
Sebagai bentuk dukungan dari Kawan-kawan para Pembaca SANG DEWA AGUNG, penulis berharap namun tanpa unsur paksaan cukup memberikan waktu luang untuk:
Memberikan 'LIKE ' di setiap Episode.
Sempatkan untuk meninggalkan ' KOMENTAR ' meski hanya huruf 'x' maupun 'z'
Dengan demikian Penulis bisa lebih bersemangat untuk menyelesaikan cerita ini sampai Tamat. 🙏🙏🙏
...****************...
Tanpa memperdulikan ucapan dari wanita yang menjadi targetnya tersebut, Ryu terus menciptakan hentakan keras yang membuat Guru agung berteriak kesakitan namun secara perlahan mulai berganti dengan kenikmatan yang luar biasa hingga berkali-kali mencapai puncaknya.
" Sial kau Guru Agung. Justru kamu yang mendapatkan yang lebih." Tetua Agung sedikit kesal karena Guru Agung jatuh terkapar penuh kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan seumur hidupnya.
Dengan perasaan kesal, Tetua Agung menggeser tubuh yang lain sehingga dia ingin memonopoli meminta Ryu untuk melakukannya kembali.
Tanpa menunggu lama Ryu kembali menuruti keinginan Tetua Agung hingga merasakan nikmat yang luar biasa hingga berkali-kali mencapai puncaknya dan jatuh terkapar penuh kebahagiaan.
Satu persatu Ryu menuruti keinginan mereka yang sudah tidak mampu lagi menahan hasrat meskipun diantara mereka ada yang masih suci, namun karena terkena efek racun mereka terus meminta kepada Ryu agar meridian mereka tidak rusak.
Begitupun dengan Ryu, karena kehilangan kesadaran, tentu saja membuat dia terus melayani keinginan mereka.
Tanpa mereka sadari ada dua sosok lain yang mengambil keuntungan tersebut yaitu Jinying itu sendiri dan sosok wanita cantik yang ada di dalam Peti memakai gaun merah.
Sudah 11 wanita yang Ryu selamatkan dari efek racun tersebut yang membuat mereka kehabisan tenaga hingga secara perlahan tubuh mereka kembali keriput sampai mengering karena Jinying dan Rubah langit Iblis terus menyedot energi kehidupan dari proses yang dilakukan oleh Ryu.
Hal itu tentu tidak dipedulikan oleh Ryu dan wanita yang ada di tempat itu, karena mereka semua telah dikendalikan oleh racun pembangkit gairah.
Kini Jinying sudah mencapai Pendekar Langit tahap menengah yang membuat dia merasa senang meskipun harus mengorbankan orang yang dia cintai untuk melakukan hal itu.
Di sisi lain sosok wanita yang di dalam peti mulai membuka mata karena berhasil menyerap semua energi dari 11 wanita tersebut.
Dengan pendengaran yang baik, Rubah langit Iblis tersenyum licik setelah mengetahui apa yang dilakukan oleh orang yang ada di samping petinya tersebut kembali memejamkan mata untuk menyerap semuanya.
" Bboooom." penutup peti terbuka saat Ryu berhasil menuruti keinginan 21 wanita terlihat sosok wanita keluar dari peti tersebut sambil memperhatikan kegiatan yang dilakukan oleh Ryu bersama pemujanya.
" Sepertinya kalian terlalu menikmati hingga kalian tidak memperdulikan keberadaan ku." Wanita tersebut langsung berubah wujud menjadi sosok Rubah berwarna merah ekor sembilan.
__ADS_1
" Pemuda ini memiliki kekuatan yang besar. Baiklah... Aku akan menyalurkan sedikit energi milikku agar Pemuda ini lebih perkasa lagi." Rubah ekor sembilan mengeluarkan sebuah cahaya langsung masuk ke tubuh Ryu.
Setelah beberapa tubuh Ryu mengeluarkan cahaya samar-samar dan Rubah ekor sembilan berubah wujud seperti cahaya lalu masuk ke mulut Patung Rubah yang ada di samping Ryu.
Saat itu juga dengan bantuan Ryu, Patung Rubah tersebut terus menyedot energi dari bawahannya berkali-kali lipat.
