpa menoleh terus menatap lukisan.


" Apa Gege Naksir dengan Dewi-Dewi yang ada di lukisan ini? meskipun mereka Cantik, tapi mereka tidak ada di Dunia ini lagi." Xie Hua merasa dirinya tersaingi oleh sebuah lukisan.


" Haaahh... Baiklah, sepertinya hanya aku yang belum membeli apapun." Ryu beranjak dari tempat tersebut menuju tempat penjualan Pil.


Setelah membeli berbagai keperluan, Mereka langsung kembali menuju Devisi masing-masing yang kebetulan masih searah.


Namun saat di tengah perjalanan, mereka dihadapkan dengan Dua sosok Pemuda yang terlihat sedang terluka bersama beberapa Murid lain yang sedang membawanya.


" Saudara Hyun, Bertahanlah." ucap salah satu Murid yang membawa mereka.


" Aku sudah tidak kuat lagi." suara lemah dari sosok yang terluka.


" Bruuuuk." Kedua sosok tersebut terjatuh dengan sekujur tubuh menghitam.


" Saudara Joong, Saudara Hyung, " Salah satu Murid berteriak histeris.


" Saudara, Apa mereka terkena Racun Ular Es." Ryu bertanya pada mereka.


Mendengar pertanyaan itu beberapa Murid yang lain memandangnya dengan intens " Benar Saudara, Kami tidak tau lagi harus bagaimana. Bahkan Ahli obat juga tidak bisa menyembuhkan." ucap salah satu dari mereka.


" Kalau tidak keberatan, aku akan coba menolong mereka. Jika telat sedikit, aku khawatir mereka tidak bisa terselamatkan." Ryu menawarkan diri.


" Tolonglah Saudara, " Mereka berfikir tidak ada lagi pilihan lain, bahkan jika mati pun mereka terlihat pasrah.


Sesaat Ryu Langsung menghisap Racun dari kedua Pemuda tersebut lalu menyalurkan ke dalam tubuhnya sambil berkonsentrasi.


" Hua'er... Apa Suamimu juga seorang Alkemis?" Tanya Xie Xian.


" Kata Ayah, ketika Gege ditemukan dalam keadaan Pingsan. Dia memakai Pakaian Alkemis." ucap Xie Hua.


" Tapi caranya bukan seperti Alkemis pada umumnya. Masa harus menyentuh bagian bawah pusar. Jangan-jangan." Xie Xian langsung membulatkan matanya.


" Kakak... Dia Suamiku." Xie Hua terlihat murung karena tau maksud dari Xie Xian.


" Maaf Hua'er... Aku hanya berpikir caranya saja yang berbeda. Sepertinya sangat Cocok jika diberi Julukan Alkemis Gila." Xie Xian membelokkan makna dari sebelumnya.


Ryu yang mendengar ucapan tersebut merasa kesal, jika saja tidak dalam keadaan darurat maka dia juga tidak mau melakukannya karena itu adalah Racun yang sangat berbahaya dan kebetulan Ryu bisa menjadikan sebuah keuntungan agar dia bisa kebal terhadap Racun dan juga menambah kekuatan Petir miliknya.


Setelah menunggu beberapa saat tubuh yang awalnya menghitam, kini secara perlahan mulai pulih hingga tidak ada lagi Racun yang tersisa.


" Terimakasih Saudara" Semua Rekannya sangat senang.


" Mmmm." Ryu menjawab dengan anggukan.


" Aku Wu Hyun mengucapkan Terimakasih atas pertolongan Saudara. Jika boleh tau Siapa nama Saudara?" Wu Hyun sangat senang merasakan Tubuhnya pulih Total.


" Namaku Xie Ryu. Panggil saja Ryu." Ryu memperkenalkan diri.


" Aku Wu Joong juga mengungkapkan banyak Terimakasih." Wu Joong memakup tangannya.

__ADS_1


" Kalau begitu, Kami Pamit dulu." Ryu tidak ingin terlalu lama disitu karena banyak pasang mata yang terus memperhatikan dirinya.


" Kalau begitu Saudara Ryu dari Devisi mana? jika ada waktu, kami bisa berkunjung." Tanya Wu Hyun.


" Aku tinggal di Devisi 6." Ryu menjawab tanpa menoleh.


