SANG DEWA AGUNG

SANG DEWA AGUNG
MENAGIH JANJI


__ADS_3

( Di Perguruan Hantu Malam)


Terlihat sosok wanita yang sedang memegang sebuah batu giok sambil menyalurkan Qi miliknya.


" Tidak mungkin... Siapa yang mampu membunuh kelima Muridku. Apa mungkin ada seorang Dewa yang turun ke Benua ini." Guru Agung memasang wajah merah padam dengan Aura Intimidasi yang bocor.


" Apa mungkin mereka telah terbunuh oleh Pasukan Kekaisaran Awan?" Guru Agung menggelengkan kepala, merasa tidak percaya dengan kematian kelima Guru yang juga sebagai Muridnya.


" Jika seperti itu, tempat ini sudah tidak aman. Lebih baik aku membawa Murid yang lain meninggalkan tempat ini secepatnya." Guru Agung bergegas dari tempat duduk menuju lapangan Perguruan.


Setelah beberapa saat, Guru Agung sudah berada di lapangan terbuka, dia pun memanggil beberapa Murid yang lain untuk memanggil semua Murid Perguruan Hantu Malam.


Tidak menunggu lama, satu-persatu mereka sudah muncul dan berkumpul di lapangan tersebut.


Semua saling bertanya satu sama lain, mengapa Guru Agung mereka begitu sangat serius.


Meskipun mereka ingin menanyakan hal itu, namun tidak ada yang berani berbicara karena Aura Intimidasi Pendekar Surgawi tahap akhir sudah bocor dari tubuh Guru Agung.


Bahkan Ling Xianzi yang sudah berada di tempat itu sebagai Murid terbaik di Perguruan Hantu Malam tidak berani berkata apapun.


" Dengarkan aku semua... Aku sudah merasakan bahwa Guru pertama, Guru kedua, Guru ketiga, Guru keempat dan Guru kelima sudah mati secara misterius." Guru Agung menghela nafas panjang seraya menatap ke arah para Murid.


Mendengar ucapan dari Guru Agung, semua saling berpandangan satu sama lain merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


" Kalian tau sendiri, tempat ini sudah tidak aman lagi untuk Perguruan Hantu Malam. Untuk itu aku ingin membawa kalian semua agar bisa bergabung dengan Sekte Burung Hantu. Disana kalian akan banyak berlatih dengan Sumberdaya yang berlimpah. Tapi jika kalian ingin tinggal di Kekaisaran Awan ini, aku tidak bisa melarang kalian." Guru Agung menerangkan kepada seluruh Murid Perguruan Hantu Malam.


" Guru Agung... Aku ingin ikut! Aku yakin kematian Guruku ada hubungannya dengan Istana Kekaisaran Awan." Ling Xianzi sangat yakin bahwa kelima Guru tersebut telah dibunuh oleh Ryu ataupun Istrinya.


Dengan penuh Amarah, Ling Xianzi berniat untuk membalaskan dendam kepada Istri Ryu dan menjadikan Ryu sebagai budaknya.


Satu-persatu para Murid Perguruan Hantu Malam ingin ikut bersama Tetua Agung menuju Sekte Burung Hantu dimana tujuan mereka adalah membalaskan dendam kepada Kekaisaran Awan yang berani membunuh Guru mereka.

__ADS_1


" Bagus... Setelah kalian sampai disana, kalian harus berlatih lebih keras lagi! Karena disamping kalian mendapatkan Sumberdaya yang berlimpah, kalian akan lebih mudah untuk mencari korban dari para Pria dan dan kuras semua energi 'Yang' mereka." Guru Agung terlihat bersemangat saat mendengar ucapan dari seluruh Murid Perguruan Hantu Malam.


" Baik Guru Agung." Jawab seluruh Murid dengan suara lantang.


" Sekarang kemaslah semua barang-barang kalian! Karena hari ini juga kita akan berangkat " Perintah Guru Agung.


" Baik Guru Agung." Semua Murid menundukkan kepala lalu meninggalkan tempat tersebut menuju ke kediaman masing-masing untuk mengemas barang mereka.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, semua telah berkumpul di lapangan tersebut lalu bergegas meninggalkan Perguruan Hantu Malam.


Hal yang tidak pernah mereka lupakan, dimana Guru Agung membunuh semua korban Pria yang tinggal bersama mereka di Perguruan Hantu Malam.


Melihat aksi yang dilakukan oleh Guru Agung, Ling Xianzi dan Murid Perguruan Hantu Malam juga tidak tinggal diam.


Mereka langsung membunuh dan memburu semua Pria yang ada di tempat tersebut hingga tidak ada yang tersisa.


Setelah berhasil membunuh korban mereka, Guru Agung membawa para Murid Perguruan Hantu Malam menuju ke Sekte Burung Hantu.


...----------------...