" Sial... Sepertinya Rubah itu sudah bangkit." Jinying terlihat kesal karena dia tidak bisa lagi menyerap energi dari wanita yang menjadi korban Ryu.
Merasakan sesuatu yang buruk, Jinying langsung meningkatkan kewaspadaan sambil mengeluarkan sebuah botol yang berisi Racun kelinci merah.
" Wuush." sebuah cahaya keluar dari mulut Patung Rubah hingga muncul wanita cantik yang memakai gaun merah berdiri di depan Ryu.
" Minggir kalian semua! Aku ingin menyerap energi kehidupan Pemuda ini." wanita tersebut melepaskan pakaiannya sambil meraba-raba tubuh Ryu.
Ryu yang masih berada dalam pengaruh Serbuk mata merah dengan senantiasa mulai meraba tubuh wanita tersebut.
Sedangkan wanita yang lain hanya mengutuk dalam hati karena mereka kini sudah tidak berdaya, bahkan tidak mampu lagi untuk berucap seakan memelas meminta pertolongan Ryu.
Hal itu tidak dipedulikan oleh wanita Rubah ekor sembilan yang terus melancarkan aksinya sehingga energi kehidupan milik Ryu seakan tersedot saat tubuh mereka menyatu sempurna.
" Wuush." Jinying kembali menabur Racun kelinci merah kepada Wanita Rubah tersebut yang membuat konsentrasinya terganggu.
" Sial kau Ratu Neraka... Berani sekali kamu menyerang ku secara diam-diam." Wanita Rubah sangat geram tersadar ada sosok lain yang ada di tubuh korbannya.
Meskipun wanita Rubah ekor sembilan berkata demikian, namun dari gerakan tubuhnya berkata lain karena terkena efek racun tersebut.
Karena terkena Racun kelinci merah, Wanita Rubah terus melanjutkan aksinya seakan ingin menguasai tubuh Ryu.
Namun kali ini Energi kehidupan wanita Rubah lah yang tersedot ke tubuh Ryu hingga membuat wanita Rubah seakan tidak berdaya.
Setelah memakan waktu yang cukup lama kini wanita Rubah sudah berkali-kali mencapai puncaknya hingga membuat dia jatuh terkapar kembali ke wujud Rubah merah ekor sembilan karena energi kehidupannya habis terkuras.
Siang berganti malam dan malam berganti pagi Ryu tersadar atas tindakannya sambil menatap 67 sosok wanita yang didekatnya yang sudah mengering dan sosok Rubah berukuran lima kali manusia dewasa.
Disisi lain Ryu juga menatap wanita yang lain lebih dari 200 orang yang semua tanpa busana lemah tidak berdaya dengan meridian mereka sudah rusak.
Sambil mengingat kembali serangkaian kejadian yang dia alami, Ryu menarik Rubah ekor sembilan ke dalam Cincin pemulihan dan menarik 67 sosok wanita yang sudah mati ke Dunia Quzhu.
" Bruuuuk." Ryu langsung pingsan energinya sudah habis terkuras karena sudah mencapai batas kemampuannya.
Ditambah lagi dengan Energi Racun yang dia miliki semakin menipis akibat serbuk mata merah, hal itu tentu saja membuat Ryu tidak mampu bertahan lebih lama.
" Gege." Jinying keluar dari Alam Jiwa sambil menyalurkan energi miliknya untuk memulihkan Ryu.
Meskipun Jinying berusaha untuk memulihkan kondisi Ryu, tapi tetap saja tidak berhasil yang membuat Jinying menangis karena takut kehilangan Ryu.
...----------------...
Pada keesokan hari saat 13 Istri Ryu terus berjalan mencari keberadaan Suami mereka, kini semua tertuju pada arah sumber suara.
__ADS_1
Di dalam Hutan, kini Sheng Zhishu dan yang lain mendengar suara tersebut langsung menuju ke arah sumber suara dimana hanya terlihat pepohonan.
" Sumber suara itu berasal dari sini, tapi kenapa disini tidak ada apapun." Ucap Sheng Zhishu.
" Tapi aku merasakan bahwa Suami kita ada disini." Shu Meilu menggunakan Insting Ratu Harimau Putih mengendus keberadaan Ryu.