" Devisi 6?" Semua langsung kaget, karena Devisi 6 seperti wilayah Horor.


Dari sisi lain ruas jalan terlihat Dua sosok Wanita yang memakai Cadar namun tidak bisa menyembunyikan kecantikan dibalik cadar tersebut.


" Saudari Bing, apa Pemuda itu juga seorang Alkemis?" tanya She Zhilin.


" Mungkin saja, karena Pemuda itu mampu menyembuhkan Racun Ular Es yang paling berbahaya dan sama sekali tidak ada penawarnya." jawab She Bing.


" Dari lahir kita memiliki Yin Es beracun yang membuat Para Pria tidak ingin menikahi kita. menurutmu Pemuda itu mampu menyembuhkan Penyakit Kutukan ini." Ucap She Zhilin.


" Aku juga tidak tau. Yang jelas aku tidak mau menjadi Perawan Tua seperti Senior Ling. Bagaimanapun caranya aku akan menyembuhkan Penyakit kutukan ini, lagi pula Pemuda itu sangat tampan. Jadi tidak masalah harus berkorban sedikit." ucap She Bing.


" Saudari benar... Kita bisa manfaatkan Pemuda itu untuk menyembuhkan Kutukan ini. Setelah itu kita tinggalkan dia. Aku juga tidak ingin menikah dengan Orang yang lemah." Ucap She Zhilin.


" Kalau begitu, kita harus mencari cara untuk mendekatinya. Lagi pula Senior Ling adalah Sepupu kita. Jadi tidak perlu dikhawatirkan." Ucap She Bing.


" Mmmmm... Dengan begitu kita tidak kesusahan lagi untuk Berkultivasi jika Yin Es beracun ini sudah hilang." She Zhilin tersenyum lebar.


" Kamu benar, dengan begitu kita bisa melampaui Senior Ling." She Bing terlihat bersemangat.


" Mmmm." mereka berdua langsung melanjutkan perjalanan


...****************...


Di tempat lain yang jauh dari Akademi Naga Langit kini terlihat Sosok Pria yang menjadi penjaga Balai Sumberdaya yang menjual Kitab kepada Ryu langsung berubah wujud menjadi Pria Muda yang tampan.


" Hahahaha... Dengan Batu Roh sebanyak ini aku bisa Keluar dari wilayah Kabut ini tanpa harus kehilangan Kultivasi." Pria tersebut tersenyum lebar seketika kembali murung. " Kitab itu memang sangat berharga, Tapi aku harus Pulang menemui Sepuluh Istriku dan Dua puluh Selirku. lagi pula aku sudah menghapal semua." Pria tersebut melesat menuju ke arah Hutan.


Di tempat lain Ryu dan Xie Hua yang sudah berada di kediamannya, kini langsung ke Kamar Mandi untuk membersihkan diri Lalu beristirahat.


" Gege... Ada apa denganmu? " Xie Hua menatap wajah Ryu yang terlihat gelisah.


" Hua'er... Aku hanya kelelahan. Lebih baik kita istirahat." Ryu senyum ramah menatap Xie Hua yang ada di sampingnya.


" Gege... Lebih baik kamu minum Pil ini. Itu adalah Pil Penenang. " Xie Hua memberikan Tiga Pil Gairah Pengantin sekaligus karena takut tidak bekerja.


" Terimakasih Hua'er." Ryu mengambil Pil tersebut tanpa curiga.


' Semoga saja berhasil.' Xie Hua membalikkan badannya biar Ryu tidak curiga.


' Ada apa dengannya? Biasanya kalau tidur selalu menatapku.' Ryu memasukkan Pil tersebut ke Kantong Dimensi lalu menutup matanya hingga tertidur.


Xie Hua yang sudah yakin kalau Ryu sudah menelan Pil tersebut, Dia pun terus bertahan melawan Kantuknya sambil menunggu Reaksi.


Merasa waktu yang ditunggu sudah lama, Xie Hua langsung membalikkan badannya menatap ke arah Ryu


' Ciihhhh, ternyata sudah tidur. Kakak Xian, ternyata kamu telah membohongi ku ' Xie Hua merasa kesal menganggap Pil itu tidak berfungsi.

__ADS_1


__ADS_2