Di suatu tempat dimana masih di dalam wilayah Sekte Ular, terlihat sebuah bangunan yang cukup luas dimana tempat tinggal Jinying, Bu Jing Yu.


Di samping bangunan itu juga terdapat bangunan lain yang dimana sebagai tempat tinggal Tetua Agung Sekte Ular sebelumnya.


Di sebuah kamar terlihat dua sosok wanita bersama satu sosok Pria yang lain. Di tempat itu juga ada sosok Bayi yang masih merah.


Tergambar jelas dari raut wajah Tetua Agung sambil merangkul kedua sosok wanita di sampingnya.


' Hao Mingzi kamu memang luar biasa... Akhirnya kedua wanita ini sudah bertekuk lutut kepadamu.' Tetua Agung memuji dirinya sendiri yang dia sebut Hao Mingzi seraya tersenyum kebahagiaan sambil menatap kedua sosok wanita di samping kiri dan kanannya.


" Ying'er, Yu'er... Bagaimana dengan permainanku?" Hao Mingzi sambil mengusap rambut Jinying dan Bu Jing Yu.

__ADS_1


" Gege sangat luar biasa." Jinying menyembunyikan kekecewaannya, karena keperkasaan Hao Mingzi masih dibawah Ryu.


Meskipun begitu, Jinying sangat menyukai hal itu, karena sudah lama tidak mendapatkan sentuhan dari sosok Pria.


" Gege... Aku juga sangat senang." Bu Jing Yu juga menyembunyikan kekecewaannya, karena dia juga satu pemikiran dengan Jinying.


Namun apa daya, karena hanya ada Hao Mingzi yang selalu berada di samping mereka, tentu saja hal itu sangat membantunya untuk menyalurkan keinginannya.


" Hahahaha... Bagus sekali. Dengan begitu kita akan menjadi Suami Istri. Ying'er... Untuk Anakmu, Kita bisa merawatnya. Bila perlu, kita ajarkan agar dia sendiri yang akan membunuhmu Ayahnya sendiri saat dia dewasa nanti." Hao Mingzi sangat senang.


" Tenang saja Gege... Lagi pula Bayi itu tidak mungkin bisa mengenal Ayahnya sendiri saat dia dewasa." Jinying memiliki pemikiran lain dimana dia harus menjadikan Anaknya sebagai Putra Mahkota di Kekaisaran Awan dan dia sendiri harus menjadi Permaisuri di Kekaisaran Awan meskipun harus sedikit berkorban.


Begitupun dengan Bu Jing Yu juga ingin menjadi Permaisuri di Kekaisaran Awan dan menjadikan Ryu mutlak menjadi Suaminya.


Dengan bantuan Hao Mingzi yang sebagai Putra dari Patriak Sekte Ular, tentu saja akan membantu saat melancarkan rencana mereka.


Meskipun Jinying dan Bu Jing Yu memiliki pemikiran yang sama, tapi mereka tidak mengetahui rencana saingan mereka sendiri karena mereka masing-masing menyembunyikan rahasia tersendiri.


Diam-diam Bu Jing Yu menyembunyikan sesuatu yang ada di perutnya, karena saat dia bersama Ryu memang sengaja untuk menjadikan benih dari Ryu agar bisa menjadi calon bayi.


" Gege... Apa kita lanjutkan lagi?" Tanya Jinying.


" Hhhhmmm... Sepertinya kamu masih ingin menikmati keperkasaanku. Tapi sekarang tenagaku banyak terkuras, mungkin besok lagi kita lanjutkan." Hao Mingzi berfikir bahwa Jinying sangat ketagihan dengan permainannya.


Mendengar ucapan dari Hao Mingzi, Jinying dan Bu Jing Yu membulatkan mata karena keinginan mereka disalahkan artikan oleh Hao Mingzi yang menganggap dirinya sebagai orang perkasa.


" Baiklah... Kalau begitu aku akan menyusui bayiku dulu." Jinying memungut pakaiannya memasang kembali lalu berjalan mendekati dimana tempat anaknya tersebut.


" Gege... Mana Pusaka langit yang kamu janjikan? Aku tidak sabar ingin lebih kuat lagi." Bu Jing Yu menagih janji.


" Gege... Punyaku juga." Jinying juga menagih janji menoleh ke arah Hao Mingzi sambil menyusui anaknya.

__ADS_1


" Baiklah... Besok Pagi aku akan menemui Ayah untuk memintanya sekalian dengan Sumberdaya." Hao Mingzi yang pernah berjanji kepada Jinying dan Bu Jing Yu dengan iming-iming Sumberdaya yang berlimpah dan Pusaka langit.


Hal itu tentu saja membuat Jinying dan Bu Jing Yu sangat senang meskipun harus mengorbankan tubuh mereka karena Pusaka langit sangat sulit untuk didapatkan bahkan para Dewa tertinggi sekalipun begitu serakah untuk merebut Pusaka langit.


__ADS_2