" Sepertinya mereka menggunakan Formasi kasat mata untuk menyamarkan keberadaan mereka." Wang Mingjun berjalan mendekati arah suara hingga menyentuh pelindung transparan.
" Jadi seperti itu." Yinshi melilit pelindung transparan dengan tubuh Naga Emas seukuran lebih dari seratus meter.
" Traaang." Pelindung transparan langsung pecah hingga terlihat sebuah Goa di depan mereka.
Tanpa menunggu lama Sheng Zhishu membawa yang lain masuk ke dalam Goa tersebut hingga terlihat ratusan wanita tanpa busana serta sosok lain yang sedang merangkul Suami mereka sambil menangis terisak-isak.
" Siapa kamu?" Mereka langsung mengepung Jinying karena telah berani menyentuh Suami mereka.
Dengan sigap Huli Yue dan Li Jilan mengambil Ryu dari tangan Jinying sedangkan yang lain langsung meningkatkan kewaspadaan.
' Sial... Kenapa aku bisa terlihat.' Jinying menggerutu dalam hati merasakan hal itu tidak baik meskipun dia sekarang sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap awal, namun jika berhadapan dengan 13 Pendekar Langit tahap akhir sekaligus tentu saja sangat merepotkan.
" Gege... " Mereka kembali tersadar merasakan bahwa Ryu dalam bahaya, meskipun melihat suami mereka tanpa busana.
" Aku akan membawa Suami kita Ke Istana Emas." Xin Chie membawa Ryu ke Dunia Quzhu yang diikuti Xie Hua.
Kini Sheng Zhishu dan 10 Istri Ryu yang lain menatap tajam ke arah Jinying seakan meminta penjelasan atas kejadian tersebut.
" Kalian jangan salah faham... Aku telah menyelamatkan Gege dari Serbuk mata merah." Jinying mulai bersandiwara meskipun ada sedikit kebenaran.
" Gege? Apa maksudmu?" " 11 Istri Ryu melepaskan Aura Naga Langit.
" Haaahh... Bukan hanya kalian yang menjadi Istri Gege, tapi aku juga. Dan mereka adalah para bawahan Tetua Agung Sekte Kabut Ilusi yang terkena Racun kelinci merah yang aku sebarkan. Jika tidak begitu, maka Gege sudah sejak awal sudah mati." Jinying melakukan pembenaran atas tindakannya.
" Sepertinya meridian mereka sudah rusak, mereka memang benar terkena racun kelinci merah." Wang Mingjun dan Shu Meilu merasakan Aura dari ratusan wanita tersebut tidak memiliki Kultivasi lagi.
Untuk menyelidiki hal tersebut Sheng Zhishu mengirimkan pesan jiwa kepada Hong Kian dan Lan Liwei untuk memastikan kebenaran dari apa yang dikatakan oleh Jinying.
Tanpa menunggu lama Hong Kian dan Lan Liwei muncul di depan mereka sambil memperhatikan keadaan.
Dari penyelidikan tersebut Lan Liwei dapat menyimpulkan bahwa Suami mereka berhasil mengalahkan Tetua Agung dan pengikutnya dengan cara yang berbeda.
" Sepertinya Suami kita sudah mengalahkan Tetua Agung, Guru Agung, empat Tetua dan puluhan bawahan dengan keperkasaannya." Lan Liwei senyum masam ingin marah, karena Suami mereka sudah berhubungan intim dengan lawannya.
Tapi jika tidak melakukan hal itu, maka Ryu sudah dipastikan akan mati di tangan Tetua Agung dan pengikutnya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Lan Liwei mereka langsung membulatkan mata dengan rahang terbuka lebar ingin marah kepada Suami mereka, tentu saja itu bukan hal yang baik.
" Kalian boleh marah sama Gege... Tapi kalian juga harus ketahui situasi Gege. Kalian boleh pilih Suami kita mati dan menjadi korban persembahan atau menikmati Yin Murni yang berlimpah dari mereka." Jinying membuka suara ingin memanfaatkan keadaan agar Istri Ryu yang lain merasa berhutang budi kepadanya karena telah menyelamatkan nyawa Suami mereka.
Mendengar ucapan dari Jinying, mereka hanya menggelengkan kepala antara marah dan senang kini bercampur menjadi satu.
__ADS_1